---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Pagi itu udara desa terasa sejuk, embun masih menggantung di daun-daun teh yang terbentang luas di kejauhan. Nirmala—dengan rambut diikat sederhana dan sweater tipis—duduk di teras sambil memegang cangkir teh hangat. Ia baru saja menarik napas panjang ketika suara benda jatuh terdengar duk! di lantai kayu teras.
Mala menoleh cepat.
Sebuah batu kecil tergeletak, dibungkus kertas kusut yang diikat karet. Detik itu juga tubuh Mala menegang. Ia buru-buru mengambil batu itu, membuka gulungan kertasnya.
Begitu kertas terbuka, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Tulisan besar dengan tinta merah menyala:
"MATI KAMU."
Tulisan itu kasar, berantakan, tapi jelas dibuat dengan sengaja. Ada noda merah yang tampak samar mengering—entah tinta, atau sesuatu yang lebih buruk.
Mala mematung, wajahnya pucat.
Beberapa detik kemudian, instingnya menyala. Ia langsung berdiri dan berlari ke depan rumah.
“HEY!!! SIAPA!?” teriaknya.
Namun, halaman depan kosong. Hanya suara ayam tetangga dan angin pagi. Orang yang melempar batu itu sudah hilang entah kemana.
Beberapa bodyguard yang berjaga langsung datang berhamburan.
“Ada apa, Bu Mala?”
“Ada ancaman! Dari mana datangnya!?”
Mala menunjuk ke arah jalan di depan rumah. “Ada yang melempar ini!”
Para bodyguard langsung menyebar tanpa menunggu komando. Lima orang berlari keluar pagar, dua orang pergi ke samping rumah, dan satu lagi langsung menghubungi tim luar melalui alat komunikasi.
Nina, yang baru saja keluar dari dapur, menyentuh bahu Mala.
“Bu, masuk dulu. Jangan di luar.”
Mala menelan ludah, matanya masih menempel pada tulisan ancaman itu. Ini bukan lagi rencana diam-diam. Musuh mulai benar-benar muncul di depan mata.
---
Tak lama kemudian, Pak Wira keluar dengan wajah cemas. Begitu melihat ekspresi putrinya, ia tahu ada masalah serius.
“Apa yang terjadi, Nak?”
Mala menyerahkan kertas itu. Wira membacanya, napasnya langsung berat.
“Kita memang harus lebih hati-hati… Namun, ada hal lain yang juga harus kamu perhatikan.” Suaranya tiba-tiba berubah serius.
“Apa itu, Yah?” tanya Mala heran.
Wira menghela napas panjang lalu menatap putrinya.
“Nak, kalau kamu panggil suami… jangan cuma namanya saja. Masa Daren dipanggil ‘Daren’ melulu? Kamu itu sudah istri orang.”
Mala mengerjap bingung. “Terus aku harus panggil apa?”
Wira menghitung dengan jari. “Abang, Kak, Mas… terserah yang mana. Yang penting sopan dan… ya, lebih romantis sedikit, kan kalian suami istri.”
Mala langsung nyengir geli. “Yah… yang bener aja. Aku manggil ‘Abang’ ke dia? Aku bisa ngakak sendiri.”
“Ya jangan ngakak,” tegur Wira sambil memukul pelan kepala Mala. “Biasakan. Lambat laun kamu juga akan terbiasa.”
Mala meringis sambil tertawa kecil. “Hmm… aku coba deh, Yah. Tapi malu tau.”
“Apa yang malu? Itu suamimu. Bukan orang asing.”
Ucapan itu membuat pipi Mala merona—hal yang jarang terjadi. Ia sebenarnya ingin membantah, tetapi pada akhirnya hanya mengangguk pelan.
“Baik, Yah… nanti aku coba panggil dia.”
Sebelum pembicaraan berlanjut, ponsel Mala berdering.
---
Nama yang muncul di layar membuat Mala menegakkan punggung.
Kayla Ardiani — Asisten Pribadi
Mala segera mengangkat. “Halo, Kay?”
“Bu Mala! Akhirnya telepon Ibu aktif. Maaf saya telepon pagi-pagi, tapi ini penting sekali!”
