Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manusia cacat.
Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.
Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai elemen Api.
Salah satunya adalah kakek Shen yifan.
Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Lembah Kabut Roh End - Awal sebuah pertemuan
Sore hari perlahan mulai menyelimuti Lembah Kabut Roh.
"Hah..." Jian Chen menjatuhkan tubuhnya ke tanah sambil menatap langit senja. "Nona Bing... kenapa sih aku selalu kalah satu langkah darimu?"
Nangong Bingxue menyimpan tongkat kristalnya, lalu terkekeh pelan. "Karena aku lebih rajin berlatih."
"Jawaban yang menyakitkan," gumam Jian Chen seraya menutup wajahnya dengan lengan. "Ini sudah kekalahan yang ke-99. Padahal aku seniormu."
Nangong Bingxue duduk di sampingnya sambil tersenyum tipis. "Senioritas tidak menentukan siapa yang lebih kuat."
Jian Chen menghela napas panjang. "Padahal tingkat kultivasi kita cuma terpaut satu tahap..."
"Justru satu tahap itu yang membuatmu selalu kalah," jawab Nangong Bingxue santai.
Jian Chen memiringkan kepalanya. "Menurutmu... kapan aku bisa menyusulmu?"
Nangong Bingxue berpura-pura berpikir sejenak, lalu tersenyum jahil. "Mungkin... di kehidupan berikutnya."
"Kejam sekali!" Jian Chen langsung bangkit seraya memegangi dadanya. "Ucapanmu lebih sakit daripada jurusmu!"
Setelah beberapa detik tenggelam dalam keheningan, pandangan mereka beralih ke arah Shen Yifan yang sedang bermeditasi khusyuk di bawah pohon besar.
"Nona Bing... aku semakin penasaran pada Yi Fan," sahut Jian Chen tiba-tiba.
"Jangan selalu memikirkan variabel seperti Yi Fan selama itu tidak merugikanmu. Aku juga penasaran, tetapi lebih baik diam. Setiap orang punya rahasianya sendiri," jawab Nangong Bingxue tenang.
"Iya, seharusnya begitu... Aku tidak boleh berpikiran aneh-aneh tentang Yi Fan!" Jian Chen mengangguk setuju.
Tak lama kemudian, Jian Chen dan Nangong Bingxue menyadari tubuh mereka mulai memancarkan pendar cahaya halus.
"Hmm... Sebentar lagi kita akan ditarik paksa keluar oleh lembah ini," ujar Jian Chen.
Nangong Bingxue mengangguk pelan. Ia sudah memprediksinya. Hari makin gelap, dan perburuan harta serta tanaman herbal telah berlangsung lama. Lembah ini akan segera menutup kembali selama belasan tahun.
Sementara itu, Shen Yifan yang sedang fokus bermeditasi mendadak tersentak.
"Uhuk!"
Darah segar tersembur dari mulutnya. (Sial, dantianku sudah tidak sanggup lagi menampung Energi Spiritual... Aku harus secepatnya menerobos ranah!) batin Shen Yifan panik.
"Yi Fan, kamu tidak apa-apa?" Jian Chen dan Nangong Bingxue bergegas menghampiri Shen Yifan setelah melihatnya batuk darah.
"Ah, tidak apa-apa." Shen Yifan menggeleng pelan sambil menyeka sisa darah di sudut bibirnya. "Aku hanya harus secepat mungkin menerobos ke ranah berikutnya. Dantianku sudah hampir mencapai batas."
Nangong Bingxue mengangguk prihatin. "Jangan memaksakan diri. Kalau fondasimu rusak, akan sangat sulit diperbaiki."
"Aku tahu." Shen Yifan tersenyum tipis.
Tiba-tiba, cahaya lembut kian terang menyelimuti tubuh mereka. Bintik-bintik cahaya bermunculan dari atas tanah, berputar mengelilingi mereka menyerupai tarian kunang-kunang di bawah langit senja.
"Waktunya sudah tiba..." gumam Jian Chen seraya memperhatikan kedua telapak tangannya yang perlahan terurai menjadi partikel-partikel cahaya.
Nangong Bingxue menatap langit yang kian mengelam. "Lembah Kabut Roh telah menutup."
Dalam sekejap, tubuh mereka bertransformasi menjadi aliran cahaya murni yang melesat cepat ke angkasa.
