NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29 perpisahan di gerbang obsidian dan badai kembang pemakan jiwa

Fajar menyingsing di Kota Batu Hitam, membawa semburat cahaya kemerahan dari dua matahari yang menembus tebalnya kabut asap peleburan logam. Di gerbang utara kota yang terbuat dari obsidian raksasa, sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor *Kadal Angin Bercula* telah disiapkan. Binatang buas tingkat menengah itu mendengus pelan, napas mereka mengeluarkan uap panas yang menyapu pasir di bawah kaki.

Lin Chen berdiri di dekat kereta tersebut. Ia telah melepaskan jubah pertempurannya yang compang-camping, menggantinya dengan jubah sutra hitam legam berkualitas tinggi, hadiah dari perbendaharaan Tuan Kota yang telah jatuh. Topeng besi kelabunya masih bertengger menutupi wajah, sementara lengan perak kehitamannya tersembunyi dengan sempurna di balik lengan jubah yang longgar.

Di hadapannya, tiga wanita yang kini memegang kendali atas Kota Batu Hitam datang untuk mengantarnya.

Hua Ruge, sang Nyonya Paviliun Bayangan Bulan, berdiri dengan pose yang luar biasa menggoda. Ia mengenakan gaun *qipao* sutra berwarna merah marun dengan belahan yang mengekspos paha putih jenjangnya hingga nyaris ke pangkal paha setiap kali angin gurun berhembus. Kulitnya yang seputih porselen tampak kontras dengan warna merah gaunnya. Ia menghisap pipa gioknya pelan, menghembuskan asap tipis beraroma melati ke arah Lin Chen.

"Kau benar-benar tidak ingin tinggal beberapa hari lagi, Iblis Kecil?" goda Hua Ruge. Suaranya serak dan basah, mengandung daya pikat yang mampu meluluhkan tulang pria mana pun. Ia melangkah maju, memiringkan tubuhnya hingga belahan dadanya yang penuh dan membusung terlihat jelas dari sudut pandang Lin Chen. Jari-jarinya yang lentik menyentuh dada bidang pemuda itu, mengelusnya pelan. "Dengan kekuatanmu dan jaringanku, kita bisa menguasai kota ini tidak hanya dari atas singgasana... tapi juga di atas ranjangku. Ranjang sutra esku sangat luas untuk kita berdua."

Lin Chen menatap wanita rubah itu tanpa sedikit pun perubahan pada detak jantungnya. Ia mengangkat tangan kirinya, menyingkirkan jari-jari nakal Hua Ruge dengan lembut namun tegas.

"Simpan pesonamu untuk musuh-musuh politikmu, Nyonya Hua," ucap Lin Chen datar. "Kota ini terlalu sempit untuk ambisiku, dan ranjangmu terlalu lembut untuk punggungku."

Hua Ruge tertawa merdu, tidak merasa tersinggung. Ia justru semakin penasaran dengan ketangguhan mental pemuda ini. "Hati yang sedingin es. Baiklah. Ingatlah, gerbang Paviliun Bayangan Bulan akan selalu terbuka lebar untukmu, kapan pun kau merindukan kehangatan."

Di sebelah Hua Ruge, Xue Ziyan melangkah maju. Nona Muda Keluarga Xue itu mengenakan gaun ketat berwarna ungu gelap yang menonjolkan lekuk pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang padat. Wajahnya yang cantik dan angkuh terlihat sedikit lebih lembut pagi ini. Kutukan Segel Darah di dahinya masih berdenyut samar, namun ketakutannya telah digantikan oleh rasa segan dan kekaguman yang teramat dalam.

Xue Ziyan menyodorkan sebuah cincin spasial berwarna perak ke arah Lin Chen. Saat Lin Chen menerimanya, ujung jari pemuda yang kasar itu bersentuhan dengan jari lembut Xue Ziyan. Wanita bangsawan itu tersentak pelan, rona merah tipis seketika menjalar di pipinya. Ia buru-buru menarik tangannya, berusaha mempertahankan martabatnya.

