Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Dijual
“Apa?” Brighita melotot tajam. “Harta yang mana?”
“Jangan berlagak bodoh. Aku tahu semua hartaku ada padamu, perhiasan, surat rumah, dan ah…satu lagi, kalung berlian berwarna merah muda. Kembalikan semuanya!” Nada bicara Yvone mulai meninggi.
Brighita dan Alexa saling pandang. Menelan ludah dengan samar. Mereka sama sekali tidak terpikir bahwa Rose akan membahas masalah ini. Selama ini Brighita merasa dirinya berkuasa atas semuanya.
Arsen memang kerap kali membelikan perhiasan mewah untuk Rose, dan itu membuat Brighita merasa sangat iri. Beruntungnya Rose selama ini sangat patuh. Sehingga dirinya dengan mudah mengendalikannya. Ia meminta perhiasan itu dengan alasan keamanan, dan Rose segera memberikannya.
Tetapi kini mengapa wanita itu tiba-tiba mengungkitnya. Tatapan Brighita jatuh pada Sui yang berdiri di belakang Rose. Ia berpikir pelayan itu yang telah meracuni pikiran Rose.
“Kenapa diam saja? Cepat kembalikan!” teriak Yvone. Kesabarannya memang setipis tisue. Terlebih ketika mengingat perbuatan Brighita selama ini, rasa-rasanya tangannya sudah gatal ingin memberi pelajaran.
Beruntungnya Brighita hidup di dunia atas. Dunia yang taat akan hukum. Jika tidak, wanita itu pasti sudah tinggal nama.
“Memangnya untuk apa? Bukankah selama ini kau setuju aku menyimpannya?” ujar Brighita tidak terima. Nada bicaranya terdengar penuh penolakan.
“Menyimpan? Kau sungguh hanya ingin menyimpannya? Bilang saja kalau ingin memilikinya,” sindir Yvone telak. Ia tidak yakin dengan pengakuan Brighita. Jelas sekali wanita tua itu ingin menguasai hartanya.
Alexa bangkit dari duduknya. “Tutup mulutmu! Berani sekali kau bicara begitu pada Mama. Awas saja aku akan mengadukan semuanya pada Kak Arsen!” ancam Alexa bangga. Selama ini Rose sangat patuh kepada Arsen, karena wanita itu cinta mati kepada kakanya.
“Kau yang tutup mulut, atau kurobek mulut sialanmu itu!” balas Yvone tak kalah garang.
Alexa refleks menutup mulutnya sendiri. Ingatannya terlempar pada saat di ruang gym. Rose tidak segan-segan mencekik dirinya. Alexa merasa ketar-ketir Rose akan melakukan hal yang sama. Mengingat wanita itu sudah berubah.
“Kau sudah setuju memberikannya padaku, lalu sekarang untuk apa kau mengungkitnya?” Brighita masih saja tidak terima.
Mendengar itu, rahang Yvone mengeras. Entah mengapa ia merasa Brighita sangat berbelit-belit.
“Kau ini sudah pikun ya? Beberapa detik yang lalu kau bilang menyimpannya untukku, sekarang ucapanmu berubah lagi. Yang benar yang mana? Jika soal menyimpan. Biar aku yang menyimpannya sendiri.”
“Tidak, aku tidak akan memberikannya!” tolak Brighita lantang.
Mendengar itu, Yvone mengepalkan tangannya. “Dasar wanita serakah! Tidak tahu malu!” Suara Yvone tak kalah lantang. Ia sudah habis kesabaran.
“Ada apa ini?”
Suara bariton seorang pria, seketika mengalihkan atensi semua orang. Arsen tiba di kediaman keluarga Reinhart beberapa menit yang lalu. Saat mendengar sebuah keributan, Arsen segera menghampirinya. Pria itu melangkah dengan penuh wibawa.
Melihat kedatangan Arsen, Brighita dan Alexa tersenyum puas.
“Kak Arsen datang, mati kau,” ejek Alexa.
Sementara Yvone sama sekali tak gentar sedikit pun. Dagunya justru terangkat tinggi. Ia bukanlah Rose yang lemah. Tetapi Yvone Faranes yang tidak pernah takut pada siapa pun.
“Ada apa ini? Suara kalian terdengar sampai luar?” tanya Arsen. Ia menatap Ibu, adik, dan terakhir Yvone.
“Arsen, Rose menghina Mama. Dia berkata bahwa Mama adalah orang yang serakah!” adu Brighita dengan memasang wajah sedih.
“Benar, Kak. Rose juga mengancam akan melukaiku,” timpal Alexa.
