NovelToon NovelToon
Benang Yang Tersembunyi

Benang Yang Tersembunyi

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Anak Genius / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Pertemuan Dua Sisi Mata Uang

Lonceng pintu butik Forever-Young berdentang pelan, memecah keheningan sore yang biasanya tenang. Chae-young sedang berdiri di depan manekin, jemarinya yang terampil sedang menyematkan jarum pentul pada lipatan kain sutra hitam. Ia tidak menoleh, namun indra penciumannya menangkap aroma parfum floral-woody yang sangat kuat—aroma yang sama dengan wanita yang kemarin menempel pada lengan Matteo.

"Butik yang manis," suara itu terdengar, penuh dengan nada patronase yang kental. "Meskipun aku ragu tempat sekecil ini bisa menghasilkan desain yang layak untuk panggung dunia."

Chae-young menyelesaikan sematan terakhirnya dengan presisi yang sempurna. Ia berbalik perlahan, menatap sosok Cessie yang berdiri di tengah ruangannya dengan kacamata hitam yang kini disampirkan di atas kepala. Wanita itu tampak seperti baru saja keluar dari sampul majalah mode, namun auranya sangat mengganggu ketenangan Chae-young.

"Selamat datang," ucap Chae-young tenang, suaranya sedatar permukaan danau di musim dingin. "Biasanya, orang yang datang ke sini memiliki selera yang spesifik. Tapi melihat cara anda memandang sekeliling, sepertinya anda tersesat, Nona...?"

"Cessie. Dan aku tidak tersesat," Cessie melangkah maju, sepatunya berbunyi tajam di atas lantai kayu. "Aku hanya penasaran, wanita seperti apa yang membuat Matteo begitu keras kepala untuk tetap berada di Seoul. Ternyata hanya seorang penjahit."

Chae-young tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak menyentuh mata namun mengandung wibawa yang tak tergoyahkan. Ia meletakkan bantalan jarumnya di meja.

"Penjahit atau desainer, itu hanya label. Sama seperti label rekan bisnis yang anda banggakan, tapi nyatanya anda harus datang jauh-jauh dari Manila hanya untuk memastikan posisi anda masih ada," balas Chae-young tajam.

Cessie tertawa sumbang, matanya berkilat penuh kebencian. "Kau pikir kau tahu segalanya tentang Matteo? Kau hanya mengenalnya beberapa minggu terakhir. Aku? Aku adalah orang yang menemaninya saat dia hampir gila di Manila. Aku tahu setiap rahasia gelapnya, termasuk skandalnya dengan istri adik kembarnya sendiri. Apa dia sudah memberitahumu betapa dia dulu memuja adik iparnya itu?"

Chae-young melipat tangannya di dada. Ia tidak terlihat goyah sedikit pun, meski di dalam hati ia merasakan tusukan halus. "Masa lalu pria itu bukan urusan saya, dan seharusnya juga bukan urusan anda lagi. Jika anda begitu berharga baginya di Manila, kenapa kau sekarang berdiri di sini, mencoba meyakinkan saya tentang nilai diri anda sendiri? Bukankah itu terdengar menyedihkan?"

"Beraninya kau menyebutku menyedihkan!" Cessie mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Chae-young. "Kau hanya janda dengan dua anak yang kebetulan beruntung karena Matteo sedang dalam fase merasa bersalah. Begitu fase itu hilang, kau akan dibuang seperti sampah!"

"Janda atau bukan, saya adalah ibu dari anak-anaknya. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa anda miliki, sebanyak apa pun anda memeluk lengannya di depan umum," Chae-young menatap lurus ke dalam mata Cessie tanpa berkedip.

"anda bilang anda menemaninya dua tahun? Kasihan. Dua tahun bersama anda, tapi dia tetap memilih untuk mencari wanita lain untuk membangun masa depan. Itu artinya, kehadiran anda selama dua tahun itu sama sekali tidak meninggalkan bekas di hatinya."

Wajah Cessie memerah padam. Ia tidak menyangka wanita di depannya ini memiliki lidah yang begitu tajam. "Kau pikir kau menang karena dia bersamamu sekarang? Matteo adalah pemburu, Chae-young. Begitu dia mendapatkan apa yang dia mau, dia akan pergi."

