NovelToon NovelToon
Bocah Cadel Itu Suami Ku

Bocah Cadel Itu Suami Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.

Sampai suatu malam… hidupnya berubah.

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.

Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.

Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui

•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨


•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍

" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Gelisah

Pada malam hari, Brielle duduk di sofa ruang tengah, memainkan ponselnya sambil melirik Nevran yang tampak sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.

Setelah beberapa saat, Nevran akhirnya menutup laptopnya dan bangkit berdiri.

“Gue harus pergi bentar,” ucapnya.

Brielle mengangkat wajahnya. “Ke mana?”

“Ke markas. Ada urusan mendadak,” jawab Nevran santai sambil mengambil jaketnya.

Brielle mengerutkan kening. “Markas? Lo ada urusan apa?”

Nevran menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. “Nggak perlu tahu.”

Brielle mendesis kesal. “Lo selalu kayak gini.”

Nevran tertawa kecil, lalu berjalan mendekat dan mengusap puncak kepala Brielle dengan lembut. “Gue nggak lama. Jangan tidur terlalu malam.”

Brielle hanya mendengus kesal, tapi entah kenapa, sentuhan Nevran tadi membuat jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.

Nevran kemudian melangkah pergi, meninggalkan Brielle yang masih duduk di sofa dengan perasaan yang bercampur aduk.

Sejak kapan dia mulai bertingkah kayak suami yang perhatian?

---

Setelah pamit dari Brielle, Nevran melaju dengan motornya menuju markas Dravin Clutch.

Begitu sampai, suasana langsung terasa tegang. Beberapa anggota geng sudah menunggu di dalam ruang utama markas yang sederhana namun penuh dengan simbol-simbol kekuatan dan kebebasan. Axel, Derryl, Nayel, Kyven, dan Haikal sudah duduk di meja besar, tampak serius. Tidak ada yang berani berbicara terlalu keras, mengingat pentingnya pertemuan ini.

Nevran masuk dengan langkah pasti, meletakkan helmnya di atas meja, lalu duduk di kursi yang telah disediakan. Dia menatap sahabat-sahabatnya, yang sudah mengetahui masalah yang sedang ia hadapi. Wajah mereka menunjukkan keseriusan yang sama.

“Kita nggak bisa santai lagi, guys,” kata Nevran memecah keheningan. “Ada orang yang nyoba main belakang sama kita. Gue tahu dia nggak main-main.”

“Lo maksud siapa?” tanya Axel, nada suaranya sedikit lebih berat. Meskipun biasanya dia selalu terlihat santai, kali ini ekspresinya sangat serius.

Nevran mengeluarkan sebuah foto dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. “Ini orangnya. Gue dapat informasi kalau dia udah mulai bergerak ngelawan kita. Gak hanya masalah geng ini, tapi juga kehidupan pribadi gue,” katanya sambil menatap foto itu dengan penuh kecurigaan.

Derryl menatap foto itu dengan seksama. “Kita harus hati-hati. Orang ini bisa jadi ancaman besar buat semuanya.”

Kyven, yang biasanya suka bercanda, kali ini terlihat lebih fokus. “Kita harus cepat gerak. Jangan sampe ada yang keburu jatuh.”

Haikal yang sebelumnya lebih banyak diam kini berbicara, “Nev, lo yakin kita harus langsung bergerak? Bisa-bisa kita bikin masalah besar.”

Nevran menatap sahabat-sahabatnya, mempertimbangkan setiap kata mereka. “Kita nggak punya pilihan lain. Kalau dia terus dibiarkan, dia nggak cuma ngancem gue, tapi juga orang-orang yang gue sayang. Kita nggak bisa biarin itu terjadi.”

Axel mengangguk. “Lo udah benar, Nev. Kita harus bersatu. Kalau dia nyerang, kita balas dua kali lipat.”

“Gue setuju,” kata Kyven, bersemangat. “Tapi kita harus rencanain semuanya matang-matang. Kita nggak bisa asal gebuk, kita harus ngerti siapa lawannya dan apa tujuan dia.”

Nevran memandang mereka semua dengan tatapan tajam. “Jadi, malam ini kita mulai gerakan. Kita cari tahu siapa dia sebenarnya, dan kita pastikan semuanya beres.”

Nayel, yang biasanya lebih tenang, kali ini berbicara dengan penuh keyakinan. “Jangan sampai kita lengah. Satu kesalahan bisa bikin semuanya hancur.”

