Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 PGS
Badru pasang badan dan mendorong tubuh Ariel. "Hai Pak Guru, anda itu seorang pria kenapa anda berani memukul wanita?" geram Badru.
"Jangan ikut campur," sahut Ariel.
"Badru, kamu sudah terkena rayuan dia makanya kamu membela wanita dari anak wanita penggoda," seru Fuja.
"Mamaku bukan wanita penggoda!" teriak Sherina dengan deraian air matanya.
"Kalian sudah keterlaluan, ayo Sher, aku antar kamu pulang," ajak Badru.
Badru menarik tangan Sherina. "Apa sekarang kamu mau mengikuti Mamamu sebagai wanita penggoda? kamu tahu 'kan Badru memiliki kebun lumayan luas makanya kamu deketin Badru," ledek Ariel.
Sherina dan Badru menghentikan langkahnya. Badru sampai mengepalkan tangannya saking emosi mendengar kata-kata Ariel. Badru membalikan tubuhnya dan dengan cepat memukul Ariel sampai Ariel tersungkur.
"Astaga, Ariel!" teriak Fuja.
"Dari dulu saya tidak suka dengan kamu karena keluarga kalian sangat sombong, saya hanya menghargai saja tapi ucapan kamu kali ini sudah keterlaluan. Sherina wanita baik-baik, meskipun dia dekat sama saya apa salahnya? kita sama-sama single. Ingat, jangan ganggu Sherina dan keluarganya lagi!" bentak Badru.
Badru menarik tangan Sherina dan membawanya pergi. Badru mengatakan seperti itu bukan karena Badru suka kepada Sherina karena bagaimana pun dia sadar diri jika Sherina tidak mungkin suka kepadanya. Badru membela Sherina karena Sherina dan keluarganya adalah orang-orang baik.
"Badru, Sherina, tunggu aku!" teriak Nining.
Fuja dan Rossa menghampiri Ariel. "Kak, kita harus cari bukti dan kalau ada bukti maka kita akan gampang untuk mengusir keluarga itu," ucap Rossa.
***
Keesokan harinya....
Rossa memanggil Ida dan yang lainnya. "Ada apa Nona memanggil kami? apa kami sudah melakukan kesalahan?" tanya Bu Ida panik.
"Tidak, justru saya memanggil kalian karena ingin meminta bantuan kepada kalian," sahut Rossa.
"Bantuan apa, Nona?" tanya Bu Oneng.
"Rumah kalian 'kan dekat dengan rumah Sherina, saya minta kalian laporkan setiap apa pun yang mereka lakukan apa lagi jika Papa saya datang ke sana. Kalian foto dan video biar ada bukti," seru Rossa.
"Tapi ponsel kami semuanya jadul, tidak ada yang ada kameranya," sahut Ibu Ida.
Rossa mengeluarkan HP android yang sama sekali tidak dia pakai. "Ibu pakai ini saja, kebetulan saya punya ponsel sudah tidak terpakai tapi masih bagus," seru Rossa sembari memberikan ponselnya.
"Baik Nona, pokoknya Nona jangan khawatir kami akan memberikan bukti yang banyak karena kami juga ingin keluarga itu diusir dari kampung ini karena suami kami tergoda oleh dia," sahut Bu Ida.
Hari ini Sherina memilih diam di rumah, dia malas untuk keluar rumah karena banyak sekali gosip-gosip yang semakin liar di kalangan warga di sana. Begitu juga dengan Wita yang tidak mau keluar rumah juga dan memutuskan mengasingkan diri. Mereka mending tidak kenal dengan warga dari pada harus difitnah terus.
"Mom, untuk sekarang kita bertahan dulu kita lihat ke depannya jika kedepannya semakin buruk, maka lebih baik kita kembali saja ke Jakarta," ucap Sherina.
"Mommy ikut kamu saja," sahut Mommy Wita.
Sherina tidak pernah cerita kepada siapa pun kalau dia ditampar oleh Ariel karena takut Daddynya ngamuk. Bahkan Sherina melarang teman-temannya untuk mengadu kepada kedua orang tuanya dan juga Syarif. Sherina masuk ke dalam kamarnya, dia duduk di tepi jendela dengan tatapan menerawang.
