NovelToon NovelToon
ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 29

"Libur?" aku tertawa kecil, meski dalam hati setuju. "CFO paling disiplin di Jakarta akhirnya mau cuti juga?"

Dina mencubit lenganku pelan. "Bukan cuti, Raka. Ini namanya 'pengujian sistem'. Kalau pemiliknya nggak ada dan bisnisnya ambruk, berarti kita belum sukses membangun sistem, kita cuma membangun penjara baru."

Dia mematikan layar tabletnya, memasukkannya ke dalam tas kulit kerjanya. "Lagi pula, aku sudah mengatur agar semua laporan harian masuk ke ponselmu setiap jam 8 malam. Jadi, kamu tetap bisa memantau sambil makan bakso di pinggir jalan Jawa Tengah nanti."

Aku menggelengkan kepala, kagum dengan ketelitiannya. Kami berjalan meninggalkan gerai Sudirman yang masih ramai, menuju mobil. Saat aku membukakan pintu untuknya, aku melihat raut wajah Dina yang benar-benar tenang—bukan tenang karena menang, tapi tenang karena tuntas.

"Raka," panggilnya sebelum masuk ke mobil.

"Ya?"

"Terima kasih," katanya tulus. "Terima kasih karena sepuluh tahun lalu kamu tidak memilih untuk lari. Terima kasih karena sudah menjadi laki-laki yang lebih besar daripada masalahnya. Kalau dulu kamu menyerah pada Om Pras, hari ini mungkin aku cuma jadi auditor di perusahaan orang lain, dan Ma... aku nggak berani membayangkan nasib Ma."

Aku menggenggam tangannya di atas pintu mobil. "Kita nggak berutang pada masa lalu lagi, Din. Kita sudah bayar lunas. Semuanya."

Malam itu, ruko tiga lantai kami kembali sunyi, tapi suasananya hangat. Di lantai dua, para staf sudah pulang, meninggalkan aroma rempah yang samar dan menyenangkan. Di lantai tiga, Arka sedang sibuk mengepak baju untuk perjalanan besok, sementara Ma sedang memeriksa kembali bekal kue-kue kecilnya di dapur.

Aku dan Dina berdiri di balkon lantai tiga, melihat lampu kota yang sama dengan malam saat aku melamarnya.

"Din," bisikku. "Dapur Ma Express sudah jalan. Ma sudah bahagia. Arka punya masa depan. Sekarang, tinggal satu proyek yang belum kita kerjakan."

Dina menoleh, matanya berbinar di bawah pendar lampu balkon. "Proyek apa lagi? Mau buka cabang di Bali?"

"Bukan," jawabku sambil tersenyum, lalu merangkul pinggangnya. "Proyek membangun 'koki kecil' yang nanti akan memanggilmu 'Ibu' dan memanggil Ma dengan sebutan 'Oma'. Bagaimana kalau kita mulai bahas itu di sepanjang perjalanan pengajian besok?"

Dina tertawa renyah, wajahnya memerah, namun dia tidak menolak. Dia justru menyandarkan kepalanya di dadaku, membiarkan suara detak jantungku menjadi musik penutup hari yang panjang itu.

"Setuju," bisiknya. "Tapi jangan harap aku akan memberikan toleransi kalau dia nanti merusak laporan keuanganku."

Kami tertawa bersama di bawah langit Jakarta. Dapur Ma bukan lagi sekadar tempat memasak; ia telah menjadi monumen bahwa cinta yang logis dan kerja keras yang punya jiwa bisa meruntuhkan benteng trauma apa pun.

"Koki kecil, ya?" Dina mengulang kalimatku sambil memutar-mutar cincin di jarinya. "Raka, kamu tahu kan kalau itu artinya aku harus menyiapkan dana pendidikan endowment sejak trimester pertama? Dan SOP pengasuhan yang tidak boleh bocor?"

Aku tertawa, benar-benar tidak bisa lepas dari sisi CFO-nya bahkan di saat romantis begini. "Tentu saja. Aku sudah menebak kamu akan bicara soal dana pendidikan sebelum kita bicara soal nama bayi."

Dina tersenyum, lalu menatap ke arah pintu lift yang tertutup. "Tapi jujur, Raka... membayangkan ada suara anak kecil yang berlarian di lorong ruko ini, atau di rumah baru kita nanti, rasanya seperti... melengkapi potongan puzzle yang selama ini hilang. Aku ingin dia tumbuh tanpa pernah tahu rasanya takut pada ketukan pintu penagih hutang."

"Dia hanya akan tahu aroma rendang dan cerita tentang betapa hebatnya ibunya mengelola angka," balasku sambil mengecup keningnya.

Tiba-tiba, pintu lift berdenting terbuka. Arka muncul dengan wajah panik, memegang botol kecap besar di tangan kirinya dan ponsel di tangan kanannya.

"Mas Raka! Mbak Dina! Gawat!" serunya.

Aku dan Dina langsung siaga. "Ada apa, Ka? Om Pras datang lagi? Atau sistem hologram kita kena hack?" tanya Dina cepat.

Arka menggeleng kuat-kuat. "Bukan! Ini... ini Ma! Ma baru saja posting video di TikTok pakai akun 'Dapur Ma Official' yang aku buatkan kemarin. Dia videoin pisang gorengnya, terus dia bilang 'Siapa mau resep rahasia Ma? Like dan Share ya!'. Mas, videonya sudah ditonton seratus ribu orang dalam satu jam! Komentarnya ribuan, semua minta resep!"

Dina hampir tersedak ludahnya sendiri. "Apa?! Resep rahasia? Itu rahasia dagang kita, Ka!"

