NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Di Balik Cahaya Senja

Rolls-Royce itu menunggu di tepian lokasi syuting, sunyi dan tenang di antara hiruk-pikuk kru yang pulang.

Citra Lestari membuka pintu belakang dan langsung terhenti.

Arjuna Pratama duduk di kursi belakang dengan aura yang memenuhi seluruh ruang kabin. Tangan kanannya mengulur ke arahnya, sudut bibirnya melengkung tipis.

"Kemari lah."

Citra masuk. Pintu tertutup tanpa suara di belakangnya.

Belum sempat dia berbicara, sebuah tangan besar dan hangat,dengan kapalan tipis di telapaknya—menutupi tangannya yang terlipat di atas lutut. Satu tarikan, dan seluruh tubuhnya berpindah, tersandar ke dalam pelukan yang lebar dan kokoh.

"Lelah?"

Suara Arjuna terdengar tepat di atas kepalanya. Berat, pelan, tapi mengandung sesuatu yang terasa seperti kekhawatiran yang tidak perlu diumumkan. Tangannya yang panjang bergerak—mengangkatnya dari tempat duduk dengan mudah, lalu mendudukkannya menyamping di pangkuannya.

Di sisi depan, sekat pembatas terangkat pelan. Kabin belakang menjadi dunia tersendiri.

"Mmm." Citra mengeluarkan suara kecil dan menyandarkan wajahnya ke dada bidang di depannya.

Ketegangan yang menumpuk sepanjang hari.

tatapan-tatapan itu, langkah-langkah yang harus dia hitung, usaha keras untuk tidak terlihat,semuanya perlahan mencair. Bahunya turun. Napasnya melambat.

Arjuna menundukkan kepala, memperhatikan wajah dalam pelukannya.

Ada ketergantungan di matanya. Ada juga sedikit kesedihan yang tidak diucapkan. Kombinasi itu menyentuh sesuatu di dalam dadanya lembut, seperti bulu yang menyapu permukaan air.

Jari-jarinya yang panjang mengangkat dagunya.

Kacamata berbingkai hitam itu masih bertengger di hidung mungilnya, menghalangi mata jernih berbentuk aprikot yang paling dia sukai.

"Kau menghalangi," bisiknya.

Dengan gerakan cepat dan terlatih, kacamata itu sudah berpindah ke kursi di sebelah,dan wajah kecil itu sepenuhnya terlihat di hadapannya.

*Terlalu cantik untuk disembunyikan.*

Kulitnya sehalus porselen. Sudut matanya secara alami sedikit terangkat, memberi kesan polos yang tidak dibuat-buat. Tapi sekarang, karena kelelahan, kelopaknya sedikit terkulai,dan justru itu yang membuat hatinya berdegup tidak karuan.

Jakun Arjuna bergerak tanpa suara.

Dia menunduk dan mencium kedua bibir lembut itu.

"Mmph—"

Ciuman ini berbeda dari yang tadi siang—tidak terburu-buru, tidak penuh adrenalin dari bahaya yang mengintai. Yang ini perlahan. Penuh. Bibirnya menelusuri bentuk bibir lembutnya dengan cermat sebelum membuka, menikmati manisnya tanpa tergesa.

Citra mencengkeram lehernya. Tangannya tidak mendorong.

Napasnya dipenuhi aroma dominan pria itu, dan pikirannya mulai mengapung.

Saat ciuman itu berakhir, keduanya sama-sama tersengal pelan.

Arjuna menyandarkan dahinya ke kepala kecilnya, matanya penuh kepuasan yang tenang. Bibirnya,merah karena ciuman—dan mata yang sayu seperti aprikot masak di hadapannya membuat tangannya bergerak sendiri.

Sebelum Citra sempat menenangkan napasnya, bibir tipisnya sudah menelusur ke pipinya yang halus, lalu turun ke cuping telinganya—menekan ciuman ringan yang terasa tegas di sana.

"Mm....." Citra mengerutkan lehernya refleks.

Arjuna turun lebih jauh, berlama-lama di lehernya yang ramping. Sesekali giginya menyentuh kulit halusnya, memancing sensasi yang membuat tubuh kecil itu menggeliat gelisah dalam pelukannya.

"Mas Arjuna, ini menggelitik." Suaranya lembut dan sedikit lengket, tangannya menekan bahunya,tapi tanpa kekuatan yang sungguhan. Lebih terasa seperti protes yang tidak serius.

Arjuna mengangkat kepalanya.

Dia menatap gadis dalam pelukannya...wajah memerah, napas belum rata, dan bekas merah samar yang baru saja dia tinggalkan di lehernya. Kegelapan di matanya semakin dalam.

Lengannya mengeratkan cengkraman di pinggang rampingnya.

"Apakah Shafira menyulitkan mu lagi hari ini?"

Tubuh Citra menegang,hanya sedetik sebelum kembali rileks. Dia membenamkan wajahnya lebih dalam ke lekukan leher Arjuna. Suaranya teredam: "...Tidak."

"Dasar pembohong kecil." Nadanya datar, tapi ada ketajaman di baliknya. "Kau hanya berani bersikap kasar padaku. Mengeluh saja tidak tahu caranya."

Jarinya mencubit lembut daging di pinggangnya. "Kau anggap aku buta? Atau tuli?"

*Tatapan jahat Shafira Maharani di studio tadi siang,sekilas, tapi cukup.*

Dia sudah lebih dari sekali mencoba membujuk gadis ini untuk tidak bekerja sekeras itu. Tapi Citra keras kepala soal pekerjaan...entah kenapa, entah sejak kapan, itu sudah menjadi tembok yang tidak mudah dia terobos.

Arjuna menunduk, mencium lembut rambut halusnya.

"Jangan khawatir. Siapapun yang berani mempersulit gadisku akan menghadapi konsekuensinya." Suaranya rendah, bukan ancaman...lebih seperti pernyataan fakta. "Siang ini baru permulaan. Karena dia menyuruhmu berdiri di bawah matahari kemarin, mulai sekarang, dia yang akan berdiri di bawah matahari setiap hari."

Citra diam.

Bersandar di dadanya, merasakan detak jantungnya yang stabil dan hangat tubuhnya yang menyelimuti—rasa sakit yang menumpuk pelan-pelan mengendur. Dia tahu Arjuna tidak sedang berbicara kosong. Dia tidak pernah berbicara kosong.

"Hmm." Dia menggesekkan tubuhnya sedikit ke lekukan lehernya...tidak disengaja, seperti kucing yang mendekat ke tangan yang mengusapnya.

Arjuna tertawa kecil.

Dia menyesuaikan posisinya agar Citra lebih nyaman, tangan besarnya melingkar di pinggang rampingnya dengan posesif yang sudah terasa seperti kebiasaan. Dagunya bertumpu di atas kepala kecilnya.

"Mau pulang?"

"Emmm." Tangan kecil Citra mencengkeram kain kemejanya tanpa sadar.

Mobil mulai bergerak, meluncur mulus masuk ke dalam arus lampu kota yang mengalir di luar jendela.

Di dalam kabin yang sunyi, tidak ada yang perlu diucapkan lagi.

Arjuna menatap gadis yang tenang dalam pelukannya.

napasnya sudah teratur, bahunya sudah turun sepenuhnya. Jari-jarinya bergerak pelan, membelai sehelai rambutnya yang sedikit keriting.

Cahaya malam dari luar jendela jatuh di wajahnya bergantian—terang, gelap, terang lagi.

 

1
cipung
keren...lanjut👍👍
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!