"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 29
Sehari setelah acara, Mila yang sedang duduk dibawah pohon jambu selepas sarapan pagi begitu terkejut mendengar dari mulut ibunya yang memintanya untuk balikan lagi dengan Hardi.
"Ibu enggak salah?" tanya Mila serius.
"Ibunya yang meminta, Nak. Kalau kamu enggak mau, enggak jadi masalah juga," jawab Maya yang tak ingin memaksa putrinya.
"Bu, apa enggak ada laki-laki lain yang lebih baik darinya?" Mila bertanya lagi.
"Ibunya bilang kalau anaknya telah berubah, Hardi juga ngomong kepada ibunya kalau kamu sekarang lebih cantik," jawab Maya.
"Akhirnya dia mengakuinya!" ucap Mila seringai.
"Ibu serahkan keputusannya kepadamu!" kata Maya dengan lembut.
"Asal Ibu tau kenapa aku bisa seperti ini? Ya, karena aku sekarang lebih bahagia. Aku dapat membeli makanan dan barang-barang sesuai selera dan keinginan ku. Aku bisa menikmati hidup dengan layak tanpa siksaan dan makiannya."
"Ya, Nak. Kami mengerti dan paham."
"Kalau mereka datang meminta aku rujuk. Aku menolaknya!!" Mila menekankan kata-katanya.
"Ibu akan sampaikan ini kepada bapakmu biar dia yang bicara," kata Maya menepuk lembut pundak putrinya.
Jam 9 pagi, Mila berjalan kaki menuju pasar terdekat. Sudah lama ia tak mengunjungi tempat itu sejak menikah. Mila sengaja tak mengendarai sepeda motor biar sekalian olahraga. Mila membeli beberapa bahan masakan serta buah-buahan.
Kembali dari pasar, Mila juga berjalan kaki meskipun matahari mulai terasa panas. Ditengah perjalanan menuju rumah, ia bertemu dengan mantan suaminya.
Mila berharap Hardi tak menghampirinya, namun kenyataannya berbeda. Hardi yang mengendarai motornya mendekatinya dan berkata, "Ayo bareng sama aku!" ajaknya.
"Tidak. Terima kasih. Duluan aja!" Mila tersenyum kecut.
"Cuaca hari ini sangat panas, nanti tubuhmu lelah. Apalagi sudah capek-capek menurunkan berat badan malah kulitnya jadi menghitam!" sindir Hardi.
Mila mengepalkan tangannya. Kata Maya, mantan suaminya telah berubah padahal tetap sama. Mulutnya pedas.
"Nanti gak ada laki-laki yang mau!" Hardi tertawa menyindir.
"Biarkan aja. Memangnya ada perempuan yang mau samamu??" balas Mila menyinggung.
Hardi tampak tersinggung.
"Asal kau tau, meskipun tak ada laki-laki lain yang mau denganku. Aku juga enggak sudi balikan dengan laki-laki pelit dan suka merendahkan perempuan!" Mila keras menyindir.
"Kau!!" geram Hardi. Ia tak suka dengan sindiran mantan istrinya.
"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!!" ucap Mila kemudian melangkah dengan cepat.
Sesampainya di rumah, ia menuju ke ruang makan, menarik kursi, menuangkan air ke dalam gelas, meneguknya hingga kandas, lalu meletakkan gelas secara kasar hingga mengeluarkan suara.
Mendengar suara gebrakan, Leo, adik keduanya, menghampirinya dan bertanya, "Ada apa, Kak?"
"Kakak lagi kesal aja!"
"Kesal kenapa?" Leo, 23 tahun, menarik kursi dihadapannya Mila.
"Laki-laki gak tau malu dan brengsek itu, bisa-bisanya dia mau ajak balikan tapi malah menjelekkan Kakak. Memang kurang ajar 'kan!!" omel Mila.
"Besok Kakak mau balik ke sana aja. Di sini enggak nyaman!!" kata Mila penuh emosi.
"Jangan besok dong, Kak!!" bujuk Leo tak mau kakaknya buru-buru balik ke kota perantauan. "Dua hari lagi, ya!" mohonnya.
"Kakak enggak mau ketemu dia lagi, Leo. Bawaan Kakak kesal dan marah aja!"
"Nanti aku temui dia, kalau perlu aku berikan sedikit tanda ditubuhnya!" Leo siap membela sang kakak.
"Eitss.... jangan!!" Kau bisa di penjara karena menganiaya!!" larang Mila.
"Biar dia enggak ganggu Kakak lagi!! kata Leo yang juga ikutan emosi.
"Urusan dia biar kakak aja yang mengatasi," ucap Mila.
"Kakak, dua hari lagi, ya, balik ke sana!" bujuk Leo.
"Kakak tetap besok balik ke sana. Tempat Kakak kerja enggak bisa beri waktu libur lama karena waktu hari raya udah libur panjang," jelas Mila.
***
Dua hari kemudian..
Mila telah kembali ke kota perantauan setelah diberikan izin libur selama 6 hari. Besok dia sudah mulai bekerja.
Mila sampai ke kos-kosannya, sebelum membuka pintu ia melihat ke arah kamarnya Hasbi. Ia berharap Hasbi juga kembali.
Hingga malam hari, tanda-tanda Hasbi sudah berada di kos-kosan tak kelihatan dan tak terdengar. Kamar Hasbi tetap gelap seperti tak berpenghuni.
