NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Dunia Lain / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.

Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.

Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 - Orang Asing

Hari berikutnya, Aureliana Virestha kembali ke gang sempit itu dengan langkah yang jauh lebih terukur dari sebelumnya. Ia tidak lagi hanya mengandalkan insting, melainkan juga ingatan tentang setiap sudut yang ia lewati kemarin, mulai dari posisi dinding retak hingga genangan kecil di dekat pintu belakang bangunan tua.

Ia berhenti beberapa meter sebelum mulut gang, menyandarkan bahu pada tembok dingin yang permukaannya kasar. Napasnya diatur pelan, matanya bergerak menyapu jalanan yang tampak kosong, memastikan tidak ada pergerakan mencurigakan atau bayangan yang terlalu lama menetap di satu titik.

Beberapa detik ia habiskan hanya untuk mendengar, membiarkan telinganya menangkap suara sekecil apa pun yang mungkin terlewat oleh pandangan. Ketika tidak ada tanda bahaya yang terasa jelas, barulah ia mendorong tubuhnya menjauh dari dinding dan melangkah masuk ke dalam gang dengan hati-hati.

Cahaya di dalam masih redup seperti sebelumnya, hanya sedikit sinar yang masuk dari celah sempit di atas bangunan. Udara terasa lebih pengap, bercampur dengan bau besi dari darah yang mengering dan debu yang tidak pernah benar-benar hilang dari tempat itu.

Matanya langsung mencari satu titik yang kemarin ia tinggalkan, dan kali ini ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukannya. Pria itu masih berada di sana, posisinya tidak lagi tergeletak, melainkan sudah bersandar pada dinding dengan tubuh yang dipaksakan untuk tetap tegak.

Aureliana berhenti beberapa langkah darinya, menjaga jarak yang sama seperti kemarin, tidak terlalu dekat untuk membahayakan dirinya sendiri, namun cukup untuk melihat kondisi pria itu dengan jelas. Ia memperhatikan perubahan kecil yang terjadi, dari cara napas pria itu yang lebih teratur hingga posisi tangannya yang tidak lagi terkulai tanpa kendali.

Pria itu perlahan mengangkat kepalanya saat menyadari kehadiran seseorang, matanya yang sempat redup kini mencoba fokus meskipun masih berat. Tatapan mereka bertemu tanpa kata selama beberapa detik, masing-masing menilai tanpa terburu-buru.

“...Kamu.”

Suaranya masih serak, tetapi lebih stabil dari sebelumnya.

Aureliana tidak langsung menjawab, hanya mempertahankan pandangannya yang tenang tanpa memberi terlalu banyak reaksi. Ia sudah terbiasa dengan momen seperti ini, di mana keheningan sering kali lebih aman daripada kata-kata yang salah tempat.

Pria itu mencoba mengubah posisinya sedikit, tangannya menekan dinding untuk menopang tubuhnya. Raut wajahnya menegang sejenak saat rasa sakit muncul, namun ia tetap memaksakan diri untuk duduk lebih tegak.

“Kamu yang kasih air… kan?”

Aureliana mengangguk tipis, gerakannya singkat tanpa ekspresi berlebih. Ia tidak merasa perlu menambahkan apa pun, karena jawaban sederhana sudah cukup untuk situasi seperti ini.

Pria itu menatapnya lebih lama, seolah mencoba memastikan sesuatu yang tidak bisa ia lihat secara langsung. Napasnya terdengar lebih berat saat ia menarik udara, lalu menghembuskannya perlahan.

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar tanpa jeda, membuat suasana kembali terasa sedikit tegang.

Aureliana mengerutkan kening ringan, bukan karena bingung, melainkan karena ia sudah memperkirakan arah pembicaraan ini. Ia menggeser berat tubuhnya sedikit, tetap waspada terhadap kemungkinan yang belum terlihat.

“Kenapa apa?”

“Kenapa bantu aku?”

Nada suaranya tidak menekan, namun juga tidak sepenuhnya santai, seolah ia sendiri tidak yakin dengan jawabannya nanti.

Aureliana tidak langsung menjawab, membiarkan beberapa detik berlalu sambil memikirkan respons yang tidak membuka terlalu banyak hal. Ia sudah belajar bahwa jawaban yang terlalu jujur sering kali membawa lebih banyak masalah daripada manfaat.

