"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Parkiran Yang Berdosa
Sore itu, cahaya matahari meredup perlahan di balik jendela kafe Senopati, meninggalkan bias jingga yang jatuh di atas meja kayu.
Di hadapan Aurel, gelas kopi susunya hanya menyisakan es batu yang mencair, menetes pelan ke dasar gelas seperti hitungan mundur kesabarannya. Suasana kafe dipenuhi alunan musik jazz yang lembut dan aroma biji kopi sangrai, kontras dengan pikirannya yang berkecamuk sejak pagi.
Dita, sahabatnya sejak masa kuliah, duduk di seberang. Ia tidak banyak bertanya. Hanya sesekali mengunyah brownies yang hampir habis, seolah memberi ruang bagi Aurel untuk bicara lebih dulu.
"Jadi bagaimana? Lamaran dari HRD itu benar-benar elo tolak?" tanya Dita akhirnya, suaranya hati-hati.
Aurel mengaduk es di gelasnya tanpa menatap Dita. "Bukan lamarannya yang gue tolak. Headline-nya."
"Headline?"
Aurel mendongak. Tatapannya kosong, namun lelahnya nyata.
"Setiap pulang ke rumah di Bekasi, headline di kepala Ibu selalu sama: 'Anak Tetangga Umur Dua Puluh Delapan Sudah Punya Dua Anak'. Di grup keluarga, notifikasinya berbunyi tanpa henti: 'Aurel Kapan Menyusul?'. Di media sosial, komentar orang asing lebih tajam: 'Dua Puluh Sembilan Masih Lajang? Sayang Sekali Wajahnya Cantik'."
Aurel meneguk sisa es di gelasnya. "Gue lelah, Dit. Emang salah ya kalau gue pilih pilih soal pendamping hidup? Nikah cuma sekali, dan gue pengen sama orang yang bener bener ngertiin gue."
Dita terdiam beberapa detik. Ia mendorong tisu ke arah Aurel. "Kalau begitu, elo boleh nangis sepuasnya disini," Dita menepuk pundaknya.
"Nggak perlu, gue bukan anak kecil," jawab Aurel. Ia memaksakan senyum tipis, lalu berdiri merapikan blazer kerjanya. "Ayo pulang, sebelum suasana hati gue semakin buruk."
Sore ini Dita pulang bersamanya karena kebetulan rumah sahabatnya itu ada disamping rumahnya. Beberapa minggu yang lalu ia memutuskan untuk tinggal di kos yang sudah disediakan oleh perusahaan karena akhir akhir ini terlalu sering lembur sampai malam.
Sampai di depan kafe Dita bingung seperti sedang mencari sesuatu.
"Rel elo duluan ya, ntar aku nyusul. HP gue ketinggalan."
"Kebiasaan..."
Akhirnya Aurel melangkah sendirian ke area parkir.
Udara Jakarta sore itu panas dan pengap, bercampur aroma knalpot dan wangi kopi dari kafe Senopati. Aurel berjalan ke arah mobil Avanza silver-nya yang terparkir di baris paling depan, tepat di depan kafe.
Tangannya sudah meraih kunci, menyalakan mesin dan menginjak gas ketika dari arah berlawanan, sebuah mobil Mini Cooper putih melaju cepat menuju slot parkirnya.
Slot itu belum sepenuhnya kosong, masih ada satu tersisa tepat disampingnya. Namun pengemudi mobil putih itu tidak berniat menunggu. Lampu sen-nya berkedip sekali, singkat dan arogan.
Aurel menginjak rem mobilnya yang belum sempat dinyalakan. Ia menurunkan kaca jendela. Alisnya bertaut. "Mas! Saya mau keluar dulu! Etika dasar, tunggu mobil di depan keluar baru Anda masuk!"
Dari mobil di seberang, seorang pria menurunkan kacanya. Usianya tampak muda, awal dua puluhan. Wajah lelah dengan rambut berantakan itu sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanan pria itu. Aurel akui pria itu sangat tampan.
"Mbak, saya sudah sein dari ujung sana. Hukum lalu lintas: yang sudah masuk jalur, punya hak utama."
Aurel tak lagi banyak bicara, dia tak ingin buang buang waktu bertengkar dengan pria ingusan yang mungkin akan bertemu dengan teman kencannya di kafe. Mobilnya mundur dan membiarkan Mini Cooper putih itu parkir tepat disampingnya.
Dita masih ada di dalam kafe, jadi dia memilih menunggu di dalam mobil dengan mesin yang masih menyala.
Sampai bunyi tuk tuk membuatnya menoleh, seseorang mengetuk kaca depan mobilnya. Aurel mendengus kesal, tapi tetap membuka kaca mobilnya.
"Mbak saya ingin minta maaf, saya yang salah. So...apa kita boleh kenalan?"
Emosi Aurel seperti ingin meledak saat itu juga, pria ingusan antah berantah itu malah mengajaknya kenalan? Dasar pria tak punya otak....
"Anda pikir saya berminat kenalan dengan pria egois yang tak mau mengalah pada wanita? Logika kamu cacat!"sinis Aurel tanpa melihat lawan bicaranya. Hatinya lega karena dari sudut matanya ia bisa melihat Dita sudah keluar dari pintu kafe.
"Kan udah minta maaf tadi, aku sengaja bikin kamu marah biar bisa denger suara kamu. Nggak tau, tapi pas liat Mbak pertama kali aku langsung jatuh cinta."
"Ya Tuhan, beri hambamu kesabaran." Kurang lebih itulah yang sekarang Aurel ucap di dalam hatinya. Dadanya naik turun berusaha mengatur nafas yang mulai tak beraturan karena menahan ledakan emosinya.
"Ok, namaku Aurel dan umurku DUA PULUH SEMBILAN tahun. Puas? Sekarang pergi!" ketus Aurel sengaja menekan pengucapan umurnya. Dari wajah pria itu Aurel bisa menebak jika pria itu baru berusia dua puluhan. Tak akan ada pria muda yang tertarik dengan wanita terlalu dewasa sepertinya.
"Aku Adrian Mbak, umur dua puluh tiga tahun. Alhamdulillah udah kerja, gajinya cukup kok buat kita berdua...."
Aurel langsung menaikkan kaca depan mobilnya, tak mau lagi bicara dengan pria muda bernama Adrian itu. Semakin lama ditanggapi maka akan semakin gila pembicaraan mereka. Dita juga sudah masuk ke dalam mobil.
"Elo kenal.sama dia?" tanya Dita , tangannya menyerahkan sesuatu pada Aurel.
"lni apa?" Aurel melihat Dita memberikannya sebuah kartu nama dengan coretan tinta biru di atasnya.
Adrian Dirgantara founder Kata Raya Corp
"Lah elo bisa liat kalau itu kartu nama, ada pesannya tuh tadi kata dia kamu suruh baca. Ngomong ngomong dia ganteng banget, berondong kualitas tinggi sepertinya," ujar Dita sambil tertawa. " Baru kali ini nemu cowok gila kayak dia, nggak minat kamu?"
"Nggak, nggak minat sama berondong," sahut Aurel. Mulutnya mengatakan tidak minat tapi matanya mengikuti langkah Adrian yang masuk ke dalam kafe. Tubuh tinggi tegap dengan pakaian semi formal itu sempurna. Sepertinya nyaman bersandar di dada bidang pria itu. Eehhh...Ya Tuhan... Aurel menggoyangkan kepalanya yang sepertinya mulai bermasalah.
"Mulut sama hati elo nggak sinkron, udah akuin aja kalau elo juga minat sama dia. Nggak ada salahnya kok. Dia tampan, dan yang paling utama nih ya....dia cowok tulen! Ha ha ha..."
Aurel hanya berdecak, kemudian menyalakan mesin mobilnya. Hari sudah semakin sore, hari ini dia janji pada ibunya untuk makan malam di rumah.
Kecuali jarak yang lebih dekat, dengan tinggal di kos ia bisa menghindar saudara atau tetangga yang sering bertanya tentang headline hidupnya saat ini... menikah.
Tadi sebelum menyalakan mobil ia sempat melihat coretan biru di atas kertas nama itu.
Aku tunggu disini besok jam 08.00. 💙
Dita tertawa melihat gambar hati dari tinta biru itu, terlihat norak. Tapi ia acungi jempol pada pria yang tak malu menggambar tanda itu.
"Besok dia nunggu kamu, kamu bakal datang Rel?"
"Ogah banget, biarin aja...."
"Ya iya, aku tahu," satu mata Dita mengedip. Entah kenapa sebagai sahabat ia punya feeling jika dalam waktu dekat Aurel akan menemukan jodohnya. Dan pria bernama Adrian menjadi kandidat kuatnya.