"Di dalam cincin itu terdapat lima puluh ribu Kristal Abadi Menengah, peta detail rute karavan menuju wilayah tengah, dan puluhan botol pil pemulih energi kualitas terbaik yang bisa kami kumpulkan," lapor Xue Ziyan, berusaha membuat suaranya terdengar profesional, meski napasnya sedikit tertahan saat menatap dada Lin Chen. "Keluarga Xue akan memastikan pasokan dana mengalir ke rekening rahasia Tuan setiap bulannya tanpa hambatan."

"Kerja bagus, Ziyan," ucap Lin Chen, memanggil nama kecilnya untuk pertama kali.

Mendengar namanya disebut langsung oleh Lin Chen tanpa gelar formal, jantung Xue Ziyan berdebar kencang. Ia menggigit bibir bawahnya, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ini adalah kehormatanku... Tuan."

Orang terakhir yang melangkah maju adalah Shen Yu. Berbeda dengan dua wanita dewasa yang memancarkan pesona dan kelicikan, Shen Yu adalah personifikasi dari kepolosan murni. Ia mengenakan gaun biru muda yang sederhana, rambutnya diikat ekor kuda. Matanya yang bulat tampak sembap karena menangis semalaman, menyadari bahwa pahlawannya akan segera pergi meninggalkannya.

Shen Yu membawa sebuah kantong kulit berisi bekal makanan kering dan jubah cadangan yang ia jahit sendiri dengan tangan.

"T-Tuan Lin Chen..." suara Shen Yu bergetar. Ia menyerahkan kantong itu dengan kedua tangan. "Ini... ini hanya sedikit bekal. Aku tahu aku tidak berguna dalam pertarungan, tapi aku... aku ingin Tuan selalu mengingat bahwa ada orang di Kota Batu Hitam yang mendoakan keselamatan Tuan setiap hari."

Lin Chen mengambil kantong itu. Saat ia melihat air mata mulai menetes membasahi pipi Shen Yu, pertahanan dingin Lin Chen sedikit melunak. Di dunia kultivasi yang dipenuhi pembantaian dan intrik, ketulusan murni seperti yang dimiliki gadis ini adalah barang yang sangat langka.

Tanpa diduga oleh siapa pun, Shen Yu tiba-tiba menabrakkan dirinya ke dada Lin Chen, memeluk pemuda itu dengan erat. Aroma tubuh gadis yang segar bercampur dengan kehangatan dadanya yang lembut menekan keras ke otot perut Lin Chen. Shen Yu menangis tertahan di balik jubah hitamnya.

Xue Ziyan membelalakkan matanya cemburu, sementara Hua Ruge tersenyum geli melihat adegan itu.

Lin Chen membiarkan pelukan itu selama beberapa detik. Ia kemudian mengangkat tangan kirinya, menepuk puncak kepala Shen Yu dengan ringan layaknya menenangkan seekor kucing kecil yang ketakutan.

"Kuatlah, Shen Yu," bisik Lin Chen. "Dunia Tengah tidak menoleransi air mata. Belajarlah untuk melindungi dirimu sendiri."

Menyadari apa yang baru saja ia lakukan, Shen Yu buru-buru melepaskan pelukannya dan mundur tiga langkah. Wajahnya merah padam seolah baru saja direbus. "M-Maafkan kelancanganku, Tuan! Aku... aku tidak bermaksud... Hati-hati di jalan, Tuan Lin!"

Lin Chen mengangguk. Ia tidak membuang waktu lagi untuk mengucapkan salam perpisahan yang panjang. Ia membalikkan badan dan melompat dengan gesit ke atas kursi kemudi kereta kadal angin.

Mengepakkan tali kekang, kedua kadal angin raksasa itu menggeram dan langsung berlari melesat menembus badai pasir di luar gerbang obsidian. Kereta itu menghilang di balik tirai debu bintang, meninggalkan tiga wanita dengan kekuatan terbesar di kota tersebut, yang kini menatap ufuk dengan perasaan yang berkecamuk.

Perjalanan melintasi Gurun Debu Bintang adalah ujian ketahanan yang membosankan. Tiga hari pertama berlalu tanpa insiden berarti. Kadal Angin Bercula adalah tunggangan yang luar biasa; mereka mampu berlari tanpa henti menyusuri bukit pasir dan menghindari lubang-lubang hisap raksasa berkat insting alamiah mereka.

