NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28: Retakan di Balik Kemewahan

Pukul satu siang, sebuah mobil sedan BMW Seri 5 berwarna perak metalik berbelok mulus memasuki pelataran parkir kompleks ruko Salman Group di Pluit.

Dari dalam mobil, melangkah keluar sesosok wanita dengan kacamata hitam besar bermerek Chanel.

Gaun terusan sutra hitam tanpa lengan yang dikenakannya berpadu sempurna dengan tas jinjing Hermès yang tergantung di lengan kirinya.

Amanda Santoso.

Ia melepas kacamata hitamnya dengan satu sentakan jemari yang anggun, menatap papan nama baja hitam bertuliskan SALMAN Group dengan seulas senyuman yang sarat akan intrik manipulasi.

Di kehidupan pertamanya, Amanda tahu persis kapan harus mengubah taktik dari konfrontasi keras menjadi jerat sutra yang mematikan.

Setelah melihat kebodohan Andreas yang berakhir di balik jeruji besi akibat menggunakan kekerasan kasar, Amanda memutuskan untuk turun tangan sendiri menggunakan senjata paling mematikan yang ia miliki: pesona dan jebakan psikologis.

Kring...

Lonceng kecil di atas pintu kaca ruko berdenting saat Amanda melangkah masuk.

Lantai satu kantor tampak sibuk dengan suara ketukan papan ketik komputer tabung dan beberapa analis muda yang memeriksa tumpukan dokumen kertas.

Joko yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis seketika mematung saat melihat kehadiran putri tunggal Devan Santoso tersebut.

Wajahnya nampak menegang, teringat peringatan keras Doni di akhir pekan kemarin.

"Nona... Nona Amanda Santoso? Ada perlu apa Anda datang ke kantor kami?" tanya Joko,

mencoba menjaga nada suaranya agar tetap formal meskipun jantungnya berdegup kencang.

Amanda melempar senyuman termanisnya, sebuah senyuman tiruan yang mampu meluluhkan hati pria awam dalam sekejap.

"Relax, Joko. Saya ke sini bukan sebagai direksi PT Santoso Karya untuk berdebat soal semen."

"Saya ke sini sebagai rekan bisnis yang ingin mengucapkan selamat atas berdirinya kantor baru Doni Salman. Apakah Doni ada di ruangannya?"

Sebelum Joko sempat menyusun kalimat kebohongan untuk mengusirnya, suara pintu kayu di lantai dua terbuka.

Doni Salman berdiri di topangan tangga, menatap ke bawah dengan sepasang mata sumur tuanya yang sedingin es.

"Biarkan dia naik, Joko," kata Doni, suaranya berat, stabil, dan memotong seluruh kepanikan di lantai satu.

Amanda mendongak, mengunci pandangannya pada sosok Doni yang hari ini mengenakan kemeja katun hitam polos dengan lengan yang digulung rapi.

Ia menaiki anak tangga satu per satu dengan gerakan pinggul yang anggun, menebarkan aroma parfum mahal yang seketika mendominasi udara pengap kantor ruko tersebut.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadi Doni di lantai dua yang hanya berisi sebuah meja jati besar, dua kursi kulit, dan sebuah papan tulis putih penuh coretan grafik bursa, Amanda langsung menutup pintu rapat-rapat.

Ia tidak duduk di kursi tamu, melainkan berjalan mendekati meja kerja Doni, lalu bersandar di tepinya dengan gestur yang sangat intim.

"Kantor yang lumayan rapi untuk seorang pria yang seminggu lalu masih berbau solar pelabuhan, Doni," bisik Amanda, suaranya sengaja direndahkan hingga memiliki nada serak yang menggoda.

Ia memajukan tubuhnya, menatap Doni dari jarak yang sangat dekat.

"Papa mungkin melihatmu sebagai ancaman, tapi aku... aku melihatmu sebagai pria paling menarik yang pernah kutemui di Jakarta tahun ini."

"Andreas itu bodoh, dia pantas membusuk di penjara."

"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan baru? Hanya aku dan kamu, di luar sepengetahuan Papa."

Di kehidupan masa lalunya, mode manipulasi seperti inilah yang membuat Doni muda bertekuk lutut.

Amanda akan berpura-pura membenci keputusan ayahnya, memposisikan dirinya sebagai korban yang butuh perlindungan Doni, lalu perlahan merayap masuk ke dalam rekening banknya sebelum menikamnya dari belakang.

Taktik permainan psikologis yang sangat sempurna.

Namun, di hadapan jiwa seorang penguasa bursa berusia empat puluh enam tahun, seluruh gerak-gerik Amanda malam ini tampak seperti akting murahan teater sekolah dasar.

Doni Salman tidak memundurkan tubuhnya, tidak juga mengalihkan pandangannya. Ia justru membalas tatapan mata Amanda dengan sebuah senyuman tipis yang sangat dingin dan kosong.

Doni meraba laci mejanya, mengeluarkan selembar draf dokumen analisis pasar modal yang baru saja dicetak oleh tim analisnya sejam lalu, lalu menggesernya ke hadapan Amanda.

