NovelToon NovelToon
WAGE

WAGE

Status: tamat
Genre:Horor / Spiritual / Selingkuh / Mata Batin / Kutukan / Hantu / Tamat
Popularitas:36.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dayang Rindu

Diambil dari cerita weton Jawa yang populer, dimana seseorang yang lahir di hari tersebut memiliki keistimewaan di luar nalar.
Penampilannya, sikapnya, serta daya tarik yang tidak dimiliki oleh weton-weton yang lain. Keberuntungan tidak selalu menghampirinya. Ujiannya tak main-main, orang tua dan cinta adalah sosok yang menguras hati dan airmata nya.
Tak cukup sampai di situ, banyaknya tekanan membuat hidupnya terasa mengambang, raganya di dunia, namun sebagian jiwanya seperti mengambang, berkelana entahlah kemana.
Makhluk ghaib tak jauh-jauh darinya, ada yang menyukai, ada juga yang membenci.
Semua itu tidak akan berhenti kecuali Wage sudah dewasa lahir batin, matang dalam segala hal. Dia akan menjadi sosok yang kuat, bahkan makhluk halus pun enggan melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa lalu yang tak berlalu

Sekelebat ingatan kembali pada delapan tahun yang lalu, dimana kegagahan dan kekayaan merupakan kebanggaannya. Kesannya dia adalah sosok yang bijaksana dan dermawan, tapi suatu hari membuat hatinya terusik, cintanya dalam bahaya. Setyo murka dan memperlihatkan kekuatan dan kuasanya.

"Aku ingin bertemu Ratna. Aku berjanji hanya sebentar dan setelah itu aku tidak akan pernah menemui kalian berdua." ucap pria tua dengan tubuh kurus, wajahnya pucat sehingga melunturkan kegagahannya waktu muda. Dia terbatuk memegangi dada, tubuhnya bergetar.

Tapi bukannya jawaban yang dia dapatkan, melainkan sebuah hantaman di kaki, lalu kemudian di dadanya. Dia kesakitan.

"Kau boleh memukuliku sampai mati, tapi beri aku waktu bertemu Ratna. Aku hanya ingin dia tahu kalau anaknya masih hidup. Dia ada di sini." mohon pria itu menahan puluhan hantaman anak buah Setyo.

"Sampai kapanpun aku tidak akan memberi tahu Ratna. Ratna hanya memiliki satu anak yaitu anak kami berdua. Anakmu, urus saja sendiri. Lagipula dia sudah terbiasa hidup tanpa Ratna." jawab Pak Setyo sinis.

Setyo memberi isyarat agar dua orang suruhannya itu berhenti.

Pria yang sedang sakit-sakitan itu meringkuk babak belur, dia menunduk sedih tanpa bisa berbuat apa-apa. Harapannya hanya satu, sebelum pergi bisa bertemu Ratih dan mengatakan kalau anak mereka masih hidup dan sudah besar. Walupun tidak berdaya menghadapi Setyo.

"Bawalah anakmu pergi jauh!" titah Setyo, memberikan seikat uang.

Tapi jawaban pria itu mengecewakannya. "Aku tidak akan menyerah meskipun mati, aku akan memberitahu Ratna bagaimanapun caranya." jawab pria itu.

Seketika dua orang pak Setyo itu memukulinya lagi. Kali ini tanpa ampun dan membabi buta. Pria tua itu mengepalkan tangannya erat-erat menahan sakit, dan kemudian dia terbatuk memuntahkan darah.

"Cukup! Nyawanya tinggal sedikit." ucap Setyo.

"Bapak!"

Setyo dan dua anak buahnya menoleh, tampaklah seorang anak laki-laki, berteriak.

"Bapak! Kalian siapa? Mengapa memukuli bapak ku?" teriaknya, meraih ayahnya yang sudah parah, berdarah-darah.

Sedangkan Setyo sendiri tercengang menatap anak laki-laki istrinya, dia tak menyangka anak itu sudah dewasa.

Dia mengamuk, berkelahi dengan dua anak buah Setyo, dua anak buah Setyo tumbang di hajarnya.

"Uhugh...Uhugh" suara sang bapak makin sekarat, darah keluar dari mulut dan hidungnya.

"Bapak!" dia merengkuh pundak sang ayah.

"Ingatlah, dia ada-lah sua-mi ibu-mu." tunjuk sang bapak kepada Setyo.

"Hajar mereka berdua." titah Setyo, dan kedua anak buahnya langsung menyerang ayah dan anak itu.

"Jangan sakiti Bapak!" teriaknya terdengar memilukan, dia menangis menyaksikan seorang ayah yang sudah susah payah membesarkannya kini pingsan kesakitan.

