Sejak kecil, Ice Meng selalu menjadi orang yang berkorban untuk keluarganya. Membayar utang judi ayahnya, membantu biaya pernikahan kakaknya, hingga menanggung kuliah adiknya.
Di tengah hidup yang penuh tekanan, ia hanya memiliki sebuah kalung berinisial HW, hadiah dari pria asing yang pernah ia selamatkan beberapa bulan lalu.
Tidak lama kemudian Ice menyadari kalung itu bukan benda biasa.
Orang-orang yang ingin menyakitinya mendadak mundur saat melihatnya.
Dan seorang pria bernama Howard Wang perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Saat Ice mulai jatuh hati, ia menemukan fakta mengejutkan.
Kalung HW yang selama ini ia kenakan ternyata bukan sekadar hadiah ucapan terima kasih, melainkan simbol yang membuat banyak orang ketakutan.
Lalu... siapakah sebenarnya Howard Wang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Penglihatan Ice yang semula jelas tiba-tiba kembali menjadi kabur.
Beberapa detik kemudian, pandangannya kembali normal.
Hal itu terjadi berulang kali.
Ice menatap kedua telapak tangannya dengan hati yang mulai cemas.
“Apa yang terjadi dengan mataku? Jangan-jangan...” batinnya.
Di saat yang sama, Howard perlahan membuka matanya. Ia menyadari Ice sudah terbangun dan sedang duduk termenung.
“Ice, kau sudah bangun? Bagaimana? Apa masih ada yang sakit?” tanya Howard.
Ice segera tersenyum tipis.
“Tidak. Aku sudah jauh lebih baik. Tapi... kenapa kau tidur di sini? Seharusnya kau pulang dan beristirahat.”
Howard bangkit dari kursinya, lalu menuangkan segelas air putih dan menyerahkannya kepada Ice.
“Aku tidak tahu harus menghubungi siapa. Lagi pula, kita bertetangga. Wajar kalau aku menemanimu di sini,” jawabnya.
“Terima kasih.” Ice menerima gelas itu. “Tapi lebih baik kau pulang saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
Howard tersenyum tipis.
“Sudah malam. Aku juga malas keluar lagi. Lebih baik aku tidur di sofa saja.”
Ice memandang pria itu beberapa saat.
"Apa dia sengaja mengatakan itu karena ingin menemaniku?" batinnya.
“Baiklah.” Ice mengangguk pelan. “Terima kasih sudah menolongku. Kau sudah membantuku sampai dua kali.”
Howard menatapnya hangat.
“Kalau memang ingin berterima kasih, cepatlah sembuh dan jaga kesehatanmu.”
Ice mengangguk pelan.
“Baik.”
Suasana kamar kembali hening.
Howard duduk di sofa sambil membuka sebuah majalah yang tergeletak di atas meja. Sesekali ia melirik ke arah Ice, memastikan kondisi gadis itu benar-benar baik.
Sementara itu, Ice diam-diam memperhatikan pria tersebut.
"Kenapa dia begitu perhatian? Padahal kami baru saling mengenal."
Beberapa saat kemudian, perut Ice tiba-tiba berbunyi pelan.
Grr...
Wajah Ice langsung memerah karena malu.
Howard menutup majalahnya.
“Lapar?”
Ice tersenyum canggung.
“Sedikit.”
Howard melirik jam dinding.
“Sudah hampir tengah malam. Wajar kalau kau lapar.”
Ia berdiri dari sofa.
“Aku akan keluar sebentar.”
“Tuan Howard, tidak usah. Aku tidak ingin makan,” ucap Ice cepat.
Howard tersenyum tipis.
“Kau pasien. Harus makan tepat waktu."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan keluar dari ruang rawat.
“Sejak kecil... aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari keluargaku,” gumam Ice pelan.
“Bagi mereka, aku hanya beban dan mesin pencari uang. Saat aku dibully oleh orang lain, tidak ada yang membelaku. Saat aku sakit, Mama juga tidak pernah peduli. Perhatiannya hanya tertuju pada kedua anak laki-lakinya.”
Ice menundukkan kepala.
