"Apa kau pikir Alexandra ikut bagian dalam rencana mereka untuk menjebakku?" tanya Marc Maretta serious.
"Nona Alexandra bekerja sebagai tour guide di negerinya. Ia datang menemui kekasihnya di Thessaloniki setelah satu setengah tahun mereka berkenalan. Kelihatannya hubungan mereka tak berhasil," kata pengawal Marchetti.
Gadis yang sedang patah hati, mampukah ia membunuh mafia kejam seperti Marc Maretta, that's impossible!
Perjalanan yang ditempuh Alexandra begitu jauh, dari Indonesia menuju Greece kemudian ke France. Namun dirinya malah terdampar di Milan, Italy. Dan luka tembak di lengannya, itu bukan untuknya!
Alexandra bukan gadis yang lemah tapi jatuh cinta pada mafia membuat dirinya harus menerima kenyataan, dilukai atau melukai.
Apakah Marc Marreta menjadi pilihan hidupnya di antara dua laki-laki lain yang mencintainya?
Antonis yang ingin merebut cintanya kembali atau mungkin Guy Dupuis sahabatnya yang menyayangi Alexandra sejak lama?
Sebuah dilemma bagi Alexandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ray B., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merindu
Pagi ini Guy Dupuis bersama Alexandra siap meluncur ke kota Avignon. Suasana yang berbeda dirasakan walau Avignon adalah sebuah kota di selatan Prancis.
Merupakan ibu kota administratif Vaucluse. Sekitar 89.000 orang tinggal di kota ini kini, dan sekitar 155.000 di wilayah pinggiran kota. Kota ini didirikan sekitar 539 SM. Selama Abad Pertengahan, kota ini ialah tempat pemerintahan paus.
Alexandra mencatat baik-baik semua perjalanannya dalam buku diarynya dan akan disadur lagi ke laptop saat waktu senggang nanti.
Guy bertemu dengan orang-orang kepercayaannya mewakili perusahaannya yang berada di Marseille. Walau ditempuh hanya 1 jam lebih tapi kesibukannya tidak bisa mengecek setiap saat ke sana.
Terkecuali ada hal penting seperti saat ini, tiap awal tahun harus memantau inventaris barang & penyediaan jasa perusahaan serta keadaan para pekerjanya.
Dulu ia bekerja sebagai engineering perusahaan minyak, sekarang ia meneruskan perusahaan keluarganya dibidang export import barang, ekspedisi dan lainnya.
Alexandra tak ingin mengganggu pekerjaannya tapi Guy Dupuis khawatir sebelumnya.
"C'mon aku ga papa, paling hanya menjelajah sekitar sini berjalan kaki atau mampir ke kafe membeli coklat hangat setelah mengambil beberapa photo bagus untuk laporan perjalanan wisataku," kata Alexandra menyakinkannya.
Guy Dupuis mengangguk, "Kau benar juga paling tidak kau bisa manfaatkan waktumu membuat journal wisata yg menarik untuk mengundang wisatawan ke negeriku nanti."
Alexandra mengambil tasnya lalu mulai mengeksplorasi kota Avignon. Guy Dupuis hanya memberi waktu kurang dari 3 jam karena ia akan rapat juga dengan kolega baru nanti.
Jika Alexandra sudah lelah, ia diharuskan menghubunginya untuk beristirahat di sebuah kafe atau tempat yang aman nyaman untuk dirinya agar ia bisa menjemputnya segera.
"Baiklah, kau cerewet sekali Guy!" Alexandra mengomel. Tapi Guy menarik tangannya, "Hey!"
"Oui Monsieur, je comprends - saya mengerti. A bientot - sampai jumpa lagi." Diciumnya pipi Guy kemudian mulai berpetualang mencari inspirasi.
Dibelakangnya Guy hanya bisa menggeleng kepalanya, begitulah Alexandra keras kepala.
......................