Dalam keadaan sakit dan sedih bukan kepalang, Dia membawa ayahnya ke kampung halaman yang jauh, obat dokter sudah tak bisa di usahakan lantaran tidak punya uang, ia ingin ayahnya diobati di kampung dengan cara yang berbeda.

Mereka menaiki mobil butut seorang tetangga yang di bayar dengan semua uang yang tersisa. Dia terus memeluk ayahnya sepanjang jalan selama enam jam, hingga kemudian sampai di sebuah rumah di ujung kampung, rumah kayu dengan ukiran lawas. Di sanalah seseorang hidup seorang diri, umurnya sudah tua namun lebih sehat dan bugar dari ayahnya.

"Kenapa dengan ayahmu?" teriak sang kakek kepada cucunya. Dia membantunya masuk ke dalam rumah.

Anak muda itu menangis, menceritakan segalanya. Terlepas dari sebelumnya, memang ayahnya sudah sakit-sakitan.

Sang kakek memeriksa, lalu meramalkan sesuatu. "Pulanglah. Jangan sekali-kali mendatangi rumah ini sebagai cucuku. Jika mendengar berita buruk, maka tutuplah telingamu."

Sejak saat itu, dia tidak pernah pulang kampung. Hingga beberapa tahun kemudian dia pulang sebagai seseorang yang mampir, dan mendengar kabar bahwa ayah dan kakeknya sudah meninggal.

Dia terduduk lemas sambil menangisi dua pria yang dia miliki. Kini ia hidup seorang diri dan itu pun rasanya ingin mati.

*

"Jangan sakiti Wulan." ucap Setyo pelan.

"Aku menikahi orang yang aku cintai. Dan kebetulan, anakmu juga pernah ingin menikahinya."

"Anak ku juga adikmu." ucap Setyo, dia menangis tergugu.

"Mana sudi bapak memiliki anak tiri seperti aku."

Bara meninggalkan ruangan itu dengan perasaan bercampur aduk, sedih dan sakit hati yang tidak pernah terobati.

"Nak Bara, ayo makan!" ajak Ratna, dia meminta Bara bergabung dengannya, Ratih dan Rudy pun telah menyelesaikan makannya.

"Iya Nak, lagipula pak Setyo sedang tidur." ucap Ratih.

Bara mengangguk, mengamati keluarga barunya itu penuh kesedihan. Ternyata takdirnya hanya berputar di sekitar orang-orang yang dia kenal. Sekarang dia sudah bertemu Ratna, tapi mengapa harus ada Setyo. Mendapatkan istri yang cantik dan telah lama diinginkan, tapi mengapa harus pernah mencintai Arif sebegitu hebat.

"Duduklah, makan dulu baru pulang. Wulan pasti nungguin kamu." titah Ratih, memberikan makanan sekalian membuka bungkusnya untuk Bara.

"Terimakasih Buk." ucap Bara, terdengar lirih sekali.

Sedangkan di rumah, Wulan duduk di kamarnya seorang diri, memperhatikan bagian sudut langit-langit kamarnya. Beberapa ekor cicak kecil pun menyelinap masuk.

Wulan melempar mukena dari tangannya ke dalam lemari, kemudian membuka jendela kamar. Penasaran akan keadaan di luar, apa yang membuat keadaan di dalam rumah sedemikian mencekam. Tapi, hanya gelap yang terlihat, kelap-kelip lampu tak mempengaruhi kesunyian, bahkan suara motor berlalu lalang pun asing di telinga.

"Pasti ada yang tidak beres." gumam Wulan.

Teringat batu pemberian Ki Mangku Alam kepadanya masih ia simpan di dalam laci. Tapi, mereka hanya menjaga Wulan, bukan rumah. Jadi, kemungkinan untuk terkena kiriman sihir tetap ada. Bukan Wulan, tapi anggota keluarga yang lain.

Dia jadi teringat tadi siang, Bude Yuni, dan bude Sari tidak datang. Hanya Sarinah dan Nia, mereka duduk di kursi tamu. Keduanya tampak anggun dengan pakaian mewah, tapi sombong dan congkak memperlihatkan perhiasannya.

Satu lagi, kulit Sarinah terlihat kering dan kasar ketika bersalaman. Tidak seperti biasanya halus dan lembut tanpa cela karna sering luluran.

"Assalamualaikum Dek."

Suara Bara membuyarkan lamunan Wulan, segera menutup jendela dan beranjak dari duduknya.

"Mas, kenapa lama sekali? Telepon juga tidak diangkat." kata Wulan.

"Hp Mas mati." jawab Bara, ia masuk dengan langkah lemas. Tapi tetap tersenyum memandangi Wulan yang telah mandi dan segar.

"Mandi dulu." titah Wulan, menggandeng lengan Bara menuju kamar mereka.

"Enaknya kalau sudah menikah, bisa di gandeng tanpa diminta." gurau Bara.