Lin Chen duduk bersila di atap kereta, membiarkan kemudi otomatis dari formasi angin yang dipasang di kereta mengatur arah. Ia menggunakan waktu berharga ini untuk terus menyerap Qi Abadi liar dari udara, memurnikannya melalui *Napas Karang Esensi* dan *Metode Bintang Pudar*, lalu mengalirkannya ke Lengan Logam Abadinya.

Setiap kali Qi murni mengalir ke lengan perak kehitaman itu, rune biru di permukaannya akan menyala. Lin Chen merasa bahwa lengan ini memiliki kapasitas yang tidak terbatas. Sebanyak apa pun energi yang ia tuangkan, logam purba itu menyerapnya seperti jurang tak berdasar.

Pada hari keempat, saat dua matahari Dunia Tengah mencapai posisi tertingginya, langit di depan kereta tiba-tiba berubah warna menjadi hitam pekat.

Bukan karena badai pasir biasa. Suara dengungan yang sangat bising dan mengerikan, menyerupai jutaan pisau kecil yang saling digesekkan, bergema dari arah awan hitam tersebut.

Kadal Angin Bercula yang menarik keretanya mendadak berhenti. Makhluk buas itu merintih ketakutan dan mencoba memutar arah, menolak untuk melangkah lebih jauh.

Lin Chen berdiri di atas kereta. Ia menyipitkan matanya, mengandalkan penglihatan Tingkat Enam-nya untuk menembus jarak. Awan hitam itu bukanlah debu, melainkan koloni jutaan serangga bersayap tajam seukuran kepalan tangan.

*Kumbang Pemakan Jiwa.*

Ini adalah salah satu bencana alam paling mematikan di Gurun Debu Bintang. Kumbang-kumbang ini tidak hanya memakan daging, tetapi secara harfiah menghisap Qi dan energi spiritual mangsanya hingga kering.

Tepat saat kawanan itu mulai menukik turun dengan kecepatan tinggi ke arah keretanya, layar cahaya biru transparan berdenting keras di retina Lin Chen. Sistem kembali memberikan simulasi takdirnya secara acak.

**[Bencana Alam Terdeteksi: Badai Kumbang Pemakan Jiwa.]**

**[Status Musuh: Jutaan Entitas Tingkat Rendah, Kebal terhadap serangan fisik. Mampu menembus perisai Qi biasa.]**

**[Silakan tentukan metode pertahanan Anda:]**

**[Pilihan 1: Ledakkan seluruh Qi Tingkat Enam Anda untuk menciptakan perisai api ekstrem.

Hadiah: Anda bertahan selama 10 menit, namun jumlah mereka tidak terbatas. Anda akan kehabisan Qi dan akhirnya dimakan hidup-hidup hingga tersisa kerangka.]**

**[Pilihan 2: Ambil Inti Iblis Naga Pasir Besi Hitam dari kantong Anda. Hancurkan inti tersebut dan gunakan 'Telapak Penghancur Bintang' untuk memancarkan gelombang frekuensi suara infra-rendah yang dibenci kumbang tersebut.

Hadiah: Anda berhasil mengusir kawanan tanpa menguras energi Dantian. Anda kehilangan Inti Iblis berharga. Mendapatkan efisiensi taktis dan mengamankan tunggangan.]**

**[Pilihan 3: Biarkan kumbang-kumbang itu menyelimuti tubuh Anda. Gunakan Lengan Logam Abadi untuk menyerap seluruh bisa dan racun gigitan mereka, mengubah rasa sakit menjadi peningkatan kepadatan logam.

Hadiah: Peningkatan kekerasan artefak lengan. Anda kehilangan dua ekor kadal tunggangan dan kereta akan hancur. Perjalanan sisa melintasi gurun harus ditempuh dengan berjalan kaki selama sebulan.]**

Lin Chen membaca ketiga opsi tersebut dengan perhitungan dingin. Sistem biasanya menghadiahkan kekuatan terbesar pada jalur penderitaan ekstrem seperti Pilihan Ketiga. Namun, Lin Chen bukan orang bodoh yang selalu menyiksa dirinya tanpa kalkulasi rasional.

Meningkatkan kepadatan Lengan Logam Abadi memang menggoda, tapi kehilangan kereta dan harus berjalan kaki melintasi sisa gurun selama sebulan adalah kerugian taktis yang jauh lebih besar. Waktu adalah pedangnya, dan ia memiliki janji untuk segera tiba di wilayah pusat sekte. Lebih dari itu, mengandalkan kecerdasan untuk menyelesaikan masalah tanpa menguras fisik adalah bentuk evolusi kemampuannya.

