Kisah tentang para remaja yang membawa luka masing-masing.
Mereka bergerak dan berubah seperti bola kuning, bisa menjadi hijau, menuju kebaikan, atau merah, menuju arah yang lebih gelap.
Mungkin inilah perjalanan mencari jati diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paffpel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Saat ini, sedang jam istirahat. Rinaya, Dipa dan Aran, sedang melukis di ruangan ekskul seni rupa.
Ruangan itu tenang dan sunyi, Rinaya, Dipa dan Aran, Hanya fokus dengan kanvas mereka masing-masing.
Tangan Aran berhenti, dia menaruh kuasnya. Dia menatap lukisannya sambil ngangguk-ngangguk pelan. “Sip, udah pas,” pikir Aran.
Aran melirik Dipa yang sedang fokus melukis. Dia senyum tipis, lalu berdiri dan menghampiri Dipa.
Aran berdiri diam di samping Dipa. Dia hanya memperhatikan lukisan Dipa. Mulutnya terbuka sedikit, sambil ngangguk-ngangguk.
Tiba-tiba Dipa berhenti melukis. Tangannya bergetar halus.
Aran memiringkan kepalanya. Dia menyentuh bahu Dipa. “Kenapa, Dip?”
Dipa menundukkan pandangannya. “E-enggak b-bang.”
Rinaya melirik mereka, dia hanya diam sambil memperhatikan.
Alis Aran naik sedikit. Dia langsung mengangkat tangannya dari bahu Dipa. “Eh! Lu pasti risih ya? Maaf ya, hehe,” Aran menggaruk kepalanya, dia pergi, kembali ke lukisannya.
Setelah Aran pergi, Dipa menarik dalam napasnya. Perlahan-lahan dia tenang lagi dan lanjut melukis.
Rinaya masih menatap Dipa. Dipa sadar dia di tatap oleh Rinaya dan melirik Rinaya. “K-kenapa, Rin?”
Rinaya menyipitkan matanya. Kepalanya mendekati Dipa. “Lu kalau deket orang lain kenapa selalu gitu?”
Rinaya memundurkan kepalanya. Dia memiringkan kepalanya. “Terus kenapa kalau sama gua nggak?”
Dipa pelan-pelan memalingkan pandangannya dari Rinaya, dia melihat lukisannya. “Karena nggak nyaman, nggak tau kenapa, karena dari kecil udah gitu. Dan gua juga nggak tau kenapa, tapi… di deket lu, rasanya nyaman aja,” Dipa senyum tipis.
Mata Rinaya membesar sedikit. Dia tersenyum. “Berarti lu bakal kesepian kalau nggak ada gua, haha,” Rinaya menepuk pelan punggung Dipa.
Sedangkan di sisi Juan dan Rian. Lagi-lagi Arpa pergi dengan Depa, meninggalkan Juan dan Rian.
Bahu Juan turun dan pandangannya ke bawah. Tapi Rian, dia menatap fokus ke arah Arpa dan Depa.
Rian menyenggol pelan Juan. “Jun, gimana kalau kita nimbrung aja ke mereka berdua?”
Alis Juan mengkerut halus. Dia menatap Rian. “Nggak. Gua nggak suka sama si Depa.”
Alis Rian terangkat sedikit. Dia diam sebentar. “Yaudah, tapi gua mau ke mereka ya, dan… Depa nggak seburuk itu kok,” Rian menaruh tangannya di bahu Juan, lalu dia melepaskan tangannya perlahan, dan pergi.
Rian pun menyusul mereka, Rian berlari ke arah Arpa dan Depa. “Oi, Rap, Dep.”
Arpa dan Depa nengok ke belakang. “Oi, Jun, kenapa?” kata Arpa.
“Lu mau kemana, Rap?” tanya Rian.
“Ke kantin,” jawab Arpa.
“Kenapa nggak ngajak-ngajak?” kata Rian.
Arpa diam sebentar. Dia menatap fokus lantai sambil memegang dagunya. “Iya juga ya, nggak tau juga sih, gua di ajak Depa, terus reflek ikut aja.”
Tiba-tiba mata Arpa membesar. Dia menatap Depa dan pelan-pelan menjauh dari Depa. “Jangan-jangan… gua di hipnotis?” mulut Arpa terbuka.
Depa langsung ketawa. “Hahaha, di hipnotis katanya, hahaha,” Depa mukul-mukul Rian.
Arpa melihat Depa. “Lah, malah ketawa dia.”
