NovelToon NovelToon
Cinta Di Raga Baru

Cinta Di Raga Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nayla hidup dalam pernikahan penuh luka, suami tempramental, mertua galak, dan rumah yang tak pernah memberinya kehangatan. Hingga suatu malam, sebuah kecelakaan merenggut tubuhnya… namun tidak jiwanya.
Ketika Nayla membuka mata, ia terbangun di tubuh wanita lain, Arlena Wijaya, istri seorang pengusaha muda kaya raya. Rumah megah, kamar mewah, perhatian yang tulus… dan seorang suami bernama Davin Wijaya, pria hangat yang memperlakukannya seolah ia adalah dunia.

Davin mengira istrinya mengalami gegar otak setelah jatuh dari tangga, hingga tidak sadar bahwa “Arlena” kini adalah jiwa lain yang ketakutan.

Namun kejutan terbesar datang ketika Nayla mengetahui bahwa Arlena sudah memiliki seorang putra berusia empat tahun, Zavier anak manis yang langsung memanggilnya Mama dan mencuri hatinya sejak pandangan pertama.
Nayla bingung, haruskah tetap menjadi Arlena yang hidup penuh cinta, atau mencari jalan untuk kembali menjadi Nayla..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Farida melangkah dengan pelan, mengikuti gerakan Arlena, Farida juga takut salah, apalagi ini pertama kalinya Farida datang ke acara amal.

Semakin dekat, semakin jelas wajah seseorang, wajah yang selama ini hanya Farida kenang lewat foto usang dan doa-doa panjang setiap malam. Wajah suami yang Farida yakini telah tenang di surga, ternyata berdiri beberapa langkah di depannya, hidup, sehat, dan berpakaian rapi seperti pria sukses.

Dunia Farida seakan runtuh dalam satu detik.

Dadanya bergetar, napasnya tercekat. Ingatannya berkelebat pada malam kecelakaan itu, tangisan Nayla yang memanggil ayahnya, dan hari-hari panjang sebagai janda yang berjuang sendiri membesarkan anak.

"Arlena benar." batin Farida pahit. "Rama memang masih hidup." ucapan Arlena saat itu masih terngiang di kepala Farida, saat Arlena memberitahu kalau Rama masih hidup.

Sementara itu, Rama yang baru saja melangkah maju mendadak membeku. Senyum di wajahnya menghilang seketika saat matanya menangkap sosok Farida. Wajahnya pucat, tubuhnya kaku, seolah melihat hantu yang bangkit dari kubur.

“Fa—” bibir Rama bergerak, tapi tidak ada suara keluar.

Farida mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Ada dorongan kuat untuk menampar wajah pria yang berdiri tidak jauh darinya, menumpahkan semua amarah, semua luka yang selama ini ia pendam. Namun Farida menahan diri. Matanya berkaca-kaca, tetapi sorotnya tajam, dingin, penuh kekecewaan.

“Mas Rama,” ucap Farida akhirnya, suaranya tenang namun bergetar halus. “Kamu… masih hidup.”

Kalimat sederhana yang keluar dari mulut Farida terasa seperti palu yang menghantam dada Rama.

“Farida… aku—” Rama melangkah maju satu langkah, refleks.

“Jangan,” potong Farida lirih, tapi tegas.

Di balik jarak beberapa meter, Arlena, atau lebih tepatnya Nayla, hampir ingin bertepuk tangan. Dadanya berdebar penuh kepuasan yang getir. "Akhirnya. Akhirnya ayah harus menatap masa lalu yang di buang begitu saja." kata Nayla didalam hati.

"Lihat wajahmu sekarang, Yah." batin Nayla dingin. "Itu wajah orang yang ketahuan berkhianat." kata Nayla lagi meskipun hanya didalam hati.

Maria Sari yang berdiri di samping Rama mulai menyadari perubahan sikap suaminya. “Mas?” tanya Sari curiga, mengikuti arah pandang Rama hingga matanya tertumbuk pada Farida.

Tatapan Maria Sari berubah. Ada keheranan, lalu kecemasan.

“Siapa dia?” bisik Sari tajam.

Rama menelan ludah. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia kehilangan kata-kata.

Farida tersenyum tipis, senyum yang tidak membawa kehangatan, hanya kepedihan. “Tenang saja,” kata Farida pelan. “Aku tidak akan membuat keributan di acara amal. Tidak malam ini.” bisik Farida.

Farida melirik Maria Sari sekilas. “Kamu tampaknya bahagia dengan keluarga barumu.”

Kalimat Farida menusuk lebih tajam dari tamparan mana pun.

Farida kemudian melangkah pergi, meninggalkan Rama yang masih berdiri kaku, wajahnya penuh ketakutan dan penyesalan yang terlambat. Saat melewati Arlena, Farida menahan langkahnya sejenak.

“Terima kasih,” bisik Farida lirih. “Sekarang ibu tahu… semua doaku selama ini salah alamat.” kata Farida lagi.

Arlena menggenggam tangan Farida erat. Matanya berkaca-kaca, namun bibirnya tersenyum kecil.

“Ini baru permulaan, Bu,” batin Nayla berjanji. "Ayah belum tahu, anak yang ia tinggalkan, dan ini belum selesai." ucap Nayla didalam hati.

Di kejauhan, Rama menatap punggung Farida yang menjauh, dan untuk pertama kalinya sejak ia memalsukan kematiannya, rasa takut itu benar-benar nyata.

Karena pertemuan singkat dengan Farida, Rama tidak lagi mampu menikmati acara gala amal. Musik yang mengalun terdengar sumbang di telinganya, tawa para tamu terasa jauh, seolah ia berada di ruang lain yang penuh tekanan.