"Pilihan kedua," batin Lin Chen tajam. Keputusan rasional.

Layar biru memudar seketika.

Lin Chen segera merogoh cincin spasialnya dan mengeluarkan sebuah benda bulat seukuran kepalan tangan yang memancarkan aura amis dan kehitaman. Itu adalah Inti Iblis sisa dari Naga Pasir Besi Hitam yang ia bunuh di Koloseum Jalur Darah.

Suara dengungan jutaan kumbang kini berjarak kurang dari seratus meter. Langit seolah runtuh menimpanya.

Pemuda itu melemparkan inti iblis itu ke udara. Ia memusatkan energi Yin dan Yang ke telapak tangan kirinya, lalu menembakkan *Telapak Penghancur Bintang* tepat ke arah inti yang melayang itu.

Alih-alih meledakkannya menjadi serpihan destruktif, Lin Chen memanipulasi ledakan tersebut menjadi resonansi getaran murni.

*ZZZNNNNNGGG!*

Inti Iblis naga pasir itu hancur, namun dari kehancurannya, terpancar gelombang suara frekuensi sangat rendah yang membawa aura predator puncak. Gelombang itu tidak bisa didengar oleh telinga manusia, melainkan langsung menghantam saraf sensorik kawanan kumbang pemakan jiwa di langit.

Di mata kawanan kumbang tersebut, kereta yang diam itu mendadak memancarkan aura ancaman dari seekor naga kuno yang mematikan.

Koloni awan hitam itu seketika pecah berantakan. Insting bertahan hidup kumbang-kumbang itu mengambil alih. Mereka berbelok tajam di udara, saling menabrak satu sama lain dalam kepanikan, dan menyapu ke arah timur, menjauhi kereta Lin Chen seolah menghindari wabah mematikan.

Dalam hitungan detik, langit kembali terang. Bencana alam yang bisa meratakan sekte kecil itu berhasil dihalau hanya dengan mengorbankan satu benda mati dan manipulasi Qi yang cerdas.

**[Pilihan 2 Diselesaikan. Efisiensi taktis tercapai. Badai Kumbang berhasil dialihkan.]**

Lin Chen duduk kembali di atap kereta. Ia menarik napas panjang, menstabilkan meridiannya. Kadal Angin Bercula yang tadinya meringkuk ketakutan perlahan bangkit kembali. Pemuda itu mengayunkan tali kekang, dan kereta kembali melaju kencang menembus gurun. Pengalamannya hari ini membuktikan bahwa kekuatan absolut tidak selalu tentang seberapa banyak darah yang tumpah, tetapi seberapa tepat pikiran menuntun kekuatan tersebut.

Dua hari setelah insiden badai kumbang, lanskap gurun mulai berubah. Pasir kelabu digantikan oleh dataran tanah retak yang diselimuti oleh lumut kekuningan. Di kejauhan, sebuah formasi bebatuan raksasa yang menutupi sebuah telaga jernih mulai terlihat.

Itu adalah *Oase Tulang*.

Lin Chen menghentikan keretanya di bawah bayangan tebing kars yang melengkung. Oase ini mendapatkan namanya bukan tanpa alasan. Meskipun air telaganya sangat jernih dan memancarkan Qi spiritual yang menyejukkan, tepian telaga itu dipenuhi oleh ribuan tengkorak dan tulang belulang, baik manusia maupun binatang buas raksasa. Tempat ini adalah zona peristirahatan sekaligus medan pertempuran bagi para kultivator yang melintasi gurun.

Ia melompat turun dari kereta. Membiarkan kadal-kadalnya meminum air dari telaga, Lin Chen membuka jubah atasnya untuk membersihkan diri.

Sinar dua matahari yang terik menimpa tubuh bidangnya. Kulit perunggu keabu-abuan miliknya bersinar sehat. Lengan kanannya yang terbuat dari perak kehitaman tampak begitu megah dan mengintimidasi. Saat ia menciduk air telaga yang dingin menggunakan tangan besinya dan membasuh wajah serta lehernya, ia merasakan sensasi segar yang sudah lama tidak ia nikmati. Lengan Logam Abadinya mentransfer suhu air dengan sempurna ke sistem sarafnya, membuktikan asimilasi yang tanpa cacat.