Milan's
Pekerjaan di kantornya memaksa Marc Maretta tidak bisa pergi kemana-mana. Ia menemukan kejanggalan laporan property di Nice - France.
Wajahnya berseringai jahat, ia akan menemukan Alexandra pada waktunya.
Marchetti memberikan laporannya termasuk posisi Alexandra setiap saat, setiap hari. Marc Maretta mendengarkannya dengan baik.
"Nona Alexa berpindah kota setiap hari. Dari Marseille ke Avignon kemudian ke Montpellier, Bėziers, Toulouse, Bordeaux. Apa yang dikerjakan gadis itu, Marc?" tanyanya bingung.
Marc Maretta menggeleng, "Ia perempuan pemberani, datang sendiri ke Europe menemui kekasihnya di Greece. Sayang hubungan mereka tidak berhasil malah terdampar di Milan bersamaku."
Dipandangnya Marchetti, ia melanjutkan dengan geram.
"Sekarang giliranku membalas dendam karena ia berani bermain-main denganku. Secepat itu Alexandra dipeluk laki-laki lain di France!" teriaknya marah sambil menggebrak mejanya.
Marchetti menghela nafas, Tuan Muda mudah sekali emosi sejak Alexandra meninggalkannya.
"Sebaiknya kau berhati-hati Marc, ia mungkin pernah mematahkan hatimu. Tapi kau juga sering melukai perasaannya. Mengapa tidak kau lepaskan gadis itu, apa kau masih penasaran dengannya?"
Marc Maretta mengacuhkannya, pura-pura kembali bekerja seperti biasa.
......................
Marseille
Satu minggu berlalu mereka berdua menyusuri beberapa kota. Alexandra terlihat senang walau hanya tinggal beberapa jam dalam 1 kota ia bisa mendapatkan banyak keunikan baik architecture, landscape, budaya, kebiasaan setempat dan sebagainya.
Sayang ia tidak mahir berbahasa Prancis karena masyarakat sana lebih senang menggunakan bahasanya sendiri daripada bahasa Inggris yang ia kuasai saat ini.
Tapi ada bahasa tubuh yang bisa menggantikan kesulitannya jika ia harus membeli sesuatu atau memesan secangkir coffee atau chocolate hangat untuknya, tinggal menunjuk yang ada di buku menu saja.
Guy Dupuis tertawa lebar mendengarnya. Alexandra memang gadis cerdas & mandiri. Berbeda dengan gadis manapun yang ia kenal selalu manja untuk hal-hal sepele pun harus dibantu.
"Nanti kubelikan kamus Francais yang bagus untuk kau pelajari. Ambilah kursus bahasa Prancis sepulang kau dari sini. Jika kau ingin kemari lagi, kuharap kau sudah bisa aplikasikan kemampuanmu," Guy Dupuis menyemangati Alexandra.
Gadis itu mengangguk, "Bonne idée - ide bagus! Ada banyak Centre Culturel Francais di Jakarta, mungkin aku bisa mempelajarinya."
Hari ini mereka kembali ke Marseille beristirahat seharian sebelum melanjutkan ke kota lainnya yang berbeda arah dengan kemarin.
Alexandra meraih handphonenya melihat siapa yang menelponnya.
"Bedebah itu lagi! Sudah ratusan kali ia mengirimkan pesan & telephone tak pernah ku jawab. Menyebalkan banget neh orang!"
Guy bertanya kenapa telephone tersebut tidak dijawab olehnya. Alexandra hanya menjawab telephone itu tidak penting, ia kadang mematikan deringnya atau handphonenya sekaligus.
Bunyi handphonenya lagi, Alexandra melihat orangtuanya yang menelepon menanyakan kabarnya.
"Hi Mom, aku baik-baik saja sudah seminggu keliling beberapa kota di Prancis. Iya aku saat ini bersama Guy Dupuis. Dulu Mama pernah bertemu saat ia mengantar aku pulang dari acara nonton music."
