NovelToon NovelToon
KEPALSUAN

KEPALSUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri / Action / Persahabatan / Romansa
Popularitas:355
Nilai: 5
Nama Author: yersya

ini adalah cerita tentang seorang anak laki-laki yang mencari jawaban atas keberadaannya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Beberapa hari sebelumnya.

Hari pertama aku bertemu Ari.

Langit masih gelap kebiruan, fajar belum sepenuhnya terbit. Udara subuh dingin dan lembab, embun menempel di pagar besi sekolah yang menjulang di depan kami. Jalanan sepi. Tidak ada suara kendaraan. Hanya angin pelan dan sesekali kicau burung yang terlambat bangun.

Kami berdiri berhadapan, jarak satu langkah.

Cukup dekat untuk mendengar nafas satu sama lain.

“Kalau kau sendirian lagi…” ucapku pelan, sedikit canggung.

“Kau boleh mencariku.”

Ari tidak langsung menjawab.

Ia menatapku.

Lama.

Terlalu lama.

Matanya yang biasanya datar kini bergetar halus, seolah ada sesuatu yang berusaha bangkit dari kedalaman dirinya. Bibirnya sedikit terbuka, lalu tertutup kembali. Dadanya naik turun lebih cepat dari sebelumnya.

Kemudian, sangat pelan, ia mengangguk.

Aku tersenyum kecil.

Tanpa menunggu lebih lama, aku berbalik dan melangkah pergi.

Satu langkah.

Dua langkah.

“Ugh… akh…”

Suara itu membuatku membeku.

Aku langsung menoleh. Ari terhuyung, satu tangannya mencengkram kepalanya sendiri seolah kepalanya akan pecah. Tubuhnya membungkuk, rambutnya yang rapi kini berantakan, nafasnya tersendat.

“Ari?”

Aku berlari menghampirinya.

“Hei, ada apa? Kenapa tiba-tiba?”

Ia tidak menjawab.

Hanya mendesis.

“Arrrgh…!”

Teriakannya pecah di udara subuh yang sunyi. Wajahnya pucat, keringat dingin mengalir deras di pelipis dan lehernya. Tubuhnya gemetar hebat, seolah ada sesuatu yang merobek dirinya dari dalam.

“Haah… haah… huuh…”

Nafasnya tersengal. Dadanya naik turun tak beraturan. Tangannya mencengkeram seragamnya sendiri dengan keras.

“A-aku…” gumamnya.

“Aku ingat sekarang…”

“Apa?” Aku menahan bahunya agar ia tidak jatuh. “Ingat apa?”

Ari menggertakkan gigi. Keningnya berkerut dalam.

“…Aku seharusnya tidak terlahir kembali sebagai budaknya.”

Aku terdiam.

“Seharusnya…” suaranya bergetar oleh amarah yang pekat,

“…aku terlahir kembali untuk membunuhnya.”

Ada kebencian murni di matanya.

Dingin. Dalam.

Aku tidak mengerti. Tidak satu pun kata itu masuk akal bagiku.

“Arya!”

Ia tiba-tiba mencengkram kedua lenganku. Cengkeramannya kuat, hampir menyakitkan. Ia mendongak menatap wajahku. Mata itu basah. Air mata mengalir deras tanpa bisa dihentikan.

“Tolong aku,” pintanya.

Suaranya pecah.

“Tolong aku, Arya.”

Hatiku terasa diremas.

Gadis yang biasanya tanpa emosi ini kini runtuh sepenuhnya di hadapanku. Tanpa berpikir panjang, aku mengangkat kedua tanganku dan memegang pipinya. Kulitnya dingin. Aku mengusap air matanya dengan ibu jari.

“Ya,” jawabku pelan namun mantap.

“Tentu saja.”

Tangisannya pecah semakin keras.

Namun di balik air mata itu, senyum kecil muncul. Rapuh, tapi nyata.

Ia mencoba bicara, namun kata-katanya seperti tersangkut di tenggorokannya. Bibirnya bergetar hebat.

“A-aku… aku sebenarnya…”

“Aku sudah lama mati.”

Mataku membelalak.

Namun aku tetap diam.

“Aku mati,” lanjutnya, suaranya lirih, “dan terlahir kembali sebagai kutukan. Untuk balas dendam.”

Tangannya mengepal.

“Tapi tepat saat kelahiranku kembali… aku bertemu dengannya.”

Ia menggeram pelan, amarahnya nyaris tak terbendung.