"Kesepakatan?" Doni terkekeh rendah, suara tawanya terdengar begitu hampa dan mengerikan di dalam ruangan sepi itu.

"Nona Amanda... jika Anda ingin bermain dadu denganku, pastikan Anda memakai sarung tangan yang cukup tebal agar tangan Anda tidak patah saat menghantam dinding baja."

Amanda mengerutkan dahinya, matanya beralih menatap dokumen yang disodorkan Doni.

Di bagian atas kertas tersebut, tertulis sebuah judul dengan huruf tebal: ANALISIS EKSPOSUR RISIKO PT SANTOSO KARYA TERHADAP KRISIS LIKUIDITAS BANK NUSA SENTOSA.

Wajah cantik Amanda seketika membeku. Senyuman menggoda di bibirnya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh gurat keterkejutan yang masif.

"Kamu... dari mana kamu tahu tentang penempatan dana operasional kami di Bank Nusa Sentosa?!" tanya Amanda, suaranya meninggi, kehilangan seluruh ketenangan sensualnya.

Doni Salman berdiri dari kursi kulitnya, berjalan perlahan menuju jendela kaca yang menghadap ke arah jalanan Pluit, membelakangi Amanda.

"Aku tahu segalanya, Amanda."

"Aku tahu bahwa sembilan puluh persen dana tunai likuid milik perusahaan keluargamu dari termin pertama proyek tol Marunda diparkir di dalam rekening giro Bank Nusa Sentosa demi mengejar bunga deposito khusus sebesar dua belas persen."

Doni membalikkan tubuhnya, menatap Amanda dengan sepasang mata yang berkilat kejam di bawah terang lampu ruangan.

"Aku juga tahu bahwa dalam hitungan minggu, Bank Nusa Sentosa akan dinyatakan sebagai bank dalam pengawasan khusus oleh Bank Indonesia akibat skandal penyelewengan dana sengketa perkebunan kelapa sawit."

"Saat hari itu tiba, seluruh uang operasional proyek tol Papa-mu akan dibekukan total."

"Kalian tidak akan punya uang tunai untuk membayar vendor besi, upah buruh, bahkan untuk membeli bensin mobil Mercedes-Benz milikmu ini."

Amanda melangkah mundur dua jengkal, napasnya mulai memburu karena dilingkupi rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Informasi yang disebutkan Doni bukan sekadar analisis bisnis biasa; itu adalah rahasia finansial tingkat dewa yang bahkan dewan komisaris PT Santoso Karya sendiri masih menganggapnya sebagai risiko kecil yang aman.

Bagaimana mungkin seorang pemuda dari ruko Pluit ini bisa meramal kehancuran sebuah bank swasta besar dengan begitu presisi?

"Kamu... kamu mau memeras kami menggunakan informasi ini?!" tuding Amanda, jarinya yang lentik dengan kuku ber-manikur mahal menunjuk ke arah wajah Doni dengan gemetar.

Topeng sosialita elegannya telah runtuh total, menyisakan watak aslinya yang egois dan ketakutan.

"Memeras?" Doni Salman menggelengkan kepalanya perlahan, seulas senyuman dingin terukir di wajah tirusnya.

"Itu terlalu murah untuk ukuran seorang Komisaris Utama Salman Group."

"Aku tidak akan memeras kalian, Amanda. Aku justru akan membiarkan kalian terus menaruh uang di sana hingga rupiah terakhir kalian menguap menjadi angka mati di dalam komputer Bank Indonesia."

Doni melangkah maju, memperkecil jarak antara mereka hingga Amanda bisa merasakan hawa intimidasi yang luar biasa besar menekan dadanya.

"Datanglah kembali ke kantor ini dua bulan lagi, Nona Santoso."

"Tapi saat hari itu tiba, jangan kenakan gaun sutra mahalmu ini. Kenakanlah pakaian hitam yang rapi... karena pada hari itu, aku sendiri yang akan memimpin upacara pemakaman bagi seluruh kekayaan dan nama besar PT Santoso Karya di lantai bursa Jakarta."

Amanda tidak mampu lagi mengucapkan sepatah kata pun.

Rasa ngeri yang murni menjalar dari ujung kakinya hingga ke ubun-ubun. Ia menyambar tas Hermès-nya dengan terburu-buru, membalikkan badannya, dan berlari keluar dari ruang kerja Doni menuruni tangga dengan langkah kaki yang berantakan, mengabaikan tatapan heran dari para karyawan di lantai satu.

Begitu pintu sedan BMW di bawah berdentum keras dan mobil itu melesat pergi meninggalkan pelataran Pluit, Doni Salman kembali berdiri diam di depan jendela kerjanya.

Di dalam kegelapan bayangan ruangan, ia meremas pulpen hitam di tangannya hingga patah menjadi dua bagian.

Pertemuan hari ini telah berakhir dengan kemenangan psikologis mutlak bagi sang singa.

Ular-ular di Menara Thamrin kini telah mengetahui bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan mangsa yang mudah dijebak, melainkan dengan sesosok monster masa depan yang siap menelan seluruh eksistensi mereka tanpa menyisakan ruang untuk belas kasihan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!