NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 20. Memutuskan pindah cabang

Perempuan kan si kakaknya ibunya ayah Wiya itu?

"Ya entah itu rejekinya, entah memang nasibnya, atau memang pengganti dari rasa sedihnya. Karena dia dari kecil itu piatu, ibunya bun** d*** di rumahnya sendiri. Dia itu hidup di banyak asuhan tangan keluarga. Ditambah lagi dia menikahnya telat, karena trauma lihat rumah tangga saudaranya katanya. Udah menikah, eh malah punya suami nggak lama. Entah sejak itu ia hidup untuk bekerja dan itulah hasil kerja kerasnya, entah karena itu dari pengganti rasa sedihnya." Mobil mulai terparkir di halaman sebuah ruko.

Wah, jangan-jangan ini usaha rumah jahit itu? Masa iya aku akan membeli baju glamor para artis?

“Kata aku sih itu semua udah rejekinya. Dia diberi kesedihan, tapi usaha dan ekonominya diberi lebih,” sahutku dengan melangkah keluar dari mobil.

"Ini rumah jahit itu, Mas?” tanyaku dengan berusaha sejajar dengannya.

Banyak mata yang memandang kami, aku jadi kurang percaya diri.

"Bukan.” Ia terkekeh geli. "Ini usaha neneknya ayah Wiya yang diteruskan sama salah satu keluarga yang keturunan Bali. Entahlah tak paham juga, intinya sampai di keturunannya, nenek dan kakeknya ayah Wiya itu usahanya banyak yang tidak dilanjutkan anaknya. Banyak yang diakuisisi saudara lain, soalnya katanya usahanya sampai nyentuh berapa puluh usaha. Dulunya mereka terkaya." Mas Barraq begitu beraninya menempatkan tangannya di belakang pinggangku.

“Lah, kan bukannya seluruh perusahaan dijadikan satu?" Aku jadi bingung.

“Iya memang, seluruh perusahaan dijadikan satu tapi kan pembayaran hasil ada laporannya sendiri-sendiri. Hasilnya nggak sama. Kalau diakuisisi itu kek tadi Mas jelasin, dibeli sahamnya lalu dibagi hasil. Ada yang beli menyeluruh dan tidak. Wah kamu nih nol banget masalah begini, masuk ke keluarga Mas aja biar ngerti," ujarnya begitu ringan.

Otakku belum sampai, karena belum mempelajarinya saja. Masa iya harus masuk ke dalam keluarga pebisnis dulu agar mengerti?

“Waduh, beda lagi gandengannya sama yang kemarin,” celetuk seorang perempuan dari meja kasir dengan menurunkan pulpennya.

Sejak aku menginjak area keluarga mas Barraq, aku belum pernah melihat mereka yang parasnya di bawah rata-rata. Orang kaya pasti mencari selera yang tinggi, atau memang mereka pada merombak tampilannya sepertiku?

"Terus aja bilang kek gitu tiap kali aku bawa betina. Lepas kuantar balik, chat mereka rata kiri semua. Dicecarnya aku berbagai pertanyaan,” jawab mas Barraq dengan menurunkan tangannya dari pinggangku dan melihat sekeliling toko ini.

Ini toko pakaian dua lantai dengan bagian depannya full kaca semua.

"Ya baguslah kau tak langgeng, karena aku belum kawin juga. Kau jangan ngeduluin kakak kau ini,” sahut perempuan tersebut dengan bangkit dari tempat duduknya.

Ia melangkah ke arah jalan keluar, kemudian berdiri di hadapanku. Sedangkan mas Barraq bersandar di meja kasir dengan bermain ponsel. Meja kasirnya cukup tinggi, mungkin sepinggangnya.

"Kawinlah makanya cepat, tak laku ya biar aku yang kawini kau, Kak,” balas mas Barraq yang pastinya akan membuat perempuannya marah, jika perempuan tersebut adalah pasangannya.

Ia melirik sinis melewati mas Barraq. "Cari apa, Kak? Biar kubantu pilihkan,” tanyanya ramah padaku.

“Aku mau beberapa stel baju santai, Kak. Aku datang nggak bawa banyak pakaian soalnya,” jawabku dengan memperhatikan jejeran baju-baju yang dipakai oleh manekin.

“Ohh, karyawan Putra Tunggal Berintan ya?”

Pertanyaan itu lagi yang kudengar. Aku hanya menganggukkan kepalaku, sambil menyentuh salah satu baju yang tergantung di rak baju paling dekat denganku.