Mamanya mengkhawatirkan Alexandra sejak beberapa minggu di Italy tidak ada kabar lagi darinya.
"Kamu baik-baik saja, sayang? Punya uang untuk jalan-jalan atau nanti Mama minta Papa kirimkan lagi. Duh anak mama jangan sampai terlantar di negeri orang," katanya sedih.
Alexandra sebal mendengarnya, mamanya terlalu dramatis banget.
"Duh Mama, Alexa punya uang kok cukup dari tabungan selama ini kerja jadi tour guide. Papa juga kasih uang saku cukup sebelum Alexa berangkat. Mama mau dibelikan apa nanti Alexa bawakan ya?"
Mama tertawa senang, "Terserah saja tapi itu ga penting, yang penting kamu pulang sehat selamat. Kamu ga berbuat macam-macam kan selama disana? Jaga diri kamu baik-baik sayang, jaga kepercayaan orangtua."
Deg ... hati Alexandra langsung tertusuk mendengar nasihat mamanya.
Ia telah mencurangi semuanya, dan belum sanggup mengatakan dengan jujur atas keadaannya. Ia berseru dalam hati, "Maafkan Alexandra, Ma!"
Guy Dupuis memandang perubahan raut wajah Alexandra, "Ada apa Alexa? Bukannya tadi kau terdengar senang menjawab telephone mamamu?"
Alexandra beralasan saja, orangtuanya rindu kepadanya sudah hampir 2 bulan ia berada di Europe. Tak terasa banyak kisah suka duka didalamnya.
Guy tersenyum, "Baiklah, kau suka nonton bola kan? Malam ini liga Prancis, Olympique de Marseille melawan Lille. Kita naik mobil hanya 12 menit lewat Tunnel Prado - Carénage. Tapi kau tahu para supporter bola pasti membuat jalanan macet. Sebaiknya kita naik MRT kurang lebih 25 menit kesana."
Alexandra gembira & bersiap-siap mengambil mantel hangatnya di kamar. "C'mon Guy, berangkat sekarang jangan sampai telat!"
Guy menggandeng tangannya erat. Ia sangat senang mengenal lagi sahabatnya. Perjalanan businessnya tidak terganggu selama gadis itu ikut naik mobil dengannya.
Alexandra menjadi teman yang menyenangkan bercerita banyak tentang apa saja. Tapi ia tahu Alexandra menutupi sebagian kisahnya tentang kekasihnya di Milan.
......................
Stadion Velodrome
Sampai juga mereka di Stadion Velodrome. Stadion ini juga dipergunakan untuk menggelar pertandingan rugbi, dan kadang-kadang menggelar pertandingan kandang RC Toulonnais. Stadion ini memiliki kapasitas 60.031 orang.
Alexandra tidak mengenal semua pemain bola Olympique de Marseille hanya ingat satu legends Zinedine Zidane made in Marseille. Itu yang sering terpampang di billboard saat banyak turis datang melihat kota tersebut.
Guy Dupuis merangkul bahunya, "Ingat jangan pernah terlepas dari genggaman tanganku selama kita berada di sini. Aku khawatirkan keselamatanmu!"
Pertandingan yang menegangkan akhirnya dimenangkan OM vs. Lille 2:1 mereka bergegas pulang sebelum semuanya selesai.
Penonton lainnya masih duduk menikmati. Sementara Guy khawatir padatnya orang di MRT menyebabkan mereka harus pulang larut malam lagi.
Malam yang berbeda di dapati Alexandra, tidak ada ketakutan atau ancaman saat ia bersama Marc Maretta. Tapi ia sungguh merindukannya kali ini.
...****************...
Alurnya tak biasa. Keren.
Bahasanya enak dibaca.
Untuk novel karya pertama, ini adalah sesuatu yang luar biasa.
Two thumbs up!
*ikutan nyesek jadinya.
Jd bersa ikut perang...
😁
Smgt n sukses