Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Rencana
Yumna masih merangkul pundak Bu Indri saat pak Jodi keluar dari rumah itu dengan penuh amarah. Waktu masih tinggal bersama mereka, Yumna tak pernah melihat pak Jodi main tangan pada Bu Indri. Paling mentok hanya membentak. Tapi kali ini Yumna melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana pria itu menampar sang istri. Pria itu selalu terlihat berapi-api ketika sedang main tangan. Yumna tidak heran kalau keseimbangan Bu Indri sampai goyah. Karena Yumna sendiri sudah berulang kali merasakan betapa kuatnya pukulan itu. Ditampar, dipukul, ditendang, dijambak. Semua sudah pernah dia alami. Dan..., dari orang yang sama.
"Duduk dulu." ujar Yumna.
Elbara kemudian mendekati mereka. Tak lama kemudian Bi Nuri datang membawa waslap bersih dan es batu.
"Dikompres dulu." kata bi Nuri.
Saat Yumna hendak mengambil waslap itu, Bu Indri menahan tangannya. Dengan air mata yang sudah menggantung, Bu Indri mengusap pipi Yumna. Dia sendiri tak ingat, entah kapan terakhir kalinya dia melakukan itu pada Yumna.
"Mama sudah jahat sama kamu. Kenapa kamu masih sudi melakukan ini sama mama?" ujarnya.
Yumna tidak membalas.
"Sebaiknya dikompres dulu, pipinya sampai merah begitu." Bu Kartika sedikit merasa ngilu melihatnya.
Yumna pun mengambil kembali waslap yang sudah diisi potongan es batu. Bu Indri tidak bisa berkata-kata, hanya air matanya saja yang terus menetes. Dan Yumna tak tahan melihatnya. Yumna kemudian menoleh pada Elbara.
"Boleh sediakan tempat istirahat?" tanya Yumna.
"Bi Nuri, tolong antar ke kamar tamu." titah Elbara pada bi Nuri yang masih berdiri di samping sofa.
"Baik, tuan." balas bi Nuri.
Yumna kemudian beranjak dari sofa. Bu Indri hendak menahannya, tapi dia urungkan niat itu. Dia tidak ingin membuat suasana hati Yumna memburuk.
"Lihatlah anak yang kamu sia-siakan itu." celetuk Bu Kartika. Ketika Yumna dan Elbara sudah tak terlihat lagi.
Bu Indri tertunduk penuh penyesalan. Dia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri. Selain tak bisa adil, dia bahkan tak pernah mempercayai ucapan Yumna. Dia mengakui kegagalannya menjadi seorang ibu.
"Yang tak pernah sedikitpun kamu pedulikan. Tak pernah sedikitpun kamu percaya padanya. Sekarang, dia masih peduli sama kamu. Bahkan membiarkan kamu berada di sini." tutur Bu Kartika.
"Saya tahu saya salah. Dan kesalahan ini tidak pantas mendapatkan maaf." ujar Bu Indri.
"Bi, bawa ke kamar tamu." titah Bu Kartika.
Bu Kartika pun pergi dari ruang tamu. Meninggalkan Bu Indri dan mantan pembantunya itu.
"Mari, Bu..." kata bi Nuri.
Bu Indri menurut saja. Dia pergi mengikuti langkah si bibi, menuju ke kamar tamu. Tidak perlu dibersihkan dan dirapikan. Karena setiap harinya selalu ada yang merawat ruangan itu. Sekalipun jarang di tempati.
___
Sementara di dalam kamar Elbara...
"Sedih...?" ujar Elbara saat melihat Yumna duduk melamun di sofa.
"Hanya tidak tega melihatnya diperlakukan seperti itu." balas Yumna.
"Terbuat dari apa hatinya?? Bahkan dia masih bisa merasa tidak tega?!" pikir Elbara.
"Soal ucapan pria itu. Apa kamu percaya?" tanya Yumna sambil menatap Elbara.
"Ayolah, Yumna...!!" Elbara justru tersenyum. "Aku sangat percaya sama kamu. Kenapa kamu justru berpikir aku percaya omongan pria tua itu?!!"
"Jarang sekali ada yang percaya ucapanku." gumam Yumna.