Aku tertegun sejenak, lalu tawa bahagiaku pecah memenuhi balkon. Aku terduduk di kursi lipat sambil memegangi perut.

"Kenapa kamu malah tertawa, Raka?" Dina melotot, meski sudut bibirnya mulai berkedut menahan tawa juga. "Itu intellectual property kita!"

"Din," kataku di sela tawa. "Biarkan saja. Ma sedang menikmati hidupnya. Biar dia bagikan resep pisang gorengnya. Itu tidak akan menghancurkan Dapur Ma Express. Justru itu yang namanya marketing organik paling jujur di dunia. Orang tidak akan bisa meniru 'tangan' Ma meskipun tahu resepnya."

Dina akhirnya menyerah, dia ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Oke, oke. Kurasa aku harus memasukkan variabel 'Konten Kreator Ibu-Ibu' ke dalam risiko bisnis kita bulan depan."

Arka ikut nyengir. "Terus ini balasan komentarnya gimana, Mbak? Banyak yang tanya kapan buka cabang di Bandung dan Surabaya."

Dina mengambil ponsel dari tangan Arka, matanya kembali berkilat tajam—kali ini dengan ambisi baru yang lebih menyenangkan.

"Balas begini, Ka: 'Doakan saja, Ma sedang fokus senam dan pengajian dulu. Tapi kalau mau rasa yang sama, klik link di bio untuk order Rice Bowl Express kami.'"

Dina menatapku, memberikan kedipan mata yang nakal. "Ternyata benar katamu, Raka. Membangun masa depan yang 'membosankan' ternyata bisa seseru ini."

Malam itu, di bawah langit Jakarta yang tidak lagi terasa menekan, kami bertiga masuk kembali ke dalam ruko. Menutup pintu, mengunci trauma, dan bersiap untuk perjalanan panjang esok hari—bukan untuk bertempur, tapi untuk merayakan kemenangan yang paling hakiki: Menjadi keluarga yang utuh.

"Bandung dan Surabaya, ya?" gumamku sambil mengikuti Dina masuk ke ruang kerja. "Padahal kita baru saja mau napas sebentar di pengajian besok."

Dina meletakkan ponsel Arka, lalu duduk di kursi kebesarannya. "Justru itu poinnya, Raka. Kita pakai model 'Lisensi Terkendali'. Kita tidak perlu bangun ruko sendiri di sana. Kita cari mitra di Bandung yang punya standar dapur tinggi, kita kirim bumbu inti dari sini, dan kita pakai nama 'Dapur Ma'. Ma tetap jadi wajahnya, tapi sistem kita yang jadi otaknya."

"Dan ibu-ibu di Academy?" tanyaku.

"Mereka jadi Supervisior Produksi," jawab Dina cepat, matanya berbinar memetakan struktur organisasi baru. "Mereka sudah ahli. Mereka bisa keliling Indonesia untuk melatih staf di cabang baru. Mereka naik kelas, Raka. Dari buruh masak menjadi pelatih bersertifikat. Itulah pemberdayaan yang sebenarnya."

Aku bersandar di bingkai pintu, menatap dua orang yang paling kucintai di dunia ini. Arka yang sibuk membalas komentar netizen dengan semangat, dan Dina yang sedang asyik mencoret-coret rencana ekspansi.

"Tahu nggak, Din," kataku pelan. "Dulu aku cuma ingin ruko ini tidak disita. Aku cuma ingin Ma berhenti menangis."

Dina berhenti mencoret, dia menatapku lembut. "Sekarang ruko ini jadi markas besar, dan Ma berhenti menangis karena dia terlalu sibuk jadi selebriti TikTok. Hidup memang lucu, ya?"

"Bukan lucu," sahutku sambil menghampirinya dan mengecup pucuk kepalanya. "Hidup itu adil kalau kita berhenti jadi korban dan mulai jadi sistem."

Dina menutup buku catatannya. "Oke, cukup soal bisnis untuk malam ini. Arka, masuk kamar, tidur! Besok kita berangkat jam 5 subuh. Mas Raka, tolong cek semua kunci pintu dan matikan gas di lantai satu. Aku mau pastikan koper Ma tidak kelebihan beban karena dia pasti nekat bawa sambal satu koper untuk dibagikan di bus."

Aku tertawa, memberikan hormat militer padanya. "Siap, Ibu CFO!"

Saat aku turun ke lantai satu untuk melakukan putaran terakhir, aku melihat Ma sedang duduk di meja makan dapur sentral, sendirian, menatap deretan piala kecil dan sertifikat Academy yang berjejer di dinding.

"Ma?" panggilku.

Ma menoleh, matanya berkaca-kaca tapi bibirnya tersenyum. "Raka... Ma cuma lagi mikir. Kalau saja Bapakmu masih ada, dia pasti bangga lihat kamu dan Dina. Ruko ini... sekarang rasanya bukan lagi seperti benteng untuk sembunyi, tapi seperti rumah yang jendelanya terbuka lebar."

Aku memeluk bahu Ma dari belakang. "Rumah ini nggak akan pernah tertutup lagi, Ma. Besok kita jalan-jalan, ya? Lupakan rendang, lupakan pesanan. Cuma kita."

"Iya, Nak," bisik Ma. "Cuma kita."

Malam itu, lampu Dapur Ma akhirnya padam. Tapi di kegelapan itu, tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada detak jantung sebuah bisnis yang sehat dan napas teratur sebuah keluarga yang akhirnya merdeka.

1
Emen Umakpauny
lanjutkan
Khoerun Nisa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!