"Kakak suka pakai daster tak? Best sellernya daster kak di sini,” tukasnya dengan mendekati rak gantung yang salah satu bajunya kusentuh.

Hingga akhirnya aku tahu, bahwa toko baju ini adalah salah satu anak usaha dari Putra Tunggal Berintan. Toko ini memang hanya satu secara offline, tapi ternyata toko ini merajai pasar online untuk jenis daster dan pakaian santai. Toko ini pun ternyata memiliki pabrik konveksi sendiri, meski memiliki ikatan kerjasama dengan distributor fashion lain.

Terang saja mengetahui ini semua aku semakin segan dengan keluarga ini. Aku yakin, jika aku macam-macam dengan pekerjaanku malah yang menjadi taruhannya adalah keluargaku. Karena kekeluargaan mereka erat sekali, sudah pasti masalah kecil dibesar-besarkan dan masalah besar akan diledakan.

Hingga beberapa saat kemudian, aku sudah berhadapan dengan ayah Wiya dan adiknya mas Barraq yang dimintain uang saat di penjual siomay.

Ialah yang bernama Naura. Bisa dibilang ia bibinya mas Barraq, tapi dalam kartu keluarga ya ialah adiknya mas Barraq.

“Kau udah resmi dimutasi, Dea. Selesaikan laporan cabang yang di Jawa hari ini, karena besok kau harus mulai bereskan laporan untuk di cabang sini. Berkas-berkas udah kau tanda tangani, semuanya udah beres," ucap ayah Wiya dengan menutup map tersebut.

"Beres? Mana fasilitasku yang Ayah janjikan itu?” Aku menaikan satu alisku.

Naura tertawa lepas. "Gila sih kau, Kak. Kau berani betul. Kau pasti bos yang garang dan tegas ya?” tukasnya dengan masih fokus pada layar laptopnya.

"Satu lagi, Yah. Aku mau barang-barang di apartemenku yang di Jakarta itu diantarkan ke sini,” jelasku kembali.

Ayah Wiya tersenyum lebar. "Bagus, udah pantas kau jadi orang kaya sombong. Awas aja kau dengan gaji besar kau itu di kampung kau tak punya usaha apa-apa,” ujarnya di tengah suara tawanya yang kian terdengar.

"Aku ada usaha ayam petelur sama empang lele, Yah. Aku juga punya jasa angkut, ada beberapa mobil di kampung,” akuku bangga.

Ya iyalah aku berbangga diri. Selelah ini aku bekerja, masa tidak menghasilkan apa-apa.

"Bagus-bagus…” ayah menganggukkan kepalanya beberapa kali.

"Oh iya, kau mau mulai dari kota apa? Biar nanti mobil dan hunian disiapkan. Biar barang-barang kau di sana bisa dipindahkan langsung ke hunian nantinya,” ujarnya dengan memperhatikan cucu kecilnya yang berlalu lalang.

Ketika di Jawa saja, aku memulainya dari kota besar. Jika dimulai dari provinsi ini, rasanya berat sekali. Ditambah aku tidak memiliki batu loncatan di sini.

Aku teringat pada Shelly, temanku yang membawaku menjadi influencer. Ia berasal dari Medan, ia pun lebih lama di Medan ketimbang berada di Jakarta.

Ah, aku akan menjadi benalunya kembali untuk awal berkarir di pulau ini.

“Medan aja, Yah. Adakah cabang di sana?” jawabku mantap.

"Serius, Kak?" tanya Naura cepat.

“Yaa, aku rasa… baiknya dicoba di kota besar,” sahutku bingung mencari alasan. Bukan baiknya ya, tapi karena aku tidak memiliki siapa-siapa di sini.

Masa membuat skandal dengan mas Barraq agar terkenal namaku di sini? Itu sangat tidak etis sekali.

“Oke, urus dokumen sama Naura dulu ya? Ayah mau bahas tentang apartemen kau di sana sama Barraq. Biar langsung proses pindah ke Medan," ujar ayah dengan bangkit perlahan dan berjalan ke arah luar rumah.

Semoga rejekiku mengalir deras dari keputusan hari ini. Aku berharap besar pada pekerjaan ini.

1
Rini qi
kayaknya perasaan dea sama deh kek aq, deg-degan & penasaran apa ini yang terjadi selanjutnya
Miss F
kayaknya mau ad sesi tanya jawab ttg kelonan smlm tu de...🤣🤣🤣
Fitri Ristina
rer the best pokoknya...ga pernah bosan dengan cerita keluarga mamah dinda
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Rini qi: jgn anggap remeh dea...
total 1 replies
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!