NovelToon NovelToon
KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS 2

KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS 2

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjaku02

Kisah ini lanjutan dari KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS seasons 1
Banyak adegan kasar dan umpatan di dalam novel ini.


Cerita akan di mulai dengan Cassia, si Antagonis yang mendapatkan kesempatan terlahir kembali, di sini semua rahasia akan di ungkap, intrik, ancaman, musuh dalam selimut dan konflik besar, kisah lebih seru dan menegangkan.


Jangan lupa baca novel KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS season 1 agar makin nyambung ceritanya. Happy reading!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

 Dax menatap ibunya, senyum tulus mengembang di bibirnya sosok yang jarang terlihat oleh orang luar, tapi begitu menghangatkan hati keluarganya. 

 "Cassia menerima, Mom. Setelah lulus kuliah nanti, kami akan tunangan," jawabnya dengan suara penuh bahagia, seolah melukiskan masa depan yang baru dan cerah.

  Crystal menggigit bibirnya, tak bisa menahan rasa penasaran yang membuncah. "Kenapa nggak langsung menikah saja?" Desakannya menggantung, seolah sudah membayangkan Cassia sebagai menantunya.

  Dax menggeleng, suaranya lebih lembut tapi tegas. "Mom, Cassia sudah mau menerima lamaranku saja sudah sebuah anugerah. Kami butuh waktu, ini bukan soal buru-buru."

  Dalam kehangatan ruang keluarga itu, di balik sikap dingin yang biasanya ditampilkan Dax di dunia luar, terpancar sosok anak yang mencintai dan menghargai, membingkai harapan dan cinta dalam setiap kata.

...****************...

Sedangkan di sisi lain.

  Jika kebahagiaan di dapat Cassia setelah melewati banyak badai kehancuran di kehidupan dulu.

  Seperti waktu dan karma, badai kesengsaraan dan kehancuran seperti menghampiri Nafisha, ia bertemu dengan keluarga aslinya. Namun, harapan hidup mewah dan bahagia harus sirna karena kekejaman juga kelicikan Amelia.

  Seperti hari ini. Jam menunjukkan pukul delapan malam, Liam, dan kedua orang tuanya belum kembali karena ada urusan, jadi hanya ada ia dan Amelia di temani para pelayan di rumah.

  Amelia datang menyapa Nafisha yang berdiri di dekat kolam, dia membawa nampan berisi dua jus di tangannya.

  "Tidak baik merapat Nafisha," suara itu membuat Nafisha sontak menoleh.

  "Kamu? Apa lagi rencanamu sekarang?" tanya Nafisha penuh selidik.

  "Apa? Aku hanya membawa air minum saja," jawab Amelia acuh.

  "Kau bohong, kan? Aku tahu kau sengaja merencanakan semuanya agar mereka benci padaku, iya kan Amelia?" bentak Nafisha, dia menatap Amelia penuh selidik.

  "Memang kenapa? Kau harusnya sadar, Nafisha!" suara Amelia pelan. Menggetarkan hati rapuh Nafisha,"Mereka itu keluarga ku," sambungnya dengan smrik licik.

  "Oh ya? Apa kau tak sadar? Bagaimana mereka menjadi keluargamu saat akulah putri kandung mereka?" sindir Nafisha, dia meremehkan Amelia dengan senyum sinis.

  "Mau bukti bagaimana mereka begitu mencintai Amelia ini? Apa kau tak sadar juga?" balasnya tak kalah sinis.

  "Kau membongkar kebusukan mu sendiri, Amelia! Akan aku buat mereka membenci kamu," kata Nafisha yakin, matanya menyala penuh ketegasan.

  "Apa maksud mu?" tanya Amelia, wajahnya menunjukkan sedikit getar takut yang terlihat jelas.

  Nafisha tersenyum miring, dia berjalan mendekat pada Amelia dan berbisik,"Rekaman itu akan aku kirim pada mereka!"

  Bisikan itu bagaikan bom waktu yang bisa meledak, dan itu membuat jantung Amelia berpacu cepat, bayangan akan kebencian keluarganya terhadap dirinya terlihat jelas dan itu membuat Amelia ketakutan.

  Amelia meletakkan gelas, dia berbalik dan mengejar Nafisha dengan cepat,"Nafisha, berhenti kamu!" teriak Amelia.

  Teriakan Amelia menggema di dalam rumah luas milik keluarga Smith, para pelayan yang mendengar itu hanya berani mengintip dari jarak jauh.

  Nafisha terus berjalan, akan ia kirimkan rekaman itu pada Liam, dan akan ia pastikan semua keluarganya tahu bagaimana busuknya Amelia itu."Kau mau menyingkirkan aku? Kita lihat siapa yang akan tersingkir kali ini!" desis Nafisha dengan senyum miring.

  Amelia terus mengejar, langkahnya cepat seperti di kejar bayang-bayang kebencian keluarganya jika mereka tahu.

SRETT!

  Amelia menarik pundak Nafisha hingga membuat gadis cantik itu berbalik dengan cepat."Kau tuli ya?" bentak Amelia.

  "Mau apa? Kau takut?" tanyanya sinis.

  "Serahkan apa yang kau bawa itu!" kata Amelia, dia menatap Nafisha dengan mata mendelik.

  "Kau mau ini?" tanya Nafisha dengan wajah meledek.

  Amelia geram, ia meradang wajahnya menunjukkan ini bukan permainan anak kecil yang tak berbahaya,"Serahkan Nafisha!" bentaknya lagi.

  "Ambil jika kau bisa!"

  Amelia menggeram marah, dia meraih dan berusaha merebut apa yang ia incar, sesuatu yang seperti bom waktu jika jatuh ke tangan orang tuanya.