Arsen menatap Yvone. Ingatannya seketika terlempar pada rekaman video yang ditunjukkan oleh Daniel. Pakaian yang dikenakan Rose bahkan sama seperti yang ada di video itu.
“Rose apa yang terjadi?” Arsen mencoba untuk tenang. Meski dalam hati berkecamuk. Ia ingin sekali menanyakan banyak hal pada wanita itu. Dan tujuannya pulang adalah karena hal itu. Tetapi ia justru mendapati masalah lain.
“Kau tanya saja pada ibu dan adikmu ini. Bukankah kau lebih percaya mereka?” Rose menatap balik Arsen, dengan tatapan tajam.
Arsen terdiam. Rose yang ia kenal tidak akan membalas dengan kata-kata kasar. Bicaranya juga tidak ketus. Arsen seperti tengah menghadapi orang lain. Sepertinya memang ada yang aneh dengan istrinya. Arsen kembali memandang ibunya.
“Ma, sebenarnya ada apa? Rose tidak mungkin berkata demikian tanpa sebab?”
Mendengar pertanyaan itu, Brighita mulai panik. Kedua tangannya bergerak gelisah saling meremas satu sama lain.
“Emm…Rose meminta kembali perhiasan yang dia berikan padaku,” ucap Brighita ragu.
Yvone membelalak. Sepertinya Brighita memang wanita yang pandai bersilat lidah. Ular berbisa. Begitu juga dengan Alexa. Sepertinya mereka masih menganggap dirinya Rose yang sama.
“Apa kau bilang? Aku tidak pernah memberikannya padamu. Kau sendiri yang meminta dan merampasnya!” Yvone lalu menatap Arsen. “Arsen, semua perhiasanku ada pada Mama, kalung berlian yang diberikan oleh orang tuaku, dan surat rumah ini atas namaku, kau yang memberikannya padaku, semua ada padanya. Apa salah jika aku memintanya?”
Arsen ingat, dulu Rose pernah berkata bahwa ibunya meminta perhiasan untuk disimpan. Karena Rose tidak pandai menyimpan perhiasan. Padahal di kamarnya terdapat ruangan khusus untuk menyimpan perhiasan.
Saat itu Arsen tidak terlalu mempermasalahkan karena Rose juga menyetujuinya. Tetapi, ia tidak menyangka bahwa itu akan menjadi masalah di kemudian hari.
“Rose, bukankah dulu kau menyetujuinya?” tanya Arsen.
“Ya, tapi sekarang aku memintanya!” jawab Rose tegas. Ia akan tetapi pada niatnya meminta semua perhiasan miliknya.
Arsen menghela napas panjang. Bagaimanapun perhiasan itu memang hak Rose. Dan rumah ini adalah hadiah pernikahan yang ia berikan pada istrinya itu. Arsen tidak bisa membantah hal tersebut. Tetapi ada beberapa hal yang harus Arsen pertimbangkan sebelum ia memutuskan untuk memihak Rose.
“Rose…soal perhiasan…aku bisa membelikan yang baru untukmu. Dan untuk rumah ini sampai kapan pun akan jadi milikmu!”
Mendengar itu, rahang Yvone mengeras. Sudah ia duga bahwa pria ini pasti akan membela ibunya. Tadinya ia berharap pria ini akan memihaknya, tetapi sepertinya percuma saja. Rose yang malang, selama ini ia selalu sendirian.
Tetapi sekarang tidak lagi.
“Bagaimana dengan kalung pemberian orang tuaku? Mereka menanyakannya.”
Arsen terdiam sejenak, pria itu tampak berpikir.
“Soal itu, kau akan mendapatkannya, karena itu memang hakmu.” Arsen kembali mengarahkan pandangan pada ibunya. “Ma, berikan kalung yang dia maksud.”
Brighita menatap Alexa. “Kalung itu ada pada Alexa,” kata Brighita sambil menatap khawatir ke arah putrinya.
“Alexa,” panggil Arsen tegas.
Bukannya menjawab. Alexa malah menundukkan kepalanya. Wajahnya tampak menyimpan sesuatu.
Yvone memandang adik iparnya itu, merasa curiga dengan diamnya Alexa.
“Kenapa diam saja? Jawab!” pekik Rose.
Nada bicara memaksa Arsen menoleh ke arahnya. “Rose, bicaralah lembut sedikit.”
“Tidak, kesabaranku sudah habis!”
“Alexa, cepat berikan kalung milik kakak iparmu,” tegur Arsen lagi.
Setelah lama diam, akhirnya Alexa bersuara. “Sebenarnya, kalung itu sudah kujual.”
“Apa?”