Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 29. Mendesak Lewat Mertua
Ganis duduk di tepi pantai sambil termenung melihat hamparan laut luas yang ada di depan mata. Terdengar gemuruh ombak yang bergulung- gulung memecah pantai. Menghempaskan air yang ia bawa dari tengah laut hingga ke tepi yang membuat kaki Ganis basah.
Pyur...
Krisna menjahili istrinya dengan memercikkan air pantai ke tubuhnya, yang seketika membuyarkan lamunan wanita itu. Air pantai yang sebelumnya hanya membasahi kaki, kini tubuhnya juga ikut basah terkena air.
"Iiihhhh Mas! Bajuku jadi basah nih!" rengek Ganis sambil beranjak dari duduknya.
"Ke pantai kalau tidak basah itu gak afdol Sayang, hahahaha," ucap Krisna berkali-kali memercikkan air ke badan istrinya, sambil berlari.
"Mas, jahil ihh!!" teriak Ganis seraya berlari menyusul Krisna.
Sepasang suami-istri itu berlarian di tepi pantai. Meninggalkan jejak-jejak telapak kaki yang tercetak di atas pasir putih. Terdengar riuh tawa dari keduanya yang seakan memberi kabar pada dunia bahwa mereka begitu menikmati hari ini.
Ganis berhasil menangkap tubuh Krisna, kemudian membalas kejahilan suaminya itu dengan membuatnya basah pula. Tawa puas keluar dari bibir Ganis yang berhasil membalas. Krisna kemudian mengunci tubuh Ganis dengan memeluknya begitu erat.
Lama Krisna memeluk tubuh Ganis, yang membuat dada Ganis terasa terhimpit. Ia renggangkan pelukannya, ia tatap lekat wajah Ganis yang sudah terlihat memerah karena karena tersipu ditatap seperti itu.
Sorot mata Krisna bak busur panah yang menancap tepat di dada Ganis yang selalu saja membuat jantung wanita itu berdebar. Debar yang masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu meski saat ini rasa yang ia miliki mungkin tak lagi utuh. Tatapan yang nampak masih penuh cinta dan kasih sayang meski saat ini harus terbagi dua.
"Sayang, aku mencintaimu. Maaf atas segala kesalahanku," ucap Krisna sembari mengecup bibir sang istri. Lama mereka tenggelam dalam ciuman itu. Hingga Ganis mulai kehabisan napas dan Krisna pun melepaskan ciumannya.
"Untuk saat ini kita jalani yang ada saja ya Mas. Aku tidak bisa dan tidak mau menjanjikan apapun. Aku takut jika aku tidak bisa memenuhi janji itu."
Krisna menggelengkan kepala dan mengusap bibir Ganis dengan jari telunjuknya. "Tidak perlu menjanjikan apapun Sayang. Aku hanya butuh kamu selalu ada di sampingku, untuk membuatku nyaman, untuk membuatku tenteram dan untuk membuatku bahagia.
Ganis tergelak pelan. Ia membelai dada Krisna yang berbalut kaos putih tipis itu dengan penuh kelembutan.
"Jika kamu bahagia bersamaku, jika kamu merasa nyaman bersamaku, jika kamu merasa tenteram bersamaku, mengapa kamu menghadirkan wanita itu di dalam rumah tangga kita Mas? Apa yang sebenarnya kamu cari?"
Krisna kembali memeluk istrinya. Ia dekap dengan erat seakan tidak ingin ia lepaskan.
"Aku tidak tahu Sayang. Aku hanya merasa tertantang saat Dinda menantangku. Hingga akhirnya...."
Ganis tersenyum getir. "Tapi kamu pasti juga mencintainya kan Mas? Apalagi saat ini Dinda tengah mengandung darah dagingmu yang sampai saat ini tidak bisa aku beri. Pasti rasa cintamu untuk Dinda juga semakin besar."
"Sayang aku...."
"Mas, saat ini kamu sedang menggenggam dua hati. Mustahil salah satu dari hati itu tidak ada yang terluka. Entah hati siapa di sini yang paling terluka, yang pasti saat ini aku masih bisa bertahan karena Allah belum menyuruhku untuk berhenti. Itu saja yang harus kamu tahu."
"Sayang.. Maafkan aku.. Maafkan aku..."
****
Di salah satu mall terbesar yang ada di Jogja, wajah Dinda memancarkan rona kebahagiaan yang kentara. Ia berjalan berlenggak-lenggok sembari menenteng beberapa paper bag barang-barang branded dengan sesekali membenahi kaca mata hitam yang ia selipkan di atas kepala.
Di samping Dinda terlihat Puspa yang juga menenteng barang-barang branded. Aura wanita kaya terpancar jelas dari tubuh wanita paruh baya itu yang membuat takjub siapapun yang berpapasan dengannya.
