Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Suci Cifu
Satu hari kemudian.
Perjalanan bersama Zhuxuan membawa Lin Tian melewati hutan lebat, lembah curam, dan sungai deras. Zhuxuan terbang di depan dengan kecepatan stabil sementara Lin Tian mengikutinya dari belakang tanpa kesulitan. Pikiran Lin Tian sesekali melayang ke Bai Feng, ke Kota Naga Patah yang sudah rata, dan ke Lao Hui yang misterius.
Mereka akhirnya sampai di markas Faksi Kebenaran wilayah selatan. Bangunannya terletak di sebuah lembah tersembunyi di antara dua gunung, dilindungi oleh formasi besar yang menyamarkan keberadaannya. Di pintu masuk, dua baris anggota berseragam hitam berdiri rapi dengan lencana besi hitam di dada kiri mereka.
"Sambut Komandan!" seru seorang pria di barisan depan.
Para anggota itu langsung menundukkan kepala bersamaan. "Selamat datang kembali, Komandan Zhuxuan!"
Suara mereka serempak dan keras, bergema di seluruh area pintu masuk. Lin Tian mengamati mereka sekilas. Kebanyakan dari mereka berada di tingkat Inti Emas, dengan beberapa di antaranya masih di Pendirian Fondasi.
Zhuxuan mengangguk tanpa menjawab lalu berjalan masuk melewati barisan itu. Lin Tian mengikutinya dengan langkah santai.
Di dalam markas, suasana lebih tenang. Beberapa anggota berjubah hitam dengan lencana perunggu dan perak lalu lalang di koridor, membawa berkas atau sekadar berpindah tempat. Mereka semua menunduk hormat saat melihat Zhuxuan, beberapa bahkan berhenti di pinggir jalan untuk memberi jalan.
Di tengah lorong utama, seorang wanita berpakaian biru langit berdiri di dekat jendela batu. Kecantikannya begitu lembut dan menenangkan jiwa meskipun dia tidak tersenyum. Dari aura yang terpancar, Lin Tian bisa merasakan bahwa wanita ini berada di tingkat Nascent Soul tahap puncak, satu tingkat di atasnya.
Lin Tian menatap wanita itu sejenak tanpa ekspresi berlebihan.
Wanita itu menangkupkan kedua tangannya saat Zhuxuan mendekat.
"Komandan, setelah berpikir berulang kali... saya siap untuk bergabung dengan Faksi Kebenaran. Saya berharap bisa berkontribusi dalam memerangi makhluk kegelapan."
Zhuxuan mengangguk. "Bagus sekali. Aku sudah mendengar tentang reputasimu dari wilayah timur. Kehadiranmu akan sangat membantu."
Wanita itu mengangguk pelan.
Zhuxuan kemudian berjalan menuju altar teleportasi yang terletak di ruang bawah tanah markas. Lin Tian ikut, begitu juga dengan wanita itu.
Setelah sampai, terlihat sebuah altar berbentuk lingkaran batu hitam dengan ukiran rumit yang memancarkan cahaya biru samar.
Zhuxuan berdiri di atas altar lalu berkata pada para anggota yang mengantar. "Kalian semua tunggu di sini terlebih dahulu. Patuhi komandan tingkat perak selama aku tidak ada."
Para pasukan itu menangkupkan tangan.
"Baik, Komandan!"
Altar teleportasi aktif. Cahaya biru menyelimuti ketiga orang itu, lalu dalam sekejap mereka menghilang.
Di pusat benua, ibukota negara Lingzhou, pagi itu tampak ramai. Kota suci Cifu adalah kota terbesar di seluruh benua, dengan tembok setinggi dua puluh meter yang mengelilingi area seluas seratus kilometer persegi. Di dalamnya terdapat istana kerajaan, markas sekte-sekte besar, dan berbagai fasilitas umum yang megah.
Di salah satu bangunan besar dekat alun-alun pusat, tepat di ruang bawah tanahnya, altar teleportasi menyala. Tiga sosok muncul dari cahaya biru: Lin Tian, Zhuxuan, dan wanita itu.
Zhuxuan melangkah keluar altar lalu menoleh pada Lin Tian. "Bagaimana, apa kau sudah siap?"
Lin Tian menjawab dengan suara datar. "Aku sudah siap sejak awal."
"Bagus. Mari kita pergi ke markas besar Faksi Kebenaran."
Mereka keluar dari ruang bawah tanah menaiki tangga batu yang berkelok. Saat tiba di permukaan, mereka berada di sebuah ruangan besar dengan lantai marmer putih dan dinding berhiaskan lukisan pemandangan alam. Beberapa orang dengan lencana perak dan emas berdiri di sekitar ruangan, dan mereka langsung menunduk hormat begitu melihat Zhuxuan.
