WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalung Dan Pemiliknya
Jarum jam di dinding besar ruang tamu mansion telah menunjuk tepat pada pukul sepuluh malam. Keadaan di dalam bangunan megah itu sudah tampak sangat sepi; hanya menyisakan beberapa lampu temaram di koridor dan para penjaga keamanan yang berjaga-jaga di area luar gedung.
Douglas melangkah masuk melalui pintu utama dengan langkah tegap namun menyiratkan kelelahan. Pria bermata biru itu langsung menuju lantai atas, membuka pintu kamar tidurnya yang masih terlihat terang benderang.
Di dalam kamar, Cecilia tengah duduk termenung di atas ranjang empuk sambil memeluk lututnya sendiri, tenggelam dalam pikirannya hingga ia sama sekali tidak menyadari kedatangan sang pemilik kamar.
Ketidaksadaran Cecilia itu seketika memicu rasa tidak suka di hati Douglas. Tanpa buang-buang kata, pria berdarah dingin itu mengambil sebuah tas kertas berukuran kecil yang sejak tadi dibawanya, lalu melemparkannya dengan kasar ke arah Cecilia.
Bruk!
Tas kertas itu mendarat telak dan membentur wajah Cecilia.
"Aduh!" pekik Cecilia kaget setengah mati. Ia mendongak dengan cepat, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati sosok Douglas sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam nan mengintimidasi. Bulu kuduk Cecilia seketika meremang hebat, aliran darahnya terasa berhenti sejenak karena ketakutan.
"A-ada apa ini?!" protes Cecilia dengan suara bergetar, memegang pipinya yang sempat terkena sudut tas kertas.
"Kenapa kamu melempar barang ke wajahku, hah?! Kalau punya tangan jangan asal lempar dong!"
Douglas tidak sedikit pun menjawab pertanyaan protes itu. Pria bertubuh tinggi tersebut hanya mendengus dingin, lalu berbalik badan dan melangkah begitu saja menuju kamar mandi, meninggalkan Cecilia yang terpaku kebingungan dengan tingkah aneh sang CEO.
Cecilia berdecak kesal di tempatnya. Dengan rasa penasaran bercampur dongkol, ia meraih paper bag kecil berwarna hitam elegan itu dari atas tempat tidur, lalu mengeluarkan isinya.
Seketika itu juga, mata Cecilia membelalak lebar.
Di dalam telapak tangannya, terselip sebuah kalung sederhana namun sangat indah. Hiasan bandul batu permata berwarna coklat terang di tengahnya seolah memiliki daya tarik magis tersendiri yang langsung membius pandangan Cecilia. Kalung itu tampak begitu menakjubkan dan elegan dalam kesederhanaannya.
"Wah... cantik sekali," batin Cecilia terpukau dalam hati, menatap kilau permata coklat itu lekat-lekat.
Namun, sedetik kemudian, kernyitan di dahi Cecilia muncul. Timbul tanya besar di benaknya.
"Tapi... mengapa Douglas tiba-tiba memberikan kalung ini padaku? Bahkan tadi dia melemparkannya dengan kasar ke wajahku! Apa maksud pria gila itu sebenarnya?"
Tidak butuh waktu lama, pintu kamar mandi terbuka. Douglas keluar dengan hanya melilitkan sehelai handuk putih di pinggang bidangnya, membiarkan tetesan air membasahi otot-otot dada dan perutnya yang atletis.
Langkah Douglas terhenti saat matanya mendapati Cecilia sedang menatap kagum pada kalung yang baru saja ia lemparkan.
Merasa diperhatikan, Cecilia buru-buru mendongak. Ia menatap Douglas dengan sorot mata penuh tanya.
"Kenapa kamu memberiku kalung ini?" tanya Cecilia blak-blakan, suaranya terdengar penasaran.
Douglas menyipitkan kedua matanya, menatap Cecilia dengan seringai dingin. Suaranya terdengar ketus dan menyayat hati saat ia menjawab.
"Jangan kegeeran dulu, Cecilia. Kalung itu sebenarnya mau kuberikan pada tunanganku."
Mendengar kata tunangan yang merujuk pada Adara, dada Cecilia mendadak terasa sesak. Ada gelombang rasa tidak suka dan sengatan cemburu yang tiba-tiba menyergap hatinya, seolah ia tidak rela menerima barang sisa atau barang bekas dari wanita lain.
