NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Penemuan di Perpustakaan

Sejak mendapatkan akses ke perpustakaan, setiap malam menjadi saksi bisu perjalanan Seol menembus lautan ilmu. Tugas hariannya tetap sama—menyapu, membersihkan, mengangkut air—tetapi setelah matahari tenggelam dan semua murid luar terlelap, ia menyelinap keluar dari asrama, menembus kegelapan menuju bangunan batu di lereng tengah gunung.

Kunci besi pemberian Seol Hwa terasa hangat di sakunya, berdenyut pelan setiap kali ia mendekati pintu perpustakaan. Denyut itu adalah tanda bahwa kunci ini bukan sekadar logam biasa—ia terhubung dengan qi-nya, sebuah teknologi kuno yang bahkan tidak ia pahami sepenuhnya.

Malam pertama, ia hanya membaca tentang dasar-dasar pengendalian qi. Malam kedua, ia mempelajari anatomi meridian. Malam ketiga, ia mulai membaca tentang sejarah ramuan-ramuan langka.

Dan malam keempat, ia menemukannya.

---

Malam Keempat – Rak Paling Tua

Perpustakaan itu sunyi di tengah malam. Satu-satunya sumber cahaya adalah lentera batu kecil yang Seol bawa dari asramanya—lentera minyak sederhana yang nyala apinya berkedip-kedip karena angin yang masuk melalui celah-celah dinding. Tapi Seol tidak membutuhkan banyak cahaya. Matanya sudah terbiasa membaca dalam remang-remang, dan pikirannya sudah terbiasa berkonsentrasi di tengah keheningan.

Ia sedang berada di sudut paling belakang perpustakaan, di rak-rak yang paling tua dan paling berdebu. Kitab-kitab di sini tidak tersusun rapi seperti di rak utama. Ada yang tertumpuk, ada yang terjatuh, ada yang sampulnya sudah lepas. Debu menebal di setiap permukaan, dan udara terasa lebih berat—seperti tempat ini sudah lama tidak dikunjungi.

Seol menarik satu kitab dari rak paling bawah. Sampulnya terbuat dari kayu tipis yang sudah rapuh, dengan tulisan tangan yang nyaris pudar. Ia membuka halaman pertama dengan hati-hati, takut sampulnya hancur di tangannya.

“Katalog Ramuan Langka Benua Murim Tengah – Disusun oleh Tetua Hwang, Tahun 312 Era Sekte.”

Matanya menyusuri daftar demi daftar. Sebagian besar nama ramuan tidak ia kenal. Ada yang terdengar sederhana—Akar Seribu Tahun, Air Mata Naga, Bunga Salju Abadi—tetapi deskripsinya menunjukkan bahwa benda-benda itu adalah artefak langka yang hanya ada dalam legenda.

Ia hampir melewatkannya. Di halaman 47, di bagian paling bawah, dalam tulisan yang lebih kecil dari yang lain:

“Ramuan Pemulih Nadi – Digunakan untuk memperbaiki meridian yang rusak parah, terutama pada kasus di mana meridian tertutup sejak lahir. Bahan utama: Akar Giwa (hanya tumbuh di Lembah Giwa, wilayah terlindung di bawah Gunung Cheongmyeong), Cairan Sumsum Tulang Naga Muda, dan…(tulisan selanjutnya hilang karena kerusakan kertas).”

Seol berhenti membaca. Jantungnya berdegup kencang. Akar Giwa. Nama itu—Giwa—sama dengan nama batu yang disimpan Gu. Apakah itu kebetulan?

Ia melanjutkan membaca, mencari halaman berikutnya. Tapi tiga halaman setelahnya robek, hilang, menyisakan hanya fragmen-fragmen kecil yang tidak bisa dibaca. Ia hampir putus asa ketika, di halaman terakhir kitab itu, ia menemukan sebuah catatan tambahan yang ditulis dengan tinta berbeda—tinta merah, yang tidak pudar meski kertas di sekitarnya sudah menguning.