"Maka biarkan dia pergi," sahut Chae-young enteng sambil berjalan menuju pintu butik dan membukanya lebar-lebar. "Tapi untuk saat ini, pintu saya tertutup untuk tamu yang tidak diundang dan tidak punya sopan santun. Silahkan keluar, Nona Cessie. Dan saran saya, lain kali gunakan parfum yang tidak terlalu menyengat. Itu membuat kecantikan anda terasa dipaksakan."

Cessie berdiri kaku, napasnya memburu. Ia merasa seperti ditampar tanpa disentuh. Dengan langkah kasar, ia menyambar tasnya dan keluar dari butik, meninggalkan aroma parfumnya yang kini terasa memuakkan bagi Chae-young.

Setelah pintu butik tertutup dengan dentuman yang cukup keras, keheningan mendadak terasa menyesakkan. Chae-young masih berdiri menyandar pada daun pintu, tangannya perlahan naik menyentuh dadanya yang bergemuruh. Ia baru saja menang dalam adu mulut, tapi kenapa rasanya seolah ia baru saja kehilangan sesuatu?

"Kenapa aku jadi seperti ini?" bisiknya pada ruangan yang sepi.

Sejak pria itu—pria yang kini ia sebut aneh—hadir dalam hidupnya, ketenangan yang ia bangun selama lima tahun seperti mulai hancur perlahan. Matteo Smith bukan sekadar gangguan, dia adalah badai yang membawa serta puing-puing masa lalu yang kotor.

Chae-young berjalan gontai menuju meja kerjanya, menatap sketsa kain yang tadi ia kerjakan. Pikirannya melayang pada kata-kata Cessie tentang skandal di Manila. Ada perasaan aneh yang mencubit hatinya setiap kali mendengar berita miring tentang Matteo. Rasanya seperti ada sesuatu yang menolak kenyataan itu.

Dia tampak sangat berwibawa, sangat agung, batin Chae-young.

Ia teringat cara Matteo menatap anak-anak, cara pria itu berdiri tegak di tengah lobi M-Nexus dengan aura kekuasaan yang tak terbantahkan. Bagi siapa pun yang memperhatikan, Matteo adalah sosok manusia yang sempurna, pembuat keputusan yang dingin namun presisi.

"Tidak cocok," gumam Chae-young pelan. "Skandal menjijikkan seperti itu sama sekali tidak cocok untuk pria seperti dia."

Inilah yang membuatnya stres. Logikanya mengatakan Matteo adalah pria berbahaya dengan sejuta rahasia gelap, tapi instingnya—dan mungkin hatinya yang mulai berkhianat—merasa bahwa ada sesuatu yang salah dari semua gosip itu. Ia merasa tidak bisa menerima jika Matteo benar-benar seburuk yang dikatakan orang.

Rasa kecewa yang ia rasakan bukan karena ia membenci Matteo, melainkan karena ia berharap pria itu lebih baik dari sekadar skandal murahan.

"Apa aku sudah gila? Kenapa aku harus peduli pada martabatnya?"

Chae-young meraih gelas air di mejanya, meminumnya hingga tandas untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Ia merasa seolah-olah ia sedang mencoba membela seseorang yang bahkan tidak meminta dibela. Dan kenyataan bahwa ia merasa cemburu atau tidak terima saat Cessie mengklaim kedekatannya dengan Matteo, membuat Chae-young merasa sangat konyol.

Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada satu sudut butik di mana Matteo pernah berdiri menunggu si kembar tempo hari. Bayangan pria itu yang tampak asing namun entah kenapa terasa pas di dalam butiknya kembali muncul.

"Dia bukan lagi manusia aneh yang kaku," Chae-young mendesah, menyandarkan kepalanya di atas meja. "Dia adalah pria yang perlahan-lahan merusak logikaku."

Di tengah pergulatan batinnya, ia tidak menyadari bahwa Matteo sedang berada di dalam mobil sportnya, terparkir satu blok dari butik. Pria itu tidak berani masuk, takut kehadirannya justru akan menambah beban Chae-young setelah kunjungan Cessie tadi. Matteo hanya menatap dari kejauhan, memutar-mutar jepit rambut bunga lili yang sempat ia ambil dari laci apartemen Chae-young semalam.

Dua manusia itu kini berada di bawah langit yang sama, terpisah oleh dinding butik dan ego masing-masing, namun sama-sama sedang bergelut dengan perasaan aneh yang mulai tumbuh di tengah kekacauan yang mereka ciptakan sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!