"Sungguh air yang menyegarkan di tempat yang sangat busuk," sebuah suara tajam dan arogan memecah ketenangan oase.

Lin Chen tidak tersentak. Ia sudah menyadari kehadiran lima fluktuasi Qi yang terbang mendekat sejak beberapa menit yang lalu. Ia hanya mengambil kain kering dan perlahan mengelap dada dan lengan kirinya, sama sekali tidak menoleh ke arah sumber suara.

Dari langit, sebuah perahu terbang berukuran kecil namun memancarkan kilau emas mendarat di sisi lain telaga. Layar perahu itu menampilkan lambang awan putih yang ditembus oleh pedang perak bersilang.

Itu adalah panji dari *Sekte Pedang Berkabut* (Misty Sword Sect), salah satu sekte tingkat menengah yang bermarkas di pinggiran wilayah pusat Dunia Tengah. Bagi penduduk Kota Batu Hitam, sekte ini adalah eksistensi tingkat dewa yang tidak boleh disinggung.

Lima orang melompat turun dari perahu terbang tersebut. Mereka semua mengenakan jubah putih sutra yang mewah, dengan pedang terbang melayang di belakang punggung mereka. Empat orang pria dan seorang wanita cantik. Fluktuasi energi mereka sangat stabil, menunjukkan kultivasi di Tahap Pendirian Yayasan Awal (Foundation Establishment)—sebuah alam besar yang berada tepat satu tingkat di atas Tahap Transformasi Fana. Di mata mereka, alam tempat Lin Chen berada saat ini hanyalah setara dengan semut fana.

Pemuda yang berjalan paling depan, tampaknya pemimpin kelompok itu, menatap kereta Kadal Angin milik Lin Chen dengan mata serakah.

"Kadal Angin Bercula kualitas premium," decak pemuda arogan bernama Zhou Yan itu. Ia kemudian menatap Lin Chen yang masih bertelanjang dada. Pandangannya langsung terpaku pada Lengan Logam Abadi pemuda itu. Zhou Yan tertawa merendahkan. "Oh, ternyata hanya seorang kultivator cacat yang mengganti lengannya dengan besi rongsokan. Hei, Sampah! Kami dari Sekte Pedang Berkabut menyita keretamu. Perahu terbang kami kehabisan batu roh, dan kami tidak sudi berjalan kaki di tanah berdebu ini."

Di belakang Zhou Yan, wanita cantik bergaun putih bernama Liu Xue melipat tangannya dengan ekspresi jijik. "Tinggalkan dia, Kakak Senior. Jangan sampai darah rakyat jelata ini mengotori jubah kita. Biarkan dia mati kehausan di sini."

Lin Chen akhirnya mengenakan kembali jubah hitamnya. Ia memasang topeng besi kelabunya, menutupi wajahnya, membiarkan Lengan Logam Abadinya tetap terlihat dari balik lipatan kain.

Ia membalikkan badannya, menatap kelima murid sekte elit tersebut. Matanya tidak memancarkan ketakutan akan level 'Pendirian Yayasan' yang mereka banggakan. Di matanya, mereka hanyalah pupuk tambahan bagi Oase Tulang.

"Keretaku tidak membutuhkan penumpang yang tidak tahu tata krama," jawab Lin Chen datar.

Zhou Yan mengerutkan kening, merasa terhina. Seorang semut yang bahkan belum mencapai Tahap Pendirian Yayasan berani membalas ucapannya? Di wilayah pusat, aura Pendirian Yayasan miliknya cukup untuk membuat ribuan fana bersujud mencium tanah.

"Mencari mati!" bentak Zhou Yan.

Tanpa ragu, murid sekte itu membentuk segel tangan. Pedang perak yang melayang di belakang punggungnya seketika melesat membelah udara. Kecepatan pedang terbang (Flying Sword) dari Tahap Pendirian Yayasan jauh melampaui serangan Qi biasa. Pedang itu membawa aura es yang membekukan air telaga di bawahnya, mengincar lurus ke arah dada Lin Chen.

"Mati kau, cacing gurun!" teriak Liu Xue menyemangati seniornya.

