Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dibawah kilau lampu pesta
Maara menatap pantulan Lisa dari balik cermin.
Tersenyum bahagia melihat sahabat karibnya hari ini akan melepas masa lajangnya dengan sang kekasih.
Maara mengenakan baju kurung lengkap demgan khimarnya berwarna abu-abu muda membuat penampilannya begitu anggun mempesona.
Model dan warna yang dipilih olehnya sendiri ketika ikut fitting bersama pengantin dan keluarganya.
"Cantik...." puji Maara tulus.
Gadis manis itu berdiri dibelakang Lisa dan memegang kedua bahu pengantin.
"Ra... makasih udah datang. Aku tahu kamu lagi banyak masalah tapi kamu tetap meluangkan waktu untuk menemani ku dan jadi bridesmaid ku...." ujar Lisa haru.
"Jangan bikin aku nangis Sa... Ini hari bahagiamu, mana mungkin aku nggak datang... "
Lisa menggenggam tangan sahabatnya.
"One day, entah kapanpun itu.. Aku juga ingin lihat kamu bareng pria yang bersyukur memilikimu. Pria yang bisa menjaga serta melindungimu... Kamu berhak bahagia Ra. Dan semoga apa yang sedang kamu upayakan sekarang bisa berjalan lancar... Aamiin...." tutur Lisa.
"Aamiin.. Semoga semuanya dipermudah..." sahut Maara diiringi senyum kecilnya.
"Ayo siap-siap... Pihak laki-laki juga udah siap..." seru seorang dari pihak wedding organizer yang diminta Lisa untuk jadi penanggung jawab acara bahagianya.
Lisa menarik nafas dalam lalu menghembus pelan.
Keringat dingin mengalir ditelapak tangannya dan itu bisa dirasakan oleh Maara karena gadis itu menggenggam tangannya erat.
"Rileks Sa..." Maara memberi semangat walaupun dirinya juga gugup karena akan bertemu orang banyak nantinya. Maklum saja, Maara adalah gadis yang introvert.
Maara menyerahkan Lisa pada kedua orangtuanya yang telah menunggu tepat di depan pintu masuk ballroom hotel dimana acara digelar.
"Terima kasih Maara..." ujar kedua orangtua Lisa yang dibalas Maara senyum hangat.
Maara berjalan mengiringi dibelakang kedua orangtua Lisa sesuai intruksi petugas wedding.
Pintu lebar itu dibuka dan menampakkan pemandangan yang luar biasa.
Suara bisik-bisik terdengar dari para tamu undangan yang kebanyakan relasi dari orangtua kedua belah pihak dan beberapa teman kerja dari keduanya.
Tatapan takjub serta kekaguman terpatri dimata semua orang ketika melihat pengantin.
Jujur, Maara merasa kecut karena dirinya ketika menikah hanya disaksikan oleh beberapa orang dan dengan acara yang sangat sederhana.
Pernikahan yang sebentar lagi akan berakhir.
Mata Maara menyipit seketika untuk memastikan penglihatannya.
Rio menunjuk seseorang jadi groomsmen yang mendampinginya.
Seseorang yang beberapa kali Maara lihat.
Entah hanya perasaan Maara atau benar adanya, pria itu terpana dan tersenyum kearahnya.
"Cantik Yo..." puji si pria yang berdiri disisi Rio.
"Tentu saja...Lisaku selalu yang tercantik" sahut Rio berbisik.
"Bukan istri mu tapi gadis yang berjalan di belakangnya..." ralat si pria.
Rio menoleh cepat dan menyipitkan mata.
Jarang-jarang bos sekaligus temannya ini memuji seorang perempuan secara terang-terangan.
"Bos naksir Maara..." tebak Rio yang membuat Kenan salah tingkah. Dia meraba tengkuknya yang mendadak dingin karena tatapan horor Rio.
"Jangan lihat aku, itu Lisa udah sampai..." Kenan mencolek pinggang Rio guna memberi kode sekaligus memutus tatapan curiga bawahannya itu.
"Bos harus jelaskan secara detail nanti..!" titah Rio dengan gigi merapat.
Kenan tak lagi menggubrisnya.
Fokusnya memang jatuh pada Maara yang demi apapun begitu cantik dan anggun dengan pakaian yang sedang dikenakannya. Belum lagi make up flowles sehingga membuat penampilan Maara jadi begitu mewah bagi Kenan.
Kenan semakin salah tingkah ketika Maara duduk tepat disampingnya.
Rasanya semua kalimat yang akan dia keluarkan tersangkut ditenggorokan.
Laki-laki yang biasanya dingin dengan perempuan lain serta bermulut tajam ketika di pengadilan kini sungguh tak berdaya duduk di samping perempuan yang bahkan hanya beberapa kali dia lihat.
Benar-benar lucu.
Acara akad berlangsung begitu khidmad.
Sepasang pengantin itu terlihat sumringah setelah kata sah menggema diruangan.
Berikutnya acara sungkeman dan foto bersama.
"Ra.... sini..." panggil Lisa untuk mengajak Maara berfoto.
Rio pun juga ikut memanggil Kenan.
Alhasil mereka berempat seperti sedang doble date dan sedang berswafoto untuk mengabadikannya.
Ada juga foto Maara serta Kenan berdua saja sebagai bridesmaid pengantin.