Arpa melirik Rian, dia melirik-lirik sekitar Rian. “Si Jun mana?”
“Di kelas,” Rian nunjuk ke arah kelasnya.
Arpa memiringkan kepalanya. “Kenapa nggak lu ajak?”
Rian mengusap tengkuknya. “Katanya dia, nggak mau.”
Arpa ngangguk pelan. “Ohh gitu, yaudah ayo.”
Mereka bertiga pun ke kantin, mereka beli makanan yang mereka inginkan, dan memakannya.
Setelah kenyang, mereka saling diam. Arpa mengetuk-ngetuk meja. Depa menggerak-gerakkan kakinya. Rian melirik ke berbagai arah.
Arpa menghela napas. “Bosen banget dah.”
Depa tiba-tiba nyengir. “Gua tau kita harus ngapain.”
Arpa nengok ke Depa. “Ngapain, Dep? Seru gak?”
Depa berdiri sambil ketawa kecil. “Udah ikut gua sini, seru pokoknya.”
Depa melangkah pergi. Arpa dan Rian pun ngikut.
Depa, Arpa dan Rian berjalan menuju ruangan ekskul seni rupa.
Mereka pun sampai di pintu ruangan. Depa langsung ngebuka pintu tanpa ngetuk. “Halo semuanya, haha,” Depa nyengir.
Aran melirik Depa. “Ngapain lu? Selain anggota di larang masuk.”
Alis Depa mengkerut tipis. “Berisik lu, tua.”
Aran mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. “Bener-bener ni bocah.”
Arpa dan Rian pun ikut masuk. “Halo bang, halo semuanya,” Arpa melambaikan tangannya.
Amarah Aran langsung menghilang. “Arpa? Hehe, ngapain lu? Mau masuk ekskul seni rupa?”
Arpa menggelengkan kepalanya. “Nggak bang, gua di ajak si Depa aja, hehe,” Arpa menggaruk kepalanya.
Aran melirik Depa. Dia mengelus dadanya. “Orang kaya dia mah jangan di peduliin.”
Depa menendang pelan kaki Aran. “Eh, niat gua baik ya, gua pengen ngenalin ekskul seni rupa, siapa tau si Rap atau si Rian pengen masuk.”
Aran menghembuskan napasnya. “Ya, ya, seterah lu dah. Paling akal-akalan lu doang itu mah.”
Rian mendekati Aran. “Halo bang, gua Rian.”
Aran menyentuh bahu Rian. “Halo Rian, Gua Aran,” Aran nyengir.
Arpa melirik ke arah Dipa. Dia menghampiri Dipa. “Halo, Dipa kan ya?”
Dipa mengangguk. Dia gemetar tapi lebih tenang dari biasanya.
Rinaya melirik Arpa. “Dia nggak nyaman kalau deket orang lain, hati-hati.”
Arpa menatap Rinaya, lalu melirik Dipa. “Ohh gitu ya?”
Arpa mundur lumayan jauh. “Kalau gini gimana? Aman ga?” Arpa nyengir sambil ngasih jempolnya.
Dipa menatap Arpa. Dia tertawa kecil sambil memalingkan mukanya.
Rinaya ngelirik Dipa. Dia memiringkan kepalanya. “Dia ketawa?” kata Rinaya di dalam hati.
Depa menatap Dipa. Matanya terbuka lebar dan mulutnya terbuka. Badannya kaku. “Dipa… ketawa?” kata Depa di dalam hatinya.
Depa mendekati Dipa pelan-pelan. Depa berdiri di samping Dipa. Dia melirik Rinaya, lalu melirik Arpa. “Dip, lu melukis dan menggambar lagi, karena si kucing itu atau karena lu mau?”
Dipa menatap Depa. “Sekarang… dua-duanya, Dep,” Dipa senyum tipis.
Alis Depa terangkat. Dia senyum, lalu melirik Rinaya. “Woi, kucing, gua nitip Dipa ya.”
Depa langsung pergi tanpa bicara apapun lagi.
Aran melirik Depa. “Dih, sok keren amat tuh bocah.”
Aran menatap Arpa dan Juan. “Kalian kalau masih mau di sini juga gapapa, santai-santai juga boleh.”
Arpa dan Rian ngangguk. “Oke bang, kita di sini ya,” kata Rian.
Sedangkan Depa, dia berjalan sambil menatap langit dari jendela. Senyum tipis belum hilang dari mukanya.