NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Mochi Sang Kurir

Di leher Mochi, tergantung secarik kertas kecil.

Keira berjongkok pelan. Kucing hitam itu duduk sangat tenang di depan pintu, seolah ia bukan baru saja muncul pukul sebelas malam membawa misi diplomatik dari unit seberang.

"Kamu sekarang kurir?"

Mochi mengeong pendek.

Keira melepas kertas itu dari kalungnya. Lipatannya kecil, diikat benang tipis warna biru. Tulisan di dalamnya rapi. Tulisan Xavier.

`Maaf menghilang. Besok makan malam bareng?`

Keira membaca sekali.

Lalu sekali lagi.

Lalu menatap Mochi.

"Tuanmu drama."

Mochi menjilat kaki depan, tidak membantah.

Rasanya ingin marah. Sungguh. Satu minggu penuh Xavier menghilang, membuatnya bingung, membuat sistem diam, membuat perutnya sakit karena cemas. Lalu sekarang ia mengirim kucing dengan catatan sependek itu? Seolah semua bisa selesai dengan `maaf` dan `makan malam`.

Tapi jantung Keira, pengkhianat yang tidak punya prinsip itu, justru melunak.

Ia menekan kertas ke dada sebentar sebelum sadar dan cepat-cepat menurunkannya.

"Tidak," katanya pada Mochi. "Aku tidak semudah itu."

Mochi menatapnya.

Lima menit kemudian, Keira duduk di lantai ruang tamu dengan kertas kecil baru, menulis balasan.

`Oke. Tapi kamu yang masak.`

Ia menatap tulisan itu, lalu menambahkan titik agar terdengar lebih galak.

Masih kurang.

Ia menambahkan:

`Dan jangan menghilang lagi tanpa bilang.`

Itu baru terasa seperti harga diri.

Keira mengikat kertas itu ke kalung Mochi dengan hati-hati. "Antar balik. Jangan mampir."

Mochi berjalan ke depan pintu Xavier. Sebelum Keira sempat mengetuk, pintu seberang terbuka sedikit. Tangan Xavier muncul mengambil Mochi, lalu wajahnya terlihat dari celah pintu.

Mata mereka bertemu di koridor sunyi.

Keira langsung melipat tangan di depan dada. "Kucingmu menyebalkan."

Xavier melihat kertas di leher Mochi, lalu menatap Keira. "Pemiliknya juga?"

"Lebih."

"Noted."

Ia tidak tersenyum besar. Tapi ada lega yang jelas di matanya, begitu jelas sampai sisa marah Keira kehilangan arah.

"Besok jam tujuh?" tanyanya.

"Kalau makanannya gosong, aku pulang."

"Tidak akan gosong."

"Percaya diri."

"Fakta."

Keira memutar mata dan masuk ke unitnya sebelum ia tersenyum di depan Xavier.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah seminggu, Nokia tua di meja bergetar.

`Kedekatan target pulih.`

`Nilai Replika bergerak kembali.`

Keira menatap pesan itu lama. Ia lega, tentu saja. Tapi rasa lega paling besar justru bukan karena angka sistem bergerak lagi.

Melainkan karena pintu seberang akhirnya terbuka.

***

Keesokan malamnya, aroma masakan sudah tercium sejak Keira keluar dari lift.

Bukan bau gosong. Itu kabar baik pertama.

Xavier membuka pintu sebelum Keira mengetuk. Ia memakai kaus hitam dan apron abu-abu gelap. Rambutnya sedikit berantakan, lengan bajunya digulung, dan di belakangnya meja makan sudah tertata.

Keira berhenti di ambang pintu.

"Kamu serius masak sebanyak ini?"

"Kamu bilang aku yang masak."

"Maksudku satu menu."

"Aku tidak tahu kamu mau apa."

"Jadi kamu masak semua kemungkinan?"

"Hampir."

Di meja ada sup ayam jahe hangat, nasi tim lembut, tumis brokoli, tahu saus jamur, dan potongan buah. Semua terlihat aman untuk perutnya. Tidak ada sambal. Tidak ada gorengan berat. Bahkan minumannya air hangat dengan irisan lemon tipis.

Keira menatap meja itu lebih lama dari yang ia rencanakan.

Xavier memperhatikan wajahnya. "Kalau ada yang tidak bisa kamu makan, bilang."

"Kamu... sengaja pilih yang aman untuk lambung?"

"Kamu pernah bilang perutmu sensitif."

"Lagi-lagi ingatan bagus."

"Masih berbahaya?"

Keira memegang sandaran kursi. "Sangat."

Xavier menarik kursi untuknya, sama seperti di Braga. Kali ini Keira tidak bertanya. Ia duduk, dan tubuhnya terasa anehnya tenang.

Mochi melompat ke kursi kosong di samping Keira, langsung diusir Xavier dengan satu tatapan.

"Mochi, turun."

Mochi tidak turun.

Keira berbisik, "Dia tidak takut padamu."

"Dia sedang cari perlindungan."

"Aku akan lindungi dia."

"Tentu."

Mereka makan pelan. Awalnya ada kecanggungan sisa seminggu hilang. Sendok beradu piring, hujan tipis menyentuh jendela, Mochi mengeong kecewa karena tidak diberi ayam. Lalu Keira mencicipi sup.

Hangatnya turun ke perut dengan cara yang hampir membuat matanya panas.

"Enak," katanya.

Xavier menatap mangkuknya, bukan wajah Keira. "Bagus."

"Kamu masak sendiri semua?"

"Iya."

"Anak konglomerat bisa masak begini?"

"Anak konglomerat juga bisa lapar."

Keira tertawa. Ketegangan terakhir di antara mereka retak.

Setelah itu, percakapan lebih mudah. Xavier tidak menjelaskan panjang kenapa ia menghilang. Ia hanya berkata, "Aku perlu waktu berpikir. Tapi caraku salah."

Keira memutar sendok di mangkuk. "Iya. Salah."

"Maaf."

"Aku terima. Tapi kalau ulang lagi, aku lapor Mochi."

"Dia pihakku."

"Dia tidur di pangkuanku."

"Poin valid."

Xavier menatapnya. Kali ini tidak menghindar. "Aku tidak akan menghilang tanpa bilang."

Kalimat itu sederhana, tetapi Keira menyimpannya seperti sesuatu yang mahal.

Mereka menyelesaikan makan malam dengan suasana yang berbeda. Bukan kembali ke titik sebelum Xavier menghindar. Lebih maju. Seperti ada pintu yang sudah pernah ditutup, lalu dibuka lagi dari dalam.

Keira berdiri hendak membantu membawa piring ke dapur, tetapi Xavier mengambilnya lebih dulu.

"Tamu duduk."

"Aku bukan tamu. Aku babysitter kucing profesional."

"Profesional juga boleh istirahat."

Keira tetap mengikuti ke dapur, mengambil gelas dan sendok. Mereka berdiri berdampingan di depan wastafel. Bahu mereka hampir bersentuhan setiap kali Xavier membilas piring dan Keira mengelapnya dengan lap bersih.

Tidak ada percakapan penting. Hanya air mengalir, denting piring, dan Mochi yang mengawasi dari lantai. Tapi setelah seminggu jarak aneh, diam seperti itu terasa lebih menenangkan daripada penjelasan panjang.

"Aku marah," kata Keira tiba-tiba, pelan.

Xavier berhenti sebentar. "Aku tahu."

"Tapi aku senang kamu balik."

Kali ini Xavier menoleh. "Aku juga."

Setelah piring dibereskan, Xavier mengambil paper bag kecil dari meja dekat sofa.

"Ini untukmu."

Keira menerima dengan curiga. "Apa ini? Permintaan maaf tahap dua?"

"Anggap saja begitu."

Di dalamnya ada outer warna krem muda, potongannya mirip dengan jaket navy yang sering dipakai Xavier, tetapi lebih lembut dan jelas ukuran perempuan. Bahannya ringan, cocok untuk udara Bandung malam.

Keira mengangkatnya.

"Ini..."

"Aku lihat kamu sering pakai versi yang terlalu tebal," kata Xavier. "Kalau siang panas."

Keira menatapnya.

Jantungnya mulai berdetak dengan ritme yang tidak masuk akal.

Xavier mengambil gelasnya, seolah kalimat berikutnya biasa saja.

"Biar besok tidak perlu repot-repot cari outfit yang sama denganku."

Keira membeku dengan outer di tangan.

Ia tahu?

Atau ini cuma cara Xavier menggoda kebiasaan yang sudah semua orang lihat?

Xavier menatapnya dari balik gelas, matanya tenang, sudut bibirnya hampir naik.

Keira tiba-tiba merasa sistem, misi, dan seluruh alasan awalnya sedang berdiri terlalu dekat di antara mereka.

"Xavier," katanya pelan, "kamu..."

Ia tidak menyelesaikan kalimat.

Xavier juga tidak membantu.

Mochi mengeong dari bawah meja, seolah menikmati kekacauan manusia.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!