Namun, di detik berikutnya, akal sehat Cecilia menampar kesadarannya. "Ah, benar juga... pemilik tubuh asli ini memang wanita simpanan yang murahan, dan dia memang pantas mendapatkan barang bekas dari pria brengsek ini!" batin Cecilia getir.
"Tapi tunggu dulu! Itu kan tubuh pemilik aslinya, bukan aku! Kenapa aku harus ikut merasa sakit hati?!" maki Cecilia pada dirinya sendiri.
Dengan menghela napas panjang untuk meredakan gejolak di dadanya, Cecilia meletakkan kembali kalung indah itu di atas meja nakas samping tempat tidur dengan gerakan acuh tak acuh.
"Kalau begitu, ambil lagi saja. Aku tidak butuh," ucapnya dingin.
Tindakan sepele itu justru menyulut amarah Douglas seketika.
Bagi Douglas, menolak pemberiannya meskipun itu barang sisa adalah sebuah bentuk pembangkangan yang tidak bisa dimaafkan. Pria itu melangkah mendekat dengan aura membunuh yang pekat.
"Berani sekali kamu menolak dan meletakkan kalung itu begitu saja, hah?!" bentak Douglas murka, sorot matanya menyala tajam.
"Aku tidak bilang menolak! Aku cuma—"
Belum sempat Cecilia menyelesaikan kalimatnya, Douglas sudah menerjang maju. Pria itu menindih tubuh Cecilia di atas ranjang dengan kasar, lalu mencengkeram dan mengapit kedua pipi Cecilia menggunakan tangan besarnya dengan kuat hingga bibir gadis itu mengerucut ke depan.
"Mmm... s-sakit, bodoh!" rintih Cecilia meringis kesakitan, air matanya spontan menggenang di pelupuk mata.
Tanpa memedulikan rintihan itu, tangan satu lagi milik Douglas meraih kalung berbandul coklat di meja nakas. Dengan gerakan cepat dan kasar, Douglas langsung memakaikan kalung tersebut melingkar di leher jenjang Cecilia.
Douglas mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di depan telinga Cecilia dengan nada suara mengancam yang membuat bulu kuduk gadis itu merinding ketakutan.
"Dengar baik-baik, Cecilia," desis Douglas penuh penekanan.
"Jika sampai aku melihat kalung ini lepas dari lehermu, atau berani kamu melepasnya walau hanya sedetik... aku pastikan aku akan menyiksamu jauh lebih kejam dari apa yang kubayangkan sebelumnya! Paham?!"
Cecilia menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang dihantam ketakutan yang teramat sangat. Dengan wajah sepucat mayat, ia buru-buru mengangguk lemah.
"I-iya... aku paham. Aku tidak akan melepasnya..." cicitnya pasrah.
Melihat wajah cantik Cecilia yang tampak ketakutan luar biasa di bawah kungkungannya, ekspresi Douglas tiba-tiba melunak, berganti dengan kilatan hasrat yang berbahaya.
Jujur saja, di mata Douglas, melihat raut wajah Cecilia yang ketakutan, pasrah, dan tak berdaya seperti ini justru membangkitkan gairahnya secara liar. Pria itu menyukai Cecilia dalam versi yang menantang dan cerewet, tetapi ia jauh lebih terpesona dan bernafsu melihat Cecilia dalam mode kalem, tertekan, dan penakut di bawah kendalinya.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Cecilia untuk bernapas atau menghindar, Douglas langsung melumat bibir gadis itu.
Ciuman kali ini terasa jauh lebih menuntut dan panas. Douglas membungkam setiap erangan protes yang ingin keluar dari tenggorokan Cecilia. Tangan besar pria itu menahan tengkuk Cecilia erat-erat, memastikan wanita itu tidak bisa membuang muka barang sedetik pun.
Cecilia mencoba meronta, memukul-mukul dada bidang Douglas dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, berusaha melepaskan diri dari ciuman yang menyesakkan dada itu. Namun, perlawanan kecil tersebut justru semakin membuat Douglas menggila. Pria itu menahan seluruh pemberontakan Cecilia dengan dominasi mutlaknya, menikmati setiap detik perlawanan yang semakin memperkaya sensasi liar di dalam dirinya.
Bagi Douglas, Cecilia versi sekarang jauh lebih menantang, jauh lebih menggoda, dan sepenuhnya candu yang tidak akan pernah ingin ia lepaskan.
Bersambung...
Sepertinya Douglas ada kelainan deh, bisa-bisanya terangsang lihat Cecilia ketakutan.😭 Ngeri banget! Takutttt😭😭😭
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas