NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Cermin Retak

iga minggu setelah kehancuran itu, Aisha tinggal di sebuah apartemen kecil di daerah Kemang. Bukan apartemen mewah seperti yang Arka miliki, tapi cukup layak. Dua kamar tidur, ruang tamu mungil, dan dapur yang tidak lebih dari sudut dengan kompor dua tungku.

Ini adalah pertama kalinya dalam lima belas tahun Aisha tinggal sendirian. Tanpa Arka yang mendengkur di sampingnya. Tanpa Baskara yang berlarian di pagi hari.

Keheningan di apartemen ini berbeda dengan keheningan di rumah lamanya. Dulu, keheningan itu nyaman, seperti selimut hangat. Kini keheningan ini menusuk, mengingatkannya pada setiap kesalahan yang telah ia perbuat.

Hari ini adalah hari Sabtu. Hari pertama Aisha bertemu Baskara setelah proses perceraian resmi dimulai. Berdasarkan kesepakatan sementara, Aisha berhak bertemu Baskara setiap akhir pekan selama enam jam.

Ia sudah bangun sejak pukul lima pagi. Memasak nasi goreng, telur mata sapi, dan jus jeruk—sarapan favorit Baskara. Ia menata meja makan dengan rapi, bahkan membeli bunga segar untuk diletakkan di tengah meja, meskipun kemudian ia sadar Baskara tidak akan peduli dengan bunga.

Pukul sembilan, bel apartemen berbunyi.

Aisha berlari ke pintu, menarik napas dalam-dalam, lalu membukanya.

Arka berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar. Di sampingnya, Baskara berdiri dengan tangan terlipat di dada, tas ransel di punggung, dan wajah yang sengaja ia arahkan ke lantai.

“Masuklah,” kata Aisha, berusaha tersenyum.

Arka menggeleng. “Aku tunggu di mobil. Baskara, jam tiga sore aku jemput ya.”

Baskara hanya mengangguk kecil. Arka menatap Aisha sekilas—tatapan yang penuh dengan luka yang belum sembuh—lalu berbalik pergi.

Aisha dan Baskara berdiri berhadapan di ambang pintu. Anak itu masih tidak mau menatapnya.

“Nak... ayo masuk,” Aisha membuka pintu lebar-lebar.

Baskara masuk tanpa suara. Ia melepas sepatunya, meletakkannya rapi di rak sepatu—kebiasaan yang Aisha ajarkan sejak kecil. Kemudian ia berjalan ke ruang tamu dan duduk di ujung sofa, mempertahankan jarak sejauh mungkin dari Aisha.

“Kamu lapar? Ibu buat nasi goreng.”

“Tidak.”

“Atau kamu mau minum? Ada jus jeruk.”

“Tidak.”

Aisha berdiri di dapur, memandang makanannya yang tertata rapi. Semua sia-sia.

“Bareng Ibu makan, ya?” coba Aisha lagi. “Cuma sebentar.”

Baskara diam. Lalu ia berdiri, berjalan ke meja makan, dan duduk. Ia mengambil sendok, mulai menyuap nasi goreng ke mulutnya tanpa ekspresi.

Aisha duduk di hadapannya. Ia makan juga, meski tidak ada rasa apa pun di lidahnya. Matanya tidak lepas dari Baskara, mencari-cari celah di wajah anak itu untuk menemukan secercah anak yang dulu selalu tertawa di meja makan.

Tidak ada.

“Enak?” tanya Aisha.

Baskara mengangkat bahu.

“Ibu pakai resep yang sama seperti dulu. Bawang putihnya banyak, sedikit kecap manis—”

“Ibu, aku tidak mau ngobrol.”

Kata-kata itu menusuk. Tapi Aisha mengangguk. “Baik, nak.”

Setelah makan, Baskara duduk kembali di sofa. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mulai menatap layar. Aisha duduk di kursi di seberang ruangan, hanya memperhatikan.

