"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perfect Day
Sekitar jam empat sore Aurel kembali ke kantornya. Baru saja meletakkan tas dan hendak menyalakan laptop, kursi di sebelahnya berputar dengan cepat. Dita menghampiri dengan sorot mata penuh selidik, dan senyumnya menyimpan tanya.
"NGAKU ELO!" Dita berbisik tajam. "Dah diapain elo sama Adrian?"
Aurel segera menutup wajahnya dengan map proyek. "Apa sih Dit... gue sibuk."
"Sibuk sampai pipimu semerah itu?" Dita menyodorkan cermin kecil ke hadapannya. "Lihatlah."
Aurel menarik napas panjang. "Itu hanya rapat kerja biasa. Membahas rebranding Kata Raya. Jangan selalu ngeres. Nggak akan ada adegan ngeres seperti di otak elo itu."
"Rapat kerja biasa? Impossible!" Dita tidak percaya. Ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Aurel, mengambil posisi interogasi. "Jadi, bagaimana rasanya dilatih oleh sultan kaya Rel? Apakah briefingnya disampaikan melalui ciuman? Atau melalui tatapan yang mengintimidasi?"
Aurel hendak menjawab, namun notifikasi laptop berbunyi: _ding_
*Email baru masuk: adrian.dirgantara@kataraya.corp*
Aurel melirik layar, tapi Dita lebih cepat. Ia telah mengintip dari samping bahu Aurel.
Subjek: `Meeting Besok`
Isi pesannya singkat, tanpa salam pembuka maupun penutup. Hanya satu baris yang lugas namun menimbulkan tanda tanya besar:
`Besok meeting jam 8 di aula Kata Raya. Bawa diri kamu saja. Dokumen biar aku yang siapin.`
Dita terdiam selama dua detik. Kemudian ia bersuara lantang hingga beberapa rekan kerja menoleh.
"HAHAHAHA GILA!!!" Dita menepuk meja. "BAWA DIRI KAMU SAJA??? Dokumen dia yang siapin??? Rel, itu bukan undangan rapat. Itu ajakan kencan berkedok pekerjaan!"
Aurel segera menutup laptop. Rona merah di wajahnya semakin jelas. "Dita, please jangan keras keras! Ini email resmi untuk pekerjaan!"
"Pekerjaan macam apa yang bilang bawa dirimu saja?!" Dita semakin antusias. Ia menyandarkan dagu pada telapak tangan, menatap Aurel dengan sorot mode detektif. "Aku mengerti maksudnya. Ini strategi kaum CEO. Bawa diri kamu saja adalah kode untuk 'datang dengan hati kosong, kemudian pulang membawa hatiku'."
"Gila kamu," gumam Aurel pelan. Namun jarinya tanpa sadar mengklik tombol balasan. Kotak teks kosong. Jujur saja dia tidak tahu harus menulis apa.
Dita menyandarkan dagu di atas meja, senyumnya mengembang. "Jadi bagaimana? Besok pukul delapan pagi. Aula Kata Raya. Hanya kamu dan dia, ditambah dokumen yang sudah ia siapkan... dan mungkin juga ada sebatang coklat dan setangkai bunga."
Aurel menatap email tersebut. Hanya satu baris, tetapi terasa seperti perintah dari seorang raja.
"Dia gila," ucap Aurel lirih.
Dita menyeringai. "Benar. Tergila gila padamu. Sekarang giliranmu... apakah kau akan ikut gila juga?"
Waktu cepat berlalu, jam pulang kantor tiba. Sekitar pukul lima sore Aurel keluar dari lobi Adhikari Digdaya Creative. Langkahnya dipercepat, yang ia inginkan sekarang hanya bantal di kamar kosnya. Hari ini sangat melelahkan untuknya.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat selurusan di depannya berdiri seorang pria bersandar pada mobil sedan hitam, Bayu. Kemeja rapi dengan sebuah paper bag di tangan. Senyumnya ramah seperti biasa. Keramahan yang tidak ia suka.
