NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022

Tujuh Puluh Dua Jam

Malam panjang benar-benar baru saja dimulai.

Jam pertama dipakai untuk memetakan kerusakan.

NusaTek mundur. Cloud membatasi GPU. Tiga vendor cadangan tidak menjawab. Akun gosip bisnis mulai menulis bahwa Astoria "terlalu muda" untuk proyek pemerintah. Semua itu seperti batu yang dilempar bergantian ke kaca kantor kecil mereka.

Seraphina tidak menutup tirai.

"Biarkan lampu menyala," katanya ketika staf operasional bertanya apakah mereka perlu menutup kantor dari luar. "Kalau ada yang menunggu kita panik, biarkan mereka melihat kita bekerja."

Jam kedua, ia menelepon kontak lama di Surabaya.

Bukan keluarga Tjiandra. Bukan koneksi politik. Seorang mantan kepala laboratorium tempat ia dulu mengerjakan riset sistem visual. Suaranya serak karena sudah hampir tidur, tetapi begitu mendengar masalah sensor, ia langsung bangun.

"Kamu masih keras kepala seperti dulu," kata pria itu.

"Saya sedang dikejar deadline."

"Berapa jam?"

"Tujuh puluh dua."

"Gila."

"Karena itu saya menelepon Bapak."

Tiga puluh menit kemudian, ia mendapat dua kontak pabrik kecil di Sidoarjo dan satu distributor kamera industri di Batam yang tidak terikat jaringan vendor Jakarta. Harganya tidak semurah NusaTek. Spesifikasinya juga tidak persis sama.

Tapi cukup.

Saat ia sedang menghitung ulang biaya, pesan dari Hendrawan masuk.

Papa dengar vendormu bermasalah. Wijaya punya pemasok yang bisa masuk hari ini. Jangan keras kepala.

Di bawahnya, sebuah nomor kontak dikirim.

Seraphina menatap layar selama dua detik, lalu meneruskan nomor itu ke staf operasional dengan catatan:

Masukkan ke daftar hitam internal. Tidak dihubungi.

Staf itu menatapnya dari seberang meja. "Bu, kalau mereka benar-benar bisa kirim hari ini?"

"Maka besok mereka bisa menarik lagi dengan harga yang lebih mahal."

Ia membuka spreadsheet cash flow. Jika memakai vendor Batam penuh, dana operasional Astoria akan tercekik tiga bulan. Jika memakai pabrik Sidoarjo untuk unit utama dan Batam hanya untuk titik kritis, margin masih tipis tetapi hidup.

"Kita bagi pengiriman," katanya. "Sidoarjo untuk unit statis, Batam untuk titik prioritas. Minta termin pembayaran dua tahap. Tawarkan kontrak maintenance kalau pilot lanjut."

"Mereka mau?"

"Kalau kita terdengar putus asa, tidak. Jadi jangan terdengar putus asa."

Ia sendiri yang menelepon distributor Batam. Sepuluh menit tawar-menawar membuat kepalanya berdenyut, tetapi akhirnya mereka sepakat: pengiriman ekspres malam itu, uang muka tiga puluh persen, sisanya setelah barang diterima.

"Kita tidak butuh sempurna untuk pilot," kata Seraphina kepada tim. "Kita butuh sistem yang jujur membaca keterbatasannya."

Jam kelima, tim backend berhasil memindahkan sebagian beban komputasi ke server lokal. Suhu server naik terlalu cepat. Pendingin tambahan dipasang memakai kipas industri yang dipinjam dari pengelola gedung. Ruang meeting berubah menjadi campuran kantor teknologi dan bengkel darurat.

Jessica mengirim pesan:

Kalau butuh aku membuat akun gosip itu menangis, bilang.

Seraphina membalas:

Belum. Simpan amunisi.

Natasha mengirim:

Aku tidak suka kata belum.

Michelle mengirim file template komunikasi risiko untuk klien pemerintah. Singkat, rapi, tidak defensif.

Seraphina memakai hampir seluruhnya.

Pagi kedua, ia mengadakan rapat daring dengan Dinas Perhubungan.

Ia tidak menyembunyikan masalah vendor.

"Vendor kamera awal menarik diri setelah tahap penawaran. Kami tidak akan berspekulasi di forum ini. Dampaknya: konfigurasi hardware berubah. Risiko: kalibrasi ulang. Mitigasi: kami memakai dua pemasok alternatif, menurunkan ketergantungan pada satu jenis sensor, dan mengaktifkan mode kepercayaan adaptif di sistem."

