Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB IX
Di kediaman Menteri Pangan
Lili kini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang ceria, berhati lembut, namun juga memiliki jiwa yang kuat dan teguh. Meski hidup berlimpah harta dan serba berkecukupan, hati dan pikirannya selalu terasa sempit dan terpenjara. Sejak kecil, ia sama sekali tak pernah diizinkan melangkah keluar kediaman itu. Ayah dan Ibunya menjaganya dengan sangat ketat, seolah-olah takut ia akan hilang. Bagi mereka, itu bentuk kasih sayang, namun bagi Lili, rasanya seperti hidup di dalam sangkar emas yang indah namun tak memberi kebebasan sedikit pun.
Suatu hari, Lili berjalan mendatangi Dafi, pemuda yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri, yang juga tumbuh besar di sana dan selalu ada untuknya.
Wajah Lili tampak murung dan bosan sekali. "Kak Dafi, aku sekarang sungguh sudah tak tahan lagi. Setiap hari hanya melihat tembok ini, halaman ini, dan wajah orang yang sama setiap hari. Aku bosan, sangat bosan! Aku berniat keluar diam-diam, pergi melihat dunia di luar sana tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibu," katanya dengan penuh semangat ingin melanggar aturan.
Namun Dafi segera menghentikan langkahnya, wajahnya tampak cemas dan serius. "Hei, jangan bicara sembarangan! Bukan begitu caranya. Kalau kau ingin keluar, seharusnya kita cari jalan yang benar dan minta izin, bukan malah kabur diam-diam. Kau tahu betapa ketatnya penjagaan di sini, dan betapa khawatirnya mereka kalau kau hilang. Lagipula, di luar sana belum tentu aman."
"Ah, Kak Dafi ini selalu saja begitu, penakut dan terlalu patuh!" kesal Lili, lalu membuang muka dan pergi meninggalkannya dengan hati yang belum puas.
Malam pun tiba, saat seluruh penghuni kediaman sudah lelap dalam tidur. Lili tak bisa memejamkan matanya, keinginan untuk keluar makin kuat membara di dada. Ia bangkit perlahan, mengenakan pakaian yang sederhana, lalu dengan gesit dan hati-hati ia turun lewat jendela kamarnya. Langkahnya tak bersuara, bagai bayangan ia berjalan menuju jendela kamar Dafi.
Dafi yang sedang tidur nyenyak seketika terbangun kaget saat merasa ada orang di dekat tempat tidurnya. Ia menatap Lili dengan mata terbelalak.
"Lili? Kenapa kau ada di sini jam segini? Apa yang kau lakukan?" tanyanya bingung.
"Kak Dafi, dengarkan aku baik-baik," bisik Lili sambil memegang lengan pemuda itu. "Malam ini aku benar-benar akan pergi keluar. Nanti kalau Ayah atau Ibu bertanya, katakan saja kau tidak tahu ke mana aku pergi, ya? Tolong aku kali ini saja."
"Kau gila ya?!" Dafi langsung bangkit berdiri, suaranya berbisik namun penuh kekesalan dan kaget. "Ayah dan Ibu pasti akan marah kalau tahu kau hilang! Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri, dan aku juga tidak mau berbohong pada mereka. Kembalilah tidur, besok kita bicarakan lagi."
Lili yang keras kepala menjadi marah. "Kakak ini tidak mengerti aku sama sekali!" bentaknya pelan, lalu ia berbalik badan dan berniat kembali keluar dengan niat kabur sendirian.
"Lili, berhenti!" Dafi segera mengejarnya, tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tak mungkin membiarkan Lili pergi sendirian ke tempat yang tak diketahui itu.
Ia berhasil menyusul dan menahan tangan Lili di lorong belakang. Namun tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki dan obor yang menyala dari kejauhan, beberapa pengawal sedang melakukan jaga malam.
Hampir saja mereka ketahuan! Dengan cepat, Dafi menarik Lili dan bersembunyi di balik semak-semak di sudut halaman yang agak sepi, menahan napas sampai suara langkah kaki itu menjauh kembali.
Setelah keadaan aman, Dafi menatap Lili dengan wajah lelah namun tegas. "Sudah, cukup! Sekarang kau segera kembali ke kamarmu dan tidur. Jangan cari masalah lagi ya."
Tapi Lili menggeleng kuat, matanya berkaca-kaca memelas, tangannya mencengkeram ujung baju Dafi. "Tidak mau! Aku tak mau selamanya terkurung di sini, Kak. Aku juga manusia, aku ingin melihat gunung yang tinggi, sungai yang mengalir deras, pasar yang ramai... Kak, aku benar-benar ingin menghirup udara bebas! Kumohon... hanya kali ini saja..."
Melihat wajah memelas dan tekad yang tak bisa digoyahkan itu, hati Dafi perlahan melemah. Ia tahu betapa sesaknya perasaan Lili, karena ia pun kadang merasakan hal yang sama. Setelah berpikir panjang dan berat, akhirnya Dafi menghela napas pasrah.
"Baiklah... baiklah aku setuju. Tapi ingat, kita hanya akan pergi selama beberapa hari saja! Setelah puas melihat-lihat, kita harus segera pulang. Kau janji kan?"
Wajah Lili seketika berubah cerah, senyum bahagia merekah indah di bibirnya. "Janji! Terima kasih banyak, Kak Dafi! Kau memang yang paling mengerti aku!" sambil memeluk Dafi kegirangan.
Mereka pun segera menyusun rencana dan diam-diam meloloskan diri keluar dari kediaman itu, meninggalkan semua aturan dan penjagaan yang selama ini mengikat mereka.