"Ke mana dia? Apa dia belum juga balik?" gumam Mila melihatnya dari pintu kamarnya selepas pulang salat Isya.
Terdengar suara pintu terbuka, arah itu dari depan kamarnya Mila. Wanita muda yang anaknya ia dan Hasbi bantu antarkan ke rumah sakit beberapa hari lalu, keluar dari kamarnya. "Mbak Mila cari Mas Hasbi, ya?"
"Eh, iya, Mbak. Aku memang cari dia. Apa dia belum ada balik ke sini?" tanya Mila.
"Mas Hasbi, enggak tinggal di sini lagi. Dia udah pindah, tiga hari lalu," jawabnya.
Mila yang mendengarnya mendadak kakinya lemas.
"Kami enggak tau alasannya pindah, Mas Hasbi belum sempat ngomong. Karena mobil yang membawanya udah menunggu. Jadi, dia cuma pamit sama tetangga sini yang kebetulan bertemu aja."
Mila bingung mau berkata-kata, rasanya ingin menangis. Hasbi benar-benar meninggalkannya setelah pengakuan jujurnya.
"Mbak Mila, enggak apa-apa 'kan?" tanya sang tetangga karena melihat wajah Mila mendadak pucat.
"Enggak apa-apa, Mbak. Hanya kecapean baru balik dari kampung," jawab Mila berbohong.
"Oh, ya udah, Mbak. Istirahat aja."
"Iya, Mbak. Terima kasih, ya. Kalau begitu, aku masuk dulu, ya!" Mila ke dalam dan mengunci pintunya.
Mila duduk di ujung kasur dan menangis, ia pikir Hasbi mencintainya tulus dan bersedia menerima statusnya. Tetapi, ia hanya mendapatkan harapan dan janji palsu.
"Apa aku memang ditakdirkan sendirian selamanya, Ya Allah? Apa mungkin engkau sudah menyiapkan seseorang yang jauh lebih dari para lelaki yang mendekatiku?" batinnya berdoa.
***
Mila berangkat kerja tak bersemangat, meskipun ini hari pertamanya pasca mudik. Mila berusaha berinteraksi dan berkomunikasi dengan rekan kerjanya seperti biasanya.
"Mila, empat hari ini Mas Alan datang ke sini cari kamu!" kata Wina.
"Mau apa lagi dia mencari aku?" Mila juga malas bertemu dengan Alan.
"Kami enggak tau, gak mungkin juga kami tanyakan alasannya," kata Wina lagi.
"Kak Wina, Kak Ratih, tau 'kan alasan aku menghindarinya?" Mila duduk sembari tangannya memetik tauge. Dia sempat menceritakan pertemuannya dengan ibunya Alan kepada rekan kerjanya itu.
"Iya, kami tau. Mungkin aja ibunya udah luluh dan mau terima kamu!" sahut Ratih.
"Itu enggak mungkin terjadi!" Mila pesimis ibunya Alan dapat berubah hanya demi dirinya.
"Kita 'kan enggak tau perubahan seseorang!" kata Ratih lagi.
"Memang benar, sih, tapi aku tetap enggak mau terima dia!" keputusan Mila sudah bulat.
-
Sore harinya, Alan sengaja diam-diam mengikuti Mila pulang kerja. Alan ingin bicara dan membujuk Mila agar mau menerimanya.
Alan menghentikan motornya tepat di depan Mila yang sedang berjalan memasuki jalanan menuju kos-kosannya.
"Mas Alan mau apa lagi?" ketus Mila.
Alan turun dari motor dan menghampirinya, "Mil, aku minta maaf. Aku udah bicara dengan ibuku. Dia mau menerima hubungan kita!"
"Aku tetap enggak bisa, Mas. Maaf!" tolak Mila dengan sopan.
"Apa alasannya? Apa kamu udah punya calon?" cecar Alan.
"Gak ada alasan. Aku juga belum punya calon suami atau kekasih. Aku sekarang cuma ingin sendiri dan bekerja!" tegas Mila.
"Mil.. tolong beri aku kesempatan lagi!" Alan meraih tangan Mila tetapi wanita itu menariknya dengan cepat.
"Mas, cukup. Jangan ganggu aku lagi!!" Mila memberikan peringatan.
Mila lalu melanjutkan langkah kakinya dengan cepat.
"Mil, tunggu!!" Alan menaiki motornya dan menyalakan mesinnya, mengejar langkah kaki Mila.
Karena sudah terlalu lelah, Mila menghentikan motor sembarangan orang. Sebuah motor matic hitam berhenti di dekatnya. "Mbak Mila, ada apa?"
Mila sedikit lega sebab bertemu dengan Aldo. "Mas, tolong antarkan aku ke kos-kosan!"
"Ayolah!"
Mila naik ke belakang dan motor pun berjalan. Dibonceng, Mila tetap takut karena Alan terus mengikutinya. Ia beberapa kali selalu menoleh ke belakang.
"Mbak Mila, apa yang terjadi? Kelihatannya ketakutan?" tebak Aldo.
"Mas, enggak usah ke kos-kosan. Kita ke rumah Nenek Sulastri aja!" kata Mila.
"Kenapa ke sana?" tanya Aldo sekilas menoleh ke belakang.
"Udah lama enggak mengobrol dengannya," jawab Mila berbohong padahal ia ingin menghindari Alan.