Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028
Rekaman di Balik Pintu
Lalu Mbak Yuni berbisik tajam dari dalam ruangan, "Cepat. Sebelum media naik semua."
Tubuh Kiara langsung dingin.
Cici mencengkeram pergelangan tangannya. "Ki, turun."
Itu pilihan paling masuk akal. Turun, lapor Bu Ratna, lapor Galih, beri tahu Rayhan. Namun celah pintu itu seperti garis tipis antara dugaan dan bukti. Kalau ia pergi sekarang, yang tersisa hanya kata "barang" dan rasa curiga.
Tidak cukup.
Kiara mengeluarkan ponsel sepelan mungkin.
"Ki," desis Cici, panik. "Jangan."
"Dari sini saja," bisik Kiara. "Aku tidak masuk."
"Kita janji sama Pak Rayhan."
"Aku tahu."
Jarinya gemetar saat membuka kamera. Ia mematikan lampu layar serendah mungkin, mengubah posisi ponsel di balik tas selempang, lalu menekan tombol rekam. Ia tidak mengangkat ponsel terang-terangan. Hanya mengarahkan lensa dari sela tas ke celah pintu.
Gambar di layar kecil itu tidak sempurna.
Tapi cukup.
Reza berdiri di dekat meja kaca. Pria berjas hitam meletakkan sebuah amplop cokelat kecil. Mbak Yuni meremas ujung tasnya, wajahnya pucat.
"Jangan di sini," kata Mbak Yuni. "Kamu baru selesai bicara soal kampanye bersih."
Reza tertawa pendek. Tidak ada nada manis di sana. "Kamera sudah turun."
"Media belum semua turun."
"Lima menit."
Pria berjas hitam membuka amplop itu sedikit. Kiara tidak memperbesar gambar. Ia tidak perlu melihat detailnya. Kalimat mereka sudah cukup buruk.
"Stoknya aman sampai besok," kata pria itu.
"Besok gue ada live," jawab Reza. "Jangan sampai gue gemetar di kamera."
Cici menutup mulutnya dengan tangan.
Darah Kiara berdebar di telinga. Jarinya menekan layar, memastikan rekaman masih berjalan. Titik merah kecil di sudut layar terasa seperti detak jantung lain.
Ia tidak merekam untuk sensasi. Ia mengulang kalimat itu dalam kepala seperti pegangan. Bu Ratna selalu bilang, bahan tanpa verifikasi bisa menghancurkan orang. Tapi bukti yang sengaja ditutup juga bisa menghancurkan korban berikutnya.
Di layar, wajah Reza memang tidak selalu jelas, tetapi suaranya terekam. Amplop kecil itu juga masuk frame, bersama jam digital di dinding ruangan dan logo Club Monarch di sudut meja. Cukup untuk menunjukkan tempat, waktu, orang, dan konteks.
Kiara menekan tombol berhenti setelah dua puluh delapan detik.
Tangannya basah oleh keringat.
Ia harus mengirim ini.
Dengan tangan lain, ia membuka WhatsApp cepat, memilih Galih dan Rayhan, lalu menekan kirim pada potongan rekaman pertama yang baru tersimpan otomatis. Statusnya berputar.
Mengirim...
Sinyal di koridor VIP naik turun.
Satu centang muncul di pesan untuk Galih.
Untuk Rayhan, lingkaran kecil masih berputar.
Kiara hampir ingin menangis karena frustrasi. Dari semua waktu di dunia, kenapa sinyal harus bermain-main sekarang?
"Ki, cukup," bisik Cici. "Kita punya rekaman. Turun."
Kiara mengangguk.
Mereka baru mundur setengah langkah ketika pintu di belakang mereka terbuka. Seorang staf sponsor keluar membawa baki kosong. Matanya langsung jatuh ke ponsel di tangan Kiara.
"Mbak ngapain?"
Suara itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat kepala Reza menoleh dari dalam ruangan.
Kiara memasukkan ponsel ke tas.
Cici tersenyum cepat. "Kami mau ke toilet. Salah arah."
Staf itu menatap wristband mereka. "Toilet di ujung."
"Iya, makasih."
Mereka bergerak. Terlalu cepat untuk disebut santai, terlalu lambat untuk disebut lari.
"Mbak Kiara."
Suara Reza membuat langkah Kiara berhenti.
Ia menoleh sedikit.