"Sampai kapan pun aku benci kepada orang yang namanya Ariel, seumur-umur aku baru bertemu dengan pria seperti dia. Tamparan ini akan selalu membekas dan aku tidak akan pernah melupakannya," batin Sherina dengan penuh emosi.
Sherina pun memutuskan untuk bekerja. Selama ini Sherina memang selalu memantau perusahaan dan bekerja dari rumah. Sherina selalu bekerja sampai larut malam, dia memang seorang wanita pekerja keras.
Pada saat orang-orang pergi ke kebun, seperti biasa orang suruhan Tama selalu datang dan menyimpan apa pun yang diperintahkan Tama. Kali ini ada telur, daging-dagingan, dan beras, tidak lupa Tama menyuruh menyelipkan bunga dengan kata-kata yang sangat menjijikan.
Sherina mendengar ada yang datang, dia mengintip dari jendela dan benar saja ada orang suruhan Tama. "Kurang ajar, tua bangka itu gak pernah ada kapok-kapoknya," geram Sherina.
Sherina keluar dan hendak memarahi orang itu, tapi ternyata orang itu sudah pergi. "Astaga, ini nih yang bikin warga salah paham dan menganggap Mommy aku sebagai wanita penggoda," geram Sherina.
Sherina mengambil foto untuk bukti jika suatu saat nanti anak-anak Tama kembali menghina Mommynya. Sherina dan Wita mengumpulkan barang-barang pemberian Tama dalam satu wadah, untuk jaga-jaga dan bukti juga. Pada saat Sherina sedang membawa barang-barang itu ke dalam rumah, Ida melihatnya dan langsung merekamnya untuk dia laporkan kepada Rossa.
Sementara itu di perkebunan, seperti biasa Syarif sudah bekerja dengan tekun. Pagi menjelang siang, cuaca semakin panas dan Syarif memutuskan untuk duduk sejenak dan minum air putih yang dia bawa dari rumah. Rossa melihatnya, dan dengan cepat Rossa menghampiri Syarif lalu menendang wadah yang berisi sayuran sampai sayurannya tumpah ke mana-mana.
"Ini belum jam istirahat, kenapa kamu malah duduk santai-santai seperti ini!" ketus Rossa.
Syarif mulai emosi, dia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya. "Cepat bangun dan kembali bekerja!" sentak Rossa.
Syarif pun bangkit dari duduknya, dia hendak pergi karena dia tidak mau berseteru lagi dengan Rossa. "Woi, mau ke mana kamu?" teriak Rossa.
Syarif menghentikan langkahnya tapi dia sama sekali tidak mau membalikan tubuhnya. Rossa yang kesal pun menghampiri Syarif dan berdiri di hadapan Syarif. "Itu sayurannya bereskan dulu, kenapa main pergi saja?" bentak Rossa.
"Lu sudah gila ya, Lu yang tendang wadah itu sampai isinya berantakan dan sekarang Lu nyuruh gua untuk merapikannya? otak Lu benar-benar sudah mengalami gangguan syaraf," sahut Syarif.
"Apa Lu bilang!" Rossa hendak menampar Syarif, tapi tangan Syarif lebih cekatan menahannya.
"Apa Lu, mau nampar gua? memangnya Lu pikir Lu siapa bisa nampar gua kaya gitu? jangan sombong jadi orang, suatu saat nanti kesombongan Lu bisa gua beli," sahut Syarif sembari menghempaskan tangan Rossa.
Syarif dengan cepat pergi meninggalkan Rossa. Sedangkan Rossa terlihat menahan emosi, dia memang sudah berhasil menampar kakaknya tapi dia jangan harap bisa bersikap semena-mena kepada adiknya. "Awas kamu Syarif, sebentar lagi kamu dan keluarga kamu akan menerima akibatnya dan kalian akan pergi dari kampung ini," geram Rossa dengan mengepalkan tangannya.
Syarif sudah lelah kerja di perkebunan itu, sepertinya setelah Daddynya kembali dia akan berhenti bekerja.
kalian harus perlihatkan siapa kalian biar tama dan yg lainnya kicep, kesel sumpah