Matanya berulang kali mencari satu sosok, yaitu Farida.

Wanita yang Rama tinggalkan begitu saja, wanita yang ia yakini akan hilang perlahan dari ingatannya, justru berdiri anggun malam ini. Wajah Farida tidak banyak berubah. Bahkan terlihat awet muda, tenang, dan kuat, sesuatu yang tidak pernah Rama bayangkan setelah semua yang ia lakukan.

Ada rasa bersalah yang menekan dadanya.

Namun bersamaan dengan itu, Rama terkejut menyadari satu hal yang lebih menyakitkan, cinta itu ternyata belum sepenuhnya mati.

Rama menggenggam gelas di tangannya terlalu erat. Setiap kali Farida tertawa kecil bersama Ayu dan Arlena, hati Rama berdenyut nyeri. Setiap kali Farida menunduk sopan, ia teringat bagaimana wanita itu dulu menunggunya pulang dengan sabar.

Sementara itu, Farida berusaha setenang mungkin.

Farida fokus pada acara, pada pidato, pada lelang amal, pada segala hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dunia orang-orang kaya terasa asing bagi Farida, tapi Farida memaksakan diri untuk tetap tersenyum, seolah tidak ada apa pun yang terjadi.

Namun di balik senyum itu, hati Farida remuk.

"Jadi selama ini kamu hidup dengan tenang?" batin Farida

"Sedangkan aku berjuang sendiri. Sedangkan Nayla…" kata-kata itu menggantung dan tidak bisa Farida ucapkan.

Farida menelan tangis yang mendesak naik.

Farida ingat Nayla, ingat bagaimana Nayla belum mengalami bahagia dihidupnya, tapi sudah lebih dulu menghadap Tuhan.

Farida sangat merindukan Nayla, anak yang seharusnya tumbuh dengan ayah, kini telah menyatu dengan tanah. Farida mengingat hari pemakaman yang Farida kira itu suaminya, tanah merah yang menutup peti, dan keyakinannya saat itu bahwa Rama telah pergi lebih dulu.

Ternyata yang pergi hanya dirinya dan Nayla. Bukan Rama.

Tangan Farida gemetar, namun Farida segera menyatukannya di depan tubuh. Ia tak ingin siapa pun melihat betapa hancur hatinya malam ini.

Dari tempatnya duduk, Arlena memperhatikan keduanya.

Nayla merasakan dadanya menghangat oleh kepuasan yang getir. Bukan kebahagiaan, bukan juga lega sepenuhnya. Melainkan perasaan bahwa keadilan, meski lambat, akhirnya mulai bergerak.

"Rasakan gelisah itu, Yah." batin Nayla dingin. "Itu baru sedikit dari apa yang Ibu dan aku rasakan dulu."

Dan di bawah cahaya lampu kristal yang gemerlap, Rama menyadari satu kebenaran pahit, masa lalu yang ia kubur dengan kebohongan, kini bangkit menuntut pertanggungjawaban.

Arlena pulang dengan perasaan yang sangat puas, melihat wajah Rama yang pucat pasi sangat memuaskan bagi Arlena.

Farida turun dari mobil dan tidak lupa mengucapkan terima kasih ke Arlena dan juga Davin karena sudah mengajaknya ke acara yang menambah wawasan Farida.

"Selamat malam bu, selamat beristirahat dan terima kasih." kata Arlena sebelum akhirnya pintu mobil di tutup.

Arlena menyandarkan kepalanya di bahu Davin, senyum manis tidak lepas dari wajah Arlena, Davin tidak tahu hal apa yang menjadikan istrinya sebahagia ini.

"Sayang." kata Davin membuka obrolan.

"Ya." jawab Arlena.

"Kayaknya kamu bahagia banget malam ini, ada apa?" tanya Davin.

"Engga ada apa-apa, cuma bahagia aja jadi istri kamu." jawab Arlena.

"Sepertinya istriku ini sekarang jadi pandai menggombal, kira-kira belajar darimana yah?" Arlena hanya tertaw dengan apa yang di ucapkan Davin.

Davin tersenyum, istrinya sekarang mudah tersenyum, sayang anak dan suami, Davin benar-benar kembali jatuh cinta.

1
Yuni Anto
/Whimper/Thor mkasih update nya/Doubt/Thor Napa Nayla pingsan 🤩 apa lagi hamil muda y🥰 semangat terus un😍/Determined//Determined//Determined//Angry//Angry//Determined//Determined//Determined/💪💪💪💪 terus y Thor n sehatt selalu 🥰🥰🥰😍
Erunisa: di bikin hamil sekarang atau nanti aja yah kira-kira?/Shy/
total 1 replies
Yuni Anto
🥰KKA author 🥰 tersayang mkasih update nya 🥳🥳🥳🥰bulan ini di kasih update terbaru 2x🤩🤩🥳🥳🥰🥰🥰💪 semangat terus ya Thor 💪😍 sehat selalu Bwt kka/Determined//Angry//Determined//Angry/😍
Erunisa: terima kasih kaka, semoga kaka juga sehat
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mantab Nayla
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Putra Satria
🥰wah my 🩷 Thor 🩷 cinta banyak 2 bwt kka🥰 mkasih update terbaru hari ini 💪💪💪 terus y
Yuni Anto
🥰 makasih 🥰 update terbaru nya 💪💪💪 terus y Thor 🥳🥳🥳🥳🥰
Yuni Anto
next Thor 🥰
kawaiko
Gemes deh!
Rizitos Bonitos
Plot yang rumit tapi berhasil diungkap dengan cerdas.
Re Creators
Wah seru banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!