Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 29
Malam bergeser semakin larut, dan atmosfer di dalam rumah mewah itu terasa kian mencekam. Jarum jam dinding seolah bergerak terlalu cepat, memburu Adista yang masih dilingkupi kabut kepanikan. Bau anyir darah yang mulai bercampur dengan udara lembap malam hari memaksa akal sehatnya berputar di ujung tanduk. Ia tahu, membiarkan jasad Rian tergeletak begitu saja di ruang tengah yang gelap adalah jalan pintas menuju kehancuran hidupnya sendiri.
Di antara rasa bingung dan ketakutan yang luar biasa, sebuah keputusan nekat akhirnya lahir dari kepalanya yang nyaris pecah. Tidak ada pilihan lain. Ia tidak bisa memanggil polisi, dan ia tidak bisa membiarkan mayat ini membusuk di sini.
"Bik..." bisik Adista, suaranya parau dan bergetar di tengah kegelapan ruang tengah. "Kita harus memindahkan tubuh Rian. Kita harus menyembunyikannya."
Bik Sumi yang sedang mengusap lengannya sendiri langsung menatap Adista dengan mata membelalak. "M-maksud Non Adista? Mau dipindahkan ke mana?"
"Ke belakang rumah, Bik. Kita kubur di sana," jawab Adista dengan tegas, meski hatinya sendiri menciut ngeri.
Mendengar rencana gila itu, Bik Sumi sempat ragu. Namun, melihat wajah Adista yang sudah dipenuhi air mata dan keputusasaan, wanita tua yang setia itu akhirnya mengangguk pelan. Mereka tidak punya waktu untuk berdebat.
Adista bangkit berdiri, diikuti oleh Bik Sumi. Melalui remang cahaya dari arah koridor, mereka berjalan mendekati jasad Rian. Pemandangan di depan mata mereka benar-benar membuat perut mual. Lampu hias gantung yang berat itu masih menancap kuat di kepala Rian, sedangkan bagian dadanya menganga lebar, menyisakan rongga kosong tempat jantungnya semula berada.
"Pegang kakinya, Bik. Saya pegang bagian lengannya," perintah Adista, mencoba menepis rasa jijik dan takutnya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Adista dan Bik Sumi terpaksa menyeret jasad Rian keluar dari ruang tengah. Kulit mayat yang mulai mendingin dan licin karena darah membuat proses itu menjadi sangat sulit. Setiap kali tubuh Rian bergeser, lantai meninggalkan seretan noda merah yang panjang dan basah. Suara gesekan pakaian Rian di atas lantai terdengar sangat mengerikan di dalam kesunyian malam.
Mereka membawa jasad itu melewati koridor belakang, menuju pintu yang langsung terhubung ke halaman belakang rumah. Begitu pintu dibuka, angin malam yang sangat dingin langsung menerpa wajah mereka.
Hujan yang semula hanya rintik-rintik, kini mendadak turun dengan sangat deras seolah-olah langit ikut mengutuk perbuatan mereka malam itu. Petir menyambar beberapa kali di langit, menghasilkan kilatan cahaya putih yang menerangi halaman belakang yang luas namun gelap gulita. Kilatan petir itu sempat memperlihatkan wajah mati Rian yang melotot ngeri, menambah kesan menakutkan yang membuat jantung Adista serasa berhenti berdetak.
Di bawah guyuran air hujan yang menusuk kulit, Adista dan Bik Sumi membawa tubuh Rian ke sudut halaman, di dekat rimbunan pohon-pohon besar yang jarang terjamah. Air hujan langsung membasahi pakaian mereka dalam sekejap, melarutkan darah Rian yang menempel di tangan Adista.
Adista mengambil dua buah sekop dari dalam gudang kecil di dekat sana. Ia memberikan satu kepada Bik Sumi.
"Kita harus cepat, Bik. Sebelum pagi datang," ujar Adista berteriak di tengah gemuruh suara hujan.
Mereka mulai menggali lubang. Tanah halaman belakang yang basah karena hujan deras sebenarnya menjadi lebih gembur, namun setiap kali mereka menyendok tanah, air hujan langsung mengisi kembali lubang tersebut, mengubahnya menjadi kubangan lumpur hitam yang kental. Tenaga Adista yang biasa bekerja di dalam ruangan ber-AC terkuras habis. Tangannya mulai lecet dan perih, tetapi rasa takut akan penjara membuatnya terus mengayunkan sekop tanpa henti.
Kilatan petir kembali menyambar, BLAAARRR!
Suara guntur yang menggelegar membuat Bik Sumi menjerit kaget dan menjatuhkan sekopnya. Di bawah cahaya kilat yang sesaat itu, Adista sempat melirik ke arah jendela lantai atas rumahnya. Di balik kaca kamar yang gelap, ia seolah-olah melihat bayangan putih hantu wanita itu sedang berdiri diam, menyaksikan mereka berdua mengubur korban ketiganya dengan senyuman puas yang mengerikan.
"Non... hantu itu... dia melihat kita," tangis Bik Sumi pecah, menyatu dengan air hujan yang mengalir di wajah tuanya. Tubuhnya gemetar hebat di atas lumpur.
"Jangan lihat ke atas, Bik! Fokus gali lubangnya!" balas Adista berteriak, mencoba menguatkan hatinya sendiri meskipun seluruh tubuhnya sudah menggigil kedinginan dan ketakutan.
Setelah hampir dua jam bergelut dengan lumpur, hujan deras, dan rasa ngeri yang mencekam, sebuah lubang yang cukup dalam akhirnya tercipta. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Adista dan Bik Sumi mendorong jasad Rian masuk ke dalam lubang berair tersebut. Tubuh kaku itu jatuh ke dalam lumpur dengan suara kecipak yang basah.
Tanpa membuang waktu, mereka segera menguruk kembali lubang itu dengan tanah galian. Air hujan yang deras membantu meratakan permukaan tanah, menghapus jejak galian baru dengan cepat.
Ketika tanah sudah kembali rata, Adista ambruk di atas lututnya di tengah guratan hujan. Tubuhnya dipenuhi lumpur hitam dan sisa darah yang samar. Ia menatap tanah di depannya dengan pandangan kosong. Malam ini, di bawah hujan deras yang mengerikan, ia tidak hanya mengubur jasad mantan pacarnya, tetapi ia juga telah mengubur sebagian dari jiwa dan rasa kemanusiaannya sendiri di halaman belakang rumah terkutuk itu.
krn dosa lama kai skrg menempuh apa yg kau tabur
tp.setidaknjya klo berani mengakui dn bertibat akan lenih enteng tp ini tak ada niat ya sudah lah
apakah dgn riyan juga ya
nahhh ini jadi misteri
weehhh kira2 apa ya
aduh entah lah
aduh kira2 kmn lagi akan melangkah
knp.sih susah sekali nyebut namanya hadeh
tp setifak nya g ada yg mati dlu deh kasihan jiwa adista terguncang hebat dgn kejadian kematian yg tak wajar
waduh gmn dong
yg pasti kukisan nya g minta tumbal lagi