Lin Chen tidak menghindar. Ia berdiri diam layaknya batu karang di tengah oase.

Tepat saat pedang terbang itu berjarak satu inci dari dadanya, Lin Chen mengangkat tangan kanannya. Lengan perak kehitaman itu bergerak dengan kecepatan yang memecahkan hukum ruang.

*CLANGGG!*

Suara logam berbenturan bergema hebat. Pedang terbang tingkat spiritual milik Zhou Yan tertangkap dengan telak oleh telapak tangan logam Lin Chen.

Mata kelima murid sekte itu terbelalak lebar. Menangkap pedang terbang milik ahli Pendirian Yayasan dengan tangan kosong? Itu adalah tindakan bunuh diri absolut!

Namun, apa yang terjadi selanjutnya menghancurkan seluruh kewarasan mereka.

Lin Chen tidak hanya menghentikan pedang itu. Ia meremasnya.

*KRAAAK! PRANG!*

Pedang spiritual berkualitas tinggi itu hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh di bawah cengkeraman Lengan Logam Abadi. Serpihan baja spiritual berjatuhan ke atas pasir.

"Ughh!" Zhou Yan memuntahkan seteguk darah. Karena pedang itu terhubung dengan rohnya, kehancuran instan itu menyebabkan serangan balik yang parah pada meridiannya. "Mustahil! Lengan apa itu?! Siapa kau sebenarnya?!"

Lin Chen menurunkan lengan kanannya, membiarkan debu besi berjatuhan dari sela jarinya. Mata hitamnya di balik topeng kini memancarkan niat membunuh yang menyelimuti seluruh oase, membekukan darah kelima murid sekte tersebut.

"Namaku tidak penting bagi mayat," ucap Lin Chen rendah.

Dengan satu sentakan kaki, *Langkah Bayangan Iblis* diaktifkan. Jarak lima puluh meter menyusut menjadi nol dalam sekejap mata.

Bahkan ahli Tahap Pendirian Yayasan tidak mampu memproses kelajuan tersebut karena kesombongan yang membuat mereka lengah. Lin Chen muncul tepat di hadapan Zhou Yan. Lengan perak kehitamannya melesat ke depan, bukan dalam bentuk kepalan, melainkan tusukan lima jari yang terentang lurus.

*BZZZZT! JLEB!*

Jari-jari Lengan Logam Abadi itu menembus pelindung Qi Tahap Pendirian Yayasan milik Zhou Yan layaknya menembus kertas basah. Tangan perak itu menembus lurus ke dalam dada sang pemimpin kelompok, merobek tulang rusuk, dan meremukkan jantungnya dalam satu gerakan brutal.

Darah segar menyembur mewarnai jubah putih sutra Zhou Yan. Mata murid arogan itu mendelik tak percaya, menatap tangannya yang tak mampu menggapai Lin Chen. Pemuda bertopeng itu menarik tangannya keluar dengan kasar, membiarkan mayat Zhou Yan ambruk ke tanah.

"Kakak Senior!" jerit Liu Xue histeris, wajah cantiknya yang angkuh kini dipenuhi teror murni. Tiga murid lainnya membeku, kaki mereka bergetar hebat. Pemimpin mereka, ahli Pendirian Yayasan, dibunuh dalam satu serangan sekunder oleh seseorang dengan fluktuasi Qi di bawah mereka?

Lin Chen mengebaskan sisa darah dari jari logamnya, menghasilkan suara dentingan pelan. Ia menoleh ke arah empat murid yang tersisa. Hawa membunuh di sekitarnya begitu pekat hingga membuat air telaga beriak ngeri.

"Sekte Pedang Berkabut," gumam Lin Chen, mengingat lambang di perahu mereka. "Terima kasih atas batunya. Perahu terbang kalian akan sangat berguna untuk memotong waktu perjalananku."

Sang Iblis Satu Tangan, yang kini telah utuh kembali dengan persenjataan dewa di tubuhnya, perlahan melangkah mendekati keempat mangsanya yang menggigil ketakutan. Di Oase Tulang yang sunyi ini, beberapa kerangka baru berbalut sutra putih akan segera bergabung dengan tumpukan pasir, menjadi saksi bisu kebrutalan dari entitas yang bersiap menginvasi jantung Dunia Tengah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!