"Selamat datang, Komandan Zhuxuan."
Zhuxuan tanpa banyak bicara berjalan melewati mereka dan keluar dari bangunan itu. Lin Tian dan wanita itu mengikuti dari belakang.
Setelah di luar, terlihat lah pemandangan Kota Cifu yang terbentang luas. Jalanan dipenuhi oleh pedagang, kultivator, dan warga biasa yang berlalu lalang. Suasana kota ini sangat berbeda dengan Kota Naga Patah yang kecil dan sunyi. Di sini semuanya besar, ramai, dan penuh energi.
Wanita itu memecah keheningan. Ia berjalan di samping Lin Tian lalu bertanya, "Jika boleh tau... siapa namamu? Aku belum sempat bertanya selama di altar tadi."
Lin Tian menjawab tanpa menoleh. "Lin Tian."
"Nama yang bagus," ucap wanita itu sambil tersenyum lembut. "Aku Mu Wan, dari wilayah timur."
Lin Tian tidak menanggapi lebih lanjut. Ia hanya berkata, "Nama yang bagus. Untuk... intinya itu nama bagus."
Mu Wan terkekeh pelan mendengar jawaban Lin Tian yang canggung itu. Lin Tian juga terkekeh, bukan karena tertawa, tapi karena ia sadar bahwa ucapannya tadi terdengar aneh.
Zhuxuan yang berjalan di depan menggelengkan kepalanya mendengar interaksi mereka. Ia terus memimpin jalan tanpa berkomentar sepatah kata pun.
Mereka berbelok melewati lorong-lorong besar dan ramai, melewati pasar dan alun-alun, hingga akhirnya tiba di tempat yang lebih tenang. Di ujung jalan, sebuah bangunan besar berdiri dengan keindahan dan kemegahan yang luar biasa. Pilar-pilar marmer putih menjulang tinggi, atapnya dilapisi emas, dan di pintu masuk terpahat dua kata besar: "Faksi Kebenaran."
Di halaman depan, beberapa anggota dengan lencana hitam dan perunggu sedang berlatih atau berjaga. Mereka langsung menyambut dan menunduk saat melihat Zhuxuan.
Lin Tian melirik sekeliling. Halaman tempat itu luas, dan banyak anggota yang berlatih dengan semangat.
Zhuxuan terus memasuki lorong aula utama. Mereka melewati beberapa ruangan di mana terlihat para kultivator berpakaian rapi sedang duduk atau berdiri berdiskusi. Akhirnya Zhuxuan berhenti di depan salah satu pintu.
"Rekan Dao Mu Wan, kau bisa mendaftarkan namamu di dalam," ucap Zhuxuan sambil menunjuk ke pintu itu. "Kemarin aku sudah memberitahu rekanku yang bertugas untuk mempermudah pendaftaranmu. Kau akan langsung mendapatkan status perak."
Mu Wan menangkupkan kedua tangannya. "Terima kasih, Komandan."
Ia kemudian menatap Lin Tian sejenak.
Lin Tian mengangguk. "Semangat."
Mu Wan tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan.
Zhuxuan memimpin Lin Tian berjalan kembali ke lorong utama, lalu berbelok ke kiri menuju sayap barat gedung. Di ujung lorong itu ada dua pintu besar berwarna hitam dengan ukiran pedang dan timbangan.
"Ruang sidang," ucap Zhuxuan singkat.
Ia membuka kedua pintu itu lalu masuk. Lin Tian mengikutinya.
Ruang sidang itu sangat besar. Lantainya terbuat dari batu hitam mengkilap, dindingnya dihiasi lentera giok yang menerangi ruangan dengan cahaya keemasan. Di bagian depan, ada tiga kursi tinggi yang ditinggikan di atas panggung batu. Di kursi itu duduk tiga orang: seorang wanita cantik dengan wajah sangat dingin, seorang pria paruh baya berwajah tegas, dan seorang pria tua dengan jenggot putih panjang.
Di samping kiri dan kanan ruangan, ada dua baris kursi yang sudah terisi oleh sekitar dua puluh orang. Semua orang di ruangan ini memiliki aura yang kuat. Kebanyakan dari mereka berada di tingkat Nascent soul, beberapa di antaranya bahkan lebih tinggi.
Saat Lin Tian masuk, semua tatangan tertuju padanya. Mata mereka membelalak saat menyadari bahwa bocah berusia delapan belas tahun di depan mereka memiliki kultivasi Nascent Soul tahap akhir. Beberapa dari mereka menyipitkan mata, menyelidiki Lin Tian dengan tatapan tajam penuh kecurigaan.