“Catatan: Ramuan Pemulih Nadi tidak lagi dapat diproduksi setelah Lembah Giwa hancur dalam Perang Persilatan Besar 150 tahun lalu. Satu-satunya stok yang tersisa disimpan di gudang rahasia Sekte Pedang Surgawi, dan hanya dibuka setiap tiga tahun sekali untuk diserahkan kepada pemenang Turnamen Persilatan Sejati.”

Seol meletakkan kitab itu di meja. Tangannya gemetar—bukan karena dingin, tetapi karena emosi yang tidak bisa ia kendalikan.

Turnamen Persilatan Sejati. Tiga tahun sekali. Satu-satunya stok yang tersisa.

Ia mengingat kembali apa yang dikatakan tetua klan di Desa Cheonho, sebelum ia pergi. Turnamen itu akan diadakan dalam tiga tahun. Dan Klan Ryu akan mengirim wakil.

Cheonmyeong.

Seol mengepalkan tangannya. Ia harus ikut turnamen itu. Ia harus menang. Tidak ada pilihan lain.

Ia meraih Batu Giwa di sakunya, merasakan denyut hangat yang masih ada di dalamnya—lemah, tetapi ada.

“Gu,” bisiknya. “Aku menemukannya. Ramuan itu ada. Tapi aku harus ikut turnamen untuk mendapatkannya.”

Denyut itu berdetak sekali—lebih kuat dari biasanya, seperti jantung yang berdegup kencang. Seol menunggu, berharap Gu akan bangun, berharap ada suara sinis yang menyapanya.

Tapi yang datang bukan suara. Yang datang adalah penglihatan.

---

Penglihatan di Tengah Malam

Dunia di sekitarnya berubah.

Perpustakaan menghilang. Rak-rak buku, meja batu, lentera minyak—semua lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kegelapan yang pekat. Seol berdiri di tengah kehampaan, tidak ada tanah di bawah kakinya, tidak ada langit di atasnya. Hanya kegelapan yang tak berujung.

Dan kemudian, cahaya.

Cahaya itu muncul dari kejauhan, kecil pada awalnya, tetapi semakin besar semakin mendekat. Seol menyipitkan mata, mencoba melihat apa yang ada di dalam cahaya itu.

Itu adalah gambar. Gambar yang bergerak—seperti mimpi, tetapi terlalu jelas untuk menjadi mimpi.

Ia melihat sebuah arena besar, dikelilingi oleh ribuan orang. Di tengah arena, dua sosok sedang bertarung. Satu sosok mengenakan jubah hijau—warna Klan Ryu. Wajahnya tidak jelas, tetapi postur tubuhnya, cara ia memegang pedang, cara ia bergerak… Seol mengenalnya.

Ryu Cheonmyeong.

Di depannya, seorang pemuda lain berdiri dengan pedang terhunus. Pemuda itu kurus, dengan seragam abu-abu lusuh—seragam murid luar Sekte Pedang Surgawi. Wajahnya tidak jelas, tetapi Seol tahu siapa itu.

Dirinya sendiri.

Ia melihat kedua sosok itu bertarung. Gerakannya cepat—lebih cepat dari apa pun yang pernah ia lihat. Pedang mereka beradu, percikan api berpendar di udara. Dan kemudian, dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk diikuti, salah satu dari mereka jatuh.

Seol tidak bisa melihat siapa yang jatuh. Gambar itu kabur, pecah, menghilang seperti kabut terkena sinar matahari.

Dan suara Gu bergema di kepalanya—lemah, nyaris tidak terdengar, tetapi jelas:

“Cheonmyeong… akan datang… ke turnamen… sebagai wakil… Klan Ryu…”

Seol membuka matanya. Ia masih duduk di meja batu perpustakaan, lentera minyak masih menyala di sampingnya, kitab kuno masih terbuka di depannya. Semuanya normal. Tapi tangannya basah oleh keringat dingin, dan di dalam dadanya, pusaran qi berputar liar seperti badai.