“Dia menggunakan teknik kutukannya. Mengendalikanku. Menjadikanku budaknya.”

Napas Ari bergetar.

“Sepuluh tahun.”

“Sepuluh tahun aku hidup tanpa bisa menolak. Tanpa bisa berpikir untuk melawan. Setiap penghinaan, setiap perlakuan menjijikkan…”

Suaranya melemah.

“Sampai identitasku sebagai kutukan pendendam itu… perlahan menghilang.”

Hening menyelimuti kami.

Aku menatap Ari yang terus menangis, bahunya naik turun menahan sesak yang tak kunjung reda.

“Aku mengerti,” ucapku akhirnya, suaraku pelan namun mantap. “Tapi… bagaimana aku bisa menolongmu?”

Ari menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya dengan mata basah.

“Tolong aku… supaya bebas dari kendalinya.”

“Bukankah kau sudah bebas?” tanyaku ragu.

Tubuh Ari tersentak. Refleks, tangannya menekan perutnya sendiri, jemarinya mencengkram kain seragam seolah ada sesuatu yang berdenyut di dalam sana.

“Tidak…” nafasnya bergetar. “Sepertinya koneksi antara aku dan dia hanya terputus sementara.”

“Maksudmu?”

Ia menarik napas panjang, seakan harus mengumpulkan keberanian untuk mengingat semuanya.

“Teknik pria itu… dia menancapkan baji kutukan ke inti jiwa target. Itu menciptakan identitas palsu sebagai budak, sekaligus membuka jalur kendali dua arah. Dia bisa melihat, mendengar… dan memerintahku kapanpun dia mau.”

Aku terdiam, mendengarkan tanpa menyela.

“Ketika identitas baru itu ditanamkan…” suara Ari serak, hampir seperti bisikan yang dipaksakan keluar dari tenggorokannya.

Jemarinya mencengkram seragam di dadanya, ruas-ruasnya memutih.

“…dua identitas bercampur di dalam diriku.”

Matanya bergetar. Pandangannya goyah, seolah bayangan masa lalu terus menekan dari segala arah. Rahangnya mengeras, menahan luapan emosi yang terlalu lama terkubur.

“Aku melawan,” lanjutnya lirih, nada suaranya dipenuhi amarah yang tertahan. “Dengan seluruh kebencian dan dendam yang kumiliki.”

Nafasnya tersendat. Dadanya naik turun tajam sebelum ia melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, lebih rapuh.

“Tapi perbedaan satu tingkat saat itu… dan karena bajingan itu menggunakan tubuhku terus-menerus selama bertahun-tahun…”

Kata-kata itu keluar dengan susah payah. Bahunya bergetar, matanya memerah, dan air mata menggenang tanpa jatuh.

“Identitasku sebagai kutukan pendendam perlahan terkikis,” ucapnya nyaris tanpa suara.

Bibirnya bergetar, senyum pahit terlukis di wajahnya.

“Yang tersisa…”

Ari menunduk dalam-dalam. Bahunya gemetar halus, seolah beban di dalam dadanya terlalu berat untuk ditopang tubuhnya sendiri. Tatapannya jatuh ke tanah, menghindari dunia, menghindari diriku, bahkan menghindari dirinya sendiri.

“…hanya identitas sebagai kutukan pelacur,” suaranya nyaris tak terdengar, parau dan rapuh, “dan juga… sebagai budaknya.”

Kata-kata itu keluar seperti pisau yang ia hunus untuk menusuk dirinya sendiri.

Amarah, jijik, dan kebencian tercetak jelas di wajahnya. Rahangnya mengeras sampai ototnya menegang, giginya saling bertaut menahan sesuatu yang hampir meledak. Nafasnya tersengal, pendek dan kasar, seolah setiap tarikan udara membawa kembali kenangan-kenangan yang ingin ia tolak, namun tak pernah bisa ia buang.

Matanya berkilat basah, bukan hanya oleh air mata, tapi oleh rasa muak terhadap keberadaannya sendiri.

Tubuhnya bergetar.

Bukan karena dingin, melainkan karena ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin dimuntahkan keluar, rasa kotor yang telah terlalu lama bersarang di jiwanya.

Namun perlahan… emosi itu retak.

Kebencian di wajahnya merekah seperti kaca yang dipanaskan terlalu lama. Tidak pecah dengan suara, tidak hancur dengan ledakan. Ia runtuh diam-diam. Amarahnya surut, jijiknya melemah, meninggalkan kehampaan yang jauh lebih menyakitkan.

