Dikhianati hingga tewas di dunia modern, Anya, seorang CEO jenius ahli strategi investasi, bertransmigrasi ke tubuh Permaisuri Xian—seorang istri kaisar yang lemah, miskin, dan ditindas oleh para selir di istana belakang.
Namun, si licik salah memilih lawan. Jiwa yang baru ini tidak mengenal kata menyerah. Menggunakan ilmu ekonomi modern, Anya mengobrak-abrik Paviliun Logistik, menyikat habis menteri korup, dan membalikkan keadaan hingga para musuhnya gemetar ketakutan!
Di tengah aksi balas dendamnya yang badass, Kaisar Liang yang dingin dan berwibawa justru mulai mendekat, terpikat oleh kepakan sayap sang Ratu yang baru.
"Kau sangat menarik, Xian. Katakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 MENGOBRAK-ABRIK PAVILIUN LOGISTIK
Suasana di sekitar kompleks bangunan Paviliun Logistik Pusat Kekaisaran Han tampak sangat sibuk, bising, dan ramai pagi itu. Puluhan pekerja kasar dan kasim tingkat rendah terlihat sibuk berlarian mengangkat peti-peti kayu besar dari atas kereta kuda yang baru tiba dari luar kota. Bau harum dari buah-buahan segar yang baru dipetik dari kebun khusus kekaisaran, gulungan kain sutra impor berkualitas tinggi dengan berbagai warna cerah yang berkilau di bawah sinar matahari, serta potongan-potongan besar daging sapi segar berjejer rapi di selasar gudang utama. Semua barang mewah dan segar itu diberi label tanda khusus yang ditulis dengan tinta merah: Untuk Dikirim Segera ke Istana Anggrek Milik Selir Agung Cui.
Di dalam ruangan utama paviliun yang luas dan hangat karena perapian batu bara premium yang menyala terang, Kasim Sun—seorang pria paruh baya bertubuh sangat tambun dengan pakaian jubah kasim dari kain sutra mahal yang longgar—sedang duduk bersandar santai di atas sebuah kursi malas yang dilapisi kulit harimau. Tangan kanannya yang dihiasi beberapa cincin giok memegang sebuah cangkir giok berisi teh salju yang sangat mahal harganya, sementara mulutnya sibuk mengunyah buah anggur tanpa biji yang telah dikupas kulitnya oleh seorang pelayan pribadi yang berlutut di sampingnya. Wajahnya yang gemuk tampak sangat puas dan serakah, membayangkan keuntungan finansial besar yang didapatnya dari hasil manipulasi anggaran logistik istana belakang pada bulan ini.
Braakk!!!
Suara hantaman yang sangat keras dan memekakkan telinga tiba-tiba mengejutkan semua orang yang berada di dalam maupun di luar paviliun tersebut. Pintu gerbang kayu ek tebal berlapis besi yang menjadi pembatas utama Paviliun Logistik mendadak ditendang terbuka dari luar dengan kekuatan yang begitu besar hingga salah satu engsel besi bagian atasnya terlepas dari dinding batu dan membentur lantai batu hingga hancur berantakan menjadi serpihan kecil.
Kasim Sun langsung tersedak buah anggur yang sedang dikunyahnya, terbatuk-batuk hebat hingga cairan teh salju mahal di cangkirnya tumpah membasahi pakaian jubah sutra mewahnya. Dia berdiri dari kursi malasnya dengan amarah yang meledak-ledak seketika, wajahnya yang gemuk dan penuh lemak memerah padam karena merasa otoritasnya dilecehkan. "Siapa! Siapa bajingan yang berani mencari mati dengan merusak pintu utama Paviliun Logistik milikku?! Penjaga! Tangkap dan patahkan kaki mereka sekarang juga!" teriaknya dengan suara melengking tinggi yang dipenuhi kemurkaan.
Namun, kalimat makian dan perintah kejam berikutnya mendadak tercekat di tenggorokan Kasim Sun yang besar. Seluruh pekerja kasar, kasim rendah, bahkan para penjaga bersenjata di paviliun itu langsung menjatuhkan diri berlutut dengan tubuh yang gemetar hebat di atas lantai ketika mereka melihat dengan jelas siapa sosok yang melangkah masuk melintasi puing-puing pintu kayu yang hancur berantakan tersebut.