"Tapi itu tidak berlaku padaku. Karena aku percaya dengan istriku." ujar Elbara meyakinkan Yumna. "Lalu, sekarang kamu maunya bagaimana? Katakan saja, aku akan selalu mendukung semua keputusan kamu."
"Aku hanya ingin mereka tahu, kalau putri kesayangan mereka tak sebaik itu. Itu saja cukup. Soal hukuman dan balasan, biar Tuhan yang turun tangan." kata Yumna, matanya memandang lurus ke depan tanpa ekspresi.
"Kalau itu yang kamu mau. Biar aku yang urus." begitu kata Elbara menjanjikan.
Yumna menoleh pada suaminya.
"Harusnya dalam pernikahan ini aku yang banyak bekerja untuk mengatasi Felly. Tapi kenapa justru kamu yang sibuk mengurus masalahku?" begitu kata Yumna.
"Itu sudah tidak berlaku." sahut Elbara. "Bukankah kita sudah sepakat. Kita akan sama-sama menjalin hubungan yang normal. Layaknya pasangan lain." imbuhnya.
"Jadi, apa yang aku lakukan sekarang ini. Murni sebagai bentuk tanggungjawab seorang suami pada istrinya." katanya lagi.
"Jadi..., bagaimana menurut nyonya Elbara Wiranata?" Elbara mendekatkan wajahnya pada Yumna.
Sontak saja Yumna merasa gugup. Karena wajah ganteng paripurna milik seorang Elbara, tiba-tiba berada tepat di hadapannya.
"Kenapa diam saja? Takut..., atau..., malu...?" goda Elbara.
"A, aku, mau mandi dulu!" Yumna langsung beranjak dari sofa.
Yumna mendorong sedikit kursi roda Elbara. Lalu dia bergegas masuk ke kamar mandi. Elbara hanya geleng-geleng melihat tingkah Yumna. Lalu dia mengambil handphonenya, dan menghubungi Niko.
"Perintahkan orang-orang terbaik kita untuk menyelidiki Nasya. Semuanya. Selama itu berkaitannya dengan Yumna." tutur Elbara memberi instruksi pada Niko.
___
Para anak buah Elbara bekerja dengan totalitas. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyelesaikan tugas dari Elbara. Dalam hitungan hari, mereka sudah mendapatkan apa yang Elbara mau.
"Dasar murahan. Seenaknya dia mencemarkan nama baik istriku. Tapi dia sendiri melakukan hal menjijikan seperti ini." ujar Elbara.
"Apa yang menjijikkan?" sahut Yumna.
Elbara terkejut karena tiba-tiba Yumna sudah berada di sampingnya. Elbara pun langsung mematikan ponselnya.
"Kelakuan adik kamu itu sungguh menjijikkan." kata Elbara jujur. Tapi dia tidak mau menjabarkannya lebih jauh.
"Sepertinya kamu sudah mendapatkan sesuatu." balas Yumna menerka.
"Bukan Elbara, kalau tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau." sahut Elbara.
"Mulai kan..." balas Yumna dalam hati.
"Oh iya." Yumna sedikit bergeser. Dia menarik laci di sampingnya.
"Ini." Yumna memberikan undangan pada Elbara.
"Dari mana?" tanya Elbara.
"Kakek Imron. Acara ulang tahun pabriknya." jawab Yumna.
"Mau datang?" sahut Elbara balik bertanya.
"Apa kamu merencanakan sesuatu?" balas Yumna curiga.
"Sepertinya istriku bisa membaca pikiranku." kata Elbara. "Tapi, aku harus menghubungi mama Sasa juga sebelumnya."
"Mama...?!"
"Iya."
"Apa yang dia rencanakan...?" pikir Yumna.
"Oh iya. Jangan lupa, besok kita ke sekolah untuk mendaftarkan Aluna. Setelah itu kita ajak Aluna belanja keperluan sekolahnya." ujar Elbara.
"Kamu tidak kerja?" tanya Yumna.
"Aku sudah kosongkan semua jadwal meeting." Elbara tersenyum, lalu mengambil frame foto di atas nakas. Foto keluarga kecil kakaknya dan dirinya, waktu Aluna masih bayi.
"Besok aku akan berikan semua waktuku untuk Aluna. Karena besok adalah langkah awalnya menuju dunia barunya."