Pejabat teknis yang dulu menguji mereka menatap layar. "Berapa penurunan akurasi?"

"Dalam skenario terburuk, enam koma delapan persen untuk data visual murni. Tapi jika digabung data lalu lintas dan laporan kendaraan, turun menjadi dua koma satu persen."

"Bisa dibuktikan?"

"Kami kirim demo parsial sore ini. Demo penuh sesuai permintaan, dalam tujuh puluh dua jam."

Ruangan daring sunyi beberapa detik.

Lalu pejabat itu berkata, "Kami tunggu."

Setelah panggilan selesai, staf operasional hampir jatuh ke kursi. "Bu, saya kira mereka akan marah."

"Mereka akan lebih marah kalau kita pura-pura semuanya normal."

Jam ketiga puluh enam, kamera dari Batam tiba. Kotaknya penyok karena pengiriman ekspres, tetapi perangkatnya hidup. Jam keempat puluh, pabrik Sidoarjo mengirim data spesifikasi tambahan. Jam keempat puluh delapan, model Astoria bisa membaca input campuran tanpa macet.

Programmer muda mengangkat kedua tangan. "Dia hidup!"

"Sistem, bukan bayi," kata Seraphina, tetapi ia tersenyum.

Jam keenam puluh, masalah baru muncul. Server lokal tidak kuat menjalankan simulasi puncak. Semua orang menatap Seraphina lagi.

Ia menatap grafik suhu, lalu membuka desain lama yang pernah ia simpan untuk kondisi lapangan dengan koneksi buruk.

"Kita pecah model."

"Bu?"

"Edge inference untuk input awal. Server pusat hanya verifikasi dan koreksi. Kita tidak memaksa satu otak memikirkan semua hal."

Analis sistem mengerjap. "Itu belum pernah kita uji penuh."

"Maka kita uji sekarang."

Jam keenam puluh delapan, sistem berjalan.

Tidak cantik. Tidak sempurna. Tapi berjalan.

Jam ketujuh puluh satu, Seraphina mengirim demo penuh ke Dinas: rekaman layar, log teknis, tabel risiko, dan surat resmi yang menjelaskan perubahan vendor. Ia menekan tombol kirim pukul dua lewat tujuh belas dini hari.

Seluruh kantor hening.

Lalu satu demi satu orang bersandar ke kursi, ke meja, bahkan ke lantai.

Staf operasional menangis duluan.

"Maaf, Bu. Saya cuma capek."

Seraphina mengambil tisu dan menyerahkannya. "Menangis lima menit. Setelah itu minum air."

Programmer muda tertawa lemah. "Aturan baru perusahaan?"

"Ya."

Balasan Dinas masuk pukul dua lewat empat puluh.

Update diterima. Demo dinilai layak lanjut. Jadwal pilot tidak berubah.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang percaya.

Lalu kantor Astoria meledak.

Tidak keras seperti pesta. Lebih seperti orang-orang yang terlalu lelah untuk bersorak tetapi terlalu lega untuk diam. Ada yang memukul meja, ada yang menutup wajah, ada yang tertawa sambil hampir menangis.

Seraphina berdiri di depan layar, membaca email itu sekali lagi.

Mereka tidak hanya bertahan.

Mereka memaksa sistem yang disabotase tetap berjalan.

Pukul tiga lewat sedikit, ia menyuruh semua orang pulang atau tidur di ruang istirahat. Ia sendiri tetap di ruang meeting, sendirian, menatap papan tulis yang penuh coretan. Tangannya gemetar kecil, baru terasa setelah semua orang tidak lagi melihat.

Pintu kantor terbuka pelan.

Seraphina menoleh.

Reynard berdiri di ambang pintu, kemeja putihnya digulung sampai siku, di tangannya ada termos dan kotak makanan.

"Aku menunggu sampai kau selesai," katanya.

Seraphina ingin berkata bahwa ia baik-baik saja.

Namun kali ini, ia hanya duduk kembali dan berbisik, "Aku sangat lelah."

Dan untuk sekali ini, ia tidak merasa kalah karena mengakuinya.

Reynard berjalan masuk dan menutup pintu kantor sangat pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!