Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Atap-atap Paris
Dor!
Peluru itu menghantam tembok bata tepat di samping kepala Henri.
Debunya berhamburan memenuhi udara.
"Tiaraaap!"
teriak Marcel.
Aku dan Léo langsung menjatuhkan badan di balik kios buah tua yang sudah tutup.
Jantungku berdetak begitu keras hingga rasanya bisa terdengar oleh seluruh pasar.
Aku menarik napas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Masih hidup.
"Maël."
bisik Léo.
"Hm?"
"Aku pipis di celana."
Aku menoleh cepat.
"Serius?"
"Tidak."
Ia menghela napas.
"Tapi kalau lima menit lagi begini..."
"...mungkin iya."
Aku nyengir.
"Syukurlah."
"SYUKUR DARI MANA?!"
"Berarti kau masih sempat bercanda."
Léo memukul lenganku pelan.
"Kau memang sinting."
Di sisi lain kios, Henri mengintip pelan ke arah atap bangunan.
Pria bersenjata itu belum bergerak.
Ia berdiri diam.
Seperti pemburu yang sedang menunggu mangsanya keluar dari persembunyian.
"Ada satu penembak."
gumam Henri.
"Belum tentu."
jawab Marcel.
"Mereka tidak pernah bekerja sendiri."
Belum selesai kalimatnya...
Suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Tap...
Tap...
Tap...
Aku menoleh.
Tiga pria berbadan besar berjalan memasuki pasar.
Mereka mengenakan jaket hitam yang sama.
Di dada kiri mereka terdapat lambang burung layang-layang berwarna perak.
Aku langsung membeku.
"Lambangnya..."
gumamku.
"...sama seperti pin milikku."
Henri menutup mata sejenak.
"Sial."
"Apa?"
"Mereka sudah menemukannya."
"Mereka siapa?"
Henri tidak menjawab.
Sebagai gantinya ia menarik revolver tua dari balik jasnya.
Aku melongo.
"Pak tua..."
"Hm?"
"Bapak bawa pistol dari tadi?"
Henri mengangguk tenang.
"Iya."
"Kenapa baru keluar sekarang?"
"Aku berharap tidak perlu memakainya."
Aku mengusap wajah.
"Hari ini benar-benar aneh."
── Maël kepada kalian ──
Kalian pernah mengalami hari yang awalnya cuma mau kerja...
Lalu berakhir ditembak orang?
Kalau belum...
Bagus.
Tetaplah seperti itu.
Karena aku tidak merekomendasikannya.
Sama sekali.
── Kembali ke cerita ──
"Maël."
kata Marcel.
"Dengar aku baik-baik."
Aku mengangguk.
"Kalau nanti kami bilang lari..."
"...jangan menoleh."
"Hah?"
"Lari."
"Tapi kalian?"
"Lari."
Aku menggeleng.
"Tidak mau."
Marcel menatapku tajam.
"Ini bukan permintaan."
"Ini perintah."
Aku tertawa hambar.
"Sejak kapan kau jadi bos?"
"Sejak aku menyelamatkanmu dua belas tahun lalu."
Aku terdiam.
Henri ikut menambahkan.
"Kalau mereka mendapatkanmu..."
"...semuanya akan berakhir."
"Memangnya aku ini siapa?"
teriakku pelan.
"Kenapa semua orang bicara seolah aku presiden Prancis?"
Léo menyahut.
"Kalau kau jadi presiden..."
"...aku minta jadi menteri makan."
Aku menoleh.
"Itu jabatan apa?"
"Belum ada."
"Nanti kubuat."
Aku tertawa.
Henri memandang kami berdua cukup lama.
Lalu menggeleng pelan.
"Lucu."
"Apa?"
"Kalian bisa bercanda di situasi seperti ini."
Aku mengangkat bahu.
"Kalau tidak bercanda..."
"...aku takut."
Kalimat itu membuat Henri terdiam lagi.
Tiga pria berjaket hitam kini hanya berjarak sekitar dua puluh meter.
Salah satunya mengangkat pengeras suara kecil.
"Maël."
Suara beratnya menggema di pasar yang mulai sepi.
"Kami tidak datang untuk membunuhmu."
Aku berbisik kepada Léo.
"Itu bohong."
"Iya."
"Biasanya setelah kalimat itu..."
"...orang memang dibunuh."
Pria itu melanjutkan.
"Serahkan pin burung layang-layang."
"Dan ikut bersama kami."
"Kalau tidak..."
Ia menoleh ke arah Henri.
