NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:739
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Rumah Orang Asing

"Si... siapa kau?!" tanya Elara dengan suara bergetar.

Ia melangkah mundur satu demi satu untuk menjaga jarak aman.

Dari balik kegelapan tudung jubah yang menutupi wajah pria asing itu, Elara dapat melihat dengan jelas sepasang kilatan mata berwarna merah darah yang berpijar tajam—seperti sepasang permata rubi yang mematikan.

"Menjauh dariku! Jangan dekat-dekat!" gertak Elara, mencoba bersikap tangguh meski seluruh tubuhnya kini sudah lemas tak berdaya.

Pria itu menurunkan tudung jubahnya secara perlahan. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah dedaunan, tampaklah garis wajahnya yang teramat rupawan sekaligus tegas.

Dia adalah Justin Salvatore, sang Raja Vampir baru yang menggantikan takhta ayahnya.

"Tenanglah, aku tidak akan melukaimu," ucap Justin dengan nada suara sedingin es, namun memiliki wibawa yang mutlak.

"Aku adalah putra dari Jacob Salvatore, penguasa klan Vampir. Apa yang dilakukan gadis sepertimu di teritori kami? Tidak baik berkeliaran di tengah hutan berbahaya seperti ini pada malam hari. Pulanglah."

Dahi Elara berkerut dalam, menatap lurus pada pahatan wajah Justin yang nyaris tanpa cela. Untuk sesaat, sang Siren tampak sedikit terpesona oleh karisma dingin yang dipancarkan oleh pria di hadapannya. Namun, ia buru-buru menguasai diri.

"Tapi, Tuan... aku tidak memiliki tempat tujuan untuk pulang," jawab Elara dengan nada yang sengaja dibuat lemah lembut, memancing simpati. "Dan... apakah Anda yang baru saja melenyapkan semua monster menyeramkan tadi?"

"Benar," jawab Justin singkat tanpa berniat memperpanjang obrolan. "Aku harus kembali ke kastil. Pastikan kau segera pergi menjauh dari tempat ini."

Setelah melesatkan kata-kata tersebut, Justin melengos pergi. Tubuhnya berkelebat dan langsung melesat maju secepat kilat, meninggalkan pusaran debu hutan yang berterbangan di belakangnya. Kecepatannya sebagai Vampir murni benar-benar berada di tingkat yang berbeda.

Elara menatap lurus ke arah kegelapan tempat Justin baru saja menghilang. Seringai tipis yang sarat akan kelicikan perlahan terukir di bibirnya.

'Jika dia adalah anak dari Raja Jacob, berarti pria barusan... adalah Justin Salvatore. Suami dari Moana Nixie,' batin Elara dengan binar mata yang berkilat berbahaya.

Rasa sakit di kakinya seketika terlupakan oleh euforia rencana besar yang membara di dadanya. 'Ini benar-benar keberuntungan yang luar biasa untukku. Sekarang, aku sudah tahu bagaimana rupa targetku. Tunggu saja, Moana... kebahagiaan rumah tanggamu tidak akan bertahan lama.'

****

Satu jam berlalu, Elara yang kini hanya bisa mengandalkan insting bertahan hidupnya yang tersisa, akhirnya berhasil mencapai pinggiran sebuah pemukiman penduduk.

Kondisi tubuhnya sudah lemas bukan main, digerogoti rasa lapar dan keletihan yang teramat sangat. Kedua kaki barunya benar-benar terluka parah. Bahkan, di sepanjang jalur tanah yang baru saja ia lewati, jejak darah segar tampak menetes dan berceceran dari telapak kakinya yang hancur tergores bebatuan tajam hutan.

Begitu sepasang matanya yang mulai buram menangkap siluet salah satu rumah warga di depannya, pertahanan Elara runtuh. Ia ambruk, menjatuhkan tubuh ringkihnya begitu saja di atas tanah halaman rumah tersebut. Kesadaran sang Siren seketika terenggut, membawanya pingsan tak sadarkan diri di bawah dinginnya sisa malam.

Keesokan paginya, seberkas cahaya matahari yang hangat memaksa Elara untuk membuka mata. Ia mengerjapkan kelopak matanya yang terasa berat, lalu menatap linglung pada langit-langit kayu sebuah ruangan yang terasa sangat asing.

Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, ia menyadari bahwa dirinya kini tengah berbaring di atas sebuah ranjang di dalam kamar sebuah rumah.

Tempat ini tak lain adalah rumah yang semalam menjadi saksi bisu saat tubuhnya ambruk tak berdaya di area halaman.

"Tempat apa ini?" gumam Elara dengan suara parau.

Jemari lentiknya bergerak perlahan meraba kelembutan seprai dan pinggiran kasur busa yang ditempatinya. Sentuhan tekstur kain itu terasa sangat ganjil di kulitnya.