Permaisuri Xian—tidak, jiwa Anya yang berada di dalam tubuh itu—melangkah masuk dengan ritme kaki yang sangat anggun namun tegas. Jubah luar berwarna merah marun dengan sulaman burung Phoenix emas yang dikenakannya berkibar pelan tertiup angin musim gugur yang masuk lewat pintu hancur, menciptakan kontras yang luar biasa dengan wajahnya yang seputih porselen namun memiliki ekspresi sedingin es kutub. Di belakangnya, Qiu Er dan Kasim Wang berjalan mendampingi dengan dada membusung tegak lurus, tidak ada lagi gurat ketakutan atau inferioritas di wajah mereka berdua karena mereka tahu siapa yang memimpin mereka saat ini.
"P-Permaisuri Xian?" Kasim Sun tergagap di tempatnya berdiri, sepasang mata sipitnya yang tertutup lemak membelalak tidak percaya melihat kehadiran wanita yang biasanya selalu mengurung diri sambil menangis ketakutan di istana terasing itu. Namun, mengingat bahwa dirinya memiliki dukungan politik penuh dari Selir Agung Cui dan klan keluarga besarnya yang berkuasa di pemerintahan, Kasim Sun segera menguasai rasa terkejutnya. Dia tidak memberikan salam formal berupa berlutut bersujud sebagaimana aturan hukum kekaisaran terhadap seorang Permaisuri, melainkan hanya membungkukkan tubuh tambunnya sedikit dengan gerakan yang sangat malas, tidak hormat, dan meremehkan.
"Ada angin kencang apa yang membawa Yang Mulia Permaisuri Xian mendatangi tempat kotor dan sibuk ini pagi-pagi sekali? Jika Anda datang ke sini hanya untuk meminta atau mengemis tambahan jatah makanan instan, maaf sekali, bulan ini distribusi barang sedang sangat seret dan mengalami penundaan karena prioritas kebutuhan mendesak kas negara untuk pasukan di perbatasan utara," ucap Kasim Sun dengan nada suara yang meremehkan.
"Seret dan mengalami penundaan karena prioritas negara?" Anya berjalan perlahan dengan langkah kaki yang teratur mendekati deretan peti-peti kayu besar yang berada di tengah ruangan paviliun. Jari-jemarinya yang lentik menyentuh permukaan kain sutra brokat yang sangat halus dan mahal, lalu beralih menatap potongan-potongan besar daging sapi segar di sampingnya. "Lalu apa yang kulihat di depan mataku saat ini, Kasim Sun? Apakah Selir Agung Cui memakan lusinan peti daging sapi segar ini sendirian dan mengenakan ratusan gulung kain sutra impor ini sekaligus dalam satu bulan hingga jatah anggaran operasional resmi milik Permaisuri sah harus dialihkan seluruhnya ke istananya tanpa tersisa?"
Kasim Sun mendengus sinis, sebuah senyuman meremehkan yang sangat menyebalkan terukir di wajah tambunnya yang berminyak. "Yang Mulia Selir Agung Cui saat ini sedang mengandung calon keturunan baru dan sangat disayang oleh Baginda Kaisar Liang yang agung. Sangat wajar dan legal jika seluruh fasilitas serta logistik yang diterimanya harus merupakan kualitas nomor satu demi kesehatan calon pangeran kekaisaran. Anda sebagai Permaisuri segeranya memahami posisi politik Anda yang sudah tidak berharga itu dan tidak perlu mencampuri urusan manajemen logistik istana belakang yang sangat rumit ini. Anda tidak akan pernah mengerti hal ini karena Anda bodoh."
"Rumit? Bagiku sistem pencatatanmu ini terlalu amatir, bodoh, dan menjijikkan," Anya terkekeh pelan, sebuah suara tawa yang terdengar sangat dingin, penuh percaya diri, dan meremehkan yang membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu berdiri.
