NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 12

Sementara itu, Arya dan Jaya sudah sampai di sebuah tanah lapang yang tidak terlalu luas dan dikelilingi dinding bata. Jaya langsung meninggalkan Arya, setelah memberi perintah kepada seorang prajurit untuk menjaga pintu.

Selepas memandang kepergian Jaya yang menghilang di balik pintu, Arya mengambil kitab yang dia sembunyikan di balik pakaian.

Sebenarnya dia masih belum bisa percaya ada kejadian yang berada di alam mimpi tapi bisa menjadi nyata. Tapi kemudian dia teringat jika ayahnya pernah berkata, selama berkecimpung di dunia kependekaran, berbagai kejadian yang berbau ghaib seringkali bisa menjadi nyata, karena memang ghaib itu sejatinya ada dan hanya berbeda alam.

Dalam kitab tersebut, tercatat ada 3 jurus yang kesemuanya menggunakan Cambuk Api sebagai senjatanya. Cambuk Api Pemusnah Iblis, Cambuk Inti Api Neraka dan Pedang Cambuk Api.

Membaca nama jurus yang ketiga, Arya sedikit mengerutkan dahinya. Rasa penasaran mendorongnya untuk membuka bab tentang jurus ketiga tersebut.

Dalam penjelasannya, Jurus Pedang Cambuk Api bisa berfungsi untuk pertarungan jarak pendek maupun jarak jauh. Selain itu, untuk menguasai jurus tersebut harus menguasai dua jurus yang lainnya terlebih dahulu.

Arya membuka kembali halaman pertama. Pemuda itu mengangguk-angguk berusaha memahami setiap kalimat yang tertulis di dalam kitab Cambuk Api dan menyimpannya di dalam memori pikirannya.

Sama dengan Ranu, Arya pun memiliki ingatan yang kuat. Jadi bukan sesuatu yang sulit untuk menghalalkan isi di dalam kitab tersebut.

Setelah beberapa saat menghapalkan setiap gerakan jurus pertama, Cambuk Api Pemusnah Iblis, Arya bangkit berdiri dan berkonsentrasi mengingat gerakan yang sudah dihapalkannya.

Sementara itu, Jaya dengan tergopoh-gopoh memasuki aula untuk mengikuti rapat khusus yang diadakan Raja Gajayana, terkait turnamen yang akan diadakan kurang dari 3 bulan ke depan. Di dalam aula tersebut, semua pejabat sudah menduduki tempat duduknya masing-masing dan hanya tinggal Jaya seorang saja yang datangnya telat.

Setelah Raja Gajayana membuka rapat, penguasa kerajaan Kanjuruhan itu memberi kesempatan kepada para pejabatnya untuk memberi masukan, agar turnamen yang akan diselenggarakan nanti bisa berjalan lancar.

Pada kesempatan itu juga, Jaya tidak memberi masukan apapun terkait jalannya turnamen, tapi usulannya membuat para pejabat lain bertanya-tanya, termasuk Raja Gajayana sendiri.

"Mohon maaf, Paduka. Hamba sebenarnya sudah punya calon kuat untuk menempati posisi wakil Senopati yang lowong. Tapi jika dilihat dari kemampuan ilmu kanuragannya, hamba rasa jabatan wakil Senopati terlalu rendah buatnya, Paduka. Dia lebih pantas menjadi Senopati atau bahkan Patih di kerajaan kita. Tapi hamba tidak tahu dia mau atau tidak mengabdi di istana."

Dua orang pejabat langsung berdiri tidak terima, "Apa maksudmu, Jaya!?" bentak seorang lelaki berbadan tegap.

"Apa maksudmu bicara seperti itu, Jaya? Apa kau tidak suka dengan kami berdua?" sahut lelaki satunya.

Jaya tidak menanggapi emosi mereka berdua. Dia tetap tenang dan tersenyum kepada kedua lelaki tersebut. "Bukan maksudku seperti itu, Tuan Patih, Tuan Senopati. Aku tidak memiliki sedikitpun rasa tidak suka kepada kalian berdua. Apa salahnya aku memberi usulan seperti itu? Bahkan jika calonku itu mau mengambil jabatanku, aku akan memberikannya secara sukarela. Semua yang aku lakukan demi kerajaan Kanjuruhan ini ke depannya."

Raja Gajayana tertarik dengan usulan Jaya, bukan dalam artian mengganti posisi Senopati dan Patih, melainkan ingin tahu siapa calon yang dimaksud pejabatnya itu.

"Tapi kenapa kau menyebut jabatan kami berdua jika kau tidak memiliki rasa iri kepada kami?" kata Senopati Mandala.

"Benar apa yang diucapkan Senopati Mandala, Jaya. Sekarang katakan alasannya kenapa kau menyebut jabatan kami dan tidak menyebut jabatan lainnya sebagai perumpamaan?" tanya Patih Mahasura.

"Bukannya aku sudah bilang kepada kalian, jikalaupun jabatanku sebagai penasihat Paduka diminta olehnya, akan aku berikan dengan sukarela. Tapi jabatan penasihat tentu lebih mengandalkan otak dari pada otot, bukan? Karena dia masih muda dan memiliki ilmu kanuragan tinggi, maka jabatan kalian yang aku gunakan sebagai perumpamaan."