Reza sudah keluar dari ruangan. Senyumnya kembali, tetapi matanya tidak. Di belakangnya, Mbak Yuni tampak seperti orang yang baru kehilangan darah.
"Kok buru-buru?" tanya Reza.
Kiara memaksa wajahnya datar. "Kami mau turun. Sudah cukup dokumentasi."
"Dokumentasi apa?"
Cici langsung menjawab, "Lounge. Sponsor minta foto suasana."
Reza melihat Cici, lalu kembali ke Kiara. "Boleh saya lihat?"
"Ini materi redaksi."
"Saya narasumbernya."
"Justru karena itu, kami kirim lewat jalur resmi."
Senyum Reza hilang setengah.
Pria berjas hitam keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya. Koridor yang tadi sudah sempit terasa makin kecil.
"Mbak," katanya, suaranya rendah. "Serahkan ponselnya sebentar."
Cici melangkah ke depan Kiara. "Mas, kami media. Jangan sentuh."
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa takut?"
Kiara bisa merasakan ponselnya bergetar di dalam tas. Satu kali. Lalu satu kali lagi.
Pesan masuk.
Atau status kirim berubah.
Ia tidak bisa melihat.
Reza menatap tas Kiara. "Saya cuma mau pastikan tidak ada kesalahpahaman."
"Kesalahpahaman diselesaikan di redaksi," jawab Kiara. Suaranya sendiri terdengar lebih tenang daripada tubuhnya.
Ia menekan media pass di dada dengan satu tangan. "Kami masuk atas arahan panitia. Kalau ada keberatan liputan, sampaikan ke Bu Ratna atau redaksi Kota Barat Post. Bukan dengan mengambil alat kerja wartawan."
Pria berjas hitam tertawa pendek. "Jangan sok paham aturan."
"Justru karena paham, saya tidak akan kasih ponsel tanpa berita acara."
Cici menoleh sekejap, matanya melebar. Kiara sendiri tidak tahu dari mana kalimat itu datang. Mungkin dari semua percakapan dengan Rayhan tentang barang bukti. Mungkin dari rasa takut yang berubah menjadi keras kepala.
Mbak Yuni berkata pelan, hampir memohon, "Kiara, jangan bikin ini besar. Kamu belum tahu apa-apa."
"Kalau saya belum tahu apa-apa, kenapa semua orang minta ponsel saya?"
Untuk satu detik, tidak ada yang bergerak.
Lalu pria berjas hitam meraih tas Kiara.
Cici menjerit, "Jangan!"
Kiara mundur, tetapi tangan pria itu menyambar tali tasnya. Tarikan kasar membuat bahunya sakit. Ponsel di dalam tas terbentur pinggangnya. Alarm pribadi di ritsleting bergesek dengan jemarinya.
Rayhan bilang tarik pin-nya kalau butuh menarik perhatian orang.
Kiara tidak berpikir lagi.
Ia menarik pin itu.
Suara melengking pecah di koridor VIP.
Keras.
Menusuk.
Membuat semua orang terpaku.
Dari lantai bawah, beberapa orang berseru. Pintu lain terbuka. Cici langsung menarik lengan Kiara.
"Lari, Ki!"
Mereka berlari ke arah tangga, bukan lift. Musik dari lantai bawah bercampur suara alarm yang masih menjerit dari tas Kiara. Reza mengumpat di belakang mereka.
"Ambil ponselnya!"
Langkah kaki mengejar.
Beberapa tamu VIP membuka pintu dan menatap, tetapi tidak ada yang langsung menolong. Semua terlalu bingung, terlalu takut salah, atau terlalu sibuk memegang gelas. Seorang staf mencoba bertanya apa yang terjadi, lalu mundur ketika pria berjas hitam mendorong bahunya.
Alarm di tas Kiara terus menjerit, membuat kepala berdenyut dan napasnya makin pendek.
Kiara menggenggam tasnya dengan satu tangan dan pegangan tangga dengan tangan lain. Ponsel masih bergetar di dalam tas, entah karena pesan, entah karena nasib yang belum selesai dikirim.
Cici berada setengah langkah di depan. "Cepat!"
Di belakang mereka, suara pria berjas itu semakin dekat.
Koridor menuju tangga darurat terbuka di ujung, gelap dan sempit.
Kiara baru sempat berpikir bahwa Rayhan akan marah karena ia naik VIP, ketika tangan seseorang menyambar lengan Cici dari belakang.