Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 FITNAH YANG SEMAKIN KEJAM.
Hari itu Bee kembali menjalani aktivitasnya di perusahaan seperti biasa.
Meski hatinya masih dipenuhi luka, ia tetap berusaha tersenyum kepada siapa pun yang menyapanya. Baginya, magang adalah tanggung jawab yang harus diselesaikan dengan baik.
Di depan komputer, Bee kembali memeriksa laporan keuangan satu per satu dengan teliti.
"Bee, data yang kemarin sudah selesai?" tanya Kak Rina.
"Sudah, Kak. Ini sudah aku cek tiga kali, semoga tidak ada yang terlewat."
Kak Rina tersenyum puas. "Bagus. Kamu memang teliti."
"Terima kasih, Kak." Bee kembali fokus bekerja.
Berbeda dengan Bee...
Di divisi lain, Jelita sedang duduk bersama dua rekan magangnya, Maya dan Siska. Ketiganya terlihat begitu akrab meski baru saling mengenal beberapa hari.
"Jelita, tadi yang di kantin itu Bee, kan?" tanya Maya penasaran.
Jelita mengangguk pelan. "Iya..."
"Aku kasihan sama kamu. Gara-gara orang magang itu, kamu sampai masuk rumah sakit"
" Aku baik-baik saja " Jelita pura-pura menghela napas panjang. "Aku juga sebenarnya capek...."
"Kok bisa?"
Jelita menundukkan wajah, lalu memasang ekspresi sedih. "Bee itu... dari dulu selalu ingin mengambil semua yang aku punya."
Maya dan Siska saling berpandangan. "Maksudnya?"
Jelita menggigit bibir seolah berat menceritakannya. "Sebenarnya aku malu ngomong begini.... Tapi Bee sekarang sedang mendekati calon tunanganku."
"Apa?" seru keduanya bersamaan.
"Iya.... Tapi kalian jangan bilang siapa-siapa ya. "
Mereka berdua mengangguk " Tenang saja. Kita tidak akan bilang kepada siapapun "
"Aku sering lihat mereka berdua bersama, Padahal keluarga kami sudah berencana menjodohkan aku dengan Kak Juna." Air mata palsu mulai menggenang di pelupuk mata Jelita. "Aku cuma takut... Bee berhasil merebut dia."
Maya langsung mengepalkan tangan. "Kurang ajar!"
Siska ikut mengangguk. "Dasar jalang... berani sekali dia merayu calon tunangan kamu."
Jelita buru-buru menggeleng. "Jangan salahkan Bee.... mungkin... mungkin Kak Juna juga terlalu baik sama dia."
"Tetap saja salah!"
Maya berdiri. "Kami gak akan tinggal diam."
Jelita menundukkan wajah agar senyum puasnya tidak terlihat. "Terima kasih.... Kalian harus janji untuk tidak bicara kepada siapapun. Aku mohon " mohon jelita.
" Iya, iya. "
Jam makan siang.
Bee duduk sendirian di kantin, Ia menikmati makan siang sambil sesekali membaca catatan pekerjaan.
Belum sampai lima menit...
Bruk.
Seseorang meletakkan nampan dengan keras di hadapan Bee.
Bee mendongak. Ternyata Maya dan Siska, Tatapan keduanya penuh kebencian. "Jadi kamu Bee?"
Bee mengangguk pelan. "Iya. Ada apa?"
Maya menyilangkan kedua tangan. "Kami cuma mau mengingatkan."
Bee mengernyit. "Mengingatkan apa?"
"Jangan pernah mengambil yang bukan milikmu."
Bee semakin bingung. "Maksudnya? Apa yang sudah aku ambil dari kalian?"
Siska tertawa sinis. "Masih pura-pura gak tahu?"
Bee menggeleng. "Aku benar-benar tidak mengerti."
Maya mendekat. "Calon tunangan Jelita."
Bee langsung terdiam. "Kalian salah paham."