"Apa aku tidak salah dengar Jaya, kau bilang dia masih muda? Apa kau berniat memperolok-olok dan membandingkan kekuatan kami dengan seorang anak muda?" Patih Mahasura terlihat begitu emosional.

"Bukannya aku meremehkan kekuatan kalian berdua. Tapi menurutku kekuatan ilmu kanuragan pemuda itu masih di atas kalian berdua, bahkan jika ilmu kanuragan kalian digabung, aku yakin kalian tidak akan bisa mengalahkannya," sahut Jaya.

"Jaga bicaramu, Jaya! Aku sudah mengabdi kepada kerajaan Kanjuruhan ini selama puluhan tahun dan terjun dalam perang antar kerajaan belasan kali. Bagaimana mungkin kau bisa membandingkan kemampuan ilmu kanuraganku dengan seorang anak muda?"

Raja Gajayana membiarkan perdebatan yang terjadi di antara para bawahannya. Dia masih penasaran dengan sosok yang diajukan penasihat istana untuk menjadi wakil Senopati. Keyakinan yang dimiliki Jaya tentu memiliki alasan yang kuat dan tidak sekedar saja.

"Apa kau pernah mendengar ketua perguruan Topeng Sesat yang bernama Nyi Asih atau biasa disebut pendekar Lembah Ular, Tuan Patih?"

"Jelas sekali aku pernah mendengar tentang ketua perguruan aliran hitam itu. Lalu apa hubungannya dengan anak muda yang kau maksud?" jawab Patih Mahasura sekaligus bertanya.

"Kalau kau bertarung dengan Nyi Asih, berapa persen kemungkinan kau akan menang?"

Patih Mahasura diam seketika. Kalaupun dia menjawab bisa menang melawan Nyi Asih dalam sebuah pertarungan, tentu tidak akan ada yang percaya dengan ucapannya. Tapi jika dia tidak menjawab, maka sudah jelas dia mengakui jika kemungkinan untuknya menang sangat tipis.

"Bagaimana denganmu, Senopati ... kalau kau bertarung melawan Nyi Asih, apa kau yakin akan bisa menang?"

Senopati Mandala pun ikut terdiam. Dia sadar jika tidak akan mungkin menang melawan ketua perguruan Topeng Sesat itu.

Jaya tersenyum tipis tapi tidak bermaksud memberi hinaan. "Sekarang sudah jelas bukan jika kalian tidak akan bisa menang jika bertarung melawan Nyi Asih. Itu berarti kemampuan kalian masih dibawah anak muda yang aku maksudkan tadi. Sebab aku dan anak buahku melihat dengan mata terbuka jika Nyi Asih mati di tangan anak muda itu."

Suasana di dalam aula hening seketika. Suara-suara sumbang yang tadi terdengar kini seolah lenyap terbawa angin.

Patih Mahasura dan Senopati Mandala masih belum bisa percaya dengan apa yang diucapkan Jaya. Tapi mereka juga tidak berani untuk membantah, jika saksi yang melihat anak muda itu membunuh Nyi Asih bukan hanya Jaya seorang.

Raja Gajayana tersenyum lebar. Dia sudah membayangkan jika akan memiliki seorang pejabat yang mempunyai kemampuan ilmu kanuragan tinggi. Pandangannya tertuju kepada Jaya yang tampak begitu percaya diri dengan ucapannya.

"Sekarang katakan padaku di mana anak muda itu berada, Jaya? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya."

"Mohon maaf, Paduka. Dia sudah ada di dalam istana ini sejak kemarin. Hamba kemarin membawanya ke sini setelah anak muda itu menyelamatkan hamba dari anggota perguruan Topeng Sesat."

"Benarkah? Kalau begitu cepat panggil dia kemari!" Mata Raja Gajayana berbinar-binar gembira.

"Mohon maaf, Paduka. Tapi dia sekarang sedang berlatih. Dia tadi berpesan agar tidak ada yang mengganggu latihannya. Jika Paduka berkenan, biar nanti saja hamba akan membawanya untuk menemui Paduka."

Walau sedikit kecewa, Raja Gajayana tetap menganggukkan kepalanya menyetujui usulan Jaya.

Jam demi jam berlalu begitu cepat. Menjelang sore hari, Arya menyudahi latihannya. Dia masih disulitkan untuk mengendalikan Cambuk Api yang memang butuh waktu dan proses cukup panjang untuk menguasainya.

Secara bersamaan, Jaya memasuki tempat latihan Arya. Pemuda berambut kemerahan itu tersenyum lebar melihat kedatangan Jaya.

"Apa kau sudah selesai berlatih, Arya?" tanya Jaya.

"Sudah, Paman," jawab Arya, lalu mematahkan lehernya ke kanan dan kiri untuk melemaskan rasa kaku di urat dan tulang.

"Kalau begitu sekarang ikutlah denganku. Aku akan mengajakmu menemui Paduka Raja."

Arya mengernyit. Sungguh dia tidak menduga jika Jaya bakal mempertemukannya dengan seorang raja. Bukan karena tidak mau, tapi lebih kepada sadar diri. Dia sadar kalau statusnya hanya rakyat jelata dan mana pantas untuk bertemu seorang penguasa sebuah kerajaan

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!