Seumur hidupnya, ia hanya mengenal kerasnya dinding batu gua bawah laut tempatnya bertumbuh besar. Tragisnya lagi, belasan tahun sisa hidupnya dihabiskan dengan mendekam di dalam sel penjara bawah air Abyssal Trench yang dingin, pengap, dan tentu saja tidak pernah menyediakan fasilitas kasur empuk seperti di dunia manusia fana ini.

CKLEK!

Belum sempat rasa bingung dan kewaspadaannya mereda, suara gagang pintu yang ditekan seketika memecah keheningan.

Pintu kamar tersebut terbuka perlahan. Sesosok wanita paruh baya bertubuh gempal melangkah masuk. Penampilannya tampak mencolok dengan dandanan bedak dan gincu merah yang sedikit menor. Di kedua tangannya, wanita itu membawa sebuah nampan kayu yang menyajikan segelas susu hangat dan semangkuk sup daging yang masih mengepulkan aroma gurih.

"Kau sudah bangun, Gadis Cantik?" tanya wanita itu dengan ramah, menyunggingkan senyum lebar yang membuat lipatan di pipinya semakin jelas. Ia berjalan menghampiri ranjang, lalu meletakkan nampan bawaannya di atas meja nakas tepat di samping tempat tidur Elara.

"Anda siapa? Dan di mana aku sekarang?" tanya Elara beruntun.

Ia langsung menarik tubuhnya untuk duduk tegak di atas ranjang. Sepasang matanya menatap wanita di depannya dengan sorot waspada yang kentara. Traumanya akibat teror mengerikan dari kaum Ghoul semalam masih membekas nyata, membuatnya tidak ingin menurunkan pertahanan sedikit pun.

Wanita paruh baya itu tetap mempertahankan senyum ramahnya. Ia mengulurkan tangan kanan yang setiap jemarinya dihiasi oleh cincin-cincin berlian yang berkilau mewah ke hadapan Elara.

"Perkenalkan, aku adalah Madam Jane. Pemilik dari rumah tempatmu menumpang tidur ini."

Elara menatap telapak tangan yang berkilauan itu dengan ragu. Setelah terdiam cukup lama untuk memastikan tidak ada niat busuk, ia akhirnya menyambut uluran tersebut dan menjabatnya pelan. "Saya... Elara, Madam. Jadi, ini adalah kediaman Anda?"

Elara bertanya sembari buru-buru melepaskan jabatannya. Sepasang matanya kembali bergerak, mengamati setiap sudut dekorasi kamar dengan saksama untuk mencari tahu jenis tempat seperti apa yang sedang ia tinggali saat ini.

"Betul sekali, Cantik," sahut Madam Jane dengan nada suara yang terdengar ceria. "Semalam aku menemukanmu terjerembap di halaman dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Tubuhmu demam tinggi dan penuh luka. Aku bahkan harus memanggil dokter pribadi klan untuk mengobati kakimu yang hancur itu."

Elara mengangguk samar. Pandangannya seketika tertuju ke arah bawah, menatap kedua telapak kakinya yang kini telah terbalut rapi oleh kain perban putih bersih. Rasa nyeri yang menyiksa semalam pun kini sudah jauh mereda.

Tidak hanya itu, ia baru menyadari jika kemeja putih longgar milik Edgard yang semalam ia kenakan kini telah berganti. Tubuhnya sekarang terbalut sepotong gaun mini berwarna hitam tanpa lengan di atas lutut yang tampak sangat cantik dan pas melekat di lekuk tubuh ringkihnya.

"Terima kasih, Madam. Mungkin jika Anda tidak menyelamatkanku semalam, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi pada nasibku saat ini," ucap Elara dengan nada suara yang penuh haru dan rasa syukur.

Madam Jane tersenyum manis, lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus lembut lengan Elara, mencoba memberikan kenyamanan palsu. "Mana mungkin aku tega membiarkan gadis secantik dirimu tergeletak tak berdaya begitu saja di halaman rumahku? Itu bisa menjadi tontonan buruk bagi para tetangga yang lewat. Ngomong-ngomong, dari mana sebenarnya kau berasal, Cantik? Kenapa kau bisa berakhir mengenaskan di halaman rumahku dengan sepasang kaki yang terluka parah seperti itu?"

"Saya berasal dari Kota Blue Waves," jawab Elara, terpaksa mengatakan kota tempat asalnya dan tidak memberitahu jika ia sebenarnya tinggal di dalam lautan agar identitas aslinya sebagai buronan lautan tetap aman.

"Saya sebenarnya tersesat dan tidak memiliki tempat tujuan lagi di wilayah ini. Bahkan... saya tidak memiliki apa-apa lagi sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!