Ari terdiam.

Bukan karena sudah kuat, melainkan karena sudah terlalu lelah untuk terus membenci dirinya sendiri.

Ari menggenggam tanganku.

Hangat.

Terlalu hangat untuk seseorang yang barusan berkata bahwa dirinya telah mati.

Jari-jarinya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena menahan sesuatu yang rapuh. Ia menatapku. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang tidak berani terlalu lebar, seakan takut harapan itu pecah jika ia percaya sepenuhnya. Pipi memerah samar, matanya berkilat, bukan oleh air mata, melainkan oleh cahaya kecil yang nyaris tak masuk akal.

“Ini mungkin… hanya dugaanku,” katanya pelan, suaranya lembut, hampir berbisik. “Tapi waktu singkat bersamamu.”

Ia menelan ludah.

“Rasa manis snack yang kau berikan. Hangatnya bajumu saat aku kedinginan. Jalan singkat yang tidak berarti itu… dan senyumanmu.”

Jarinya mengelus punggung tanganku perlahan, penuh kehati-hatian, seperti menyentuh sesuatu yang bisa menghilang kapan saja.

“Semuanya menumbuhkan sesuatu di dalam diriku,” lanjutnya. “Sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan. Sebuah identitas baru.”

Ia tersenyum kecil, getir.

“Identitas seorang wanita yang jatuh cinta. Yang ingin menyerahkan dirinya… hanya pada satu pria.”

Dadaku mengencang. Aku menunduk, tidak mampu membalas tatapannya. Keheningan menggantung di antara kami, berat, dingin, dan kejam.

Dan Ari mengerti.

Tangannya menegang sesaat, lalu perlahan mengendur. Senyum di wajahnya membeku, retak, kemudian runtuh sepenuhnya. Matanya melebar sedikit, seperti seseorang yang baru saja menerima vonis yang sudah lama ia duga, namun tetap berharap salah.

“…Aku tahu,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. “Aku tahu sejak awal.”

Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, menelan rasa sakit yang tidak berhak ia keluhkan.

Wajahnya kembali serius. Bukan dingin, bukan marah. Kosong. Kosong dengan cara yang lebih menyakitkan.

“Bajingan itu mengira kendalinya sudah sempurna,” katanya dengan suara rendah, sarat kebencian yang dipaksakan tetap terkendali. “Dia lengah. Dia tidak pernah membayangkan, bahwa di dalam diriku bisa tumbuh sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.”

Ari mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menekan telapak sendiri.

“Identitas itu mengganggu sistemnya. Merusak jalur kendali. Karena itulah koneksi ini bisa rusak… meskipun hanya sementara.”

Ia membuka mata dan menatap ke arah lain, rahangnya kembali mengeras.

“Sekarang,” katanya pelan, penuh kepastian pahit, “dia pasti sedang panik.”

Ari menggertakkan giginya.

“Dan sedang berusaha memperbaiki semuanya sebelum aku sempat… menjadi lebih dari sekadar budaknya.””

“Ugh—”

Tubuh Ari mendadak menegang. Ia terhuyung, nafasnya tersengal, keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Sepertinya… ini waktunya,” gumamnya terputus-putus. “Maaf, Arya… lupakan saja apa yang aku katakan.”

Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Aku… seharusnya tidak melibatkanmu.”

Aku menatapnya, melihat rasa sakit itu, dan tanpa sadar suaraku keluar lebih tegas dari yang kuduga.

“Siapa namanya?”

Ari membelalak.

“A-apa kau… yakin?”

Aku mengangguk, tanpa ragu.

Beberapa detik berlalu sebelum ia tersenyum lirih, penuh haru.

“Ju… Julian… Adikara…”

Aku mengangguk pelan.

Lalu, tanpa sepatah kata pun, aku berbalik dan berlari—menjauh sejauh mungkin hingga Ari tak lagi bisa melihat punggungku.

Di belakangku, Ari tersenyum. Senyum yang tenang, pasrah, namun hangat.

“Terima kasih… dan maaf… cinta pertamaku…”

Kesadarannya perlahan tenggelam.

Identitas aslinya memudar, digantikan kembali oleh kesadaran palsu.

Koneksi dengan pengendalinya pulih sepenuhnya.

Sejak saat itu, segalanya kembali seperti semula.

Kecuali satu hal.

Rahasia tentang apa yang terjadi di waktu singkat itu hanya hidup di dalam ingatanku… dan di kesadaran Ari yang asli, sebelum ia kembali tenggelam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!