“Gu!” bisiknya. “Gu, kau di sana?”

Tidak ada jawaban. Denyut di sakunya kembali tenang, teratur, seperti orang yang tertidur setelah mengucapkan kata-kata terakhir.

Tapi Seol sudah mendengar. Cukup.

Cheonmyeong akan datang. Ia akan menjadi lawanku di turnamen.

Ia menatap tangannya yang masih gemetar. Di atas meja, kitab kuno itu terbuka pada halaman terakhir, catatan tinta merah masih terlihat jelas.

“Hanya diserahkan kepada pemenang Turnamen Persilatan Sejati.”

Ia menutup kitab itu perlahan, merapikannya, dan mengembalikannya ke rak. Tangannya tidak lagi gemetar. Dadanya tidak lagi berdebar kencang.

Ia tenang. Sangat tenang. Tenang seperti air di telaga yang dalam, yang tidak bergerak meski angin topan menerpa.

Jika Cheonmyeong akan datang, maka aku akan menemuinya. Jika aku harus menang untuk mendapatkan ramuan itu, maka aku akan menang. Tidak ada yang bisa menghentikanku.

Ia melangkah keluar dari perpustakaan, kunci besi di sakunya, tekad di dadanya. Di luar, langit mulai memutih di ufuk timur. Fajar akan segera tiba. Dan dengan fajar itu, hari-hari latihannya yang baru akan dimulai.

---

Pagi Hari – Di Area Latihan

Seol tidak tidur malam itu. Ia kembali ke asrama, berganti pakaian, dan langsung menuju area latihan murid dalam sebelum matahari terbit. Sapu di tangannya, ember di sisi lain, ia mulai bekerja seperti biasa.

Tapi hari ini, ada yang berbeda.

Gerakannya tidak lagi hanya gerakan membosankan seorang pembersih. Setiap ayunan sapu adalah potongan pedang. Setiap langkah adalah posisi tempur. Setiap kali ia membungkuk untuk mengambil daun, ia melatih kelenturan punggungnya. Setiap kali ia mengangkat ember, ia mengalirkan qi ke lengannya, memperkuat otot-otot yang akan memegang pedang.

Hwang, murid senior yang sering berlatih di area ini, tiba seperti biasa. Ia menatap Seol dengan mata menyipit, merasakan ada yang berubah tetapi tidak bisa menunjukkannya.

“Kau masih di sini,” katanya, nada meremehkan. “Belum menyerah?”

Seol tidak menjawab. Ia terus menyapu, tetapi matanya—matanya yang dulu selalu tertunduk—kini menatap lurus ke depan.

Hwang menggerutu, lalu mulai berlatih dengan pedangnya. Seol mendengar setiap desis bilah, setiap hentakan kaki, setiap hembusan napas. Ia menyerap semuanya, menyimpannya di memori, menganalisisnya di benak.

Dia lemah di sisi kiri. Langkah kakinya terlalu berat. Qi-nya terkonsentrasi di lengan kanan, membuat keseimbangannya timpang.

Ia tidak akan melawan Hwang. Bukan sekarang. Tapi ia tahu kelemahannya. Dan pengetahuan itu adalah senjata.

---

Siang Hari – Berita yang Beredar

Di ruang makan, bisik-bisik tentang turnamen mulai terdengar. Seol duduk di sudut, menyuap bubur encer ke mulutnya, telinganya menangkap setiap kata.

“Kudengar turnamen akan diadakan dua setengah tahun lagi. Bukan tiga tahun. Ada percepatan jadwal.”

“Apa? Kenapa?”

“Entahlah. Mungkin karena ada desakan dari sekte-sekte besar. Mereka ingin menguji murid-murid baru.”

“Siapa yang akan diutus dari sekte kita?”

“Murid dalam pasti. Mungkin Kang Jin. Mungkin Seol Hwa. Mereka berdua yang terkuat di angkatan ini.”