Sedang di belakang Puspa dan Dinda, Rika juga terlihat menenteng barang belanjaan. Bukan barang belanjaan yang dibelikan secara khusus sang besan untuknya namun barang-barang yang merupakan semua kebutuhan juga perlengkapan bayi yang dikandung oleh Dinda.
Hufttt... Aku kira dengan ikut berbelanja di mall seperti ini paling tidak bu Puspa juga membelikanku tas branded, dompet branded atau setidaknya baju branded. Tapi jangankan membelikan, menawariku pun juga tidak. Dinda juga sama saja, tidak menawariku sedikitpun. Dia kalau sudah jalan sama orang kaya pasti lupa sama ibunya. Kalau seperti ini sama saja aku ini pembantu mereka.
Rika tak henti-hentinya menggerutu di dalam hati melihat nasib baik tidak berpihak kepadanya kali ini. Ia yang sudah berangan-angan akan mendapatkan barang-barang branded dari sang besan yang terjadi justru sebaliknya. Ia malah terlihat seperti seorang pembantu yang mengekor dua majikannya.
Setelah hampir tiga jam berada di mall, menjelajahi satu per satu outlet yang ada, menggesek kartu debet dari kasir satu ke kasir berikutnya, mereka pun memilih untuk beristirahat di salah satu restoran yang ada di mall. Restoran elit dan mewah dengan menu western yang menjadi best seller nya.
Tak ada sedikitpun rona lelah yang terpancar di wajah Dinda berjalan-jalan begitu lama mengelilingi mall, padahal saat ini ia tengah berbadan dua yang seharusnya semakin membuat langkah kakinya semakin berat dan lelah. Namun saat ini ia sama sekali tak merasakan apa itu lelah.
"Ma... Terima kasih banyak ya, sudah membelikanku barang-barang sebanyak ini. Aku sungguh bahagia."
Dinda berujar sembari menikmati steak wagyu yang menjadi menu best seller di resto ini. Susana hatinya nampak semakin baik setelah sebelumnya ia dibuat kesal oleh istri pertama suaminya.
"Sama-sama Din. Pokoknya aku mau kamu benar-benar menjaga kandunganmu. Aku tidak mau jika sampai terjadi sesuatu sama calon cucuku."
"Hufttt.. Tadi aku benar-benar dibuat kesal sama mbak Ganis, Ma. Masa dia pamer jika sedang liburan sama mas Krisna. Bahkan mereka terlihat mesra sekali."
"Ckckckck.. Sudah, tidak perlu kamu merasa kesal seperti itu. Biarkan saja Ganis seperti itu. Dia hanya memancing emosimu karena kurang kerjaan saja. Bisa jadi dia merasa sepi karena tidak bisa hamil. Jadi dia menjahilimu."
"Tapi aku khawatir kalau setelah ini mbak Ganis benar-benar bisa hamil Ma. Bisa-bisa mas Krisna melupakanku," cicit Dinda dengan wajah memelas.
"Sudah, kamu tenang saja. Aku yakin Ganis itu mandul, jadi tidak akan pernah bisa ngasih Krisna keturunan."
"Haah... Tetap saja aku khawatir Ma."
Puspa menghela napas panjang untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Saat ini ia harus melakukan sesuatu agar Dinda tidak semakin stres sendiri yang pastinya akan membahayakan kandungannya.
"Baiklah, sekarang agar kamu tidak merasa khawatir, aku harus melakukan apa?"
Dinda seperti mendapatkan angin segar mendapatkan penawaran dari Puspa. Ia pun sedikit melirik ke arah sang ibu dan hanya dibalas dengan senyuman licik. Dinda paham betul apa yang tersirat di balik senyum ibunya itu.
"Ma, aku minta Mama mendesak mas Krisna untuk segera membalik nama rumah yang ada di Magelang. Aku mau rumah itu segera menjadi milikku."
Puspa sejenak terdiam namun sesaat kemudian ia ambil gawai yang ada di dalam tas. Ia cari nomor kontak sang anak ...
"Hallo Kris! Kapan kamu pulang?"
"Paling besok Ma. Kenapa?"
"Hmmmm.. Jangan lama-lama. Ingat, Dinda jauh lebih membutuhkan perhatianmu."
"Iya Ma, iya."
"Sampai rumah, Mama juga mau bicara sama kamu. Ini semua perihal warisan untuk Dinda!"
Sambungan via telepon terputus. Puspa kembali menautkan pandangannya ke arah Dinda.
"Kamu dengar sendiri kan Din? Besok ketika Krisna pulang, Mama langsung akan mendesak Krisna untuk segera membalik nama rumah yang ada di Magelang."
Senyum merekah di bibir Dinda. Dia merasa nasib baik akan berpihak kepadanya. "Terima kasih Ma."
.
.
.