Suara Kayla terdengar panik.
“Ada apa?” tanya Mala sambil berjalan sedikit menjauh, ingin bicara lebih jelas.
“Bu, Ibu harus datang ke kota hari ini. Ada dokumen ekspor kebun teh yang harus ditandatangani langsung oleh Ibu. Ini terkait pengiriman minggu depan. Kalau tidak, jadwal akan mundur dan ada denda besar.”
Mala menghela napas panjang. “Baik, aku—eh…”
Ia terhenti, kembali teringat pesan ayahnya.
“…baik, saya ke kota nanti.”
Kayla tak menyadari perubahan nada suara itu, tapi Mala sendiri merasa geli.
“Tolong siapkan semua berkas di kantor ya. Aku berangkat sebelum siang.”
“Siap, Bu Mala.”
Namun saat Mala masih berbicara, ada suara gesekan cepat di sampingnya.
Nina yang baru keluar dari dalam rumah melihat gerakan kecil dari balik pagar samping. Tanpa berpikir, Nina langsung berlari.
“MALA! MINGGIR!” teriak Nina.
Belum sempat Mala bereaksi, sesuatu melayang cepat dari arah kanan—
SRETTT!
Sebuah pisau belati kecil melesat lurus ke arah Mala.
Mala mematung.
Namun dalam sepersekian detik, Nina menubruk Mala dari samping, menjatuhkannya ke lantai teras.
TING!
Pisau itu menancap keras di pilar kayu tempat Mala berdiri tadi.
Kayla di telepon menjerit, “BU MALA!? SUARA APA ITU!?”
Mala terengah, matanya membesar melihat pisau yang menancap hanya beberapa centimeter dari kepala tempatnya berdiri.
Tubuhnya bergetar.
Kalau Nina terlambat satu detik saja…
Entahlah apa yang terjadi.
Nina berdiri cepat, wajahnya berubah menjadi sangat dingin. Ia memberi isyarat ke tim lainnya.
“KEJAR! JANGAN BIARKAN LOLOS!”
Tiga bodyguard yang mendengar teriakan itu langsung melompat ke arah titik datangnya pisau.
Pak Wira keluar lagi, melihat pisau menancap di kayu dan Mala yang terduduk shock.
“Nirmala! Astaga, Nak!”
Mala mencoba berdiri dengan bantuan Nina. Wajahnya pucat, jantungnya berdegup tak terkendali.
“Aku… aku nggak lihat siapa yang lempar…” suara Mala bergetar.
Nina menatap mata Mala dengan tegas. “Ibu jangan keluar rumah dulu. Ini sudah percobaan pembunuhan kedua pagi ini.”
Mala menelan ludah susah payah.
Ancaman tertulis bisa diabaikan…
Tapi pisau yang melayang ke arah kepalanya?
Itu bukti nyata.
Musuh bukan hanya ingin menakut-nakuti.
Mereka ingin Mala mati.
---
“Bu Mala,” suara Kayla kembali terdengar di telepon, gemetar. “Apa Ibu baik-baik saja? Saya dengar suara benturan…”
Mala menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Kayla… aku… aku hampir kena serangan barusan.”
“A-apa!?”
Suara Kayla makin panik.
“Bu, Ibu harus ditemani banyak orang. Jangan ke kota sendiri!”
Mala memejamkan mata.
“Nggak apa-apa, Kay. Aku akan ke kota dengan penjagaan penuh. Jangan bilang siapa-siapa dulu.”
“Baik, Bu… hati-hati…”
Telepon ditutup.
---
Pak Wira menahan bahu Mala. “Nak… mulai sekarang kamu harus benar-benar dengarkan apa kata Daren dan Tuan Armand.”
Mala mengangguk lemah.
Nina menatap pilar kayu tempat pisau itu menancap.
“Orang ini bukan amatir,” katanya perlahan. “Lemparannya presisi. Dia tahu waktu yang tepat.”
Mala merinding.
Ia menggenggam dadanya.
Pagi ini saja sudah dua kali nyawanya terancam.
Dan yang paling menakutkan…
Ini baru permulaan.
Assalamualaikum selamat siang
Like komen nya ya...