Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
"Namaku Ethan Walker, kelas 10-B. Kamu?"
"Rean. Rean Vale."
Mata Ethan sedikit membulat mendengar nama itu.
"Vale? Keluarga Vale Group?"
Rean mengangguk pelan, tidak yakin harus bereaksi bagaimana terhadap fakta bahwa namanya ternyata cukup berpengaruh di sini.
"Wah, keren juga," Ethan menyeringai santai, sama sekali tidak canggung. "Selamat datang di Starline, kalau begitu. Kelas berapa kamu?"
"Sepuluh."
"Kebetulan, sama kayak aku. Semoga sekelas!" Ethan menepuk bahu Rean ringan, lalu berlari kecil meninggalkannya sambil melambaikan tangan.
"Sampai ketemu di dalam!"
Rean menatap punggung Ethan yang menjauh, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. Interaksi sesederhana itu — seorang teman baru menyapanya, bicara santai tanpa beban — terasa jauh lebih berharga daripada yang bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Ia melanjutkan langkah menuju gedung administrasi untuk mengurus pendaftaran, masih dengan senyum tipis tersisa di wajahnya.
Namun tanpa disadarinya, sepasang mata tengah memperhatikannya dari kejauhan.
Di bawah pohon dekat lapangan, seorang gadis berambut cokelat madu duduk bersama tiga temannya, memegang buku catatan yang sedari tadi tidak benar-benar ia baca. Matanya justru terus mengikuti sosok anak baru berwajah baby face yang baru saja masuk gerbang.
"Elora, kamu dengar aku barusan, nggak?" tanya gadis di sampingnya, Lily Anderson, sedikit cemberut karena diabaikan.
"Eh? Apa?" Elora tersadar, menoleh cepat.
Lily mengikuti arah pandang sahabatnya tadi, lalu menyeringai jahil begitu menemukan objeknya.
"Ooh. Kamu memperhatikan anak baru itu, ya?"
"Bukan begitu," Elora buru-buru menyangkal, meski pipinya sedikit merona. "Cuma... dia terlihat lucu saja. Wajahnya seperti anak kelas delapan yang nyasar."
Chloe Bennett, yang duduk di sisi lain, ikut melirik. "Baby face banget, ya. Tapi manis, sih."
Emma Collins, yang sedari tadi diam membaca buku, hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada halamannya. "Rean Vale. Anak Keluarga Vale."
"Kamu tahu namanya?" tanya Lily kaget.
"Baru saja dengar dari Ethan," jawab Emma singkat, tanpa mengangkat kepala.
Elora tidak berkata apa-apa lagi, tapi matanya sekali lagi mencuri pandang ke arah gerbang, tempat sosok itu sudah menghilang masuk ke gedung. Ada rasa penasaran kecil yang mulai tumbuh di dadanya — sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya, dan tidak akan ia pahami untuk waktu yang cukup lama.
Ruang kelas 10-B ramai dengan obrolan pagi ketika Rean melangkah masuk, membawa jadwal pelajaran yang baru saja ia terima dari petugas administrasi.
Beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Bisik-bisik kecil terdengar dari sudut ruangan.
"Itu anak baru?"
"Wajahnya kecil banget, kelas berapa sih dia?"
"Katanya dari Keluarga Vale."
Rean berdiri canggung di depan pintu, tidak yakin harus duduk di mana. Ia baru akan mencari bangku kosong ketika suara familiar memanggilnya.
"Rean! Sini, sini!" Ethan melambai dari bangku dekat jendela, menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Untung banget kamu sekelas sama aku."
Rean menghela napas lega, segera menghampiri dan duduk di sebelah Ethan.
"Makasih," katanya tulus.
"Santai aja." Ethan menyeringai, lalu menoleh ke arah dua orang lain yang duduk tak jauh dari mereka. "Oh iya, kenalin. Ini Lucas, dan itu Adrian."
Pemuda berkacamata bernama Lucas Sterling mengangguk sopan. "Lucas. Senang berkenalan."
Sementara yang satunya, Adrian Frost, hanya melirik sekilas lalu mengangguk singkat tanpa banyak bicara — tapi tidak terkesan tidak ramah, hanya pendiam.
Belum sempat obrolan berlanjut, pintu kelas terbuka lagi. Kali ini, suasana kelas mendadak sedikit berubah — beberapa siswa duduk lebih tegak, beberapa yang lain membisikkan sesuatu dengan nada kagum.
Seorang pemuda tinggi dengan rambut hitam rapi dan aura percaya diri melangkah masuk. Langkahnya tenang, namun entah kenapa seluruh ruangan seperti otomatis memberi jalan untuknya.
"Itu Kieran," bisik Ethan pelan pada Rean. "Kieran Ashford. Ketua kelas kita. Kalau ada yang namanya 'anak paling populer di angkatan', ya dia orangnya."
Rean menoleh, memperhatikan sosok yang baru saja ia baca namanya berkali-kali di dalam novel bersampul biru miliknya. Rasanya aneh — seperti melihat tokoh fiksi yang tiba-tiba hidup di depan mata.
Kieran melintas di dekat bangku mereka, dan sekilas, matanya bertemu pandang dengan Rean. Ada jeda singkat, tatapan yang menilai — bukan bermusuhan, hanya rasa ingin tahu sesaat terhadap wajah baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya.