NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024

Rencana Baru

Tinta merah lampion itu disimpan Seline di laci paling bawah.

Ia belum berani memakainya. Setiap kali melihat botol kecil itu, ia teringat jari Kevin yang memilihnya dari rak, cara pria itu mengatakan tinta sebelumnya cepat pudar, dan tatapan Jason yang berubah setelahnya.

Rahasia Tao dulu hanya miliknya dan Darren. Sekarang rahasia itu terasa seperti meja dengan terlalu banyak orang mulai menyentuh tepinya.

Beberapa hari setelah perjalanan ke toko alat gambar, rumah Hartono kembali sibuk. Michelle sudah resmi pindah ke rumah suaminya, tetapi urusan setelah pernikahan belum selesai. Tante Chen menerima tamu, membalas hadiah, mengatur ucapan terima kasih, dan di sela semua itu mulai membicarakan rencana baru.

Seline mendengarnya saat mengantar teh ke ruang kecil sayap timur.

Di dalam ruangan, Tante Chen duduk bersama Tante Liu. Vivian berada di dekat jendela, wajahnya tidak sesantai biasanya. Wilson berdiri di dekat rak buku, jelas tidak ingin berada di sana.

"Michelle sudah selesai," kata Tante Chen. "Rumah terasa lega. Mungkin kita bisa mulai membicarakan Wilson dan Vivian dengan lebih serius."

Tangan Seline yang memegang baki berhenti sebentar.

Tante Liu tersenyum. "Saya dari dulu merasa mereka cocok. Vivian sudah lama tinggal di sini. Sama-sama mengerti aturan keluarga."

Vivian menoleh cepat. "Tante, ini terlalu tiba-tiba."

"Tiba-tiba?" Tante Chen tertawa lembut. "Kamu sudah dewasa, Viv. Wilson juga. Lagi pula, ini baru pembicaraan keluarga. Belum menentukan tanggal."

Tante Liu mengangguk cepat, seolah kalimat itu sudah disiapkan bersama. "Oma memang bilang yang muda tidak mendahului Kevin. Tapi membicarakan kecocokan kan bukan melangkahi. Kalau nanti Kevin sudah menentukan arah, keluarga kita tidak perlu mulai dari nol."

Seline mendengar logika itu dan langsung paham. Mereka tidak melanggar aturan Oma secara terbuka. Mereka hanya menyiapkan tali lebih dulu, supaya ketika waktu dianggap tepat, orang yang diikat tidak punya ruang mundur.

Vivian juga paham. Wajahnya memucat tipis.

"Aku belum pernah bilang ingin menikah dengan Ko Wilson."

Tante Chen memandangnya seperti orang dewasa memandang anak yang belum mengerti keuntungan sendiri. "Perasaan bisa tumbuh setelah saling memahami. Kamu dan Wilson tinggal di rumah yang sama, sudah saling melihat sifat masing-masing."

"Justru karena itu," kata Wilson dingin.

Tante Liu menarik napas kecil.

Wilson berkata datar, "Saya tidak pernah setuju."

Suasana ruangan langsung menegang.

Tante Chen menatapnya dengan senyum yang tidak berubah. "Kamu juga tidak pernah memberi alasan jelas untuk menolak."

"Karena alasan saya tidak penting untuk Tante."

Tante Liu tampak canggung. Vivian menggigit bibir, antara marah dan malu.

Seline tahu ia harus segera masuk atau pergi. Berdiri di depan pintu sambil mendengar terlalu lama hanya akan membuat masalah. Ia mengetuk pelan.

"Teh, Tante."

Semua orang menoleh.

Tante Chen tersenyum. "Masuk, Seline."

Seline meletakkan teh satu per satu. Saat menyerahkan cangkir pada Vivian, ia merasakan tatapan gadis itu tajam seperti ujung jarum.

"Kamu dengar?" Vivian bertanya pelan.

"Saya baru sampai."

"Tentu."

Wilson mengambil cangkir tanpa menyentuh tangan Seline. Matanya memberi satu pesan pendek: pergi dari sini.

Seline menunduk. "Kalau tidak ada lagi, saya kembali ke Oma."

"Sebentar," kata Tante Chen.

Langkah Seline berhenti.

Tante Chen mengaduk teh perlahan. "Menurutmu, Seline, Vivian cocok dengan Wilson?"

Pertanyaan itu bukan meminta pendapat. Itu perangkap kecil, cukup untuk membuat dua orang yang sudah tidak menyukainya punya alasan baru.

Seline menatap permukaan teh. "Saya tidak berani menilai urusan keluarga, Tante."

"Kamu sudah dua tahun di sini. Kamu juga keluarga."

Kata keluarga terdengar manis, tetapi Seline tahu gula yang terlalu banyak bisa membuat mual.

"Kalau begitu, sebagai keluarga, saya berharap keputusan apa pun membuat semua pihak tenang."

Wilson menatapnya sedikit lebih lama. Vivian tertawa pendek.

"Tenang? Kamu pikir pernikahan keluarga besar soal perasaan tenang?"

Seline menoleh padanya. "Saya pikir pernikahan seharusnya tidak membuat orang merasa terjebak."

Ruangan hening.

Tante Liu tampak terkejut. Tante Chen menaruh sendok ke tatakan dengan bunyi pelan. Wilson menurunkan mata, tetapi sudut mulutnya bergerak hampir tidak terlihat.

Vivian berdiri. "Mudah sekali bicara begitu kalau tidak ada yang mengatur masa depanmu."

Seline tidak menjawab. Ia tidak perlu mengingatkan Vivian bahwa dua tahun lalu, Tante Chen hampir melakukan hal yang sama padanya.

"Cukup," kata Tante Chen akhirnya. "Seline, kamu boleh pergi."

Seline keluar dengan punggung tegak. Saat melewati pintu, ia sempat melihat Wilson masih berdiri di tempat yang sama, tidak duduk, tidak menyentuh tehnya. Lelaki itu terlihat seperti orang yang sudah tahu hasil rapat sebelum rapat selesai, tetapi tetap dipaksa hadir.

Baru di lorong Seline menarik napas panjang.

Rencana itu bukan lagi bisik-bisik kosong.

Ia sudah punya arah yang jelas.

Ia baru berjalan beberapa langkah ketika Vivian menyusul.

"Jangan pikir karena Oma menyukaimu, kamu bisa bicara sesukamu," katanya.

"Aku tidak bermaksud menyinggungmu."

"Tentu tidak. Kamu selalu begitu. Polos, sopan, lalu semua orang membelamu." Vivian mendekat. "Tapi ingat, kalau aku harus menikah dengan Wilson, bukan berarti aku kalah darimu."

Seline menatapnya. "Ini bukan pertandingan."

Vivian tersenyum, matanya basah oleh marah yang ditahan.

"Bagi orang sepertimu, mungkin bukan. Bagi aku, selama Ko Kevin masih melihat ke arahmu, semuanya pertandingan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!