NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13 — Bongkar Mecha di Arena

Pukulan pertama membuat Tri terbang.

Mecha L0 nomor tujuh belas menghantam dinding pelindung arena dengan punggung lebih dulu. Seluruh kokpit bergetar. Kabel antarmuka menggigit kulit lehernya. Di panel kiri, tiga lampu peringatan menyala sekaligus.

Bahu kanan rusak ringan.

Keseimbangan turun.

Tekanan Daya Indra naik.

Penonton bersorak.

Di seberang arena, Mecha merah muda lawannya memukul dada sendiri. Catnya norak, badan mesinnya besar, dan kedua lengannya dipasang pelat tambahan seperti orang yang mengira semua masalah bisa diselesaikan dengan berat.

ID di layar berkedip:

si Otot Merah Muda.

Tri menggigit bagian dalam pipinya sampai sadar penuh.

“Nama jelek,” gumamnya.

Suara pengeras dari kokpit lawan terdengar kasar. “Pendatang baru! Satu pukulan lagi, kau tidur!”

Bang Somad tertawa di luar pagar peserta. “Bertahan dulu kalau mau uang, Bocah!”

Hendra tidak ada di pagar.

Tri menyuruhnya pulang sebelum laga dimulai. Hendra menolak. Tri lalu berkata setiap orang yang menonton harus membayar bagian konsultasi kecemasan. Hendra pergi dengan wajah hitam.

Bagus.

Kalau kalah, tidak ada saksi yang bisa menceramahi sambil membawa roti daging.

Mecha merah muda menerjang lagi.

Berat.

Lambat bagi mata, tetapi tidak lambat bagi mesin rongsok Tri. Nomor tujuh belas punya jeda respons seperempat detik pada lutut kiri. Bahu kanan tidak boleh menerima hantaman kedua. Sensor mata kanan berkedip terlambat, membuat jarak lawan terlihat lebih jauh dari sebenarnya.

Ini bukan Mecha.

Ini tagihan berjalan.

Tri menarik tuas kiri, memaksa nomor tujuh belas berguling ke samping. Tinju lawan menghantam dinding pelindung. Arena bergetar. Retakan cahaya muncul di lapisan pelindung.

Penonton bersiul.

“Lari saja!”

“Pendatang baru kurus!”

“Otot! Hancurkan!”

Tri berlutut satu kaki, melihat kaki lawan menekan lantai.

Di sana.

Bukan di tinju.

Bukan di pelat dada.

Di sendi pergelangan kaki kiri.

Tambahan pelat di lengan membuat pusat massa si Otot Merah Muda maju enam derajat. Untuk menahan berat itu, Mecha lawan memaksa sendi kaki kiri bekerja lebih keras saat berputar. Pelindung luarnya tebal, tetapi baut penahan samping memakai model lama. Bukan salah desain. Salah perawatan.

Orang yang hanya melihat otot akan memukul pelat.

Orang yang pernah menambal mesin dengan utang akan memukul penahan beban.

Tri berdiri.

“Hei, Merah Muda.”

Mecha lawan berhenti sebentar. “Apa?”

“Cat itu bayar sendiri atau hukuman?”

Tawa penonton meledak.

“Bangsat!”

Si Otot Merah Muda menyerbu lebih cepat.

Tri tidak mundur lurus.

Ia maju setengah langkah.

Semua orang melihat pendatang baru itu seperti ingin bunuh diri. Bahkan Bang Somad berhenti mengunyah kacang.

Pada jarak satu lengan, Tri menurunkan tubuh Mecha nomor tujuh belas, membiarkan tinju merah muda lewat di atas kepala, lalu menancapkan tangan kiri ke celah bawah lutut lawan.

Bukan pukulan.

Tarikan.

Kabel sensor tambahan putus.

Mecha merah muda goyah.

Tri memutar badan, siku kanan nomor tujuh belas menghantam sisi pergelangan kaki kiri lawan. Tidak kuat. Tidak keras. Tepat.

KRAK.

Baut penahan samping patah.

Mecha merah muda jatuh berlutut.

Sorakan berubah nada.

“Apa itu?”

“Dia memukul kaki?”

“Tidak, dia menarik kabel!”

Si Otot Merah Muda meraung dan mengayunkan lengan belakang.

Tri sudah bergerak ke sisi buta sensor kanannya.

Nomor tujuh belas memang buruk, tetapi Tri sudah membaca keburukannya. Ia tidak meminta mesin ini menjadi cepat. Ia hanya meminta mesin ini jatuh pada sudut yang ia pilih.

Ia membiarkan tubuh Mecha-nya terseret ke bawah dorongan lawan, telapak kanan menyapu bagian belakang lutut, dua jari mekanik menekan pengunci kecil di balik pelat retak.

Pengunci terbuka.

Pelat lutut lawan terlepas.

Bagian dalam sendi terlihat.

Kristal sendi kecil berwarna kelabu kotor berdenyut.

Tri tersenyum.

“Ketemu.”

“Jangan sentuh itu!” teriak lawan.

Tri mencabutnya.

Mecha merah muda kehilangan kendali kaki kiri.

Tubuh besarnya miring seperti menara murah yang pondasinya dimakan air. Tangan kanannya menabrak lantai. Lengan kirinya mencoba meraih Tri, tetapi pusat massa sudah hilang. Semakin ia memaksa berdiri, semakin beban turun ke sendi yang kosong.

Tri tidak memberinya waktu.

