Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner
Senyuman Naya membuat hati Mahen terasa hangat. Ia sudah meyakinkan diri kalau memang dirinya jatuh cinta pada gadis ini.
"Terima kasih, ya ..." kata Naya.
"Sama-sama ...."
Tidak lama kemudian makanan yang Mahen pesan sudah datang. Berbagai olahan seafood begitu menggiurkan. Apalagi lobster bakar dengan aroma yang menusuk hidung membuat perut semakin keroncongan.
"Makanlah ... Ini enak-enak banget. Kamu harus cobain semuanya ..." ujar Mahen bersemangat.
Tidak lupa ia mengupas-ngupas udang dan meletakkannya pada piring Naya. Lalu ia juga melepaskan daging lobster dari cangkangnya dan kembali ia letakan di piring Naya. Begitu telaten dan tentu itu menarik perhatian Naya.
Hal sederhana yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Tiga tahun berpacaran dengan Miko, tidak pernah ia di perlakukan seperti itu bahkan untuk sekedar hal sederhana di kupaskan udang.
"Makanlah ... Itu enak banget ..." titah Mahen.
Naya memakan udang yang sudah Mahen kupaskan dan memang enak sesuai selera Naya yang pedas dengan sedikit ada manisnya.
"Hmmm beneran enak ..." ujar Naya.
"Makanlah yang banyak." Mahen kembali mengisi piring Naya.
"Makasih. Kamu juga makan dong ..." titah Naya.
Mahen menyuap ikan bakarnya. "Mmmhhh ikannya selalu enak. Setiap saat rasanya tidak pernah berubah."
"Kau sering kemari?" tanya Naya.
"Gak terlalu sering sih."
"Pasti bawa pacar ya?" cetus Naya.
"Ya enggaklah. Aku gak pernah pacar-pacaran, pernah sih dulu waktu sekolah cinta-cinta monyet gitu," jawab Mahen dengan tertawa. "Ini loh, aku kan seneng fotografi dan tempat-tempat kaya gini tuh bagus buat jadiin objek foto. Gitu," jelasnya.
"Oh kirain."
"Enggaklah ...."
"Udah lama suka fotografi?" tanya Naya mulai penasaran dengan kehidupan Mahen.
"Dari zaman sekolah sih."
"Hmmm ...."
"Gimana? Kamu suka makanannya?" tanya Mahen.
"Ya lumayan suka lah. Nanti kapan-kapan saya ajak mama sama papa makan disini," ujat Naya.
"Kalau tempatnya? Suka gak? Menurutmu romantis gak?"
Naya melihat sekitar. "Lumayan suka sih cocok buat hilangin penat dan romantis juga, tapi kayaknya gak terlalu rame," ujarnya melihat hanya ada mereka berdua dan tiga meja lainnya.
"Weekday emang agak sepi, ramenya kalau weekend. Pasti rame banget ..." jawab Mahen.
"Eh iya, sampe lupa. Ada yang ingin saya bicarakan," ucap Naya.
"Iya aku juga."
"Jadi, gimana? Mau gak nikah pura-pura dengan saya?" tanya Naya to the point.
"Aku juga mau bicarakan soal ini."
"Gimana ... Gimana?"
"Mmmhhh menurutmu bagaimana kalau aku ini orang kaya?" tanya Mahen.
"Orangtua saya sudah tahu kamu. Gak mungkinlah kalau pura-pura kaya ...."
"Memangnya orangtuamu gak masalah kalau aku gak kaya?"
"Yang penting itu jujur, setia, pekerja keras. lagi pula aku juga tidak minat dengan pria kaya! Arogan, egois, selingkuhan dimana-mana ..." cetus Naya.
Dengan mengatakan hal yang sebenarnya, tentu Mahen akan di tolak mentah-mentah oleh Naya walaupun itu hanya pura-pura.
"Bagaimana ini?" batin Mahen.
"Mama minta keseriusanmu. Lagi pula hubungan kita sudah tersebar di grup keluarga, kalau gak jadi nikah sama kamu akan semakin besar kepala mereka! Sebenernya, saya gak peduli dengan mereka, tapi kasihan papa," tutur Naya.
Mahen tidak boleh melewatkan kesempatan ini agar selalu dekat dengan Naya. Dengan semangat ia menyetujui ajakan Naya untuk menikah.
"Baguslah kalau kau setuju. Bawa saja orangtuamu ke rumah saya, apa adanya jangan pura-pura kaya ..." pinta Naya.
"Oke."
"Saya harus bayar berapa?" tanya Naya. "Bagaimana kalau lima ratus juta di muka? Ya itung-itung buat modal menikahi saya."
"Harus banget nerima uangnya?"
"Iya. Ini kan kerjasama. Apa harus saya buatkan kesepakatannya?" tanya Naya.
"Terserah padamu saja, tapi pernikahan kita jatuhnya beneran loh. Apa gak akan ketauan?"
"Iya beneran lah. Begini saja, untuk ke depannya kita pikirkan saja nanti. Sekarang yang terpenting adalah menikah dulu."
"Baiklah. Aku ikut padamu saja ...."
Setelah pembicaraan panjang itu sembari menikmati makanannya. Setelah selesai, Naya memanggil pelayan dan hebdka membayarnya, tapi Mahen menghentikan itu dan ia membayar semua makanan itu membuat Naya heran.
Baru saja kemarin bayarin makan, sekarang bayarin lagi. Makanan yang mereka makna pun tidaklah murah sehingga membuat Naya bertanya-tanya.
"Kenapa kau yang bayar sih?"
"Aku yang ngajakin masa kamu yang bayar, tenang saja aku punya uang kok," ujar Mahen.
"saya ganti aja, ya. Sama yang kemarin juga." Naya menawari.
"Jangan Naya. Sudah gak apa-apa ...."
"Hmmm baiklah."
Setelah selesai membayar, Naya dan Mahen memilih untuk berjalan-jalan sejenak di pantai menikmati semilir angin laut yang lumayan kencang.
"Aku tidak pernah berpikir akan menikah denganmu."
"Saya juga. Dari semejak putus saya bertekad untuk tidak menikah, tapi membuat papa khawatir tidak baik juga. Kesehatannya pasti terganggu karena memikirkan saya terus ..." ungkap Naya.
Biasanya ia akan menutup rapat tentang apapun yang di rasakan, tapi saat bersama Mahen ia percaya untuk bebas bercerita.
"Namanya orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya."
"Ya, apalagi saya anak satu-satunya. Membuatnya marah, kecewa, hati saya merasa bersalah ...."
"Baiklah. Secepatnya aku akan membawa orangtuaku ke rumahmu, tapi sepertinya kita harus bertemu mamaku dulu deh," ujar Mahen.
"Ayo aja sih."
"Besok gimana?" tanya Mahen.
"Besok saya ada kerjaan keluar kota dan baru akan pulang hari minggu. Paling senin aja," jawab Naya.
"Oke. Senin kita ketemu mamaku ..." Mahen begitu yakin.
Sebelum pulang, mereka mengabadikan moment malam itu dengan mengambil beberapa gambar dengan kamera yang Mahen bawa.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan mereka memutuskan untuk pulang. Melihat motor Mahen, Naya berpikir pulang naik motor itu akan menyenangkan.
"Baiklah. Kamu hati-hati nyetirnya, aku ikuti dari belakang."
"Kayaknya saya pulang naik motor denganmu saja. Kayaknya seru naik motor malem-malem ..." jawab Naya.
"Terus mobilmu?"
Naya merogoh ponselnya lalu menghubungi sopir untuk mengambil mobilnya.
"Udah beres. Sopir akan mengambilnya," ujar Naya.
"Oke. Ayo aku antar sampai ke rumah," ajak Mahen bersemangat lalu memasangkan helm pada Naya. Lalu ia melihat Naya hanya menggunakan blazer kemudian ia melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Naya.
"Angin malam dingin."
"Gak apa-apa, kau pakai saja," tolak Naya.
"Kalau mau ikut naik motor, pakai!"
"Hmmm iya ... Terima kasih." Naya menaiki motor Mahen.
"Pegangan." titahnya.
Naya melingkarkan tanganya pada perut Mahen dan motor melaju dengan kecepatan sedang. Menyusuri jalanan kota di malam hari terasa menyenangkan. Lampu-lampu jalanan menemani perjalanan itu.
"Seru banget ..." teriak Naya.
"Pegangan ..." sahut Mahen.
"saya mau merentangkan tangan boleh?" teriak Naya.
"Oke, aku pelankan lajunya."
Perlahan-lahan Naya merentangkan tangannya, merasakan angin semilir seraya berteriak, "Aaaghhhhhh ini menyenangkan ...."
Mahen tersenyum senang bisa membuat Naya merasa lepas dan bahagia.