Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Seseorang di Jakarta
Beberapa hari setelah Yumi masuk safe house, rumah Hartono Surabaya pelan-pelan menemukan ritmenya lagi.
Yumi masih jarang keluar kamar, tetapi staf perempuan yang menjaganya melapor bahwa ia sudah bisa makan setengah porsi bubur dan tidur tanpa terbangun setiap satu jam. Bryan, entah dengan alasan apa, semakin sering mampir membawa cokelat panas, roti lembut, atau hal-hal kecil yang ia sebut "kebetulan lewat".
Keira tidak mengomentari itu.
Ia hanya memastikan keamanan safe house diperketat, lalu kembali ke rumah utama ketika Engkong memintanya datang ke ruang kerja setelah makan malam.
Ruang kerja Engkong Hartono selalu punya aroma kayu tua, teh hangat, dan kertas yang disimpan terlalu lama. Lampu meja memantulkan cahaya kuning di atas rak dokumen. Di dinding, foto keluarga lama berbaris rapi, sebagian wajah di sana Keira belum sepenuhnya kenali, tetapi semuanya menatapnya seperti bagian dari rumah yang sedang belajar ia ingat.
Engkong duduk di kursi besar dekat jendela.
"Duduk, Keira."
Keira duduk di depannya. "Engkong ingin bicara soal Tanuwijaya?"
Tangan Engkong yang memegang cangkir teh berhenti sebentar.
"Kau masih ingat nama itu?"
"Engkong menyebutnya malam itu." Keira menatap lelaki tua di depannya. "Katanya mereka juga mencari saya."
Engkong meletakkan cangkir. Wajahnya tidak setegang ketika membicarakan Sherly atau Galang, tetapi ada kehati-hatian yang lain. Lebih lembut. Lebih lama disimpan.
"Selama empat tahun kau hilang, Hartono mencari ke mana-mana. Polisi, rumah sakit, pelabuhan, data penerbangan, bahkan jalur yang tidak ingin Engkong ceritakan pada Mama-mu." Ia menarik napas. "Tapi bukan hanya kita."
Keira diam.
"Di Jakarta, ada satu orang yang mengerahkan sumber daya hampir sebesar keluarga kita."
"Keluarga Tanuwijaya?"
Engkong mengangguk pelan. "Keluarga paling kuat di antara empat keluarga besar Jakarta. Uang mereka bukan hanya banyak, Keira. Pengaruh mereka masuk ke bank, pelabuhan, properti, teknologi, sampai lingkaran politik."
Keira pernah mendengar nama Tanuwijaya dari berita bisnis. Bahkan selama menjadi Anisa, saat ia membersihkan ruang tamu keluarga Gondokusumo, televisi kadang menampilkan nama Tanuwijaya Group di bawah berita merger atau pembangunan kawasan baru. Waktu itu nama itu terasa jauh, seperti nama bintang yang tidak mungkin jatuh ke dapurnya.
Sekarang bintang itu duduk di tengah percakapan keluarga.
"Siapa orangnya?" tanya Keira.
Engkong memandangnya lama.
"Rayhan Tanuwijaya."
Nama itu jatuh pelan, tetapi ruang kerja seperti berubah tekanan.
Keira menahan napas.
Rayhan.
Ada sesuatu yang bergerak di balik dahinya, cepat seperti kilatan cahaya di kaca mobil.
Hujan.
Tangga batu yang licin.
Punggung seorang anak laki-laki yang berdiri di depannya, seolah tubuh kecil itu bisa menjadi pagar.
Lalu sepasang mata. Gelap, tenang, terlalu lembut untuk seorang anak yang sedang menahan sakit.
Keira mengerjap.
Bayangan itu hilang.
Ia memegang tepi kursi, jari-jarinya menekan kayu. "Aku... pernah bertemu dia?"
Mata Engkong melembut.
"Dia mengenalmu sejak kau berumur satu tahun."
"Satu tahun?" Keira hampir tertawa karena tidak percaya, tetapi suaranya tidak keluar.
"Dulu keluarga Hartono dan Tanuwijaya lebih dekat daripada sekarang. Ada masa ketika rumah ini dan rumah mereka tidak terasa seperti dua dunia berbeda." Engkong menatap foto tua di dinding, lalu kembali pada Keira. "Rayhan kecil sering ikut keluarganya ke sini. Kau masih terlalu kecil untuk mengingat dengan jelas, tetapi setiap kali kau menangis, anehnya hanya dia yang bisa membuatmu diam."
Keira menunduk. Jantungnya berdetak tidak stabil.
Ia tidak ingat.
Ia benci bagian itu.
Empat tahun hidup sebagai Anisa sudah mencuri terlalu banyak. Sekarang, bahkan masa kecilnya sendiri terasa seperti album yang beberapa halamannya disobek.
"Kalau dia mengenalku sejak kecil, kenapa aku tidak ingat?" tanyanya pelan.
"Karena waktu bisa menutup banyak pintu. Trauma juga begitu." Engkong mengulurkan tangan, menepuk punggung tangan Keira dengan hati-hati. "Tapi pintu yang tertutup bukan berarti ruangnya hilang."
Keira menatap tangan tua itu.
"Dia mencari saya selama empat tahun?"
"Ya."
"Kenapa?"
Engkong tidak langsung menjawab.
Di luar, angin menyentuh kaca jendela. Suaranya halus, tetapi di ruang kerja yang terlalu diam, bunyinya terdengar jelas.
"Karena hubungan kalian lebih dalam daripada yang kau tahu sekarang."
Kalimat itu tidak menjelaskan apa pun. Justru karena tidak menjelaskan, ia meninggalkan jejak lebih kuat.
Keira ingin bertanya lagi, tetapi Engkong sudah membuka laci meja.
Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil. Gerakannya sangat hati-hati, seperti benda di dalamnya bukan sekadar perhiasan, melainkan janji yang lama menunggu pemiliknya pulang.
"Ini dia titipkan pada Engkong," kata Engkong.
Keira menatap kotak itu.
"Rayhan?"
"Dia berkata, kalau suatu hari Engkong menemukanmu, benda ini harus sampai ke tanganmu lebih dulu sebelum apa pun."
Keira menerima kotak itu. Beludrunya terasa halus di telapak tangan, tetapi entah kenapa jari-jarinya dingin.
Ia membukanya perlahan.
Di dalamnya ada sebuah cincin giok kecil, hijau tua dengan kilau lembut, digantung pada rantai tipis agar bisa dipakai sebagai liontin. Bentuknya sederhana, tidak mencolok. Namun di bagian dalam lingkarannya, ada ukiran huruf kecil.
K.
Keira menyentuh ukiran itu.
Gioknya dingin.
Namun begitu menyentuh kulitnya, dingin itu seperti berubah menjadi denyut yang asing sekaligus akrab.
"Cincin Giok," bisik Engkong. "Dari keluarga Tanuwijaya."
Keira mengangkat wajah. "Kenapa diberikan padaku?"
Mata Engkong basah, tetapi senyumnya muncul sangat tipis.
"Itu pertanyaan yang seharusnya Rayhan jawab sendiri."
Keira menatap cincin giok di tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak pulang, ada nama asing yang membuat dadanya sakit bukan karena luka lama, melainkan karena sesuatu yang hampir ia ingat.
Rayhan Tanuwijaya.
Nama itu tinggal di ruang kerja Engkong lama setelah percakapan selesai.