Foto yang diambil dengan kecanggungan keduanya. Bagaimana tidak, Maara berdiri berjarak dari Kenan dan itu terlihat seperti mereka sedang marahan tapi hal itu pulalah yang membuat semuanya jadi lucu sehingga beberapa rekan turut menggodanya.
...********^^********...
Maara pamit hendak mengambil beberapa cemilan untuk Lisa.
Baru saja kakinya melangkah ke meja prasmanan, matanya menangkap dua orang yang begitu ia kenal masuk kedalam ballroom.
Seketika, kakinya terasa berat seolah tertanam dan tertancap kuat di lantai, tak sanggup melangkah maju ataupun mundur.
"Mas Revan...." lirih Maara menyebut nama laki-laki yang masih sah jadi suaminya.
Nafasnya tercekat. Udara diruangan itu serasa menipis.
Laura yang semula menatap sekeliling karena takjub akan dekorasinya tanpa sengaja melihat sosok Maara yang sedang berdiri disamping meja prasmanan yang ternyata sedang melihat kearah mereka.
Terlihat Laura semakin menempel dekat pada Revan bahkan kalungan lengannya dipamerkan begitu nyata seperti sedang memperlihatkan bukti kepemilikannya.
"Mas... Kita salamin teman kamu dulu baru nanti kita cari cemilan" ajak Laura mengalihkan pandangan Revan.
Pria itu menurut.
Keduanya menaiki pelaminan dan bersalaman dengan sepasang pengantin.
"Mas... mereka..." kalimat Lisa menggantung diudara. Mata perempuan itu berkeliaran mencari sosok Maara. Dia jelas khawatir pada sahabatnya.
"Selamat ya Rio.. Lisa... Semoga kalian jadi keluarga yang bahagia dan cepat diberi momongan... " ujar Revan pada keduanya.
Rio mengaminkan doa Revan dengan wajah dingin.
Entah kenapa dia ikut kesal melihat sahabatnya ini padahal dia juga belum mendengar cerita versi Revan hanya dari Maara saja itupun melalui Lisa, isterinya.
Rio menyenggol lengan Lisa agar perempuan itu mengkondisikan wajahnya.
Karena Lisa adalah orang yang tidak bisa basa-basi. Jika dirinya tidak suka, maka akan terlihat jelas dari tatapannya.
"Selamat ya...." kali ini Laura yang mengucapkannya.
"Terima kasih..." sahut Lisa kaku dan dingin.
Laura tetap balas dengan senyum walaupun hatinya sedikit resah karena sikap Lisa yang tak sehangat dulu kala pertama kali mereka bertemu sebelum dirinya keluar negeri.
Usai bersalaman, pasangan Revan dan Laura memilih turun menuju meja prasmanan.
Laura tanpa sengaja mendesah kecewa.
"Kamu kenapa? Kok kelihatan capek? Apa kita pulang langsung? Kan kita udah ketemu pengantinnya" ujar Revan khawatir.
"Emnnnggg... Nggak.. Aku nggak kenapa-napa.Yuk cari cemilan. Kelihatan semua hidangan makanannya enak... Aku kangen masakan Indo..." elak Laura.
"Baiklah.... Ayo..." Revan menggandeng tamgan Laura yang tentu disambut hati riang oleh perempuan itu.
Baru saja Revan melangkah menuju meja hidangan, matanya menangkap sosok Maara yang sedang mengarahkan pandangan kearahnya. Perempuan itu berdiri di sudut meja dengan tatapan sendu kearahnya.
Secara spontan, Revan melepas genggaman tangannya pada Laura hingga gadis itu terdengar memprotes.
"Kenapa dilepas?" tanya Laura pura-pura tak paham sikap Revan.
"Oh... aku mau menyapa rekan sebentar... Ayo.." ulas Revan memberi alasan yang terdengar masuk akal.
Laura tak lagi bicara. Dia juga ikut Revan yang sedang menyapa beberapa rekan kerjanya.
Dipojok ruangan, Maara sungguh tak kuasa menahan gejolak dihatinya.
Bohong dia tak cemburu.
Bohong dia tak marah, tapi sekali lagi otaknya mengatakan jika dia tak berhak walaupun Revan masih sah menjadi suaminya.
Disaat yang sama, Kenan terus memperhatikan sikap Maara, Revan dan gadis yang bersama laki-laki itu.
Keningnya berkerut.
Dia masih penasaran dengan hubungan ketiganya. Dan kenapa Maara nampak menahan rasa sesak yang Kenan sendiri tak memahaminya.
"Ada hubungan apa antara kamu dan Revan? Dan kenapa gadis yang bersama Revan nampaknya tahu tapi berusaha menahan diri...? Apa kisah diantara kalian bertiga?"
Kenan terus berbisik dan bertanya-tanya dalam hatinya.
Niatnya ingin bertanya pada Teguh beberapa hari lalu setelah melihat Maara dikantornya terus saja mendapat halangan dikarenakan dia yang teramat sibuk menurus beberapa klien yang memerlukan jasanya sehingga banyak waktunya terkuras di luar kantor dan pengadilan.
Alhasil hingga detik ini, Kenan masih belum tahu alasan Maara ke ruangan Teguh atau bahkan hubungan Maara serta Revan.
Bersambung....