“Kudengar ada klan kecil yang mengirim wakil. Klan Ryu, namanya. Wakilnya katanya jenius yang sempat koma karena teknik terlarang, tapi sekarang sudah bangun dan lebih kuat dari sebelumnya.”

Seol berhenti mengunyah. Ia tidak menoleh, tidak menunjukkan reaksi apa pun. Tapi di dalam dadanya, pusaran qi berputar lebih cepat.

Cheonmyeong sudah bangun. Ia akan datang.

Ia melanjutkan makan, tetapi pikirannya sudah tidak di ruang makan itu. Ia sudah berada di arena turnamen, pedang di tangan, berhadapan dengan sepupunya yang telah menghancurkan hidupnya.

---

Sore Hari – Latihan Bersama Baek Ho

Di hutan kecil di belakang asrama, Seol dan Baek Ho berlatih seperti biasa. Tapi hari ini, intensitasnya berbeda.

“Kau terlihat aneh,” kata Baek Ho di sela-sela latihan, napasnya terengah. “Ada apa?”

Seol tidak menjawab. Ia mengayunkan ranting di tangannya dengan kecepatan yang belum pernah Baek Ho lihat sebelumnya. Bayangan-bayangan muncul di ujung ranting itu—empat, lima, enam—bertahan lebih lama, bergerak lebih cepat.

“Seol!” Baek Ho menangkis satu serangan dengan kayunya, hampir terjatuh karena kekuatannya. “Kau mau membunuhku?”

Seol berhenti. Napasnya teratur, tidak seperti Baek Ho yang terengah-engah.

“Maaf,” katanya. “Aku terlalu fokus.”

Baek Ho menurunkan kayunya, menatap Seol dengan mata waspada. “Ada sesuatu yang terjadi. Aku tahu kau tidak seperti ini tanpa alasan.”

Seol duduk di atas akar pohon, menatap langit senja yang mulai berubah jingga.

“Aku menemukan catatan tentang ramuan yang kucari,” katanya pelan. “Ramuan itu hanya diberikan kepada pemenang turnamen antar sekte. Aku harus ikut. Aku harus menang.”

Baek Ho duduk di sampingnya. “Lalu kenapa kau terlihat seperti sedang bertarung dengan hantu?”

Seol tersenyum pahit. “Karena di turnamen itu, aku akan bertemu seseorang dari masa laluku. Seseorang yang… membuatku menjadi seperti ini.”

Ia tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Baek Ho tidak memaksa. Ia hanya duduk di samping Seol, diam, menemani.

“Kalau begitu,” kata Baek Ho akhirnya, “kita harus berlatih lebih keras. Aku tidak akan membiarkanmu kalah.”

Seol menatapnya. Di mata Baek Ho, tidak ada keraguan. Hanya keyakinan.

“Terima kasih,” kata Seol.

Mereka berlatih hingga matahari benar-benar tenggelam, hingga bintang-bintang mulai muncul di langit. Dua pemuda dengan masa lalu yang berbeda, dengan tujuan yang berbeda, tetapi dengan tekad yang sama: menjadi lebih kuat.

---

Malam Hari – Di Kamar Seol Hwa

Seol Hwa duduk di depan meja kayunya, gulungan-gulungan laporan terbuka di hadapannya. Tapi matanya tidak membaca. Pikirannya melayang ke tempat lain.

Pintu terbuka. Kang Jin masuk tanpa mengetuk—sesuatu yang biasanya tidak ia lakukan.

“Ada kabar,” katanya, suaranya tegang. “Turnamen dimajukan. Dua setengah tahun lagi.”

Seol Hwa mengangkat alis. “Kenapa?”

“Tidak ada penjelasan resmi. Tapi ada desas-desus bahwa beberapa klan kecil mendesak agar turnamen dipercepat. Salah satunya adalah Klan Ryu.”

Seol Hwa meletakkan gulungan itu. “Klan Ryu? Klan kecil di wilayah timur?”