“Terkadang aku iri melihat orang lain yang memiliki keluarga hangat.”
Tatapannya beralih ke arah pintu.
“Sayang sekali Tuan Howard hanya tetanggaku. Andaikan dia kakakku atau keluargaku... mungkin aku akan menjadi orang yang sangat bahagia.”
Tidak lama kemudian, pintu ruang rawat terbuka.
Howard masuk sambil membawa semangkuk bubur daging dan udang yang masih hangat.
“Ayo makan dulu,” ucapnya sambil meletakkan bubur itu di atas meja kecil di samping ranjang.
Ice tersenyum tipis.
“Terima kasih.”
Ia mulai menyuapkan bubur itu ke mulutnya.
“Enak sekali.”
“Kalau enak, habiskan,” jawab Howard sambil tersenyum.
Melihat Ice hanya memakan buburnya, Howard mengambil beberapa potong daging dan udang, lalu memindahkannya ke mangkuk Ice.
“Makan yang banyak.”
“Tapi ini milikmu,” ucap Ice.
Howard menggeleng pelan.
“Kata dokter, kau terlalu kurus dan kekurangan gizi. Mulai sekarang jangan hanya makan mi instan dan roti.”
Ice terdiam.
“Bagaimana kau tahu?”
Howard menyadari dirinya hampir keceplosan. Ia segera menjawab dengan tenang.
“Wajahmu sudah cukup menjelaskan semuanya.”
Ice hanya tersenyum kecil, lalu kembali melanjutkan makannya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kehangatan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya.
Keesokan harinya, Ice menemui Dokter Spesialis mata.
Dokter spesialis mata selesai memeriksa kedua mata Ice. Ia kemudian melihat hasil pemeriksaan sambil mengernyitkan dahi.
“Nona Meng, apakah sebelumnya Anda pernah mengalami benturan atau pukulan keras di sekitar mata atau wajah?” tanya dokter.
Ice terdiam sejenak sebelum mengangguk.
“Iya saya pernah mengalami benturan beberapa kali.”
Dokter meletakkan hasil pemeriksaan di atas meja.
“Dari pemeriksaan, terlihat ada bekas trauma akibat benturan di sekitar mata. Kemungkinan benturan itu memengaruhi jaringan dan saraf penglihatan. Itulah sebabnya penglihatan Anda terkadang menjadi kabur, lalu kembali normal.”
Wajah Ice langsung berubah pucat.
“Apakah... kondisi ini berbahaya?"
“Untuk saat ini kami masih harus melakukan pemantauan. Namun jika gejalanya semakin sering muncul atau penglihatan mulai menurun, Anda harus segera kembali ke rumah sakit. Jangan menundanya.”
Ice menggenggam kedua tangannya erat.
Ice menggenggam erat kedua tangannya.
“Dokter... kalau penglihatanku terus memburuk akibat benturan itu, apa yang harus kulakukan?”
Dokter terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Saat ini penglihatan Anda memang masih ada, tetapi kondisinya belum stabil. Itulah sebabnya penglihatan Anda bisa menjadi kabur berulang kali.”
Wajah Ice mulai tegang.
“Kalau nanti semakin parah bagaimana?”
“Kalau gejalanya semakin sering muncul atau penglihatan terus menurun, Anda harus segera kembali ke rumah sakit. Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk melihat tingkat kerusakannya.”
“Lalu... kalau kondisinya sudah sangat parah?”
Dokter menghela napas pelan.
“Jika kerusakan pada kornea terus berkembang dan tidak dapat dipertahankan lagi, pilihan yang paling memungkinkan adalah menjalani operasi transplantasi kornea.”
“Transplantasi kornea?” tanya Ice dengan wajah pucat.
“Benar. Namun operasi itu membutuhkan pendonor kornea yang cocok, dan biayanya juga tidak sedikit. Karena itu, saya harap Anda tidak menunda pengobatan apabila penglihatan mulai semakin memburuk.”
Ice hanya mengangguk pelan.
“Baik, Terima kasih!"
dan kenapa ice yg jadi tulang punggung. apa ice bukan anak kandung nya