Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Siapkah?
Bab 31
Anji menjauh, ponselnya bergetar. menjawab panggilan itu di tengah perdebatan Aditya dan Wira.
“Betul, pria sejati harus taat pada janji. Aku berjanji menikahkan Cahaya pada pria yang pantas. Selama ini aku tutup mata, tidak tahu kebobrokan keluarga kalian,” tutur Wira.
“Pak Wira, apa maksudmu?” tanya Ayah Adit.
“KAmu tahu apa maksudku. Waskita group diambang kehancuran. Perusahaan putra sulungmu bermasalah, ada kasus dengan pemerintah dan bisnis yang dikelola Aditia hampir kolaps. Mana mungkin aku serahkan Cahaya.menjadi menantumu."
“Pakde jangan terhasut olehnya? Ini fitnah!” bentak Adit kembali menunjuk Edward. “Dia tidak pantas untuk Cahaya.”
“Om.”
“Tenang saja,” ucap Edward menenangkan Aya. Tangan mereka saling menggenggam. “Lalu kamu pantas? Menjebak calon istrimu yang jelas-jelas menolak perjodohan. Rencana busuk apa yang kamu siapkan malam itu. Men0dai Cahaya lalu merekamnya untuk mengancam keluarga ini?”
“Itu kelakuan lo, bangs4t," teriak Adit.
“Adit,” pekik Ibunya, karena bicara kasar di keluarga calon besan.
Anji mendekat dan berbisik pada Edward.
“Silahkan pertanggung jawabkan kelakuanmu itu pada yang berwajib," cetus Edward.
Seorang pria berseragam dengan para pekerja di kediaman itu, berjalan tergopoh lalu menghampiri Wira dan menunduk.
“Tuan, ada tamu. Dari kepolisian.”
Wira mengernyitkan dahi. Belum sempat menjawab, empat orang datang ke tengah acara. MEski tidak berseragam bisa terlihat kalau mereka adalah petugas kepolisian.
“Selamat pagi, kami datang untuk membawa saudara Aditya Waskita dan Saudara Jarwo. Ini surat penangkapannya, tolong koperatif!”
“Penangkapan,” ucap Ayah Adit menerima surat itu dan membacanya. Adit terlihat bingung dan panik. Ia mencabut keris yang disematkan di punggung beskap ayahnya lalu mendorong petugas dan berlari ke arah Edward dan Cahaya.
“Mas Adit,” tegur Jarwo, tapi percuma karena majikannya itu sudah gelap mata. Edward refleks langsung memeluk Aya dan berbalik memunggungi Adit. Keris dihunus tapi dihadang oleh pria yang datang bersama Edward dan Anji.
“4njing,” pekik Adit.
Petugas pun membekuk Adit, tapi pria itu berteriak. Rupanya sebagian dari keluarga yang datang adalah orang yang disiapkan Adit. Sudah bersiap dengan segala kemungkinan. Lebih dari 10 orang menyerang petugas.
“Ya Tuhan, kenapa jadi begini,” keluh Diah melihat adegan yang seharusnya ada dalam film action malah terjadi di kediaman itu.
“Andin, masuklah dengan Ibu,” titah Dani.
“Bu, ayo, bu. Aya, kita masuk!”
Edward mengangguk dan melepas tangan Aya. Ketiga wanita itu beranjak masuk ke dalam pendopo diikuti mbok Sinah dan Mbok Yem. Wira melarang orangnya untuk terlibat. Edward pun memanggil orang yang bersiap di luar untuk ikut membekuk Adit.
“Menyerahah Dit, pria sejati tidak akan melarikan diri,” ejek Wira. Orangtua Adit bahkan sudah menjauh dari perkelahian itu.
Anji sejak tadi mengabadikan kejadian itu dengan ponselnya. “Mampooss lo.”
“Adit,” ucap Ibunya. “Mas, kenapa jadi begini.”
“Lepas, bangs4t kalian. Cahaya, l0nte seperti kamu tidak pantas untukku,” teriak Adit yang berhasil dibekuk salah satu petugas dan diborgol. Masih berontak dalam bekukan petugas. Jarwo pun sudah berhasil diamankan.
“Mas, menyerahlah. Kita sudah kalah,” ucap Jarwo.
Edward menghampiri, mencengkram wajah Adit. “Kau bilang apa, l0nte? Tidak pantas untukmu? Justru kamu tidak pantas untuk Cahaya.”
“Kelamaan, lo minggir!” Anji menggeser Edward lalu memberikan dua kali pukulan untuk Adit. “Udah bos, bawa dia.”
“Lepas, lepasin gue bangs4t,” teriak Adit digusur oleh petugas
“Pak Wira, anda ….”
“Pergi kalian,” usir Wira pada keluarga Waskita yang masih tersisa. Deru kendaraan meninggalkan kediaman Janitra, begitupun orang-orang Edward.