“Ya. Wakil mereka adalah Ryu Cheonmyeong. Jenius yang pernah koma setelah duel dengan… seseorang.” Kang Jin ragu. “Dengan Ryu Seol.”

Keheningan. Seol Hwa tidak bergerak, tetapi matanya berubah—ada kilatan di sana, kilatan yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Menarik,” katanya pelan. “Ryu Seol melawan sepupunya sendiri di turnamen. Seperti takdir.”

“Kau pikir dia bisa menang?”

Seol Hwa berdiri, berjalan ke jendela. Di kejauhan, asrama murid luar hanya terlihat sebagai titik-titik cahaya redup.

“Aku tidak tahu,” katanya jujur. “Tapi aku ingin melihat.”

Ia berbalik menghadap Kang Jin.

“Mulai besok, tingkatkan pengawasan pada latihan Ryu Seol. Jangan ganggu. Tapi catat setiap perkembangannya.”

Kang Jin mengangguk. “Kau benar-benar tertarik padanya.”

Seol Hwa tidak menjawab. Ia hanya tersenyum—senyum tipis yang tidak bisa diartikan.

“Aku tertarik pada potensi,” katanya. “Potensi adalah hal yang paling langka di dunia ini. Dan aku tidak akan membiarkannya terbuang.”

---

Di Dalam Batu Giwa – Saat yang Sama

Di dalam kegelapan yang tak berujung, di dalam batu hitam yang dingin, Gu membuka matanya.

Wujud aslinya—rubah putih raksasa dengan delapan ekor yang menjulur seperti lidah api—terbaring di atas dasar jurang yang tidak memiliki dasar. Tubuhnya lemah. Setelah mengorbankan satu ekor untuk menyelamatkan Seol, ia nyaris kehilangan kesadaran permanen.

Tapi ia mendengar. Ia selalu mendengar.

Cheonmyeong akan datang. Seol akan menghadapinya.

Gu menutup matanya. Di dalam kegelapan itu, ia tersenyum.

“Kau sudah berkembang, bocah. Lebih dari yang kukira. Tapi masih belum cukup.”

Ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Bukan untuk bangun—belum. Tapi untuk satu hal.

Ia mengirimkan satu penglihatan lagi. Bukan untuk menakut-nakuti. Tapi untuk memperingatkan.

---

Di Asrama – Tengah Malam

Seol terbangun dari tidurnya dengan jantung berdebar kencang.

Ia melihat sesuatu dalam mimpinya. Bukan penglihatan kabur seperti di perpustakaan. Ini jelas. Sangat jelas.

Ia melihat Cheonmyeong berdiri di tengah arena turnamen. Tubuhnya lebih besar dari yang ia ingat, lebih kekar, lebih menakutkan. Di tangannya, pedang bercahaya merah—cahaya yang sama dengan saat duel di hutan belakang. Tapi kali ini, cahaya itu tidak kacau. Ia teratur. Terkendali. Mematikan.

Cheonmyeong tidak hanya pulih. Ia telah menguasai teknik terlarang itu.

Dan di sampingnya, sesosok bayangan berdiri—bayangan dengan mata merah menyala, yang tidak lain adalah iblis yang telah memberi Cheonmyeong kekuatan itu.

Seol duduk di atas tikarnya, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Di sakunya, Batu Giwa berdenyut liar—denyut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Gu memperingatkanku. Cheonmyeong tidak akan datang sendirian.

Ia menggenggam batu itu erat-erat.

“Aku tidak takut,” bisiknya. “Aku tidak akan lari.”

Denyut itu berhenti. Batu Giwa kembali dingin, tenang. Seperti setuju.

Seol berbaring kembali, menatap langit-langit yang retak. Di luar, fajar mulai memutih. Hari baru akan segera dimulai. Dan dengan hari itu, latihan yang lebih keras, tekad yang lebih kuat, persiapan untuk pertarungan yang akan menentukan segalanya.

Dua setengah tahun. Aku akan siap.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!