“Aku lewat.”

Jawabannya singkat dan datar.

Pria itu menghela napas pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit seolah mengerti bahwa itu bukan jawaban sebenarnya. Namun ia tidak memaksa lebih jauh, mungkin karena kondisi tubuhnya sendiri tidak memungkinkan untuk berdebat panjang.

Keheningan kembali muncul, tetapi kali ini tidak seberat sebelumnya. Ada jarak yang masih terjaga, namun tidak lagi sepenuhnya dingin seperti saat pertama mereka bertemu.

Aureliana melangkah satu langkah lebih dekat, cukup untuk melihat luka di lengan pria itu dengan lebih jelas. Kain yang ia berikan kemarin sudah berubah warna, sebagian mengering, sebagian masih lembap.

“Lukanya?” tanyanya singkat.

Pria itu melirik ke arah lengannya, lalu tersenyum tipis meskipun ekspresi itu terlihat dipaksakan.

“Masih nempel di badan, berarti masih aman.”

Nada bercandanya lemah, namun cukup untuk menunjukkan bahwa kesadarannya sudah kembali lebih utuh.

Aureliana tidak menanggapi lelucon itu, tetapi ia sedikit mengangguk seolah menerima kondisi tersebut. Ia kemudian mengeluarkan botol kecil dari tasnya, gerakannya tenang dan terukur seperti biasa.

Ia tidak langsung memberikannya, melainkan meletakkannya di lantai dan mendorong perlahan ke arah pria itu. Jarak tetap dijaga, garis batas tidak dilanggar.

“Minum.”

Pria itu menatap botol itu sejenak sebelum meraihnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Gerakannya tidak secepat orang sehat, tetapi cukup stabil untuk tidak menjatuhkannya.

Ia minum beberapa teguk, berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi dengan ritme yang lebih teratur. Setiap gerakan diperhatikan oleh Aureliana tanpa berkedip, siap bereaksi jika ada perubahan mencurigakan.

Setelah beberapa saat, pria itu menurunkan botol dan menarik napas lebih dalam dari sebelumnya. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya terlihat lebih hidup.

“Aku Arka Zevran.”

Ia menyebutkan namanya pelan, seolah memberikan sesuatu sebagai gantinya.

Aureliana diam beberapa detik, lalu menjawab tanpa banyak ekspresi.

“Aureliana.”

Arka mengangguk perlahan, mengulang nama itu dalam pikirannya tanpa mengucapkannya lagi. Tatapannya kembali ke arah Aureliana, kali ini lebih fokus dan tidak lagi sekabur sebelumnya.

“Kamu bukan orang biasa, ya?”

Pertanyaan itu muncul dengan nada yang lebih hati-hati, namun tetap langsung menuju inti.

Aureliana tidak bereaksi secara mencolok, tetapi pikirannya langsung bergerak cepat. Ia sudah memperkirakan kemungkinan ini sejak kemarin, hanya saja sekarang pertanyaan itu akhirnya diucapkan.

“Apa maksudmu?” tanyanya dengan nada tetap tenang.

Arka mengangkat bahu sedikit, wajahnya kembali meringis karena luka di lengannya ikut tertarik.

“Cara kamu datang kemarin… terus hilang begitu saja,” katanya pelan, lalu menambahkan dengan suara yang lebih rendah, “dan air itu.”

Aureliana tidak menjawab, hanya menatapnya tanpa perubahan ekspresi. Ia tidak akan membuka apa pun, tidak di tempat seperti ini, dan tidak pada seseorang yang baru ia kenal.

Arka tersenyum kecil, meskipun jelas itu membutuhkan usaha.

“Tenang saja. Aku tidak akan maksa.”

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi Aureliana tidak sepenuhnya mempercayainya. Ia sudah cukup sering melihat bagaimana rasa penasaran bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

“Aku cuma bertahan,” jawabnya akhirnya.

Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk menutup arah pembicaraan.

Arka menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan, menerima tanpa mencoba menggali lebih dalam. Ia mungkin tidak percaya sepenuhnya, tetapi ia juga cukup sadar untuk tidak mendorong lebih jauh.

Suasana kembali tenang, namun tidak lagi sepenuhnya kaku. Ada perubahan kecil yang sulit dijelaskan, seperti jarak yang masih ada, tetapi tidak lagi terasa setajam sebelumnya.

Aureliana berdiri lebih tegak, lalu melangkah mundur satu langkah.

“Aku tidak bisa lama.”

Arka mengangguk tanpa protes, tangannya masih memegang botol air itu.

“Aku juga belum bisa ke mana-mana,” jawabnya dengan nada yang setengah ringan.

Aureliana menatapnya sejenak, pikirannya kembali mempertimbangkan kemungkinan. Ia tidak bisa membawa pria ini ke dalam ruang, dan ia juga tidak bisa terus datang tanpa perhitungan.

Namun meninggalkannya begitu saja juga bukan pilihan yang sepenuhnya mudah.

Ia akhirnya mengeluarkan satu kain lagi dari tasnya dan melemparkannya dengan arah yang terukur.

“Ganti kalau perlu.”

Arka menangkapnya dengan susah payah, tetapi berhasil.

“Terima kasih.”

Suaranya kali ini lebih jelas, tanpa keraguan seperti sebelumnya.

Aureliana hanya mengangguk tipis, tidak menambahkan apa pun. Ia sudah melakukan lebih dari yang ia rencanakan sejak awal.

Namun saat ia hendak berbalik, suara Arka kembali menghentikannya.

“Aureliana.”

Langkahnya terhenti, tetapi ia tidak langsung berbalik sepenuhnya. Ia hanya menoleh sedikit, cukup untuk menunjukkan bahwa ia mendengar.

Arka menatapnya dengan ekspresi yang berbeda, tidak lagi sekadar waspada atau penasaran.

“Aku tidak tahu kamu siapa,” katanya pelan, lalu berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “atau apa yang kamu simpan.”

Aureliana tetap diam.

“Tapi aku ingat siapa yang nolong aku.”

Kalimat itu diucapkan tanpa tekanan, namun memiliki bobot yang tidak ringan.

Aureliana tidak menjawab, tidak mengiyakan, dan juga tidak menolak. Ia hanya membiarkan kata-kata itu berlalu tanpa tanggapan, menjaga batas yang masih ia pegang dengan kuat.

Beberapa detik kemudian, ia berbalik dan berjalan keluar dari gang itu tanpa menoleh lagi. Langkahnya tetap tenang, tidak terburu-buru, tetapi jelas tidak berniat tinggal lebih lama.

Setelah keluar, ia tidak langsung kembali ke ruang. Ia berjalan memutar beberapa jalur, memastikan tidak ada yang mengikuti atau memperhatikan terlalu lama sebelum akhirnya menghilang dari dunia nyata.

Ketika ia kembali berdiri di dalam ruang itu, tubuhnya langsung berhenti di tempat. Keheningan yang menyambutnya terasa kontras dengan percakapan yang baru saja ia tinggalkan.

Ia menghela napas pelan, membiarkan pikirannya mengulang kembali setiap kata, setiap tatapan, dan setiap jeda yang terjadi di gang tadi.

Aureliana menatap sekeliling ruangnya, tempat yang selama ini ia jaga tanpa kompromi. Segala sesuatu di sini berada di bawah kendalinya, tidak seperti dunia luar yang terus berubah tanpa pola yang jelas.

Namun sekarang, ada satu hal yang berbeda.

Seseorang di luar sana mulai memiliki tempat kecil dalam pikirannya, meskipun ia belum sepenuhnya menyadarinya.

Aureliana duduk perlahan di dekat kebun, tangannya terlipat di pangkuan. Pandangannya tetap tenang, tetapi jauh lebih dalam dari sebelumnya.

Ia tidak akan lengah.

Ia tidak akan percaya dengan mudah.

Namun ia juga tidak bisa mengabaikan bahwa sesuatu telah berubah, meskipun hanya sedikit dan masih berada dalam batas yang ia tentukan sendiri.

1
SENJA
hapalin cara masuk dan keluar ruang dimensi nya 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Andira Rahmawati
kok bisa keluar masuk dgn bebas pdhl ststusnya msh pasien..
Andira Rahmawati
hadir thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!