Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Indira drop..
Arjuna tidak lagi mampu menahan diri. Ia keluar dari mobil dengan langkah lebar yang mengintimidasi. Kehadirannya di area sekolah yang sedang dalam suasana haru kelulusan itu seperti awan badai yang mendadak menutup matahari.
"Indira! Masuk ke mobil. Sekarang!" suara Arjuna menggelegar, membuat siswa-siswa di sekitar mereka menoleh serentak.
Indira mematung, kado dari Bima masih ada di tangannya. "Mas... tapi acaranya belum selesai..."
"Aku tidak suka mengulang perintah," Arjuna sudah berada di depan mereka. Ia melirik sinis ke arah Bima, lalu dengan gerakan kasar, ia merebut kado kecil itu dari tangan Indira.
"Eh, maaf, Anda siapa ya?" Bima mencoba bersikap berani meski nyalinya ciut melihat tatapan membunuh pria di depannya. "Saya sedang bicara dengan Indira."
Arjuna menarik sudut bibirnya, membentuk senyum sinis yang merendahkan. "Aku suaminya. Ada masalah?"
Suasana mendadak hening. Namun, bukannya takut, Bima justru mengerutkan kening. Sedetik kemudian, tawa hambar keluar dari mulutnya.
"Suami?" Bima tertawa tidak percaya, menatap lekat Arjuna dengan tatapan geli.
"Tuan,,Indira itu masih 17 tahun,jalan 18 tahun,,tidak mungkin dia menikah saat masih sekolah begini,,lagipula setahu ku Indira belum pernah punya pacar,apalagi suami." kekehnya.
Wajah Arjuna menggelap. Rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol. Diremehkan oleh bocah ingusan di depan publik adalah penghinaan terbesar baginya.
"Kau pikir aku bercanda?" desis Arjuna rendah.
"Indira adalah istriku,,dan aku suaminya,,kalau tidak percaya silahkan tanya langsung padanya."
Tawa Bima langsung terhenti. Matanya beralih ke Indira yang hanya bisa menunduk dalam dengan bahu bergetar. "Indira... ini... ini beneran?"
Tanpa menunggu jawaban, Arjuna menarik paksa lengan Indira. "Ayo pulang!"
"Mas, sakit!" rintih Indira.
Arjuna tidak peduli. Ia menyeret Indira menuju mobil, meninggalkan Bima yang masih berdiri mematung di gerbang sekolah, syok karena kenyataan pahit bahwa gadis yang ia sukai ternyata sudah terikat pada pria yang tampak seperti monster.
"Aduhhh,,tanganku sakit,," rengeknya menangis.
Arjuna menulikan telinganya mendengar rengekan istri sirinya.
Suasana di dalam mobil jauh lebih mengerikan. Arjuna mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih.
"Senang ditertawakan seperti tadi?" tanya Arjuna dingin.
"Mas yang mulai! Kenapa Mas harus bilang seperti itu di depan kak Bima?" isak Indira.
"Sekarang semua orang akan menganggapku wanita murahan yang menikah diam-diam!"
"Karena kamu memang milikku! Aku tidak peduli dunia tahu atau tidak, yang penting mereka tahu kau punya pemilik!"
"Aku manusia, Mas! Bukan barang!" teriak Indira frustrasi.
"Diam!" Arjuna memukul setir.
Indira menangis sesenggukan.
"Kamu jahat tau nggak?" isaknya lagi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba, Indira memegangi perutnya.
"Awhhh,,,perut ku sakit,,aahhhh...!" Indira mengerang kesakitan.
Arjuna awalnya mengira itu hanya taktik. "Jangan coba-coba berbohong untuk menarik simpatiku."
"Tidak, Mas... ini benar-benar sakit... Agh!" Indira merintih kesakitan, tubuhnya merosot di kursi mobil. Cairan bening mulai merembes, membasahi rok yang dikenakannya.
Arjuna menoleh dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melihat wajah Indira yang bersimbah keringat dingin dan ekspresi kesakitan yang sangat nyata.
"Indira?! Tahan... Indira!" Kepanikan mulai merayapi hati Arjuna. Ia segera memutar kemudi, bukan menuju rumah, melainkan ke rumah sakit terdekat.
"Berbaring lah dulu,,angkat kakimu keatas." titah Arjuna panik.
"awhhh,,sakit mas,,perutku sangat sakit." rintihnya.
Rumah Sakit - Unit Gawat Darurat
Pratama dan Hamidah sudah sampai di rumah sakit dengan napas tersengal-sengal.
Di sana, mereka menemukan Arjuna duduk di bangku tunggu dengan kepala tertunduk, pakaiannya kusut, dan tangannya gemetar.