“Gue tahu. Kita semua harus siap, siap dengan segala kemungkinan,” jawab Nevran, tegas.

Percakapan itu pun berlanjut, membahas setiap langkah yang harus diambil untuk memastikan agar ancaman tersebut tidak mengganggu geng mereka. Meskipun suara mereka tenang, di balik itu ada ketegangan yang tak terungkapkan. Nevran tahu, ini bukan sekadar urusan geng—ini sudah menyangkut masa depannya, dan bahkan pernikahannya dengan Brielle.

Saat pertemuan itu berakhir, mereka semua saling menatap, memastikan bahwa mereka siap untuk menghadapi apa pun yang datang. Nevran keluar dari markas dengan langkah cepat, pikiran di kepalanya penuh dengan strategi dan perasaan yang bergejolak.

Sekali lagi, dia harus melindungi orang-orang yang dia sayangi. Dan dia tidak akan berhenti sampai itu terlaksana.

---

Nevran melangkah keluar dari markas dengan langkah cepat, pikirannya penuh dengan rencana dan perasaan yang bergejolak. Dia tahu pertemuan ini hanya awal dari segalanya. Ancaman yang datang tidak hanya tentang geng, tetapi juga tentang hidupnya yang kini terikat pada seseorang yang lebih dari sekadar istri—Brielle. Meskipun di luar sana banyak bahaya yang mengintai, dia tidak bisa membiarkan apa pun mengancam masa depannya bersama Brielle.

Sesampainya di mobil, Nevran menyalakan mesin dan memacu kecepatan tinggi menuju rumah. Namun, pikirannya kembali melayang pada Brielle. Bagaimana jika orang yang mengancam mereka itu tahu tentang Brielle? Jika sampai ada yang menyentuhnya, Nevran tidak bisa bayangkan apa yang akan dia lakukan. Hatinya menegang hanya dengan memikirkan kemungkinan itu.

Saat mobil berhenti di depan rumah, Nevran melihat lampu rumah yang masih menyala. Brielle pasti belum tidur. Langkahnya terhenti sejenak di depan pintu, merasakan gelombang perasaan yang tiba-tiba muncul begitu saja. Apakah Brielle merasa tenang dengan keadaan ini? Nevran merasa ada jurang antara mereka, meski mereka baru saja menikah. Seperti ada tembok yang dia bangun, dan Brielle tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dunia luar yang harus mereka hadapi bersama.

Dia membuka pintu dan masuk. Brielle yang sedang duduk di ruang tengah, tampak terkejut melihatnya pulang lebih cepat dari yang dia kira.

“Lo udah pulang?” tanyanya, sedikit canggung.

Nevran mengangguk tanpa berkata banyak. Dia hanya meletakkan jaketnya di kursi dan berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Brielle memperhatikannya, merasakan ada sesuatu yang berbeda. Nevran tampak lebih tegang dari biasanya. Tidak seperti biasa, dia biasanya pulang dengan sikap cuek dan santai.

“Lo nggak ngantuk?” tanya Nevran sambil menuangkan air ke dalam gelas, berusaha untuk berbicara normal, meski pikirannya masih terjebak di markas.

Brielle menggelengkan kepala. “Enggak, gue nggak ngantuk. Kenapa, lo capek?”

Nevran hanya tersenyum tipis, meski di matanya ada bayangan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. “Sedikit. Tapi nggak masalah.”

Brielle merasa ada yang aneh. Dia bisa merasakan ketegangan yang terpendam dalam sikap Nevran. Dia bukan orang yang mudah dibohongi, dan sikap Nevran yang menahan diri hanya membuatnya semakin penasaran. “Cadel, ada apa?”

Nevran menatap Brielle sejenak, menimbang-nimbang apakah dia harus menceritakan segalanya. Namun, dia tahu itu bukan saat yang tepat. Brielle tidak perlu tahu semua beban yang harus dia pikul. “Gue... cuma capek. Urusan geng, segala macam. Gak ada yang penting.”

Brielle tidak langsung yakin. Dia bisa melihat raut wajah Nevran yang tertekan. Sejak pernikahan mereka, dia mulai mengenal sisi-sisi Nevran yang sebelumnya tak dia ketahui. “Lo nggak harus ngelakuin semuanya sendirian,” kata Brielle pelan, mencoba meredakan ketegangan di antara mereka.

Nevran menatap Brielle, kali ini ada keheningan sejenak di antara mereka. Dia ingin sekali berbicara jujur, tetapi ada sesuatu yang menghalangi. Entah karena ego atau rasa tanggung jawab yang terlalu besar, dia masih merasa perlu menjaga Brielle dari kenyataan yang sedang dia hadapi.

