Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bang Jay si tukang gosip
...Bab 16...
"Tidak harus begitu juga. Kita bukan takut hanya saja jangan memancing keributan. Kalau mereka jual, ya kita beli. Borong sekalian bila perlu," David mengemukakan pendapatnya.
Kelima orang itu pun sangat asyik mengobrol sampai pekerjaan mereka selesai.
Dengan adanya keempat sahabat baru ini, Jhon tidak lagi merasa kosong. Dia sekarang lebih banyak berbicara dan kosa katanya semakin bertambah walaupun kosa kata yang dia pelajari sedikit aneh dan nyeleneh. Bahkan tidak sedikit bahasa jorok yang dia dapat dari keempat sahabatnya itu.
"Jhon. Orang tua mu punya usaha apa?" Tanya Jay setelah mencuci tangannya.
"Petani," jawab Jhon singkat.
"Wah. Petani tembakau kah, petani gandum atau petani apa?"
"Ntah lah. Ketika aku di kampung, hanya membersihkan lahan. Masih belum di tanam,* jawab Jhon. Dia sama sekali tidak mengetahui bahwa pembukaan lahan pertanian itu hanyalah kedok agar semuanya terlihat alami dan tanpa dicurigai. Bagaimanapun, Jhon sampai saat ini bertanya-tanya dalam hatinya bagaimana dirinya bisa ditemukan hanyut padahal sungai di kampung itu bisa dikatakan sangat kecil. Bukan sungai melainkan hanya cabang kecil nya saja.
Yang tidak dia ketahui adalah, sebelum dia hilang kesadaran, Matt dan seratus orang lainnya melarikan diri sambil terus menggendong tubuhnya. Menjadi perisai guna melindungi keselamatannya. Mereka khawatir dengan serangan susulan yang dilancarkan oleh pasukan kekaisaran Zagraria yang dibantu oleh para pesilat dari sekte Alamud.
"Oh. Sedikit sekali bisa difahami tentang dirimu!" Jay sama sekali tidak bisa membendung ucapannya sampai David mencubit pahanya, barulah Jay Landers diam dan menyadari kesalahannya.
Jay, terkenal dengan banyak bicara dan blak-blakan. Orang seperti ini bicara dulu baru berpikir. Sama seperti Erick. Dia pemarah dan selalu bertindak dulu baru berpikir. Jika dia ingin berkelahi, maka dia akan meninju orang tersebut terlebih dahulu baru kemudian panik sendiri. Berbeda dengan Jasson dan David. Jasson orangnya sangat lurus dan polos. Kebanyakan menjadi pendengar daripada berbicara. Sedangkan David adalah pemikir yang handal. Sebelum berbicara, dia akan berpikir terlebih dahulu. Begitu juga dengan tindakan. Bisa dikatakan David ini orang yang sangat teliti dan memiliki wawasan yang luas. Kalau Jhon jangan di tanya. Dia tetap seperti orang yang linglung.
"Eh kalian tau tidak kalau sebenarnya di kampus kita ini ada ramai gadis cantik? Salah satunya yang memarahi Jhon di kafetaria tadi pagi. Sedangkan masih ada dua gadis lagi yang tidak kalah bahkan lebih cantik dari gadis galak di kafetaria itu,"
"Cepat sekali kau dapat informasi, Jay?" Ejek David sambil tak lupa menyenggol pundak Jay Landers.
"Biasa lah. Jay ini kan suka dengan gosip seperti emak-emak di pasar sayuran!" Balas Jasson pula.
"Yang bikin aku heran, ini adalah hari pertama kita di kampus. Tapi sepertinya semua berita ada di tangan Jay. Tidak sia-sia aku bersahabat dengan mu Jay!"
"Eh si sialan. Kalian itu apa. Kampungan. Aku ini tidak sama dengan kalian. Bagaimanapun, jiwa ku ini jiwa anak gaul. Semakin banyak informasi yang aku dapat, semakin aku bisa berbaur dengan mahasiswa yang lainnya. Ngomong-ngomong apa kalian tidak penasaran dengan siapa dua gadis yang lainnya?" Kata Jay pula memancing rasa penasaran yang lainnya.
"Kalian saja. Aku tidak tertarik!" Kata Erick sambil merebahkan tubuhnya yang terasa penat.
