menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 : benang merah takdir
Malam itu, bulan purnama bersinar terang menerangi Kingdom of Serenity. Namun, di dalam Aula Besar istana, suasana terasa jauh dari kata tenang. Udara terasa tegang dan berat.
Semua petinggi kerajaan, para jenderal, penasihat tua, dan pemimpin pasukan telah berkumpul. Mereka berdiri rapat di kedua sisi lorong panjang, menatap sosok yang berdiri di atas panggung utama dengan wajah cemas.
Raja Xavier berdiri tegap. Wajahnya tampak lebih dewasa dan tegas dari biasanya. Di tangannya, ia memegang erat buku-buku kuno yang telah ia baca seharian ini.
"Terima kasih kalian semua sudah datang malam ini," ucap Xavier, suaranya tenang namun bergema jelas di seluruh penjuru ruangan. "Aku memanggil kalian kemari karena ada keputusan penting yang harus kuumumkan."
Semua orang menahan napas, menanti kata-kata sang Raja.
"Selama ini, kita hidup damai. Kita berpikir bahwa dunia ini hanya terdiri dari cahaya dan kehidupan. Tapi hari ini, aku menemukan kebenaran yang selama ini tersembunyi."
Xavier mengangkat buku di tangannya.
"Aku menemukan cerita tentang sebuah kerajaan yang jauh di sana. Tentang Obsidian Empire. Dan tentang penguasanya, Ratu Elara."
Sebutan nama itu langsung membuat keributan kecil di antara para hadirin. Wajah mereka berubah pucat.
"Baginda..." seru seorang Penasihat Tua dengan suara bergetar. "Tolong jangan katakan hal itu. Itu adalah tempat terkutuk! Itu adalah..."
"Itu adalah rumah bagi seseorang yang sangat kesepian," potong Xavier lembut namun tegas. Ia menatap mata penasihat itu dalam. "Aku sudah membaca segalanya. Aku tahu sejarahnya, aku tahu penderitaannya, dan aku tahu siapa dia sebenarnya."
Xavier berjalan turun dari panggung, berjalan di tengah barisan orang-orangnya.
"Semakin aku membaca buku-buku ini, semakin aku merasakan sesuatu yang aneh. Seolah-olah tulisan-tulisan ini bukan sekadar sejarah. Seolah ada sebuah tarikan... sebuah panggilan yang sangat kuat dari dalam dadaku."
Xavier menepuk dadanya sendiri.
"Seolah ada benang merah takdir yang terikat erat di jantungku, dan ujung benang itu membentang jauh menyeberangi lautan awan, menembus perbatasan Moonlight, dan berakhir tepat di hadapan sosok wanita itu."
Mata Xavier berbinar penuh keyakinan.
"Oleh karena itu, aku memutuskan. Besok pagi, aku akan berangkat. Aku akan pergi ke perbatasan Moonlight, dan aku akan masuk ke dalam Obsidian Empire. Aku ingin bertemu dengannya. Langsung. Tatap muka."
⚠️ Penolakan yang Keras
Pengumuman itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.
"TIKAAK!!!"
Serentak, semua petinggi kerajaan berteriak menolak. Mereka serentak berlutut di hadapan Raja, kepala mereka menunduk dalam-dalam.
"Mohon batalkan niat Baginda!" seru Jenderal Perang dengan suara keras. "Itu adalah tempat yang sangat berbahaya! Tidak ada satu pun orang yang masuk ke sana yang bisa kembali dengan selamat! Mereka akan lenyap menjadi debu!"
"Benar, Baginda!" tambah Penasihat Utama. "Ratu Elara itu iblis! Dia pembunuh! Jika Baginda pergi ke sana, nyawa Baginda tidak akan aman! Kami tidak bisa membiarkan Raja kami mengambil risiko sebegitu besarnya!"
"Kami mohon, Baginda! Tetaplah di sini! Jagalah kerajaan ini! Jangan pergi mencari bahaya!" teriak mereka serempak. Suara mereka penuh keputusasaan dan ketakutan. Mereka sangat menyayangi Raja mereka, dan bayangan kehilangan dia membuat mereka panik.
Xavier berhenti di tengah mereka. Ia melihat ketakutan di mata orang-orang yang setia ini. Hatinya terharu, namun tekadnya tidak goyah sedikit pun.
Ia berlutut sedikit, menyamakan tingginya dengan para penasihat yang menangis itu, lalu mengangkat dagu pemimpin tertua mereka.
"Dengar aku, Kakek..." ucap Xavier lembut. "Aku mengerti kekhawatiran kalian. Aku tahu kalian takut aku tidak kembali."
"Tapi lihatlah..." Xavier menunjukkan buku-buku itu. "Buku-buku ini muncul begitu saja padaku. Informasi ini terungkap padaku. Bukankah itu artinya takdir sedang mengarahkanku ke sana?"
"Aku tidak pergi untuk berperang. Aku tidak pergi untuk membunuh atau dibunuh. Aku pergi karena... aku merasa dia sedang menunggu. Aku merasa dia butuh seseorang yang datang bukan karena takut, bukan karena ingin merebut kekuatannya, tapi karena ingin mengulurkan tangan."
"Tapi Baginda! Itu Ratu Kematian!" protes seorang ksatria.
Xavier tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan cinta dan keyakinan yang membara.
"Ya. Dia Ratu Kematian. Dan aku adalah Raja Kehidupan. Kita adalah dua sisi mata uang yang sama. Kita adalah keseimbangan."
"Dan tentang ketakutan kalian..." Xavier berdiri tegak kembali, matanya memancarkan aura keemasan yang hangat namun kuat. "Percayalah padaku. Aku yakin... aku akan kembali. Dan jika takdir berkata lain... setidaknya aku sudah melakukan apa yang hati kecilku bilang. Aku tidak ingin hidup selamanya dengan rasa penasaran dan rasa menyesal karena tidak pernah berusaha mendekatinya."
"Benang ini sudah menarikku terlalu kuat," bisik Xavier, menatap jauh ke arah jendela, ke arah malam yang gelap. "Aku tidak bisa menolaknya. Aku harus datang padanya."
"Siapa pun yang ingin ikut, boleh ikut. Tapi jika kalian takut, kalian tidak perlu memaksakan diri. Aku akan tetap pergi, bahkan jika aku harus melangkah sendirian."
Suasana menjadi hening.
Para petinggi kerajaan saling bertukar pandang. Mereka melihat tekad di mata Raja mereka yang sedemikian bulatnya. Mereka tahu, sekali Raja Xavier sudah memutuskan, tidak ada yang bisa mengubahnya.
Meskipun hati mereka dipenuhi ketakutan yang luar biasa, perlahan-lahan mereka menundukkan kepala, menerima keputusan itu meski dengan berat hati.
Malam itu, di aula besar, sebuah perjalanan berbahaya telah disepakati. Perjalanan menuju kegelapan, demi sebuah cinta yang dirangkai oleh takdir.
Bersambung,..