  Amelia melihat sekitar, dia tersenyum sinis, justru ia memiliki rencana bagus akan hal ini, ia yakin rencana kali ini akan membawa Nafisha ke dalam kehancuran yang sebenarnya.

  Amelia melihat sekitar, dia harus mencari celah buta CCTV agar semua kejahatannya tak di ketahui. Namun, walaupun tak buta CCTV pun ia memiliki seseorang di belakangnya yang mampu menghapus semua CCTV itu untuk di rubah.

  'Kau akan hancur kali ini, Nafisha!' batin Amelia dengan smrik licik.

...****************...

  Di ruang keluarga yang hangat itu, mereka berkumpul, menikmati detik-detik kebersamaan di hari libur yang tenang. 

  Cassia duduk bersandar erat di bahu ibunya, sementara Vladimir juga tiduran di pangkuan ibunya. Thomas memandangi pemandangan itu dengan dada bergetar, rasa hangat memenuhi relung hatinya.

  Margaretha memecah keheningan, suaranya lembut tapi penuh harap, "Bagaimana hubunganmu dengan Dax, Nak?"

  Cassia menunduk, senyum malu-malu terukir di bibirnya. Sejenak, kenangan di rumah kaca itu berputar dalam pikirannya momen yang tak pernah bisa ia lupakan. 

  Dengan suara pelan dan getar yang nyaris tak terdengar, ia menjawab, "Baik, Mi... Aku sudah menerima lamaran Dax." Jawaban itu seperti gemuruh yang menyambar ruang itu.

  Margaretha terdiam sejenak, mata Thomas melebar penuh tak percaya, dan Vladimir yang tiba-tiba terjaga, menatap tajam ke arah sang adik. 

  "Kau serius? Aku pikir kau akan menolak..." Vladimir berkata dengan suara berat, menahan rasa bingung dan sedikit luka di dada. "Kenapa tiba-tiba berubah? Apa yang membuatmu menerima Dax begitu cepat?"

  Cassia menatap Vladimir, dadanya sesak oleh gelombang perasaan yang bercampur bahagia, ragu, dan takut kehilangan semuanya dalam sekejap. 

  Cassia menghela napas panjang, dadanya bergemuruh dalam hening. Matanya terpaku tajam pada kedua orang tuanya, suaranya pecah oleh beban yang tak bisa lagi ia tahan.

  "Baru sekarang aku sadar… selama ini, yang benar-benar mencintaiku dengan tulus bukan hanya kalian, tapi Dax." Ia menarik napas dalam-dalam, seolah mencari keberanian untuk mengungkapkan rahasia terdalamnya.

  "Dia bukan sekadar lelaki biasa… dia setia, bukan hanya di kehidupan ini, tapi juga di kehidupan kita yang lalu." Kata-kata terakhir ia ucapkan dalam hati Cassia. 

  Thomas mengangguk pelan, matanya berkilat bangga. "Benar kata kamu, nak. Keturunan Yazeed memang tak pernah diragukan soal kesetiaan. Mereka bukan sekadar keluarga biasa mereka adalah legenda yang diidamkan banyak orang."

  Margaretha tersenyum kecil, penuh keyakinan. "Benar apa kata papi kalian, Keluarga Yazeed bukan hanya sekadar nama. Mereka adalah mimpi yang jadi kenyataan bagi siapa saja yang menginginkan kekuatan dan kehormatan."

  Thomas menghela napas panjang, sorot matanya tajam penuh makna. "Ingat, kamu harus bersyukur Dax memilih kamu dari ribuan wanita yang suka padanya. Jaga dia dengan segenap jiwa, jangan sampai terlepas. Kalau sampai hilang, kau akan menyesal selamanya."

  Cassia menatap lurus ke depan, suaranya tegas membahana, "Aku tak akan pernah melepaskannya, Pi. Apapun yang terjadi aku akan bertahan." 

   Mereka memandang Cassia dengan campuran kebanggaan dan kelegaan, seolah menaruh harapan besar untuk kebahagiaannya.  Dalam hati, Thomas dan yang lain bergumam, 'Putriku/adikku kau memang pantas meraih bahagia itu'.

  Sebuah doa dan harapan terselip di antara hembusan angin bahwa cinta yang dia pegang akan menjadi benteng terkuat dalam perjalanan hidupnya.

1
MataPanda?_
trus semngat kak sampe hapy ending 😀
hidagede1
ucapan cassia menjadi kenyataan, nafisa sampai tidak kepikiran untuk memikirkan/menjatuhkan cassia
hidagede1
nafisha benar" lupa akan cassia
Erna Ismail
👍
Aqil Baim
semangat pagi
hidagede1
sama" rubah licik, yg paling licik yg menang 🤭😂
hidagede1
jd arzhela tau kalo cassia hidup kembali?
Senjaku02: belum.
total 1 replies
hidagede1
kalo smith tau anak kandung nya, knapa smith tetap mencintai anak angkat nya ketimbang anak kandung nya?
Senjaku02: ikuti terus kelanjutannya ya☺️☺️
total 1 replies
MataPanda?_
trus lanjut kak semangat 😀
Jue
Kenapa Veronica tidak berjodoh dengan abang Casia sahaja , Dengan itu hubungan Veronica dan Casia akan bertambah erat serta dekat .
Jue
Akhirnya ada cinta di hati Casia buat Dax , Semoga mereka bahagia dan menang melawan kejahatan Nafisha dan Darian
MataPanda?_
wah udah ada kelanjutan y trimakasih kak semangat trus..
selalu d berikan kesehatan 😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!