Dua jam berlalu seperti itu. Baskara tidak berbicara. Aisha tidak berani memulai.

Akhirnya Aisha berdiri. “Ibu mau cuci piring. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ya.”

Di dapur, Aisha menyalakan keran dan membiarkan air mengalir. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menahan tangis. Tapi air matanya tetap jatuh, bercampur dengan air keran yang membasahi piring-piring.

“Kenapa Ibu nangis?”

Aisha terkejut. Baskara berdiri di ambang dapur, tangan di saku celana, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Ibu tidak nangis,” Aisha buru-buru menyeka wajahnya. “Air kena mata.”

Baskara tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, memperhatikan Aisha yang berusaha tersenyum meski air mata masih mengalir.

“Ibu,” kata Baskara tiba-tiba. “Om Ren masih sering datang?”

Aisha berhenti mencuci. Pertanyaan itu datang dari mana? “Tidak. Ibu tidak bertemu Om Ren lagi.”

“Om Ren ke rumah pas Ayah pergi ke Bali. Ibu sering ketemu Om Ren.”

“Itu dulu, Nak. Sekarang Ibu tidak—”

“Apa Ibu cinta sama Om Ren?”

Aisha mematikan keran. Ia berbalik, berlutut di hadapan Baskara, berusaha menatap mata anak itu. Tapi Baskara dengan sengaja menunduk.

“Baskara, dengarkan Ibu. Ibu tidak pernah mencintai Om Ren. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidup Ibu. Dan Ibu menyesalinya setiap detik.”

“Kalau Ibu tidak cinta, kenapa Ibu lakukan?”

Pertanyaan sederhana yang jawabannya sangat kompleks. Aisha mencoba mencari kata-kata.

“Karena... Ibu bodoh, Nak. Ibu lemah. Ibu merasa kesepian dan Ibu mengambil jalan yang salah untuk mengatasi rasa kesepian itu. Tapi itu bukan alasan. Ibu salah. Ibu sangat salah.”

Baskara akhirnya menatapnya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan air matanya dengan gigih.

“Ayah tidak pernah merasa kesepian. Ayah selalu bekerja untuk keluarga kita. Kenapa Ibu tidak seperti Ayah?”

“Karena Ayah lebih kuat dari Ibu.”

“Ibu tidak lemah,” kata Baskara, dan untuk sesaat, Aisha melihat kilasan anak yang dulu—anak yang selalu membela ibunya. “Ibu selalu kuat kalau di depan aku. Ibu yang mengurus semuanya pas Ayah pergi. Ibu yang jagain aku pas aku sakit. Itu kan kuat?”

Aisha menangis. Ia tidak bisa menahannya lagi.

“Ibu kuat untuk hal-hal itu, Nak. Tapi Ibu lemah untuk hal yang lain. Ibu gagal menjaga hati Ibu. Ibu gagal menjaga keluarga kita. Dan itu kesalahan Ibu sendiri. Bukan Ayah, bukan Om Ren. Ibu.”

Baskara mengepalkan tangannya. Ia menggigit bibir bawah, berusaha sekuat tenaga untuk tidak ikut menangis.

“Aku marah, Bu,” suaranya bergetar. “Aku marah banget. Aku benci Ibu.”

“Ibu tahu.”

“Tapi aku juga...” Baskara terisak, dan akhirnya air matanya jatuh. “Aku juga kangen Ibu. Aku kangen banget. Di apartemen, Ayah diam terus. Ayah jarang ngobrol. Ayah cuma kerja, kerja, kerja. Aku kesepian, Bu.”

Aisha membuka tangannya. Baskara ragu sejenak, lalu akhirnya berlari ke dalam pelukan ibunya. Mereka berdua menangis di dapur kecil itu, di antara piring-piring yang belum selesai dicuci dan bunga yang mulai layu di meja makan.

“Aku benci Ibu,” bisik Baskara di sela isaknya. “Tapi aku juga sayang Ibu. Aku bingung, Bu. Aku bingung banget.”