Saat cahaya fajar mulai menyingsing, seluruh kediaman Menteri mendadak menjadi kacau dan riuh. Pelayan berlari ke sana kemari, para pengawal sibuk mencari ke seluruh kediaman, karena Lili tidak ada di kamarnya, dan Dafi pun lenyap hilang ntah kemana. Pencarian dilakukan di setiap sudut ruangan, halaman, sampai ke gerbang luar kediaman, namun tak ada yang menemukan jejak mereka berdua.
Di atas meja rias kamar Lili, pelayan menemukan selembar kertas yang ditulis tangan gadis itu. Ibunya segera mengambil surat itu dengan tangan gemetar, lalu membacanya.
"Ibu, Ayah... Maafkan Lili pergi tanpa pamit. Lili pergi bersama Kak Dafi hanya untuk beberapa hari saja. Di dalam kediaman ini rasanya begitu sempit dan membosankan, Lili ingin pergi ke tempat-tempat yang belum pernah Lili lihat selama ini, ingin tahu seperti apa dunia di luar sana. Tolong jangan cari kami, kami pasti akan pulang kembali dalam beberapa hari lagi. Maafkan anakmu yang nakal ini ya Bu, ayah."
Dari anakmu : Lili
Belum selesai membaca baris terakhir, kaki Ibu Lili seketika lemas, pandangannya menjadi gelap, dan tubuhnya jatuh ke lantai hingga pingsan, disusul jeritan panik dari para pelayan yang melihatnya.
Di Luar Kediaman
Sepanjang perjalanan, mata Lili tak pernah lepas memandang. Segala sesuatu yang dilihatnya terasa begitu baru, indah, dan menyenangkan. Mereka mampir ke kedai-kedai makanan sederhana yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya, menikmati rasa masakan yang khas, dimana jauh berbeda dari hidangan mewah di rumahnya. Mereka juga pergi ke pinggir sungai yang airnya jernih mengalir berkilau terkena sinar matahari, serta berdiri di kaki gunung yang tampak gagah menjulang tinggi, pemandangan yang selama ini hanya bisa ia dengar ceritanya dari orang lain. Rasa bosan dan sesak yang lama mengurung hatinya kini lenyap seketika, berganti dengan sukacita yang meluap-luap.
Tanpa terasa, matahari mulai terbenam dan langit perlahan berubah menjadi gelap. Mereka pun mencari tempat istirahat dan singgah di sebuah penginapan yang cukup besar dan ramai pengunjung. Dafi segera mendatangi pelayan di meja depan.
“Permisi, saya ingin menyewa dua kamar untuk malam ini,” ucapnya sopan.
Namun pelayan itu hanya tersenyum maaf dan menggeleng. “Mohon maaf Tuan, penginapan kami sudah penuh, Untuk saat ini hanya tersisa satu kamar saja.” Ucap pelayan itu.
Dafi terdiam sejenak, lalu menoleh melihat Lili yang sudah tampak sangat lelah, dan wajah yang pucat. Ia tidak tega membiarkan gadis itu terus berjalan mencari tempat lain dalam keadaan seperti ini. Akhirnya ia mengangguk pasrah. “Baiklah, satu kamar saja tidak apa-apa.”
Setelah kunci kamar di tangannya, Dafi mengantar Lili masuk ke ruangan itu. Kamar itu cukup bersih dan nyaman, di sana ada satu tempat tidur besar dan sebuah kursi panjang kayu yang ada di dekat jendela.
“Kau istirahatlah di sini, Lili. Aku akan menunggu di luar,” kata Dafi hendak melangkah keluar.
Lili segera mencegahnya, wajahnya tak setuju. “Jangan di luar, Kak! Angin malam pasti dingin sekali, nanti jika kau sakit bagaimana... Masuklah, di sini saja, kau bisa tidur santai di kursi panjang itu, kan itu cukup panjang untukmu.”
Dafi menggeleng tegas, wajahnya sedikit kaku. “Tidak boleh, ini tidak pantas. Kau seorang wanita dan aku seorang Pria, kita bukan pasangan. Aku lebih baik menunggu di luar, tidak apa-apa bagiku.”
Tak peduli bagaimana pun Lili membujuk, Dafi tetap bersikeras pada pendiriannya. Akhirnya Lili tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia masuk ke dalam selimut dengan hati yang sedikit tak enak, sementara Dafi menutup pintu dan berdiri di luar kamar.
Udara malam terasa sejuk dan segar, Dafi memilih berjalan pelan menyusuri lorong penginapan untuk meregangkan otot-ototnya. Ia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga tiba-tiba saat ia berbelok di ujung lorong, tubuhnya tak sengaja menabrak seseorang yang juga berjalan santai di sana.
“Ah, maafkan saya, saya tidak melihat…” ucap Dafi terkejut, lalu segera menundukkan kepalanya meminta maaf.
Namun saat ia mengangkat wajahnya kembali, ia tertegun. Di hadapannya berdiri seorang pemuda yang berwajah sangat tampan, berwibawa, dan mengenakan pakaian halus yang kelihatan mahal namun sederhana. Di balik penampilannya yang tenang, ada aura kemuliaan dan kekuasaan yang tak bisa disembunyikan. Pemuda itu tidak lain adalah Pangeran Haoran.
Pangeran Haoran menatapnya sekilas dengan pandangan tajam namun tetap sopan, lalu berkata dengan suara yang tenang dan rendah. “Tidak apa-apa, kau tidak terluka kan?”