"Memangnya siapa?" David mulai penasaran. Begitu pula dengan Jasson.
"Hahaha. Bagaimana jika malam ini kalian mentraktir ku?" Otak kadal Jay mulai beraksi.
"Tidak tidak tidak. Kami tidak sanggup mentraktir tuan muda pengusaha peternakan sapi seperti dirimu. Harusnya kau yang mentraktir kami untuk makan malam ini," David segera melambaikan tangannya.
"Ya sudah. Tidak mau juga tidak apa-apa. Tapi sungguh sayang sekali. Dua gadis cantik itu. Andai dapat bersahabat pun aku rela jadi kacung seumur hidup. Uh.., betapa cantiknya," ekspresi Jay Landers benar-benar mencengangkan. Bahkan hampir saja air liur nya menetes memikirkan gadis bunga kampus itu.
"Sialan. Siapa sih orangnya? Aku akan mentraktir mu malam ini. Cepat katakan!" Jasson tak tahan lagi. Menurutnya, tidak apa-apa mentraktir Jay untuk makan. Sudah kepalang penasaran. Rugi beberapa Dollar saja tidak mengapa.
"Bagaimana dengan mu, David?" Jay masih enggan melepaskan peluang untuk menguras isi dompet David. Kalau hanya Jasson, mungkin dia tidak tega makan banyak. Tapi kalau mereka berdua yang mengeluarkan modal, tentunya dia akan mendapat jatah ganda. Bukankah itu lebih baik daripada yang baik.
"Tidak melebihi dua puluh dollar!" Jawab David.
"Kikir bin pelit. Tapi tidak apa-apa. Anggap saja aku sedang berbaik hati kepada kalian berdua. Gadis yang pertama bernama Lee Na. Dia adalah putri dari pengusaha perusahaan keamanan di distrik timur. Dikabarkan kalau perusahaan keamanan itu hanya kedok saja. Sebenarnya tuan Blake, ayahnya Lee Na ini adalah penguasa bawah tanah Distrik timur. Sedangkan untuk gadis lainnya, namanya Bianca Flair. Tidak kalah cantik dan tidak kalah kaya. Jika Lee Na memiliki rambut hitam dan pupil mata yang hitam, Bianca Flair ini memiliki rambut blonde dan mata kecoklatan. Menatap matanya saja seperti menatap masa depan. Apa lagi bisa bersama. Cerah masa depan mu seumur hidup,"
"Oh ya. Berarti jika ingin memiliki masa depan yang cerah, maka harus mendapatkan gadis itu, begitu kan maksud mu?"
"Tidak sepenuhnya benar. Tapi aku akan menunjukkan kepada mu foto kedua gadis itu. Lalu kau bisa menilainya sebelum memberikan bantahan liar!" Jay menyalakan handphone nya kemudian membuka galeri, mengklik salah satu gambar lalu zoom. "Ini dia. Yang ini namanya Lee Na. Bagaimana menurut mu?"
Selain Jhon yang tidak begitu perduli, David, Jasson bahkan Erick yang tadi rebahan spontan bangkit kemudian mendekat untuk melihat secantik apa gadis yang bernama Lee Na itu.
"Wuuuuuah. Cantik sekali. Senyum nya itu. Andai dia menceburkan diri ke dalam laut, aku yakin air laut yang asin akan berubah rasa menjadi manis," Jasson spontan berceletuk membuat yang lainnya menoleh ke arahnya secara serentak.
"Bagaimana? Apa aku benar?" Tanya Jay Landers merasa puas melihat reaksi sahabatnya itu.
"Seratus. Bukan. Seribu bahkan sejuta persen kau benar. Oh Tuhanku. Betapa berdenyut jantung ku melihat senyum yang rupawan seperti itu,"
"Jasson. Kendalikan diri mu. Lagak mu seperti orang kampung yang tidak pernah melihat dunia luar saja!" Tegur Erick.
"Kau anak kecil tau apa. Dengar kata senior mu ini. Kelak jika kau sudah berusia sembilan belas tahun, kau akan merasa apa yang aku rasakan,"
"Sialan. Aku tiga bulan lagi akan sembilan belas tahun. Lagak mu seperti kau ini lebih tua tiga tahun saja dari ku,"
semangat author untuk terus berkarya..../Good/💪
itu adalah angka keramat 18+++