“Gue tahu. Tapi ini bukan sesuatu yang bisa dibagi begitu saja.” Suaranya lebih rendah, lebih serius.

Brielle menatapnya dengan serius. “Lo gak usah sok kuat. Kita kan udah menikah, bukan cuma jadi pasangan di depan orang lain. Kalau ada yang nggak beres, gue juga harus tahu, kan?”

Nevran menghela napas panjang, akhirnya duduk di sofa. “Iya, lo benar. Tapi ini bukan cuma soal kita. Ada orang lain yang udah mulai nyerang, dan gue nggak mau lo jadi sasaran.”

Brielle merasa hati kecilnya tergetar. “Sasaran siapa? Lo maksud siapa?”

Nevran menatap Brielle dengan tatapan tajam, berusaha mengatur pikirannya. “Ada orang yang mencoba ngambil keuntungan dari situasi ini, dari kita. Nggak hanya geng ini, tapi juga kehidupan pribadi gue. Dan gue nggak mau lo ikut terlibat dalam masalah ini.”

Brielle terdiam, mencoba mencerna kata-kata Nevran. “Jadi lo yang harus ngurus semuanya sendirian? Apa lo pikir gue nggak bisa bantu?”

Nevran menundukkan kepala, merasa bersalah. “Gue cuma nggak mau lo kepikiran soal ini. Gue nggak mau lo terlibat dalam bahaya.”

“Lo nggak bisa terus seperti ini,” jawab Brielle tegas, meskipun ada rasa khawatir yang mendalam. “Lo pikir gue nggak tahu kalau lo menyembunyikan sesuatu dari gue? Gue mungkin nggak tahu semua detailnya, tapi gue bisa lihat dari sikap lo. Kita harus saling percaya.”

Nevran menatap Brielle dalam diam. Kata-kata Brielle seolah menembus lapisan pelindung yang selama ini dia bangun. Dalam hatinya, dia tahu bahwa Brielle benar. Tidak ada alasan untuk terus menjaga jarak, tidak ada alasan untuk tidak berbagi beban. Mereka sudah menikah, dan ini adalah waktunya untuk saling menguatkan.

Nevran akhirnya menghela napas dan mendekatkan diri pada Brielle. “Lo benar. Gue harus lebih terbuka. Tapi ini berbahaya. Gue nggak bisa janji kalau semuanya akan aman.”

Brielle menggenggam tangan Nevran dengan lembut. “Kita jalan bareng, kan? Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama.”

Nevran menatap Brielle, dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, dia merasakan sedikit ketenangan. Meski masa depan mereka penuh ketidakpastian, dia tahu satu hal: mereka bisa saling bergantung satu sama lain. Dengan Brielle di sisinya, dia merasa sedikit lebih kuat untuk menghadapi apa pun yang akan datang.

Bersambung

1
Lucky Ferdinand Sihombing
lanjutttgt
Lucky Ferdinand Sihombing
Gak brisik gak Briellle 🤣🤣
Lucky Ferdinand Sihombing
lucu bet mereka berantam 🤣🤣
Lucky Ferdinand Sihombing
hadir 💪
jeeny sihombing
lanjut pokoknya💪
jeeny sihombing
keren
cila_aa
Haii salam kenal kak🖐


bantu support juga yaa😇
Alia Chans: Salken juga kk☺
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
et si cadel bisa ae maen nyosor aja 😩
Wulandari Ayuningtyas: wkwk🤣🤣
total 2 replies
Wulandari Ayuningtyas
itu om om suruh share lok buruan thor,mau aku gampar dengan kata kata 🤣
Wulandari Ayuningtyas: iya biar sadar dia 🤣
total 2 replies
Adinda
buat peran cewek Manis dan imut anak pindahan sekolah lain Dan buat brielle panas karena nevran dekat sama cewek itu Thor pasti seru
Alia Chans: Saran diterima kk🙏🏻😊
total 1 replies
jeeny sihombing
good💪
jeeny sihombing
suka pokoknya, cerita nya gk klise gitu, bintang lima deh
Nelson Sihombing
mampir
SANG
Asik ya
SANG
Seru ya
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Bunga untukmu dek/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG: Masama dek/Rose/
total 2 replies
SANG
Lanjut dek👍💪
SANG
Semangat dek👍💪
SANG
Aku hadir dek👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!