"Em. Aku mengerti." balas Yumna mengangguk.
Elbara kemudian meraih tangan Yumna. Dan mengecup punggung tangannya.
"Terimakasih, kamu sudah mau menjadi bagian dari kami. Keluarga yang memiliki banyak kekurangan. Anak yang sempat mengalami trauma berat. Dan suami yang sampai hari ini belum mampu berdiri dengan tegak." tutur Elbara.
"Sssstt...!!" Yumna menempelkan ibu jarinya di bibir Elbara. "Kamu adalah seorang anak, papa, dan suami yang terbaik. Semangat ya..., secepatnya kamu akan segera pulih. Dan bisa berlarian dengan Aluna." tutur Yumna.
"Terimakasih, Yumna..."
Elbara langsung memeluk Yumna. Dia tak berhenti bersyukur, karena sudah dipertemukan dengan Yumna.
___
Di malam yang sama, di rumah pak Jodi.
"Kamu harus bersikap lebih manis pada Yumna!" perintah pak Jodi. "Bujuk dia agar benar-benar datang ke pesta itu!" katanya lagi.
"Saya tidak akan melakukan itu. Sudah cukup papa menyakiti Yumna. Jangan usik hidupnya lagi, pa..." balas Bu Indri.
Pak Jodi meremas kedua pipi Bu Indri. Matanya melotot menatap istrinya.
"Semakin hari kamu semakin tidak bisa diandalkan!!" pak Jodi menggeram. "Ingat!! Dia bukan anak kandung kita. Dan dia sudah mencoreng nama baik kita di luaran sana. Jadi, tidak ada masalah kalau sekalian kita hancurkan dia sehancur-hancurnya...!" tuturnya dengan penuh percaya diri. Seolah dia yang paling benar dalam bersikap.
"Pa..., merusak rumah tangga Yumna, artinya papa merusak rumah tangga Elbara Wiranata. Apa papa tahu akibatnya...?!! Dia bisa melenyapkan kita hanya dalam hitungan detik!!" teriak Bu Indri tak mau kalah. Meski dengan suara bergetar.
Pak Jodi melepaskan tangannya dari pipi Bu Indri. Dia menyeringai, menertawakan ketakutan sang istri.
"Kamu saja yang bodoh, Indri...!!" celetuknya, menghina Bu Indri. "Elbara hanya peduli dengan anak dalam perut Yumna. Kita hanya perlu membuat dia percaya kalau anak itu tidak jelas bapaknya. Bila perlu kita lenyapkan anak itu. Lalu kita akan masukkan anak emas kita untuk menjadi pengganti Yumna. Elbara pasti akan lebih menyukai gadis yang lembut. Anak baik-baik, dan jelas asal-usulnya." ujarnya. Sangat yakin kalau rencananya akan berhasil.
"Yumna bukan orang seperti itu!!" seru Bu Indri. "Jadi dia tidak mungkin hamil. Selain dengan Elbara, suaminya." tandasnya tak kalah yakin.
"Jangan sok tahu kamu!!" bentak pak Jodi. "Kesaksian Nasya tidak bisa diragukan. Dia anak yang jujur." bantah pak Jodi.
Nasya yang diam-diam menguping perdebatan mereka, mulai merasa cemas.
"Bagaimana ini? Waktu itu aku hanya mengarang saja. Agar mereka makin benci sama Yumna. Tapi kenapa masalahnya jadi berlanjut sejauh ini? Menghancurkan Yumna silahkan saja. Aku tidak peduli. Tapi kenapa aku harus menggantikan dia jadi istri pria cacat itu...? Meski hidupku pada akhirnya berkecukupan. Aku tidak mau...!! Menjijikkan sekali...!!" umpatnya dalam hati.
Dalam benak si Nasya, orang cacat itu sangat buruk. Pasti memiliki luka yang mengerikan, hingga membuatnya berakhir di atas kursi roda. Dan lagi, Nasya teringat bagaimana seramnya Elbara saat menodongkan pist*lnya hari itu. Terlihat seperti pembun*uh berdarah dingin saja. Nasya tidak mau hidup mewah, tapi menderita karena dihantui ketakutan setiap harinya.
"Aku harus membujuk kak Damar agar segera mempercepat pertunangan kita. Bila perlu kita langsung menikah saja."
......................