Mau tidak mau ia berjalan menghampiri pria itu, tak mungkin ia mengabaikan Bayu begitu saja.
Bayu berdiri tegak dan merapikan kemejanya, maju dua langkah mendekat. "Mbak Aurel, selamat sore. Tadi saya kebetulan lewat. Niatnya mau mampir ke kos tapi takutnya Mbak Aurel belum pulang. Boleh ngobrol sebentar?"
Aurel menahan napas. "Mas Bayu, saya bawa mobil sendiri."
"Sebentar saja," Bayu tersenyum halus. Nadanya tidak memaksa, tapi caranya berdiri menghalangi jalan keluar. "Di lobi saja biar tidak bertele tele."
Aurel akhirnya mengalah. Daripada semua rekam kerjanya harus melihat adegan dia berteriak di depan kantor, lebih baik mereka bicara. Akhirnya pergi ke lobi. Ruangan itu lumayan sepi, hanya ada satpam di ujung ruangan.
Bayu meletakkan paper bag di meja. "Ini titipan dari ibu, beliau membuat kue kukis keju kesukaan Mbak. Tadi aku udah nyicipin, enak banget."
Aurel tidak menyentuh kotak itu. "Terima kasih. Lain kali nggak usah pakai acara anter makanan Mas. Kan ibu tinggal telepon terus aku kesana. Jadi ngerepotin kamu."
Bayu menggeleng pelan. "Buat kamu nggak ada kata repot. Ini juga akan lebih mendekatkan hubungan kita."
Ia menatap Aurel lurus. "Hubungan kita... sebatas silaturahmi saja. Itu yang terbaik, kan? Saya menghargai keputusan Mbak sejak awal."
Aurel diam. Kata-katanya terdengar sempurna. Sopan. Dewasa. Tidak ada celah untuk disalahkan.
Tapi justru itu yang membuat Aurel curiga.
Sejak pertemuan pertama, Bayu selalu "terlalu baik". Terlalu pas. Terlalu mengerti. Dan ibunya hampir setiap hari mengirim pesan: _Rel, Bayu kirim kue lagi. Anaknya baik sekali._ _Bayu tanya kamu suka rasa apa. Perhatian banget sama kamu._
Kebaikan Bayu yang terus disuarakan ibunya membuat telinga Aurel pekak. Ia tidak menyukai Bayu sejak awal. Sebenarnya tidak ada alasan jelas. Hanya insting yang berkata: ada sesuatu di balik sikap baik itu.
"Kalau memang silaturahmi," Aurel akhirnya bicara, suaranya datar, "jangan lagi datang hanya untuk kue kue buatan ibu."
Terdengar menyakitkan hati, tapi Aurel harus tegas tentang ini. Bayu adalah tipe pria nekat yang bermain halus.
Bayu tertawa kecil. "Ibu kamu memang begitu. Sangat antusias, tapi... ya namanya orang tua."
Ia mundur selangkah, memberi jalan. "Ya sudah. Saya udah janji tadi nggak akan lama lama. Hati-hati di jalan, Mbak."
Aurel mengambil tas dan paperbag di atas meja. Tanpa basa basi segera keluar lobi menuju area parkir perusahaan.
Sementara itu Bayu masih berdiri tegak dan menatapnya, pria itu hanya melambaikan tangan. Tetap dengan senyum yang sama. Sempurna.
Aurel masuk ke mobilnya, tapi tak lama kemudian terdengar notifikasi pesan. Pesan dari ibunya.
_Sayang, kuenya enak? Bayu emang baik mau nganterin, padahal dari rumah ke kantor jauh banget lho. Besok Ibu bikinin kue yang sama ya?
Aurel menghela napas. Ia menatap ke arah Bayu yang masih berdiri di lobi.
Pagi tadi ia harus menghadapi pria kaya dan kegilaannya. Dan sorenya ia harus menghadapi "pria baik" yang diam diam lebih gila. Hari ini kelelahannya sangat sempurna!