"Salah paham?"
Siska mendengus. "Jangan munafik."
Bee mulai kesal. "Aku tidak pernah mengambil siapa pun, Kak Juna bukan milikku. Bahkan aku tidak pernah menganggap beliau lebih dari seorang kakak."
Maya tersenyum sinis. "Alah... munafik."
"Muka polos..."
"Tapi senang naik ranjang orang."
Deg.
Kalimat itu membuat Bee membeku Wajahnya langsung memucat.
"Apa?"
"Jaga mulut kalian." Bee berdiri, Tatapannya berubah tegas. "Aku memang diam Tapi bukan berarti kalian boleh memfitnahku."
Namun kedua wanita itu hanya tertawa. "Kebenaran pasti akan terbongkar."
Mereka pun pergi meninggalkan Bee.
Tak lama kemudian...
Seluruh kantin mulai dipenuhi bisikan.
"Itu ya yang katanya suka godain laki-laki?"
.
"Pantesan dekat sama dokter itu."
"Kasihan tunangannya."
"Kelihatannya baik ternyata...."
Bee mengepalkan kedua tangannya Dadanya sesak, Ia ingin menjelaskan Namun kepada siapa?
"Tidak ada pekerjaan lain selain bergosip?"
Suara dingin itu membuat seluruh kantin mendadak sunyi.
Semua orang menoleh.
"Pak Xian...."
Xian berjalan masuk dengan wajah datar, Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Aku tidak suka mendengar fitnah beredar di perusahaan ini."
Tak ada yang berani menjawab.
"Kalau kalian punya bukti, silakan laporkan ke HRD. Tapi kalau hanya bergosip..." Xian menatap tajam seluruh karyawan. "...siap-siap angkat kaki dari perusahaan ini."
Suasana semakin mencekam.
"Perusahaanku tidak membutuhkan pegawai yang pekerjaannya menyebarkan fitnah."
Semua langsung menundukkan kepala.
Tak ada lagi yang berani berbisik.
Xian kemudian menoleh kepada Bee. "Ayo."
Bee sedikit terkejut. "Ke mana, Pak?"
"Makan siang.. aku tau, kamu pasti tidak selera makan siang di sini"
Bee mengangguk pelan lalu mengikuti langkah Xian keluar dari kantin.
Beberapa menit kemudian... Mereka tiba di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari kantor.
Xian langsung memesan beberapa menu.
Bee membelalakkan mata. "Kok banyak sekali, pak?"
Xian tersenyum tipis. "Juna bilang dia sebentar lagi selesai operasi Jadi sekalian saja aku pesankan untuk dia."
Bee mengangguk sambil tersenyum kecil.
Tak lama setelah pesanan datang, Xian menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Bee."
"Iya, Pak?"
"Keadaanmu sekarang bagaimana?"
Bee tersenyum tipis. "Baik."
Xian mengangkat sebelah alis. "Jawaban itu terdengar seperti kebohongan."
Bee menundukkan kepala. "Yang tadi di kantin..."
Xian menatap Bee serius. "Apa memang sudah sering seperti itu?"
Bee terdiam beberapa saat Ia sebenarnya ingin bercerita, Tentang keluarganya, Tentang Jelita, Tentang semua fitnah yang menimpanya.
Bee membuka mulut. "Sebenarnya aku..."
Ting...
Bel pintu kafe berbunyi.
Bee menoleh.
Senyumnya langsung mengembang. "Kak Juna."
Dokter muda itu berjalan menghampiri mereka dengan jas putih yang masih tersampir di lengannya. "Maaf lama. Tadi ada pasien darurat."
Xian terkekeh. "Untung makanannya belum dingin."
Bee ikut tersenyum. "Selamat siang, Kak."
"Selamat siang."
Kak Juna membalas senyum Bee dengan hangat, sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa detik yang lalu, Bee hampir menceritakan semua luka yang selama ini ia pendam sendirian.