Wulan terkekeh, mengeratkan pelukannya di lengan Bara. "Kamu sudah suamiku Mas. Milikku!" kata Wulan, membuat suaminya itu tertawa senang.

"Iya Sayang, Aku suamimu."

Kini gantian Wulan yang tersipu malu, ternyata dipanggil sayang seindah itu.

"Bagaimana keadaan pak Setyo Mas?" tanya Wulan, menyiapkan handuk dan juga pakaian untuk Bara.

"Sudah mendingan, tadi lagi istirahat." jawab Bara, melirik wajah istrinya itu sekilas, lalu menoleh foto Arif yang tak juga di simpan oleh Wulan.

Sebenarnya dia tak masalah, hanya saja. Masalahnya terlalu sulit untuk di uraikan hanya dengan kata ikhlas. Semua sudah berlalu, tapi rasanya kecewa dan sakit hatinya belum berlalu.

"Dek, bisakah foto ini di simpan dulu?" Bara menunjuk foto Arif di sudut meja, tapi matanya melihat kearah lain.

1
family phone
👍👍👍
Hana Nisa Nisa
trimakasih atas karya yg bagus ini
Dayang Rindu: sama-sama kak. 🥰🥰
total 1 replies
wiris medianingsih
sama kaya anak ke 2 ku ..
Dayang Rindu: seng sabar, anak nya keras kepala, hati sensitif, tapi jangan ragukan ketulusannya. 🙏
total 1 replies
Dayang Rindu
lanjut kak, udah ada cerita baru.
terimakasih sudah membaca,
Fitriputri
ditunggu cerita selanjutnya
Fitriputri
bagusssss ceritanya..gak berbelit belit..
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
aamiin ,sehat selalu thorr
Dayang Rindu: iya kak, sehat selalu juga buat KK, terimakasih sudah menemani saya berkarya..
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
aq menanti karya mu lagi kk dayang
Dayang Rindu: okeh, siap mbak e. lagi nyari judul sama cover Yang pas, palingan besok atau nanti malam up lagi
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
aamiin
begituya kisah si wage 🤭
Dayang Rindu: hehehhe... kisah nyatanya ada, tapi halunya banyak juga. 👻
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
Aamiin ....maturnuwun thor, sudah menyuguhkan cerita yang menarik dan pencerahan tentang penanggalan jawa.
tetap semangat dengan cerita2 yang akan datang.

untuk Bara , urip kui mung sawang - sinawang.
hargai apa yang kita punya ,jangan membandingkan hidup
Dayang Rindu: sami-sami kak... sudah menemani saya berkarya... 🙏❤️
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
sampai lupa makan kan belah duren butuh tenaga juga kels dion hadehh
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: hiss ngeces juga
total 15 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
woalah jd akan di kembalikan juga batu itu yaa
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: seru tp tegang juga lho bacanya tant dehh
total 2 replies
☠ SULLY
semoga setelah ini
cinta terakhir dan selamanya untuk Wulan & Dion
Dayang Rindu: ada sih, jotos-jotosannyaa. 👻👻👻
total 3 replies
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
semoga setelah ini tidak ada badai lagi.
semua sudah kembali ketempatnya
kepemiliknya..
tinggal merajut kebahagiaan, beranak pinak bercucu cicit
Dayang Rindu: yess! Betul sekali, menua bersama-sama sampai ajak menjemput
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
hahaha menyesal nanhis darah dah tak da guna bar.. noh istri mu mlh bersikap kenkanakn
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
jd batu2 itu masih ada dan ttp mengintil sama wulan ya
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: kyk dia yaa ngintil terus 🤣🤣🤣🙈
total 2 replies
☠ SULLY
dlm masa pingitan Wulan
jgn beri waktu bara
biarpun itu membicarakan sedikit masa lalu kalian istri ke 2 bara lebih garang
ga guna di ladeni pun
☠ SULLY
bukannya bapak ibu ,Jaka
nungguin Wulan di saat ngigau
stlh Wulan bangun apa langsung
bangun trs pergi mandi ?
seperti tdk ada orang di dlm kamar nya...
apa Ndak heran itu bapak ibu juga Jaka
dgn tingkah Wulan ,
Dayang Rindu: di singkat kak. 👻👻
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
ehhh gendeng iki bara ya
gono mempan ora ajian semar mesem lah jaran goyang lah
wis mboh2 tok pakakne eman ora bar.. oh bara bere menyesal tak da guna ya kan🤣🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: ohh pgn di bakar agaka nya biar ada sambel nya dan lalapam biar lengkap 🤭
total 4 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
wess dion g sabaran dehh🤭🙈🙈🙈
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: ehhh kae kan sing di tendang2 neng jero ruangan too kk dayang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!