Zhuxuan berjalan ke tengah ruangan lalu menangkupkan kedua tangannya memberikan salam hormat kepada tiga hakim di atas panggung.
Para hakim itu mengangkat tangan mereka, memberi isyarat bahwa Zhuxuan boleh berdiri tegak. Zhuxuan segera bergeser ke samping, lalu mengaktifkan giok proyeksi di tangannya. Gambar tiga dimensi muncul di udara, memperlihatkan bagaimana Lin Tian membunuh tetua Sekte Pedang Abadi di Kota Naga Patah.
Setelah tayangan itu selesai, pria tua berjenggot putih berbicara dengan suara berat dan berwibawa.
"Sebelum sidang dimulai, sebutkan nama, tempat asal, kedua orang tua, sekte, dan afiliasi apa pun yang kau miliki. Selain itu, pedang yang kau gunakan dalam proyeksi itu harus diserahkan kepada kami untuk diperiksa."
Lin Tian berdiri diam di tengah ruangan, tidak bergerak sedikit pun. Ia menatap ketiga hakim itu bergantian lalu menangkupkan tangannya dengan hormat.
"Pedang itu adalah milik pribadi, warisan dari kakek saya. Jadi saya tidak bisa menunjukkan kepada orang yang tidak saya kenal."
Pria paruh baya di kursi hakim menatap Lin Tian dengan tatapan tajam. "Bocah kecil, jangan berpikir dengan kultivasi Nascent Soul tahap akhir milikmu, kami akan takut. Kau berada di ruang sidang Faksi Kebenaran. Di sini, peraturan adalah segalanya. Jadi patuhlah pada perintah."
Kata-kata itu terdengar seperti ancaman.
Lin Tian terkekeh pelan, lalu aura di sekelilingnya berubah. Kini auranya menjadi ungu pekat. Aura itu memancar dari tubuhnya seperti api yang menyala, menekan seluruh ruangan. Para hadirin di kursi samping mulai gelisah. Beberapa dari mereka bahkan berdiri, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
"Jujur saja, saya lebih suka berbicara menggunakan kesopanan dan ketenangan," ucap Lin Tian dengan suara datar namun tegas. "Tapi jika kalian memaksaku untuk menyerahkan pusaka warisan dari kakekku, pada orang yang baru aku temui... maka kalian harus membunuhku terlebih dahulu."
Aura ungu itu semakin membesar. Tekanannya begitu kuat sehingga beberapa anggota di kursi samping mulai berkeringat. Zhuxuan yang berdiri di samping mengamati Lin Tian dengan ekspresi serius, tangannya sudah dekat dengan gagang pedang pendek di pinggangnya.
Di kursi hakim, pria tua dengan jenggot putih mengangkat tangannya.
"Tenang."
Hanya satu kata, tapi entah bagaimana suara itu mampu menekan ketegangan di ruangan itu. Aura ungu Lin Tian sedikit meredup, tidak karena ia patuh, tapi karena ia menghormati usia pria tua itu.
Pria tua itu melanjutkan, "Kami tidak akan memaksamu menyerahkan pedang itu hari ini. Tapi kau harus mengerti bahwa prosedur ini ada untuk memastikan bahwa tidak ada senjata iblis atau artefak terlarang yang masuk ke ruang sidang kami. Apakah kau keberatan jika kami memeriksa pedang itu dari kejauhan, tanpa menyentuhnya?"
Lin Tian berpikir sejenak lalu mengangguk. "Baik. Tapi hanya dari kejauhan, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya."
Pria tua itu tersenyum tipis. "Setuju."
Lin Tian menyentuh cincin penyimpanannya, lalu Ao Mo muncul di tangannya. Pedang dengan gagang naga emas melingkar dan bilah perak bercahaya merah darah itu langsung menarik perhatian semua orang di ruangan itu. Beberapa dari mereka terkesiap, yang lain menahan napas.
Pria tua itu mengamati Ao Mo dari kejauhan selama beberapa saat lalu mengangguk. "Bukan senjata iblis, bukan pula artefak terlarang. Kau boleh menyimpannya kembali."
Lin Tian memasukkan Ao Mo ke dalam cincin penyimpanannya, lalu aura ungu di sekelilingnya perlahan menghilang. Ruangan kembali tenang, tapi ketegangan masih terasa di udara.
"Sidang akan dimulai sekarang," ucap pria tua itu sambil mengetuk meja di depannya. "Terdakwa Lin Tian, kau dituduh membunuh seorang anggota tingkat perak Faksi Kebenaran, tanpa izin atau prosedur yang benar. Apa pembelaanmu?"