NovelToon NovelToon
Angsa Cantikku

Angsa Cantikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Myz Pena

​"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
​Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"

​Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.

​Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.

Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...

siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : BAYANG - BAYANG KEBENARAN YANG TERBALIK

Sprei sutra di kamar hotel itu masih acak-acakan saat Ivan menyambar kemejanya yang tergeletak di lantai. Telepon dari Riko bagai perintah eksekusi yang tak bisa ditawar.

​"Mas... mau pergi lagi?" bisik seorang wanita dari bawah selimut, bahunya yang polos terpapar udara dingin pendingin ruangan.

​"Ada urusan penting, Honey," sahut Ivan dingin, mengecup singkat bibir wanita itu tanpa kehangatan.

​"Sampai kapan kamu mau jadi kacung Riko?" cetus wanita itu sinis.

​Ivan terkekeh pelan, kilat licik memancar dari matanya.

"Sabarlah. Tak lama lagi, kacungmu ini yang akan memegang kendali"

​Tanpa membuang waktu, Ivan melangkah keluar. Ponselnya bergetar saat ia memasuki taksi online. Sebuah panggilan dari seorang peretas kepercayaan masuk.

​"File orang bernama Angga Pradipta sudah saya kirim, Pak," ujar suara di seberang sana.

​"Bagus. Kalau datanya cocok, bayaranmu cair"

​Ivan meneruskan berkas digital itu langsung ke ponsel Riko.

​Di dalam mobilnya, Riko menepi. Dering notifikasi memecah keheningan. Satu per satu dokumen ia geser hingga jarinya berhenti di lembar terakhir sebuah profil perusahaan furnitur terbesar di Jakarta.

​Satu ukiran senyum sinis menggaris di wajah Riko yang tajam.

"Di situ rupanya kamu bersembunyi..."

​Dendam lamanya membara, namun bayangan wajah Ami yang menangis semalam kembali menahannya.

Jika bukan demi janji pada adik bungsunya itu, Riko tak akan sudi mengotori tangannya mencari keberadaan saudara tirinya itu. Tanpa meragu, ia menginjak gas dalam-dalam menuju gedung kantor Angga.

​Pukul 16.10 WIB.

​Suasana lantai kantor PT Graha Furnitur mendadak hening.

​Langkah kaki tegap berdenting keras di atas lantai marmer. Riko melangkah anggun namun memancarkan aura intimidasi yang pekat. Tubuhnya yang tinggi kekar dan garis wajahnya yang maskulin membuat beberapa karyawan terpaku. Vika, sang supervisor, sampai tertahan di tempatnya dengan mulut sedikit terbuka.

​"Angga ada?" tanya Riko dingin, menghentikan langkah tepat di depan meja Vika.

​"A-ada... Bapak siapanya ya? Mau buat janji temu?" jawab Vika terbata, kewalahan dan terpana oleh aura bad boy yang begitu dominan.

​"Saya saudaranya," sahut Riko singkat. Suaranya datar tanpa nada kehangatan sedikit pun saat mengucapkan kata "saudara" .

Vika tersentak. Matanya membelalak lebar. "Saudara?!" bisiknya dalam hati. Ia menatap wajah Riko dan membandingkannya dengan Angga, tak ada kemiripan sedikit pun.

"Pak Angga punya saudara seluar biasa ini? Dan kenapa aromanya seperti persaingan mematikan begini?"

​Melihat tatapan Riko yang semakin tajam, dingin, dan menuntut, Vika bergegas berdiri.

"B-baik... kalau begitu, mari saya antar ke ruangannya, Pak"

​Namun, setibanya di depan pintu, suara dentuman keras "BRUUK!" terdengar dari dalam.

​Riko tak membuang waktu. Ia mendorong pintu kayu tebal itu hingga terbuka lebar.

​Di atas lantai ruangan, Angga terbaring menindih Lulu, seorang stafnya. Berkas-berkas kertas berserakan di sekitar mereka.

Lulu membelalak kaget, wajahnya memerah padam sebelum tergesa-gesa bangkit, merapikan kacamata dan pakaiannya yang kusut.

​"P-pak Angga... maafkan saya! Saya tidak sengaja, tadi tersandung!" bisik Lulu gemetar dan bergegas memunguti kertas-kertas yang berserakan.

​Vika yang berdiri di belakang Riko semakin membeku dengan napas tertahan.

"Tunggu... apa yang baru saja terjadi di dalam sini?!"

​Namun, Angga tak mendengarkan Lulu maupun memedulikan Vika. Pandangannya telah terkunci sepenuhnya pada sosok pria yang berdiri tegap di ambang pintu.

​"Riko...?" gumam Angga. Suaranya tercekat di kerongkongan.

​Rasa sakit yang teramat familier tiba-tiba menghantam dada Angga bagai sengatan listrik. Bayangan masa kecil yang penuh luka, makian dan penolakan kembali menyeruak. Di balik tubuhnya yang tampak tegap, hati Angga merintih.

​"Keluarlah," perintah Angga tegas kepada Vika dan Lulu tanpa mengalihkan pandangannya dari Riko sedikit pun.

"Tinggalkan berkas itu di meja dan keluar. Sekarang"

​"B-baik, Pak..." cicit Vika panik seraya menarik lengan Lulu untuk bergegas keluar.

