Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.
Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.
Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.
Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.
Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam
Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17 Wanita Itu Merepotkan
"Kenapa masih di sini? Sana pergi!" bentakan Leo yang berat dan kasar membuat Bianca tersentak hebat, hingga bahunya menciut secara refleks.
Sepanjang hidupnya, sebagai putri tunggal keluarga Rodriguez dan istri dari Dante Carson, tidak pernah ada satu orang pun yang berani meninggikan suara di hadapannya.
Bianca terpaku sejenak, menatap Leo dengan mata membelalak.
Ada rasa panas yang merayap di dadanya, bukan hanya amarah, tapi rasa terhina yang luar biasa. Harga dirinya seolah baru saja diinjak-injak hingga ke dasar aspal oleh pria yang ia anggap hanya sebagai pesuruh ini.
"Kau... kau membentak ku?" suara Bianca bergetar, ia mencoba mengumpulkan kembali keangkuhannya. "Memangnya aku anak kecil?! Tanpa kau bentak pun, aku akan pergi! Mana ada wanita waras yang tahan berlama-lama menghirup udara yang sama dengan pria monster berwajah jelek sepertimu!"
Leo mendengus sinis, sama sekali tidak terpengaruh oleh hinaan yang sudah sering ia dengar setiap hari.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kaki kau tidak lumpuh, kan? Minggir!"
Bukannya segera melangkah menuju mobil mewahnya, Bianca justru tetap berdiri di tempatnya. Entah kenapa, ada dorongan aneh di dalam dirinya yang merasa puas saat mengejek pria di depannya ini.
Melihat Leo kesal memberinya kesenangan tersendiri di tengah kekacauan hidupnya.
"Sana pergi!" usir Leo lagi, tangannya mengibas seperti sedang mengusir lalat.
"Kau dulu yang pergi! Ini jalan umum, aku berhak berdiri di sini sesukaku!" balas Bianca sengit, ia melipat tangan di depan dada, menantang Leo dengan tatapan tajamnya.
"Aku yang punya urusan di sini, kau hanya tamu tak diundang yang kerjanya menguntit anak kecil! Kau yang harus pergi!"
"Enak saja! Kau pikir kau siapa? Polisi moral? Kau itu hanya pelayan bagi detektif cacat itu!"
"Setidaknya aku bukan wanita ular yang hobinya meracuni hidup orang lain!"
"Apa?! Kau bilang apa tadi?!"
Keduanya kini berdiri berhadapan, terlibat adu mulut yang luar biasa sengit. Jika orang lewat melihat mereka, mereka tidak akan menyangka bahwa ini adalah seorang sosialita kelas atas dan seorang pria misterius, mereka lebih mirip ibu-ibu di pasar yang sedang memperebutkan harga diskon tanpa ada yang mau mengalah sedikit pun.
Tinnnnn!
Suara klakson mobil yang panjang dan nyaring memotong perdebatan panas itu.
Sean, yang sedari tadi duduk di dalam mobil Leo dengan wajah bosan, menekan klakson dengan ekspresi sangat kesal. Ia menatap ke arah luar jendela, memberikan isyarat agar Leo segera masuk.
Leo menoleh ke arah mobil dan mendapati tatapan tajam keponakannya. Ia langsung tersadar bahwa ia telah membuang waktu terlalu banyak untuk meladeni wanita ini.
"Ingat, urusan kita belum selesai, Wanita Ular!" Leo menunjuk tepat di depan wajah Bianca dengan gerakan mengancam. "Jangan berani-berani mendekati Sean lagi, atau kau akan tahu apa artinya bencana yang sebenarnya."
Tanpa menunggu balasan, Leo berbalik dan masuk ke dalam mobilnya.
SUV hitam itu melesat pergi meninggalkan Bianca sendirian.
"Apa dia bilang tadi? Wanita ular?!" Bianca menjerit frustrasi, kakinya menghentak aspal dengan sepatu hak tingginya.
"Cantik-cantik begini dibilang ular! Matanya benar-benar katarak atau mungkin tertutup topeng jelek itu sampai tidak bisa membedakan mana berlian mana batu kali!"