Anya berjalan lurus mendekati meja kerja kayu besar milik Kasim Sun. Tanpa meminta izin atau memedulikan tatapan marah dari kasim tambun itu, Anya mengambil sebuah kuas tinta baru yang berada di atas tatakan giok dan menarik selembar kertas kosong berukuran besar yang bersih. Dengan kecepatan, ketepatan, dan fokus luar biasa yang biasa dilakukannya di ruang rapat direksi korporat dunia modern, tangan kanan Anya bergerak sangat lincah menuliskan bagan akuntansi modern, rumus arus kas (cash flow), serta perhitungan selisih kuantitas barang yang masuk serta keluar dari Paviliun Logistik selama tiga bulan terakhir berdasarkan ingatan fotografisnya dari buku kas tipis Istana Phoenix yang dibacanya tadi.
Plak!
Anya melemparkan selembar kertas besar yang kini dipenuhi oleh coretan angka, bagan akurat, dan grafik efisiensi modern itu tepat ke atas wajah lemak Kasim Sun. Kertas itu jatuh di atas meja kerjanya, memperlihatkan hasil akhir perhitungan angka selisih anggaran yang dilingkari dengan tinta hitam tebal yang sangat mencolok.
"Dalam tiga bulan terakhir ini, terdapat selisih dana operasional sebesar lima ribu tian perak dari total anggaran resmi istana belakang yang hilang tanpa jejak dari pembukuan negara. Kau sengaja memalsukan kertas tanda terima barang dari para pedagang luar kota, menggelembungkan harga pasar arang musim dingin sebesar empat puluh persen dari harga asli yang berada di pasaran, dan menyelundupkan sebagian besar kain sutra pasokan resmi istana untuk dijual kembali di pasar gelap ibu kota melalui jalur barat," ucap Anya dengan nada suara yang sangat rendah, tenang, namun sarat akan intimidasi mematikan yang seketika menekan pasokan oksigen di ruangan itu.
Wajah Kasim Sun yang tadinya kemerahan karena amarah yang meluap-luap seketika berubah menjadi pucat pasi seperti wajah mayat yang sudah membusuk. Keringat dingin berukuran besar mulai bercucuran deras dari dahi dan pelipisnya yang berlemak, membasahi kerah baju sutra mahalnya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin wanita yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sosok yang sangat bodoh, kuper, penakut, dan tidak berpendidikan ini bisa mengetahui detail angka-angka keuangan rahasia sedalam, sedetail, dan seakurat itu? Bahkan menteri audit kerajaan yang paling berpengalaman sekalipun butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa menemukan celah korupsinya ini!
"An-Anda memfitnah saya! Ini adalah tuduhan palsu tanpa adanya bukti fisik yang sah! Saya bisa melaporkan tindakan semena-mena dan kekerasan Permaisuri ini langsung kepada Selir Agung Cui dan Baginda Kaisar Liang hari ini juga!" ancam Kasim Sun dengan suara yang mulai gemetar hebat, mencoba menggertak balik dengan menggunakan nama besar sekutunya.
"Laporkan saja kepada siapa pun yang kau mau, aku sama sekali tidak peduli," potong Anya dengan ketenangan yang sangat mematikan. Dia menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja kerja kayu Kasim Sun, mencondongkan tubuh fisiknya ke depan hingga sepasang mata indahnya yang sedingin jurang es menatap lurus ke dalam manik mata Kasim Sun yang sedang ketakutan. "Namun, sebelum langkah kaki pendekmu yang gemuk itu sempat melangkah keluar mencapai pintu gerbang Istana Anggrek milik selirmu itu, aku akan memastikan Kepala Penjaga Kekaisaran membongkar habis gudang penyimpanan rahasia pribadimu yang berada di Distrik Barat Kota Han. Aku tahu semua detail nomor jalur distribusi ilegalmu, Kasim Sun. Sekarang, kau hanya memiliki dua pilihan sederhana di depan mataku: serahkan seluruh kunci emas otoritas gudang utama paviliun ini kepadaku sekarang juga tanpa syarat, atau kau akan mati dengan cara yang sangat mengenaskan di lapangan eksekusi luar atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi dan korupsi dana operasional kekaisaran Han."