Nomor tujuh belas melompat ke punggung lawan, satu tangan memegang celah bahu, tangan lain menarik kabel kontrol sekunder. Kabel itu keras, tetapi pelindungnya sudah aus. Ia tidak perlu memotong semua. Cukup merobek jalur sinyal ke lengan kanan.

Lengan kanan Mecha merah muda mati.

Arena sunyi satu detik.

Lalu pecah.

“Dia membongkar!”

“Di tengah laga?”

“Itu curang?”

Pengeras suara arena berbunyi datar. “Selama tidak memakai alat luar, sah.”

Bang Somad memukul meja taruhan. “Sah! Sah! Lanjut!”

Si Otot Merah Muda kehilangan semua gaya sombongnya. “Kau siapa sebenarnya?”

Tri menekan lutut nomor tujuh belas ke punggung lawan. “Orang yang butuh uang.”

Ia menarik pelat belakang.

Tidak sampai lepas.

Cukup membuat sistem pendingin terbuka.

Mecha merah muda langsung memberi peringatan panas. Lawan panik, memaksa mesin berdiri, tetapi kaki kiri mati dan lengan kanan putus sinyal. Ia berguling setengah, mencoba menimpa Tri dengan bobot.

Tri sudah melepas pijakan.

Nomor tujuh belas meluncur turun dari punggung, menendang pinggang lawan pada sudut kecil. Dorongan itu tidak kuat. Namun saat mesin besar kehilangan tiga titik keseimbangan, dorongan kecil pun cukup.

Mecha merah muda roboh ke samping.

Kepala mesinnya menghantam lantai.

Panel status di atas arena berubah merah.

LAWAN TIDAK DAPAT BERDIRI.

Hitungan mundur dimulai.

Sepuluh.

Sembilan.

Penonton berdiri.

Delapan.

Si Otot Merah Muda mengumpat, mencoba menggerakkan kaki.

Tujuh.

Tri berdiri di sampingnya, tidak menyerang lagi.

Enam.

Ia menatap lutut, bahu, dan punggung lawan yang terbuka.

Lima.

Di kepalanya, bagian-bagian itu sudah menjadi daftar harga.

Empat.

Bang Somad menatapnya dengan mata baru.

Tiga.

Beberapa penonton mulai meneriakkan ID barunya.

“Tunduk pada Nasib!”

Dua.

“Tunduk pada Nasib!”

Satu.

“Pemenang, Tunduk pada Nasib!”

Lampu arena berubah hijau.

Tri melepas antarmuka dan keluar dari kokpit nomor tujuh belas. Kakinya sedikit lemas. Bukan karena takut. Mecha tua tingkat A ini menguras Daya Indra lebih kasar daripada tingkat B sekolah. Kepalanya berdengung, perutnya langsung mengingatkan bahwa ia belum makan paket kedua dari Bu Wening.

Tetapi ia masih berdiri.

Dan saldo sementara di layar peserta membuat denging itu terdengar seperti musik.

Hadiah laga: 5.000 kredit.

Bonus kemenangan cepat: 2.000 kredit.

Bonus taruhan pendatang baru: 3.600 kredit.

Potongan perantara Bang Somad: 600 kredit.

Total diterima: 10.000 kredit.

Poin bertambah: 10.

Tri menatap angka itu.

Sepuluh ribu.

Lebih besar dari utang Kapsul Pemulihan awal.

Lebih besar dari banyak bulan makan di Planet 3212 jika dihitung dengan cara miskin.

Lebih kecil dari masa depan yang ia butuhkan.

Tetapi untuk malam pertama, angka itu cukup membuat darahnya panas.

Bang Somad mendekat sambil tertawa. “Bocah, kau bilang bisa dipakai. Kau tidak bilang bisa membuat orang lain jadi rongsokan.”

Tri mengeluarkan roti kering dari saku jaket dan menggigitnya. “Kalau saya bilang, komisi Abang naik.”

“Komisi memang harus naik kalau kau terus begini.”

“Kalau naik, saya pindah perantara.”

Bang Somad menunjuknya dengan kacang. “Mulutmu lebih tajam dari tangan Mecha-mu.”

“Tangan saya lebih mahal.”

Di arena, teknisi Bengkel Hitam memeriksa Mecha merah muda yang terbongkar. Si Otot Merah Muda keluar dari kokpit dengan wajah pucat dan marah, tetapi aturan tempat ini tertempel di setiap dinding: balas dendam di luar arena dilarang. Kalau ingin membalas, naik lagi ke panggung.

Tri menyukai aturan itu.

Setidaknya dendam punya jalur pembayaran.

Ia berdiri di depan papan skor.

Nama Tunduk pada Nasib yang tadi berada di baris bawah kini bergerak naik sedikit. Tidak tinggi. Tidak penting bagi para monster di lantai atas. Tetapi ia bergerak.

Tri menghitung uang sekali lagi.

Sepuluh ribu kredit.

Nomor tujuh belas penyok.

Mecha lawan lumpuh.

Penonton ingat namanya.

Ia mengangkat kepala, melihat sisa baut dan pelat yang berserakan di arena.

“Apa artinya tingkat rendah,” ia hampir berkata dalam bahasa lama yang tak seharusnya keluar.

Ia menahan lidah, lalu tertawa pendek.

“Tingkat rendah bukan masalah,” gumamnya dalam bahasa yang sekarang ia pakai untuk hidup. “Mecha itu benda yang dibuat orang. Kalau bisa dibuat, berarti bisa dibongkar.”

Di papan skor, Tunduk pada Nasib berkedip sekali lagi, naik satu baris.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!