Wusss!
Satu per satu sosok mereka lenyap dari area tersebut, menyisakan keheningan mutlak yang kembali merengkuh Lembah Kabut Roh. Kabut putih perlahan menebal, menyapu bersih setiap jejak keberadaan para kultivator, seolah tidak pernah ada seorang pun yang pernah melangkah di sana.
Hingga belasan tahun mendatang... Lembah Kabut Roh kembali tertidur lelap dalam kesunyian.
Satu per satu kultivator dari berbagai sekte yang memasuki Lembah Kabut Roh mulai bermunculan kembali di tengah Desa Kabut pada malam hari.
"Sial! Aku tidak mendapatkan keberuntungan sama sekali!" gerutu seorang kultivator seraya menendang batu di pinggir jalan.
"Jangan mengeluh. Setidaknya kau masih bernapas," sahut rekannya sambil tertawa pahit.
Di sudut lain, beberapa kultivator tampak tersenyum puas.
"Haha! Kali ini aku berhasil memperoleh Artefak Tingkat Tiga. Perjalanan ini tidak sia-sia!"
"Aku juga lumayan. Tiga batang Rumput Roh Seribu Embun dan satu Buah Api Scarlet kelas menengah. Jika dijual, hasilnya cukup untuk modal berkultivasi selama beberapa tahun."
Ada pula yang hanya menggeleng kecewa. "Aku hanya menemukan beberapa tanaman herbal tingkat rendah. Bahkan biaya masuk ke Lembah Kabut Roh saja belum tertutupi."
Suasana Desa Kabut mendadak riuh. Sebagian kultivator saling memamerkan hasil buruan, sebagian lagi langsung mencari pedagang untuk menjual tanaman spiritual dan artefak. Tidak sedikit pula yang memilih segera pergi dengan wajah muram, membawa pulang tangan kosong setelah mempertaruhkan nyawa selama berhari-hari. Namun bagi mayoritas dari mereka, sanggup keluar dari Lembah Kabut Roh dalam keadaan bernapas saja sudah merupakan sebuah keberkahan.
Wusss!
Berpendar kilatan cahaya lain yang mendarat di tanah. Itu adalah Shen Yifan, Jian Chen, Nangong Bingxue, serta belasan junior mereka.
Seketika, puluhan pasang mata langsung tertuju tajam ke arah Shen Yifan. Rasa dendam dan jengkel membakar dada mereka setelah tahu Shen Yifan telah menyapu bersih dua batang Anggrek Jiwa Langit—tanaman herbal tingkat tinggi yang langka.
"Itu dia!"
"Bocah yang mengambil dua batang Anggrek Jiwa Langit!"
"Gara-gara dia, kita semua pulang dengan tangan kosong!"
Kemarahan yang sempat terpendam kembali meledak. Puluhan kultivator menatap Shen Yifan penuh kebencian. Beberapa di antara mereka bahkan mulai melangkah maju dengan tergesa-gesa, berniat melampiaskan kekesalan.
Namun... baru beberapa langkah mereka bergerak—
Tap.
Nangong Bingxue maju satu langkah ke depan. Tatapan dinginnya menyapu kerumunan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Seketika, suasana yang semula riuh membeku total. Aura dingin tak kasat mata menyelimuti seluruh area, membuat napas para kultivator terasa amat berat dan tertekan.
Di sampingnya, Jian Chen melipat kedua tangan di dada seraya menyunggingkan senyum tipis.
"Kalau ada yang ingin mencari masalah..." ucapnya santai, "...silakan maju satu langkah lagi."
Kalimat itu terdengar ringan, tetapi diimbuhi tekanan aura yang membuat wajah para kultivator pucat pasi. Mereka saling berpandangan dengan tubuh gemetar, lalu refleks mundur beberapa langkah. Tak peduli seberapa besar rasa kesal mereka pada Shen Yifan, tidak ada satu pun yang cukup nekat untuk menyinggung jenius Keluarga Nangong dan murid inti sekte besar di area terbuka.
Dalam sekejap, kerumunan yang semula berapi-api mendadak bungkam. Yang tersisa hanyalah tatapan iri dan dengki yang diarahkan secara tersembunyi kepada Shen Yifan.
Shen Yifan menunduk seraya menangkupkan kedua tangannya. "Terima kasih, Kak Bing, Jian Chen!"
"Haha, tidak masalah... Mereka hanya tidak sadar diri dengan kemampuan sendiri, makanya sangat iri!" sahut Jian Chen sambil melirik tajam ke arah kerumunan.
Para kultivator itu tak mampu membalas. Bagaimanapun, ucapan Jian Chen ada benarnya. Tak lama kemudian, kerumunan tersebut terpaksa membubarkan diri.
"Hahahaha!"
Tiba-tiba, suara tawa keras bergema dari kejauhan. Seorang pria berjubah putih lusuh berjalan santai dari tengah keramaian sambil bertepuk tangan pelan.
"Menarik! Sangat menarik!" Pria itu tersenyum lebar. "Sudah lama aku tidak melihat junior seberani ini membuat seluruh kultivator di Lembah Kabut Roh naik darah."
Rambut pria itu tampak acak-acakan, sementara di pinggangnya menggantung sebuah kendi arak setengah kosong. Langkahnya terlihat malas, tetapi aura samar yang memancar dari tubuhnya membuat orang-orang di sekitar refleks memberi jalan.
Tatapannya kemudian terkunci tepat pada Shen Yifan.
"Bocah..." Sudut bibirnya terangkat. "Kau benar-benar berbakat dalam memicu masalah."
Shen Yifan seketika mengenali pemuda lusuh tersebut—orang yang sempat membuat Luo Tian naik darah saat berada di gerbang spasial.
"Senior?" Shen Yifan mengerutkan kening, berpura-pura tidak tahu.
"Hahaha!" Pria itu tertawa nyaring seraya menepuk dadanya sendiri. "Namaku Mu Qian!"
Ia kemudian mengangkat satu jari dengan wajah amat serius, seolah hendak memperkenalkan sebuah filosofi agung.
"Mu berarti kagum..." Ia berhenti sejenak, lalu menunjuk dirinya dengan bangga. "...dan Qian berarti tampan!"
"Jika digabungkan..." Mu Qian mengibaskan rambutnya yang berantakan. "Artinya: seseorang yang dikagumi karena ketampanannya!"
Suasana seketika hening.
Jian Chen memijat pelipisnya yang mendadak pening. "...Siapa yang memberimu arti nama seperti itu?"
Mu Qian mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Aku sendiri."
Shen Yifan dan Nangong Bingxue saling berpandangan.
"Benar-benar tidak tahu malu," gumam Nangong Bingxue datar.
Tiba-tiba, di belakang Mu Qian berdiri seorang pemuda berjubah hitam dengan ekspresi wajah datar. Tatapannya tenang namun tajam. Shen Yifan langsung mengenalinya.
Brak!
"Aww!" Mu Qian spontan memegangi kepala bagian belakangnya sambil meringis kesakitan. "Siapa yang berani memukul wajah tampanku?!"
(Jadi dia... pemuda yang mendapatkan satu batang Anggrek Jiwa Langit selain aku,) batin Shen Yifan saat melihat tangkai tanaman herbal itu berada di genggaman pemuda berjubah hitam.
Pemuda itu melangkah maju, lalu menangkupkan kedua tangan ke arah Jian Chen, Nangong Bingxue, dan Shen Yifan.
"Maafkan tingkah rekanku," ucapnya dengan suara datar namun tulus. "Namaku Ye Han."
Mu Qian langsung menunjuk Ye Han dengan wajah berang. "Hei! Kenapa kau memukulku?!"
Ye Han meliriknya sekilas. "Karena kau memalukan."
"..." Mu Qian melongo, kehilangan kata-kata untuk membalas.
Shen Yifan tidak sanggup menahan tawa kecilnya. "Haha..."
Mendengar tawa itu, Ye Han mengalihkan pandangannya ke arah Shen Yifan. Berbeda dengan tatapan dinginnya tadi, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Namaku Yi Fan," ujar Shen Yifan seraya menangkupkan kedua tangan.
Ye Han mengangguk pelan. "Aku mengenalmu."
Shen Yifan sedikit terkejut. "Mengenalku?"
"Ya." Tatapan Ye Han tetap tenang. "Di saat semua orang sibuk bertarung memperebutkan Anggrek Jiwa Langit... hanya kau yang memikirkan cara untuk mendapatkannya."
Ia jeda sejenak. "Orang lain bertarung demi mencari kesempatan. Anda... menunggu kesempatan itu datang."
Shen Yifan tersenyum tipis. "Itu hanya kebetulan."
Ye Han menggeleng pelan. "Bukan kebetulan, melainkan penilaian... Seseorang yang mampu tetap tenang saat semua orang kehilangan akal sehat... biasanya akan hidup lebih lama."
Mu Qian tiba-tiba menyela sambil mengangkat bahu. "Bahasa puitisnya mulai keluar lagi. Kalau Ye Han mulai bicara sepanjang ini, berarti dia benar-benar mengagumimu."
Ye Han melirik Mu Qian tajam. "Diam."
"Iya, iya... Aku diam," cerocos Mu Qian seraya terkekeh pelan.
Shen Yifan memandang keduanya secara bergantian. "Kalau boleh tahu... apakah kalian berdua berasal dari sekte yang sama?"
Mu Qian mengangguk cepat. "Benar! Kami berasal dari Sekte Awan Hijau. Aku dan si balok es ini sudah bersama sejak kecil."
Ye Han menghela napas pelan. "Jangan salah paham."
"Hah?"
"Aku hanya tidak berhasil menyingkirkannya."
"..." Mu Qian membeku seketika. "Lho?"
Ye Han melanjutkan dengan wajah tetap tanpa ekspresi. "Setiap kali kutinggalkan, dia selalu berhasil kembali."
Mu Qian memegangi dadanya secara dramatis. "Han... kata-katamu benar-benar melukai hati saudaramu sendiri!"
Ye Han menatapnya sekilas. "Aku hanya menyampaikan fakta."
"..." Mu Qian menghela napas panjang lalu mengibaskan tangan. "Sudahlah... aku sudah kebal. Lagipula, setiap hari aku memang selalu dihina olehnya."
Ye Han menambahkan datar, "Karena setiap hari kau melakukan hal yang memang pantas untuk dihina."
"Han..." Mu Qian kembali mengelus dadanya. "Kau memang tidak pernah gagal menusuk hati orang."
Melihat interaksi kocak keduanya, Shen Yifan hanya bisa menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Hubungan kalian... cukup unik."
Mu Qian tertawa nyaring. "Haha! Sudah biasa! Jangan lihat wajahnya yang dingin begitu. Dia memang berbicara seperti pedang, tapi hatinya sebenarnya cukup baik."
Ye Han tidak membantah, hanya memalingkan wajah ke samping yang makin membuat Mu Qian tertawa puas.
Jian Chen dan Nangong Bingxue saling berpandangan, lalu ikut tertawa terkekeh melihat tingkah kedua pemuda itu.
"Haha... Kalian benar-benar pasangan yang aneh," ujar Jian Chen sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sudut bibir Nangong Bingxue terangkat sedikit. "Aku baru kali ini melihat seseorang dihina terus-menerus tetapi masih bisa tersenyum lebar."
Mu Qian membusungkan dadanya bangga. "Itulah bakat kelebihanku!"
Ye Han langsung menimpali datar, "Itu bukan bakat. Itu tidak tahu malu."
"Han..." Mu Qian kembali memasang raut sedih buatan. "Tolong sisakan sedikit harga diriku."
Suasana yang tadinya tegang kini dipenuhi tawa hangat. Namun beberapa saat kemudian, Jian Chen menoleh ke arah para murid berjubah ungu yang sedang menunggu di kejauhan.
"Hmm... Sepertinya kami harus segera kembali."
Nangong Bingxue mengangguk setuju. "Para junior harus segera diantar pulang ke sekte. Kami tidak bisa terlalu lama berada di luar."
Jian Chen menatap Shen Yifan dengan raut penyesalan. "Yi Fan, maaf ya. Awalnya aku masih ingin mengobrol lebih lama denganmu."
Nangong Bingxue ikut menangkupkan kedua tangan. "Maaf. Lain kali jika ada kesempatan, kita berkumpul lagi."
Shen Yifan membalas hormat dengan mengepalkan tangan di depan dada. "Tidak masalah. Tugas kalian jauh lebih penting."
Jian Chen tertawa. "Haha! Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Yi Fan!"
"Sampai bertemu kembali," ucap Nangong Bingxue singkat.