Bianca masuk ke dalam mobilnya dengan wajah yang sudah merah padam. Ia membanting pintu mobil hingga berguncang.
Sang supir, yang sedari tadi menyaksikan adegan luar biasa itu dari kaca spion, nampak ragu-ragu untuk bicara.
"Nona... anda baik-baik saja?" tanya sang supir dengan nada sangat hati-hati. "Maaf, tapi tak biasanya anda terlibat adu mulut sepanjang itu. Biasanya anda hanya menyuruh orang untuk mengurus siapa pun yang menghina anda."
Bianca menoleh tajam, matanya nampak berkilat marah. "Diam dan jalankan mobilnya! Aku mau pulang!"
Supir itu segera mengangguk patuh dan menjalankan mobil dengan tenang.
Di kursi belakang, Bianca bersandar, menatap ke luar jendela yang menampilkan pemandangan kota Amsterdam yang mulai diguyur hujan tipis.
Pikirannya melayang pada ucapan supirnya tadi.
"Kenapa aku tadi malah meladeninya? Kenapa aku tidak langsung menyuruh orang untuk mematahkan kakinya saja?" batin Bianca bingung. Ia menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba menepis segala pikiran aneh yang muncul.
"Tetap saja, dia dan detektif cacat itu kemungkinan besar bersaudara. Mereka berdua adalah duri dalam dagingku. Siapa pun yang mencoba mengganggu rencanaku dan mencoba merebut Dante dariku, mereka harus dimusnahkan. Tak peduli seberapa berisiknya dia membentak ku,"gumam Bianca lirih pada dirinya sendiri, wajahnya kembali mengeras penuh kebencian.
Bianca meremas tas mahalnya, membayangkan wajah Leo dan detektif Ve.
Baginya, Sean adalah ancaman, namun Leo adalah gangguan yang tidak terduga. Dan Bianca Rodriguez tidak pernah membiarkan gangguan apa pun menghalangi jalannya untuk tetap menjadi satu-satunya nyonya Carson.
******
"Paman sepertinya sangat menikmati perdebatan itu," celetuk Sean tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di pangkuannya.
Leo yang sedang fokus menyetir hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Ia melirik Sean dari kaca spion dengan dahi berkerut.
"Siapa bilang?"
"Aku, keponakanmu!"
"Cih, aku hampir mati berdiri menghadapi wanita ular itu, tahu!"
"Aku melihat semuanya dari sini, Paman," balas Sean datar, hingga membuat Leo merinding. "Paman terlihat sangat bersemangat. Hati-hati, kata buku yang belum lama aku baca, benci dan cinta itu bedanya hanya setipis tisu. Jangan sampai Paman jatuh cinta padanya."
"Enak saja! Aku membencinya sampai ke sumsum tulang!" Leo bersungut-sungut, mencengkeram setir lebih erat. "Wanita itu sombong, berisik, dan hatinya busuk. Mana mungkin aku jatuh cinta pada ular seperti dia?"
Sean hanya mengangkat bahu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang sangat mirip dengan ibunya.
"Ya, semoga saja dugaanku salah. Tapi biasanya, orang yang paling keras membantah adalah yang paling cepat terjebak."
Leo menelan ludah, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia mencoba membuang bayangan wajah Bianca yang merah padam saat ia bentak tadi.
Baginya, wanita adalah makhluk paling merepotkan di dunia, apalagi tipe seperti Bianca.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan menyukai wanita, apalagi dia. Aku lebih memilih mengurus empat mayat setiap hari daripada harus meladeni satu Bianca Rodriguez," gumam Leo ketus.
Namun, di dalam hati, ia terus merutuki peringatan Sean yang entah kenapa terasa begitu mengganggu pikirannya.
jangan coba coba untk jatuh hati pada biawak rawa itu
semuanya akan terkuak
setelah racauan biawak rawa mulai luluh padamu leo
ogah banget jangan sampe si Leo ada anu inu Ngada Ngadi sama wanita ular itu deh 🙎