"Apa yang kamu lakukan lagi, Arjuna?!" Pratama langsung mencengkeram kerah baju anaknya. "Sudah Ibu bilang, jangan buat dia stres! Kandungannya lemah!"
Arjuna hanya diam. perasaan bersalah seketika merayapi hatinya.
Dokter keluar dengan wajah serius. "Keluarga Nyonya Indira?"
Arjuna berdiri paling depan. "Bagaimana istri saya? Dan bayi saya?"
"Pasien mengalami kontraksi dini akibat tekanan psikologis yang hebat. Beruntung janinnya masih bisa diselamatkan, namun kondisi ibunya sangat drop." jelas sang dokter.
Hamidah menangis mendengar hal itu, sementara Pratama menatap Arjuna dengan kekecewaan mendalam.
"Puas kamu sekarang?" desis Pratama. "Kamu ingin memiliki dia seutuhnya, tapi cara yang kamu lakukan justru membunuhnya secara perlahan."
Arjuna berjalan gontai masuk ke ruang rawat setelah diizinkan. Ia melihat Indira terbaring lemah dengan selang infus. Wajah yang biasanya cantik dan ceria itu kini tampak sangat layu.
Ia duduk di samping tempat tidur, menyentuh tangan Indira yang terasa sangat dingin. Untuk pertama kalinya, benteng keangkuhan Arjuna retak.
"Jangan sampai bayinya kenapa napa Indira,,aku akan marah jika sampai terjadi sesuatu pada anakku." gumamnya pelan.
***
Setelah beberapa jam Indira pun siuman.
yang pertama dilihatnya adalah suami sirinya.
Sedang duduk di tepi brankar tempatnya berbaring.
Kamu sudah sadar?"
tatapan Arjuna tidak se menyeramkan tadi.
"Maafkan aku mas,,aku,,aku.."
"Tidak perlu,,beruntung kandungan mu tidak kenapa napa,,kalau tadi anakku bermasalah karena kamu,aku tidak akan memaafkan mu," lagi lagi Arjuna menyalahkan Indira.
gadis malang itu menggigit bibir bawahnya.
frustasi kembali menghampiri nya.
Sssshhhhh...!
Indira mengapit ketiaknya.
"Ada apa?"
"Dadaku sudah penuh,,siang ini aku belum menguras nya." Indira memalingkan wajahnya menahan malu.
"Keluar,,pastikan tidak ada yang masuk selama aku belum mengijinkan orang untuk masuk." titahnya pada suster yang berjaga disana.
suster itu mengangguk paham,lalu keluar dari sana.
Tanpa ba bi bu Arjuna membuka pakaian Indira,tanpa sungkan sama sekali.
Arjuna memposisikan dirinya berbaring sejajar dengan Indira,lalu mulai melahap dada gadis itu yang membengkak.
Indira memejamkan matanya merasakan kelegaan,karena Arjuna menyedot cairan yang membuatnya hampir meriang.
Arjuna melepas dada Indira,beralih ke dada satunya lagi yang masih penuh sesak.
Tanpa sadar Indira mengusap usap surai hitam Arjuna,layaknya ibu dan putra.
***
"Bagaimana keadaan Indira?" ibu dan ayahnya langsung memberondong pertanyaan pada putranya.
"Indira baik baik saja,begitu juga dengan kandungannya. sebentar lagi dia sudah bisa pulang." jawabnya datar.
Hamidah langsung masuk,begitu juga dengan Pratama.
"Sayang,bagaimana keadaan mu?" Hamidah langsung duduk ditepi brankar.
"Sudah baikan nyonya,maaf kan saya telah membuat nyonya dan tuan khawatir,," Indira memasang wajah penyesalan.
"Tidak apa nak,, yang penting kamu sehat,, dan juga calon cucu kami,,"
***
Saat sore Indira dibawa pulang kerumah.
Indira dibaringkan di kasurnya di kamar.
Setelah menyelimuti tubuh istrinya,Arjuna keluar dari sana.
Asupan asinya masih baru dia lakukan saat di rumah sakit.
"Arjuna,,kemarilah." Hamidah memanggil putranya.
"Ada bu? kalau ibu memanggil ku untuk memarahiku apalagi menyalahkan ku,Lebih baik tunda saja dulu, karena aku sangat lelah." Arjuna menghempaskan bokongnya di sofa empuk.
Belum juga Hamidah mengungkapkan apa yang hendak dikatakannya,terdengar suara mobil yang berhenti di pelataran rumah.
"Astaga,,Clarissa datang..!" pekik ibunya panik,saat melihat sesosok tubuh semampai melenggang masuk kedalam.
bersambung...
semoga aja pernikahan Indira dan Arjuna di warnai cinta
klo gt gn kn cr pnculik kn hamidh.... tutup semua jalur indi dr ank kau