“Bagaimana Pak, apa permintaanku bisa dipertimbangkan? Anda dengar sendiri, Aya siap meninggalkan kalian dari pada ….”
“Romo,” teriak Aya lalu memasang badan bahkan merentangkan kedua tangan, berdiri di depan Edward. “Jangan sakiti om Edward.”
Wira berdecak lalu memanggil Argo agar membereskan kekacauan itu. “Kita bicara nanti. Gadis nakal,” seru Wira dan berlalu.
Aya berbalik menatap Edward yang juga menatapnya sambil mengernyitkan dahi. Gadis itu memindai dan memastikan kalau kekasihnya tidak terluka.
“Om nggak pa-pa ‘kan? Nggak ikutan berkelahi?”
“Justru aku yang harusnya tanya. Are you okay? Wajah kamu … diet atau menyiksa diri. Lihat ini!” Edward menyentuh kantung mata Aya lalu berdecak.
Aya menurunkan tangan Edward. “Aku serius, om nggak pa-pa ‘kan?”
Edward malah mengedikan bahu. “Aku baik-baik saja, tidak terlibat perkelahian tadi. Tapi di sini.” Ia menyentuh dad4 sebelah kiri. “Di sini sakit, karena rindu.”
Aya tersenyum lalu mendorong pelan Edward yang terkekeh. “Gombal. Nggak pantes tau.” Edward terkekeh lalu merangkul bahu Aya.
Anji sibuk melakukan panggilan video pada Rama dan Rendi, mengoceh menjelaskan keadaan di sini. “Gil4, seru banget. Nanti gue kirim videonya. Nah, sekarang lihat tuh si vampir lagi kangen-kangenan.”
“Udah kebayaan aja tuh. Nggak sekalian aja dibikin sah,” seru Rendi. Asoka hanya tersenyum, berada dalam taksi dalam perjalanan menuju kediaman Janitra. Seperti rencananya ia menyusul Edward penerbangan berbeda dengan kedua sahabatnya itu.
“Ward, kok0p dulu, itu paling penting.”
“Kata gue mah langsung bawa kabur aja, mumpung bokapnya Aya ke dalem,” usul Anji.
Edward mengajak Aya menjauh dari Anji.
Sedangkan di dalam rumah. “Mas,” panggil Diah mensejajari langkah suaminya. “Masih teguh dengan pendirianmu?”
Wira terdiam lalu menatap istrinya.
“Tuan Wira, penghulunya sudah datang. Diminta pergi atau bagaimana?”
Wira menghela nafasnya. “Minta dia menunggu, panggil Cahaya dan pria itu!”
“Baik, tuan.”
Memastikan Argo sudah beranjak, Diah menahan Wira dengan memegang tangannya. “Apa keputusanmu, mas?”
“Itu urusanku.”
“Jadi, urusanku. Cahaya putriku juga. Lihat rencanamu dengan Waskita, nyatanya berantakan. Kali ini aku harus terlibat. Aku restui Cahaya dengan Edward.”
“Aku ini suamimu, Diah. Patuhi apa yang menjadi keputusanku.”
“Tapi aku punya hak mas. Restui mereka atau aku ikut Andin dan Cahaya ke Jakarta!”
“Diah … ck. Setidaknya perhatikan aku, layani aku Diah. Dari pagi kamu sibuk dengan Cahaya, tidak peduli denganku.”
***
Edward dan Aya duduk bersisian, bahkan tangan mereka saling menggenggam. Di sofa lain ada Andin dan Mardani. Asoka dan Anji pun ikut di tengah pertemuan keluarga itu.
“Jadi, mas-mas ini dokter?” tanya Diah. Karena yang memperkenalkan diri secara resmi hanya Edward. Andin-lah yang menyampaikan kalau ketiga pria itu adalah dokter di rumsah sakit tempatnya bekerja.
“Betul bu. Kedua rekan saya ini sudah spesialis, kalau saya masih spesialis di IGD,” jelas Anji. “Siapa yang tidak kenal dengan kami, tim paling ganteng di Sentral Medika.”
Andin tersenyum mendengar kesombongan Anji.
Wira menatap tangan Aya dan Edward yang masih terpaut lalu berdecih pelan.
“Seperti yang saya sampaikan tadi, saya serius dengan Cahaya. Niat saya kemari untuk memohon restu.”
“Kami restui,” cetus Diah membuat suaminya langsung menoleh. “Iya ‘kan mas?”
“Besok, berita tentang kekacauan ini pasti terpublish. Setidaknya sebagai orangtua, nama baik putriku harus terjaga. Masyarakat tahu kalau hari ini pernikahan Cahaya. Kamu siap menikah dengan putriku?” tanya Wira. Edward yang tadinya santai mendadak langsung teg4ng dan saling tatap dengan Aya.
“Gass, Ward. Malam ini lo bisa belah duren, buka puasa,” lirih Anji sambil menendang kaki Edward.
duh dah kaya mau demo aja🤭
yang kemaren viral..tidak fantassss