Aisha memeluk anaknya erat-erat. Ia mengecup rambut Baskara, mencium aroma sabun yang masih sama seperti dulu.

“Tidak apa-apa bingung, Nak. Ibu juga bingung. Tapi Ibu janji, Ibu tidak akan berhenti mencintaimu. Berapa pun lama kamu marah, berapa pun lama kamu benci Ibu, Ibu akan tetap menunggumu. Ibu akan tetap mencintaimu.”

Mereka berpelukan cukup lama. Sampai tangis Baskara mereda, berubah menjadi isakan kecil, lalu akhirnya berhenti.

Baskara melepaskan pelukan itu lebih dulu. Matanya merah, hidungnya tersumbat, tapi ada sedikit kelegaan di wajahnya.

“Ibu,” katanya. “Aku mau tanya sesuatu. Tapi Ibu harus jujur.”

“Apa pun.”

“Apa Ibu masih sayang Ayah?”

Aisha terdiam. Pertanyaan itu sederhana, namun jawabannya rumit.

“Ibu mencintai Ayah,” kata Aisha perlahan. “Ibu selalu mencintai Ayah. Bahkan ketika Ibu melakukan kesalahan itu, Ibu tetap mencintai Ayah. Itulah kenapa Ibu sangat membenci diri Ibu sendiri.”

“Tapi kenapa Ibu tega menyakiti Ayah kalau Ibu sayang?”

Aisha menunduk. “Karena Ibu egois, Nak. Ibu berpikir Ibu bisa memiliki semuanya. Ibu salah.”

Baskara mengusap matanya dengan punggung tangan. “Aku harus kembali ke Ayah, Bu. Ayah bilang jam tiga.”

Aisha melihat jam. Masih dua jam lagi. Tapi ia mengerti, Baskara butuh waktu sendiri.

“Ibu antar ke mobil Ayah?”

Baskara menggeleng. “Aku bisa sendiri.”

Mereka berjalan ke pintu. Baskara memakai sepatunya, merapikan tas ransel, lalu berdiri tegak.

“Bu,” katanya tanpa menoleh. “Aku masih marah. Aku masih benci Ibu. Tapi... aku seneng Ibu jujur.”

“Ibu akan selalu jujur mulai sekarang, Nak. Ibu janji.”

Baskara membuka pintu, melangkah keluar. Tapi sebelum pintu itu tertutup, ia berhenti.

“Nasi gorengnya enak, Bu. Kayak dulu.”

Pintu tertutup. Aisha berdiri di balik pintu, menempelkan keningnya pada kayu dingin itu, dan tersenyum meski air matanya masih jatuh.

Ini adalah awal dari perjalanan yang panjang. Jalan menuju pemulihan tidak akan mudah. Aisha tahu itu. Tapi setidaknya, hari ini, ada sedikit cahaya yang masuk ke dalam ruang gelap yang ia ciptakan sendiri.

Jam menunjukkan pukul setengah empat sore. Aisha sedang membersihkan meja makan ketika ponselnya berdering. Arka.

“Aisha, Baskara sampai di apartemen?”

Aisha berhenti. “Dia tidak bersama kamu?”

“Dia pamit mau ke toilet di lobi apartemen. Aku tunggu lima belas menit, dia tidak keluar. Aku cari, dia tidak ada.”

Jantung Aisha berhenti berdetak. “Arka, Baskara meninggalkan apartemenku jam setengah tiga. Aku pikir dia langsung ke mobil kamu.”

“Aku di parkiran basement. Dia bilang dia mau ke toilet di lobi lantai dasar. Aku tidak lihat dia keluar dari lobi.”

Keduanya terdiam. Lalu bersamaan, mereka menyadari sesuatu yang mengerikan.

“Baskara tidak pulang,” bisik Aisha.

Dari ujung telepon, Aisha mendengar Arka membanting stir mobil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!