​Setelah pintu tertutup rapat dan menyisakan mereka berdua, keheningan di dalam ruangan mendadak terasa begitu mencekik.

​"Mau apa kamu ke sini?" tanya Angga dingin.

"Bukankah sudah kubilang, jangan pernah muncul lagi di depanku?"

​Riko terkekeh sinis, menyilangkan tangan di dada. "Kamu pikir aku sudi melihat wajahmu? Jangan kepedean, Angga. Aku ke sini cuma demi Ami. Dia minta kita berdua datang ke pesta ulang tahunnya besok malam"

​Angga membeku . "Ami? Ulang tahun?" Dengan jemari gemetar, ia merogoh ponselnya dan membuka kalender. Dan ya benar, besok adalah hari kelahiran adik kecil yang amat dirindukannya. Adik yang lahir dari rahim Marni, ibu kandungnya.

​"Ami... sudah kembali ke Indonesia?" lirih Angga, ketegangan di wajahnya mendadak goyah oleh rasa rindu.

​"Cih, bahkan kamu tidak tahu ibumu sendiri sudah pulang" cibir Riko tajam, mengumbar senyum mengejek.

"Datang besok malam ke rumah besar. Jangan buat Ami menangis hanya karena kelakuan egoismu. Dan ingat... jangan pernah berpikir kamu sudah menang, Angga"

​Tanpa menunggu jawaban, Riko berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Angga yang berdiri kaku dalam kepungan bayang-bayang masa lalu.

​Di luar ruangan, riuh bisik-bisik karyawan langsung pecah begitu Riko menghilang di balik lift.

​"Vik! Siapa pria tadi? Gila, ganteng banget tapi auranya seram!" seru seorang staf.

​"Dia ngaku saudaranya Pak Angga," bisik Vika masih syok, merapatkan tubuh ke meja. "Tapi kalian harus lihat tatapan mata mereka berdua tadi... seperti dua orang yang siap saling membunuh!"

​Teori dan gosip merebak cepat di sekeliling koridor, namun Lulu tak lagi memikirkannya. Wajah gadis itu pucat pasi.

​Usai menyerahkan kotak brownies pemberian Rama kepada Vika, Lulu memberanikan diri kembali mengetuk pintu ruangan Angga untuk menuntaskan pekerjaannya yang tertunda.

​Tok! Tok! Tok!

​Tak ada jawaban. Dengan dorongan perlahan, ia membuka pintu kayu itu.

​Di sana, di atas sofa kulit panjang, Angga terbaring terlentang. Matanya terpejam erat, napasnya berat dan satu titik air mata perlahan meluncur menembus sudut matanya yang tertutup membasahi pelipisnya.

​Lulu menghentikan langkahnya. Kesan tegas, sombong dan dingin sang manajer mendadak runtuh total di matanya, berganti dengan kerapuhan yang begitu dalam dan menyayat hati. Hati Lulu bergetar hebat melihat keheningan yang menyakitkan itu.

​Tak tega membangunkan ataupun mengganggu atasannya yang tampak begitu lelah dan terluka, Lulu memutuskan untuk membatalkan niatnya. Ia berjalan pelan tanpa suara menuju sudut sofa, lalu perlahan duduk bersila di atas lantai dingin di samping tempat Angga terbaring.

​Lulu memeluk lututnya rapat-rapat, menjaga keheningan itu tetap utuh dan secara diam-diam membiarkan sang manajer beristirahat di bawah naungan bayang-bayangnya sendiri.

1
-Thiea-
kenapa wanita itu bisa sampai dibunuh? Apa yang menjadi dasar dari tindakannya itu kira-kira?"
ginevra
astaga!!! tokoh utamanya meninggal dari episode pertama.
Myz Pena: penasaran kan.. ?? 🤭
total 1 replies
ginevra
ada apa ini? awal udah disuguhi adegan bekap membekap.
sinnox
Hayoloh lulu🫢
Myz Pena: Lulu OTW kerja keras 💪
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Lulu 💪✍️
Wawan
Waow /Toasted/
Myz Pena: ini karya pertama ku,, mohon selalu dukungannya ya... dan mari kita saling mendukung 🥹❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
ciber ara
makin suka sama ceritanya
semangat thor
Myz Pena: mohon dukungannya ya,, jalan ceritanya akan tetap mendebarkan hanya saya menyesuaikan bab2 sebelumnya karena terlalu panjang..terimah kasih sudah memberi banyk dukungan 🥹❤️❤️
total 2 replies
Anisa Nur Afifah
haii kak mampir lagi nih aku, semangat yaa . jngan lup mampir lagi di novelku🥰
Myz Pena: siap 🤩🤩
total 2 replies
Myz Pena
terimah kasih 😍❤️❤️❤️
Anisa Nur Afifah
seruu banget kaa, aku balik lagiii nih🥰
ciber ara
lnjut💪
Myz Pena: siap, updatenya setiap hari ya.. 😍
total 1 replies
Nisaicha
wah menarik kak ada visualnya juga 😍
jadi penasaran nih lanjut baca..
Myz Pena: di tunggu ya... updatenya tiap hari 😍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakkk
Myz Pena: terimah,, kasih ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!