"...kami akan mulai dari orang tua itu."
Aku mengepalkan tangan.
Henri justru tersenyum tipis.
"Jangan dengarkan."
bisiknya.
"Itu hanya taktik."
Aku melihat pin di sakuku.
Benda kecil itu...
Ternyata menjadi alasan semua kekacauan ini.
Kenapa?
Apa istimewanya pin tua berkarat itu?
Belum sempat aku berpikir lebih jauh...
Dor!
Peluru dari atap kembali ditembakkan.
Kali ini mengenai lampu jalan.
Kaca pecah berhamburan.
"SEKARANG!"
teriak Marcel.
"LARI!"
Kami semua berhamburan ke arah lorong pasar.
Aku berlari secepat mungkin.
Suara sepatu menghantam batu-batu tua.
Napas mulai memburu.
"Ke kiri!"
teriak Henri.
Kami membelok.
Di depan kami terbentang tangga besi menuju atap bangunan tua.
"Ayo naik!"
kata Henri.
"Nanti jatuh!"
teriak Léo.
"Itu risiko."
Aku mendahului mereka.
Tangga besi itu berderit setiap kali kupijak.
Kreeek...
Kreeek...
Sesampainya di atas...
Pemandangan Paris langsung terbentang luas.
Atap-atap abu-abu.
Cerobong asap tua.
Menara Eiffel terlihat jauh di kejauhan.
Indah.
Benar-benar indah.
Kalau saja...
Tidak ada orang yang sedang menembaki kami.
"Pisah!"
teriak Henri.
"Mereka tidak bisa mengejar semuanya sekaligus!"
Aku menggeleng.
"Tidak!"
Marcel menarik lenganku.
"Dengarkan dia!"
Léo menggigit bibirnya.
"Maël."
"Aku tidak mau kehilangan kalian."
Marcel tersenyum kecil.
"Kau tidak akan."
"Lalu?"
"Kami yang akan menemukanmu."
Aku baru ingin membalas...
Tiba-tiba terdengar suara siulan.
Fiuuuut!
Sesuatu meluncur dari udara.
"GRANAT ASAP!"
teriak Henri.
Buuussshh!
Asap putih pekat langsung memenuhi atap.
Aku tidak bisa melihat apa-apa.
"Marcel!"
teriakku.
"Léo!"
Tidak ada jawaban.
"HENRI!"
Hanya suara batuk yang terdengar dari berbagai arah.
Aku mulai panik.
Tanganku meraba-raba udara.
Kosong.
"Di mana kalian?!"
Suara langkah kaki terdengar mendekat.
Satu.
Dua.
Tiga.
Aku tersenyum lega.
"Léo?"
Bukan.
Sebuah tangan besar mencengkeram kerah jaketku.
Aku langsung diputar dengan kasar.
Di hadapanku berdiri pria bertopeng hitam.
Matanya tajam.
Dingin.
Ia mengeluarkan pisau kecil.
Bukan untuk menusukku.
Melainkan...
Memotong tali kalung yang sejak kecil selalu kupakai.
Kalung itu jatuh ke tangannya.
Pria itu menatap liontin kecil berbentuk kompas yang tergantung di ujungnya.
Untuk pertama kalinya...
Ekspresi wajahnya berubah.
Ia tampak terkejut.
Lalu ia berbisik pelan.
"Mustahil..."
Aku mengernyit.
"Kenapa?"
Pria itu mundur satu langkah.
Matanya masih terpaku pada liontin itu.
"Lambang keluarga..."
gumamnya.
"...ternyata benar."
Sebelum aku sempat merebut kembali kalungku...
Suara tembakan menggema.
Dor!
Pria bertopeng itu terpental ke belakang.
Henri berdiri di balik asap.
Revolvernya masih mengepulkan asap tipis.
"Maël!"
teriaknya.
"Lompat!"
Aku menoleh.
Di belakangku...
Hanya ada jarak sekitar tiga meter menuju atap bangunan sebelah.
"PAK TUA!"
"Itu jauh!"
Henri berteriak lebih keras.
"Percaya padaku!"
Aku menelan ludah.
Lalu tersenyum tipis.
── Maël kepada kalian ──
Ada dua jenis keputusan dalam hidup.
Yang pertama...
Dipikirkan baik-baik.
Yang kedua...
Tidak sempat dipikirkan sama sekali.
Dan sayangnya...
Aku sedang berada di jenis yang kedua.
Aku menarik napas sedalam mungkin.
Mengambil ancang-ancang.
Lalu...
Aku melompat.