Tanpa menunda waktu, keduanya berbalik menghampiri rombongan murid sekte. Tak lama kemudian, mereka menaiki artefak terbang berbentuk perahu giok yang megah.
Artefak itu melesat cepat ke langit malam, bertransformasi menjadi seberkas cahaya terang sebelum akhirnya menghilang di balik awan.
Shen Yifan mendongak, memandang langit malam sesaat lalu menghembuskan napas perlahan. "Semoga perjalanan mereka lancar."
Kini, yang tersisa di area tersebut hanyalah Shen Yifan, Mu Qian, dan Ye Han. Suasana kembali hening.
Mu Qian tiba-tiba menepuk bahu Shen Yifan. "Yi Fan, bagaimana kalau kau ikut kami saja?"
Shen Yifan memiringkan kepala. "Ikut ke mana?"
"Masuk ke sekte kami!" jawab Mu Qian penuh semangat. "Walau sekte kami kecil, suasananya sangat menyenangkan. Makan gratis, tidur gratis, dan—"
Ye Han langsung memotong, "Jangan dengarkan penjelasannya."
Mu Qian seketika bungkam.
Ye Han menatap Shen Yifan beberapa saat, seolah sedang menilai pemuda di hadapannya. "Kau tidak tertarik pada kekuasaan."
Shen Yifan mengangguk setuju.
"Kau juga tidak terlalu peduli pada artefak."
Shen Yifan terdiam.
"Yang benar-benar kau kejar..." Ye Han jeda sejenak, "...adalah Alkimia Pil?"
Mata Shen Yifan sedikit membelalak kaget. "Bagaimana kau bisa tahu?"
Ye Han menjawab datar, "Dari caramu memperlakukan Anggrek Jiwa Langit. Orang biasa hanya fokus merebutnya, sedangkan kau justru memikirkan cara menjaga kesegaran khasiatnya."
Shen Yifan kembali bungkam.
Ye Han melanjutkan, "Di sekte kami... ada seorang Guru Pil Legendaris."
Mata Shen Yifan seketika berbinar terang. "Guru Pil Legendaris?"
"Ya."
Mu Qian buru-buru mengangkat tangan. "Eh... sebenarnya kalau dikatakan legendaris sih—"
Tatapan tajam Ye Han langsung mengunci Mu Qian. Walau senyum Ye Han amat tipis, entah mengapa Mu Qian refleks menelan ludah.
"...Maksudku... sangat amat legendaris!" sahut Mu Qian cepat sambil tertawa canggung.
Ye Han kembali menoleh pada Shen Yifan. "Jika kau benar-benar ingin menempuh jalan seorang alkemis, aku yakin kau akan memperoleh banyak manfaat di sekte kami."
Shen Yifan terdiam cukup lama dengan raut penuh pertimbangan. Namun beberapa saat kemudian, ia menggeleng pelan. "Maaf... untuk saat ini aku belum berniat bergabung dengan sekte mana pun."
Mu Qian tampak kecewa. "Yah... sayang sekali."
Namun sebelum mereka sempat berkata apa-apa lagi, Shen Yifan kembali bersuara, "Akan tetapi..."
Mata Ye Han sedikit menyipit.
"...jika aku berhasil menerobos ke Ranah Foundation Establishment, aku akan mempertimbangkan untuk bergabung dengan sektemu."
Mendengar jawaban itu, sudut bibir Ye Han terangkat membentuk senyum tipis. "Itu sudah lebih dari cukup."
Mu Qian pun kembali bersemangat. "Bagus! Kalau begitu kami tunggu! Awas saja kalau kau sampai mengingkari ucapanmu!"
Shen Yifan tersenyum kecil seraya mengepalkan tangan. "Tentu. Selama takdir masih mempertemukan kita."
Beberapa menit berlalu. Setelah berbincang singkat, Shen Yifan, Ye Han, dan Mu Qian melangkah menuju sebuah penginapan kecil di Desa Kabut. Malam itu mereka memilih beristirahat demi memulihkan tenaga yang terkuras setelah bertarung dan menjelajahi Lembah Kabut Roh.
Esok pagi, Shen Yifan berencana untuk segera bertolak kembali ke Kota Istana Langit. Ia harus meracik pil Tingkat Tiga—Pil Foundation Establishment.